Favorite Sin

Favorite Sin
MINDS


__ADS_3

AUTHOR POV


Nadine memperhatikan rumah yang ada didepannya dari atas sampai bawah dengan detail. "Apa ini rumah yang akan kita tempati?"


"Iya, ayo masuk." titah Adrian, sembari ia mengangkat kedua koper Nadine. Mereka berdua mulai memasuki rumah sederhana berlantai satu dengan gaya klasik.



Berbeda dari rumah sebelumnya yang sempat ditinggali oleh Adrian, Ray, dan Nadine di Jogja, kali ini mereka akan tinggal di rumah yang memiliki space lebih luas dengan tiga kamar tidur.


Dimana masing-masing dari mereka bertiga bisa tidur sendiri-sendiri nantinya. Di rumah mungil yang kemarin, Ray harus mengalah tidur di sofa sedangkan Nadine juga tidurnya di matras empuk biasa.


"Kamar kamu ada disebelah sana, lalu kamar saya diseberangnya. Kalau kamar Ray, ada di pojokan yang mengarah ke halaman belakang. Di rumah ini punya total 3 kamar mandi. Ada 2 kamar mandi dalam, yang berada di kamar saya dan kamar kamu. Untuk satunya lagi di dekat dapur" Adrian menjelaskan pada Nadine perihal denah rumah ini sambil keliling.


"Kamu bisa melakukan apapun yang kamu suka disini asal tidak sembarangan, anggap saja seperti rumah sendiri. Tapi jangan sekali-kali kamu berani masuk ke kamar saya tanpa izin, itu pengecualiannya!" Nadine meneguk ludahnya mendengar ucapan Adrian.


"Dan satu lagi, saya harap kamu tidak keberatan kalau nantinya akan sering ditinggal sendirian di rumah ini. Urusan pekerjaan membuat saya dan Ray jarang untuk menetap. Tapi tenang saja, kamu akan tetap aman."


Tentunya Adrian tidak akan bermalam disini terus-terusan, dia lebih memilih kembali ke rumahnya sendiri atau penthouse miliknya yang lebih nyaman daripada rumah ini. Mungkin hanya sesekali Adrian akan menginap untuk mengurangi rasa curiga Nadine terhadap dirinya.


"Enggak masalah kok! Dulu waktu Ayah dan Kakak bekerja, saya juga biasa ditinggal sendirian oleh mereka" jawab Nadine dengan senyuman sedikit canggung.


Semenjak adegan dimana mereka menyatukan bibir satu sama lain di dalam pesawat tadi, membuat Nadine menjadi gugup ketika berinteraksi dengan Adrian.


"Kenapa kamu lihatin saya begitu?"


"Ahh...enggak kok."


"Bohong, saya tahu kamu pasti kepikiran soal yang di pesawat tadi kan?"

__ADS_1


Mata Nadine membulat. Tebakan Adrian tepat sasaran hingga menembus ke akarnya.


"Anggap saja itu sebagai angin lalu...yang kita lakukan itu karena kepepet. Sebagai bentuk perlindungan diri supaya dua pria aneh tadi tidak mengejar. Aman kan sekarang..."


"Iyaa..." Nadine mengangguk pelan.


"Lebih baik kamu bersih-bersih, karena setelah ini kita akan pergi ke supermarket untuk stock persediaan sehari-hari. Bahan-bahan sudah pada habis semua ketika saya dan Ray meninggalkan rumah ini sebulan yang lalu" timpal Adrian beralasan.


Padahal fakta yang sebenarnya, ini bukanlah tempat tinggal Adrian yang asli. Itu sebabnya tidak ada persediaan apa-apa.


Sedikit yang Nadine ketahui, rumah ini sebenarnya milik salah satu kerabat jauh Ray yang sudah lama pindah ke luar kota. Rumah ini sengaja disewakan karena sudah lama tidak terpakai.


Beruntung kondisi fisik rumahnya masih bagus, bersih, dan suasana sekitar juga tampak asri. Sebab tiap bulannya, sang pemilik rumah rutin mengirimkan orang untuk bersih-bersih. Sehingga saat ada yang ingin menyewa, rumahnya jadi nyaman untuk ditempati.


"Terima kasih ya Adrian...kalau gitu, saya permisi ke kamar dulu." Nadine berpamitan pada Adrian untuk segera mandi dan membersihkan diri. Badannya sudah terasa lengket karena bercampur keringat. Ditambah lagi udara disini juga sedikit panas sehingga rasanya gerah sekali.


Ketika sampai di kamar yang sudah disediakan untuknya, Nadine membongkar isi koper dan mulai mengeluarkan satu persatu barang-barang didalamnya, seperti alat mandi beserta essentials. Seperti biasa, ritual mandi Nadine memang memakan waktu yang lama.


