Favorite Sin

Favorite Sin
SECRET ROOM HAS BEEN REVEALED


__ADS_3

AUTHOR POV


Adrian dan Arjuna berhasil selamat dari serbuan para berandal yang menguntit mereka tadi, meski perut kotak-kotak Adrian harus menjadi korban terkena sayatann.


Para berandal itu sudah benar-benar dilumpuhkan karena Adrian mematahkan tulang leher mereka satu persatu sebelum mereka dibawa oleh Ray ke kantor kepolisian.


"Kamu jangan bilang Nadine kalau Kakak terluka dan kita habis bertarung. Dia pasti akan menangis dan memberondong Kakak dengan banyak pertanyaan." Adrian memperingatkan adiknya agar tidak bermulut ember.


"Pasti ketahuan lah Kak, orang ini perut Kakak diperban! Mana kemejanya ada bekas darah lagi..." Arjuna menunjuk noda merah pada kemeja putih yang dikenakan Adrian.


Benar juga. Nadine semenjak hamil menjadi orang yang memiliki tingkat kepekaan tinggi dan begitu kritis. Jiwa detektif dalam dirinya tiba-tiba menyeruak begitu saja. Sering curiga, banyak overthinking, dan puncaknya adalah sering menangis karena emosional sendiri.


Jikalau sampai Nadine melihat Adrian pulang dalam kondisi terluka seperti ini, bisa dipastikan dia akan menangis kencang hingga meraung-raung dan kepikiran. Adrian tak mau itu sampai terjadi. Usia kandungan Nadine sudah tua. Salah-salah Nadine terkena serangan jantung dini. Apalagi Nadine tipikal perempuan yang suka panik.


"Ckkkk..." Adrian berdecak kesal dengan mengangkat kedua tangannya seraya mengamati bercak merah disekitaran pakaiannya. "Nanti akan Kakak pikirkan caranya untuk mengelabuhi Nadine supaya dia tidak curiga. Kakak lupa bawa baju lagi!"


"Apa aku masuk duluan aja Kak? Kemejaku warna hitam, jadi aman enggak kelihatan kotor. Cuman sudut bibirku aja yang sedikit berdarah karena jatuh menatap aspal tadi. Bisa ditutupi kalau luka di wajah."


"Tidak usah. Kakak akan minta Bibi Magda mengambil baju bersih untuk kita. Tunggu disini saja...semoga Nadine tak curiga."


"Oke Kak."


10 menit kemudian, Bibi Magda keluar dari mansion dengan tergopoh-gopoh sambil membawa dua kemeja baru untuk Adrian dan Arjuna. Langsung saja, kedua lelaki tampan itu mengganti pakaian dengan segera. Pemandangan roti sobek tak terelakkan lagi, memanjakan mata Bibi Magda yang sudah tua dihadapan mereka.


Awalnya Bibi Magda agaknya sedikit terkejut melihat banyaknya bercak noda darah menempel pada baju majikannya. Mau bertanya kenapa tak berani. Sampai akhirnya Adrian mewanti-wanti agar Bibi Magda merahasiakan ini dari Nadine. Beliau menurut saja karena perintah Adrian itu mutlak.


"Langsung cuci sekarang Bi, jangan sampai Nadine tahu. Saya dan Arjuna masuk dulu." ucap Adrian dengan sikap dinginnya.


"Baik Tuan." Bibi Magda mengangguk patuh.


Sembari berjalan masuk, Arjuna tiba-tiba berceletuk, "Kak..hari ini aku menginap di rumah Kak Ian ya!"


"Kenapa? Sudah bosan tinggal sama Mama dan Papa?" tebak Adrian.


"Malas pulang. Mau cari suasana baru. Aku juga sebenarnya udah dari lama pengen tinggal sendiri di apartemen atau penthouse, tapi belum dibolehin sama Papa!" keluh Arjuna yang mendambakan untuk tinggal sendiri.


"Bukannya lebih enak? Banyak-banyaklah bersyukur karena masih bisa tinggal dengan orangtua yang lengkap dan diberi fasilitas yang memadai. Tidak semua orang punya privilege seperti itu Arjuna!" tukas Adrian seraya menaiki undakan tangga pintu masuk mansion.


