
AUTHOR POV
Semalaman Nadine tak bisa tertidur dengan nyenyak. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas, perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Mungkin ini salah satu efek dari kehamilannya.
Dan pagi ini Nadine mengalami morning sickness. Terhitung sudah 5 kali Nadine bolak balik ke kamar mandi karena perutnya terasa mual. Nadine merasa tidak nyaman.
Yang membuatnya lebih miris, Adrian bahkan tidak ada disampingnya. Menemani Nadine di masa-masa kehamilan trimester pertama ini. Suaminya itu malah memilih untuk pergi meninggalkannya sendiri setelah mendengar kabar kehamilan Nadine.
Sejatinya Nadine tidak berharap banyak dari Adrian. Yang Nadine mau, paling tidak Adrian menunjukkan perhatiannya sedikit saja daripada bersikap egois seperti sekarang.
Meski sudah diwanti-wanti Mama Diana sejak awal kalau Adrian tidak pernah memiliki keinginan untuk punya anak. Nadine tetap saja berekspektasi tinggi.
Terkadang, dalam hati kecilnya Nadine bertanya-tanya, kenapa bisa setiap kali ditanya tentang anak dan pernikahan Adrian selalu mendadak sensitif. Dalam waktu yang instan, Adrian bisa langsung mengeluarkan tantrumnya.
Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Kini Adrian sudah menikah dan bahkan Nadine hamil. Otomatis dia akan menjadi seorang Ayah suka atau tidak suka. Tidak mungkin kan Adrian lepas dari tanggung jawab dan bersikap acuh setelah semuanya kejadian?
TINGG....TINGGG..
Ponsel Nadine berdering, Mama Diana menelpon. Nadine segera mengangkatnya.
📱
"Hallo Mah.."
"Good morning sayang..gimana kabar kamu? Sudah ke dokter?" tanya Mama Diana di sambungan telepon.
"Belum Mah, mungkin nanti siang..." Nadine menyugar rambut hitam ikalnya ke belakang.
"Mama sama Papa sekarang ada di airport, kita berdua mau susulin kamu ke Rio!" Mama Diana begitu excited.
"Terus adik-adik gimana Mah? Mereka stay di LA?"
"Iya mereka masih betah disini. Apalagi Arga, semakin suka tebar pesona saja dia sama gadis-gadis muda disini. Tiap hari pulang malam terus.."
"Namanya anak muda Mah, yang penting Arga enggak melakukan hal diluar batas."
__ADS_1
"Iya sayang, oh ya ngomong-ngomong Adrian sudah kamu kasih tahu belum tentang kehamilanmu?"
"Sudah, Mah. Kemarin Adrian sendiri yang melihat testpack- ku.
"Bagaimana reaksinya?"
"Adrian tidak senang dan malah bersikap cuek dan tak mau tahu. Dia tidak menginginkan bayi yang aku kandung Mah.." ungkap Nadine jujur. Hatinya sedih.
Mama Diana menghembuskan nafasnya kasar menahan rasa kekecewaan, "Hmmm... Adrian, Adrian..lalu sekarang dimana dia?"
"Aku juga enggak tahu dia dimana Mah, dia meninggalkanku semalam dan enggak ada kabar sama sekali. Aku telepon juga enggak diangkat, aku chat enggak dibalas."
"Ya sudah, kamu sabar dulu ya sayang nanti Mama dan Papa akan coba bicara sama suami kamu," hibur Mama Diana.
"Pokoknya kamu jangan stress ya sayang, tetap tenang. Ini sebentar lagi kita mau take off, Mama tutup dulu teleponnya. Bye sayang..."
"Okay Mah..safe flight!"
Panggilan terputus.
Kakaknya itu masih dalam mode ngambek karena Nadine masih tetap nekat berangkat ke Brazil meski sudah tak mendapat izin, sehingga Nathan juga ikut cuek terhadapnya. Alhasil, ketika mereka bertelponan dan mengirim pesan satu sama lain, Nathan membalasnya secara singkat.
"Aduh..perutku mual sekali! Sebaiknya aku pergi keluar saja cari makan!" Nadine bergumam sendiri.
Daripada tidak ada kerjaan, Nadine memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat untuk sarapan. Nadine sedang tidak berselera makan di hotel, itu membuatnya bosan.
Sekalian juga pulangnya Nadine ingin pergi ke supermarket untuk membeli snack. Baru siangnya Nadine akan pergi ke rumah sakit setempat untuk memeriksa kandungannya.
Setelah selesai berganti pakaian dan sudah rapi. Nadine segera keluar dari hotel sambil berjalan mengendap-endap agar bisa lolos dari pengawasan bodyguards Adrian. Nadine menginginkan privasi dan tidak mau diikuti saat ini.
Pintu darurat belakang adalah opsi yang dipilih Nadine untuk kabur agar tidak ketahuan, mumpung para bodyguards itu sedang lengah dan bersantai. Ketika berhasil lolos, Nadine mencegat taksi yang melintas dan buru-buru pergi.
"Onde você quer ir?" tanya sang supir.
(Kemana anda ingin pergi?)
__ADS_1
"I'm sorry, I'm not native. I don't speak Portuguese.." jawab Nadine.
(Maaf, saya bukan orang sini. Saya tidak bisa berbahasa Portugis..)
"Oh I see..where do you want to go Miss?" sang supir taksi bertanya lagi.
"Can you take me to the restaurant nearby? It's up to you where..I just want to eat.."
(Bisakah anda mengantarku ke restoran terdekat? Terserah mau kemana, saya hanya ingin makan..)
"Okay then.."
Sang supir menyanggupinya dan segera melajukan mobil ke restoran terdekat yang kiranya cocok untuk sarapan.
Namun ketika di perjalanan Nadine sedikit curiga mengenai gerak-gerik si supir yang meresahkan. Sudah 30 menit lamanya, tapi belum sampai-sampai juga di restoran. Padahal tadi mobil taksi yang ditumpanginya sudah melewati 2 kedai makanan.
"I'm sorry Sir, but why it took so long to get to the restaurant? We just passed two food stalls but why didn't you stop?" tanya Nadine.
(Maaf Pak, ini kenapa lama sekali sampai ke resto-nya? Kita baru saja melewati dua kedai makanan tapi kenapa anda tidak berhenti?)
Tiba-tiba saja si supir menepikan mobilnya di pinggir jalan yang lokasinya kebetulan bersebrangan dengan laut lepas.
Nadine kebingungan. Rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi tatkala si supir keluar dari kursi kemudi dan beralih menuju tempat duduknya.
"What do you want?" ucap Nadine lantang.
Supir taksi itu tak menjawab malah tersenyum menyeringai menunjukkan sikap culasnya.
Dan benar saja, supir itu langsung membekap mulut Nadine, menekannya sangat kuat hingga Nadine kehabisan nafas dan berakhir tak sadarkan diri.
***
Maaf baru bisa up karena author sibuk skripsi harus ngebut 😠Jangan lupa untuk kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya teman-teman..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih.
__ADS_1