Memasuki kamar mandi, Nadine langsung menyalakan keran shower untuk membasahi sekujur tubuhnya. Rambut panjang hitamnya dibasuh dari atas hingga bawah lalu menyentuh leher. Berada dibawah guyuran air sedikit membantu pikirannya untuk rileks sejenak. Dengan mandi, paling tidak Nadine dapat mendinginkan otaknya yang sudah mulai tidak normal akhir-akhir ini.


Sambil mengeramasi rambut dan mengoles badannya dengan sabun cair, Nadine mulai merenung. Ingatan akan dirinya yang berciuman dengan Adrian masih belum mau lepas dari angan-angan. Kejadian itu seakan menari-nari di kepalanya. Singgah dan tak mau lari. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, apakah ini nyata atau sekedar halusinasi?


Apa mungkin ini karena efek Nadine yang menjomblo lama? Sampai-sampai ketika dia mendapat kiss dari Adrian, tubuhnya langsung meremang macam orang yang baru pertama kali melihat makhluk halus.


Tak ingin berlarut-larut lebih lama kedalam pikirannya, dengan cepat Nadine membilas seluruh badannya dengan air dan segera menyelesaikan ritual mandi ini. Diluar sana Adrian pasti sudah menunggu, karena sebelumnya mereka sudah janjian untuk pergi ke supermarket bersama.


Dengan tubuh yang sudah dibalut oleh bathrobe, Nadine berjalan keluar dari kamar mandi.


"Pakai baju apa ya?" Nadine mengorek-ngorek isi koper miliknya untuk memilih baju yang sekiranya cocok untuk dikenakan pergi bersama Adrian.

__ADS_1


Lama menerka-nerka, matanya kemudian tertuju pada sebuah mini dress diatas lutut berwarna putih yang bercorak floral. Dress ini memiliki kenangan yang kuat dengan Nadine, sebab kakak laki-lakinya lah yang membelikan dia dress ini setahun yang lalu.


Sebagai hadiah oleh-oleh dari Singapura, ketika Nathan menjadi tour guide untuk customer travel yang memesan paket perjalanan wisata keliling Asia Tenggara waktu itu. Memakai baju ini akan sedikit mengobati kerinduan pada Nathan, kakaknya.



Supaya wajahnya tidak terlalu pucat, Nadine mengoleskan makeup ala natural look yang flawless. Cukup dengan alisnya yang digambar tipis, bulu matanya diberi mascara, dan sedikit sapuan bedak serta blush dengan shade berwana pink rose. Tak lupa, bibir kecilnya pun ikut dioles dengan clear lip gloss.


Rambutnya dibiarkan terurai bergelombang begitu saja karena dia baru selesai keramas. Tidak baik rambut yang masih setengah basah untuk langsung diikat. Terakhir, Nadine memilih memakai sepatu kets putih untuk menyempurnakan penampilannya hari ini.


TOKKK...TOKK..TOKK!!!


Suara pintu kamar Nadine diketuk oleh seseorang. Tidak lain tidak bukan, itu pasti Adrian. Karena di rumah ini memang hanya ada mereka berdua. Ray masih belum kemari. Tidak tahu juga kapan jelasnya dia pulang. Kemungkinan besar sebentar lagi.


Nadine menyambar tas kecilnya yang diletakkan diatas nakas. Sebelum pergi, dia mengecek kembali apa saja isi tasnya. Jangan sampai ponsel dan dompetnya ketinggalan. Bisa berabe nantinya. Tak ingin membuat Adrian menunggu lama, Nadine segera merapikan rambutnya dan bergegas untuk keluar kamar menemui Adrian.


Baru saja pintu terbuka, Adrian langsung menyemprot Nadine dengan kata-kata pedasnya..


"Lama banget didalam, kamu semedi?" celetuk Adrian. Sedangkan Nadine melongo dibuatnya.


"Ma..maaf, k-kalau nunggunya lama.." lidah Nadine mendadak kelu hingga ucapannya terbata-bata.


"Ya udah cepat, jangan membuang waktu lagi! Dari tadi saya nungguin kamu selama satu jam lebih sampai lumutan."


Adrian membalikkan badannya tanpa menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut Nadine.


Namanya juga orang tidak sabaran, pasti tidak betah kalau harus disuruh menunggu. Sedangkan Nadine, memang dasarnya lama kalau sudah urusan bersiap-siap.


Bukankah hampir sebagian wanita sama seperti itu? Ah sudahlah, daripada Adrian mood nya semakin memburuk Nadine akan menurut saja.

__ADS_1


__ADS_2