"Tapi Kak, teman-teman seumur aku udah pada tinggal sendiri rata-rata. Aku jadi pengen ngerasain hidup mandiri. Kak Ian juga dulu pas usia 18 tahun udah cabut dari rumah kan!"


"Wajar. Mungkin Papa dan Mama belum siap melepaskan kamu yang masih minim pengalaman. Waktu itu kondisi Kakak beda konteks. Kakak pergi dari rumah untuk menempuh gelar sarjana di luar negeri sekaligus melakukan terapi. Kalau kamu mau, ambil saja program study abroad."

__ADS_1


"Pengen sih, tapi nanti lah! Aku pikirkan lagi. Urusan disini masih banyak yang tak bisa ditinggal. Apalagi Kak Ian memasrahi aku untuk takeover Natadipura Group."


Adrian menepuk pelan bahu Arjuna. "Good. Nanti Kakak coba bicara sama Papa perihal keinginan kamu untuk tinggal di apartemen sendiri."


"Thanks Kak!"


Batin Arjuna, semoga Adrian bisa membujuk Papa dan Mamanya.


***


"Selamat malam, selamat datang kembali Tuan Adrian dan Tuan Arjuna." Sinta si pelayan menyambut kedatangan Tuannya yang baru saja pulang dari kantor, pikirnya.


"Malam juga Sinta." Arjuna membalas sapaan tersebut, tapi tidak dengan Adrian yang memilih bungkam.


"Makan malam sudah siap Tuan. Jika berkenan, saya akan bantu persiapkan sekarang."


Adrian menggeleng. "Tidak usah nanti saja, saya dan Arjuna harus mandi dulu. Nadine dimana? Terus tukang yang saya suruh untuk renovasi, sudah selesai belum?"


"Pengerjaan walk in closet sudah selesai sejak dua jam yang lalu, Tuan. Untuk Nyonya Nadine terakhir kali saya lihat beliau ada di lorong kamar pojokan yang terletak di area sayap timur mansion ini," jawab Sinta gugup.


Jantung Adrian sontak berdegup kencang. Lorong ruangan di sayap timur katanya?


"Hahh?? Nadine disana? Bagaimana bisa?" suara kemarahan Adrian terdengar menggelegar membuat Sinta jadi gemetar ketakutan.


Adrian membuang muka dan mengusap wajahnya kasar. "Apakah dia masih disana sekarang?"


"Masih Tuan, Nyonya belum keluar sejak tadi siang. Saya dan yang lain sengaja tidak pergi untuk memeriksa lebih lanjut sebab anda secara khusus pernah memberitahu kami, bahwa kami tidak diizinkan untuk memasuki area itu. Saya benar-benar minta maaf." Sinta menundukkan kepalanya takut.


"Astaga! Kalian itu ngapain aja sih di rumah sampai Nadine bisa lolos masuk ke area itu saat saya keluar. Saya pernah bilang kan, tidak ada yang boleh memasuki area itu termasuk istri saya. Dan sekarang kalian mengacaukannya!" Adrian kembali mengamuk.


Tatapan matanya begitu tajam dan nyalang. Kobaran api kemarahan tampak jelas pada bagian kedua pupil matanya.


"Kami benar-benar minta maaf Tuan, sekali lagi. Kami sudah lalai."


Adrian berdecih kesal. "Percuma, sudah kejadian juga!" Sebenarnya Adrian juga ikut andil dalam kecerobohan ini. Dia pasti lupa mengunci pintu kamar itu sehingga Nadine bisa lolos masuk.


Arjuna yang tak mengerti atas kekesalan kakaknya ikut bertanya. "Area ruangan apa sih Kak? Memang ada ya forbidden area di mansion ini?!" tanyanya hati-hati.


"Sudahlah, kamu naik saja ke kamar tamu dan segera bersihkan diri. Kakak mau temui Nadine dulu." Adrian meninggalkan Arjuna yang masih terpaku dengan ekspresi bingungnya.


***

__ADS_1


Adrian cepat-cepat melangkahkan kakinya untuk menyusul Nadine, yang katanya belum keluar dari kamar di lorong sayap timur sejak siang tadi.


Adrian langsung saja menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Nadine...."


Didalam sana, tampak Nadine sedang berdiri memunggunginya. Nadine sebenarnya tahu jika Adrian berada dibelakangnya. Hanya saja dia tak mau menoleh dan lebih fokus menatap sebuah pigura besar yang menempel sempurna pada dinding kamar.


"Kapan kamu akan memberi tahu aku tentang ini?" Nadine membuka suaranya yang terdengar begitu lirih.


"Bb--bagaimana bisa kamu masuk kesini?" tanya Adrian gugup.


"Pintunya tadi tidak dikunci..." sahut Nadine santai.


Benar dugaan Adrian, dia lupa menguncinya ketika terakhir kali masuk.


"Bukan, maksud ak--" ucapan Adrian terpotong oleh Nadine yang menyela.


"Tadinya aku hanya fokus mengarahkan tukang di rumah untuk renovasi kamar kosong. Tapi ternyata, aku enggak sengaja menemukan ruangan ini." Nadine kini membalikkan badannya dengan pandangan lurus menghadap kearah Adrian.


Nadine mengusap lembut perut buncitnya. "Apakah kamu ingat Adrian, masa-masa kehamilan terimester keduaku? Dimana aku sering bertanya kenapa kamu jarang pulang. Saat sebelum kita pergi babymoon, kamu sering sekali enggak pulang."


"Kamu bilang lagi sibuk dan lembur, alhasil harus tidur di kantor atau penthouse yang jaraknya terletak 2 blok dari kantor. Kamu bilang, ada proyek besar yang harus diurus. Bodohnya aku percaya saja." Nadine terkekeh pelan dan menundukkan kepalanya menatap lantai.


"Tapi lambat laun, aku semakin kesal karena ternyata kamu hampir enggak ada di rumah setiap malam selama kurang lebih sebulan. Sampai akhirnya, berbagai asumsi negatif berkecamuk di otakku. Aku sempat punya pikiran kalau kamu selingkuh. Aku takut sekali waktu itu. Tapi jauh dalam hatiku, aku berusaha untuk percaya kamu tidak akan mengkhianati aku."


Hati Adrian mencelos pasca mendengarkan pernyataan Nadine. Keraguan sang istri terhadapnya seakan-akan seperti sebuah teguran yang menyentil relung jiwanya.


Bagaimana bisa Nadine berpikiran jika Adrian akan mendua? Jangankan berselingkuh, berdekatan dengan wanita lain saja membuat Adrian alergi. Mana berani Adrian punya pikiran untuk menggantikan sosok Nadine dengan wanita random di luaran sana.


Tidak, Adrian tentu tidak sekonyol itu.


Adrian kemudian menunjukkan wajah memelasnya, memberanikan diri untuk memberikan tatapan lembut pada sang istri.


"Nadine...ak--"


"Aku belum selesai Adrian...belum selesai." Nadine menghentikan langkah Adrian yang hendak mendekat.


Nadine melanjutkan, "Aku terus menunggu kamu setiap hari. Menunggu kamu muncul di kamar, tapi kamu tidak pernah datang sampai aku ketiduran. Saking gilanya, aku memeriksa seluruh isi mansion mencari keberadaan kamu, tapi tidak ada. Pikirku, sudah pasti kamu menyembunyikan sesuatu diluar sana."


"Lalu suatu hari aku memutuskan untuk terjaga semalaman, mencoba peruntunganku barangkali kamu pulang. Saat itulah aku memergoki mobil kamu ada di mansion. Tidak diparkir di garasi, tapi dekat kolam ikan belakang. Jauh dari pandangan balkon kamar kita, bahkan jauh dari jangkauanku."


Nadine semakin terisak, "Dan ternyata, aku benar. Kamu bohong tentang kerja lembur. Padahal sebenarnya, kamu ada di mansion kan? Kamu itu di rumah. Selama ini kamu benar-benar pulang. Yang membedakan, kamu tidak tidur di kamar bersamaku. Tapi tidur di kamar ini. Selama satu bulan lebih itu..kamu tidur disini!"

__ADS_1


"Sekarang..aku sudah tahu apa rahasianya..." lirih Nadine seraya mengusap lelehan air matanya.


***


__ADS_2