
AUTHOR POV
"Kak Nadine sama Kak Ian ketemunya dimana?"
"Terus gimana ceritanya bisa jatuh cinta...ceritain dong!"
Athena dan Fiona saling bersahut-sahutan bertanya sembari duduk di kursi kitchen island.
Gerakan jemari tangan Nadine yang sedang memotong-motong sayur langsung terhenti. Dia sungguh kebingungan bagaimana menjelaskannya pada mereka, karena belum di briefing oleh Adrian. Nadine takut salah berbicara.
Sebelumnya Nadine dan Adrian tak pernah berdiskusi tentang cerita apa yang harus mereka sampaikan pada keluarga mengenai pertemuan mereka.
"Hmm...aku dan Adrian sudah cukup lama kenal. Kami bertemu di rumah sakit. Saat itu aku enggak sengaja bertabrakan dengannya saat berjalan." yang diungkapkan Nadine adalah fakta.
Pertemuan pertamanya dengan Adrian diawali dengan saling menabrakkan diri di depan ruang tunggu ICU. Tapi Nadine tidak akan secara gamblang mengatakannya pada Mama Diana, dia akan memelintir sedikit ceritanya.
"Di rumah sakit? Kok bisa..?!"
"Iya Mah..waktu itu aku lagi nemenin Ayahku check up kesehatan. Kalau Adrian, dia kebetulan pas mau buka gips di tangan katanya habis cedera. Pas mau tebus obat, gak sengaja kita tabrakan. Akhirnya dia bantu aku ambil obat yang berjatuhan."
"Beberapa minggu setelahnya, aku ketemu lagi sama Adrian di cafe. Dari situ kita mulai kenal dekat dan saling bertukar nomor. Dan here we are, married now.."
Nadine mulai mengarang bebas dan menciptakan cerita sendiri di otaknya.
"Aduh...so sweet banget sih! Agaknya cliche sih, tapi yang penting kakakku laku..hahahaha!" tawa Fiona pecah.
"Bener kata Arga, Kak Ian gerak cepat..dalam waktu singkat langsung dinikahin! Siap-siap deh, rumah ini akan ramai dengan kehadiran anak kecil...." Athena mengkode iparnya itu untuk segera memberinya keponakan.
"Bener nih..Mama juga enggak sabar banget punya cucu. Pasti gemes deh, bisa dibuat lucu-lucuan!" timpal Mama Diana.
Respon yang diberikan oleh ketiganya membuat Nadine terhenyak. Mereka memiliki harapan yang besar agar Nadine segera memiliki momongan. Padahal dia dan Adrian belum genap sebulan menikah, tapi tekanannya sudah terasa.
Sebenarnya bukan itu perkaranya. Kenyataan bahwa dirinya dan Adrian hanya menikah secara kontrak, yang justru mengusik ketenangan hatinya.
Mereka tidak tahu saja jika setelah 2 tahun nanti, Adrian dan Nadine akan bercerai sesuai kesepakatan. Disamping itu, dalam kontrak tertulis bahwa Adrian tidak menghendaki adanya anak dalam pernikahan sementara ini.
Mama Diana menyadari jika Nadine merasa tidak nyaman dengan pembicaraan kali ini. Itu bisa terlihat dari raut wajahnya yang menampilkan kecemasan.
Mama Diana meletakkan pisau yang digunakannya untuk memotong daging dan segera menghampiri menantunya itu.
__ADS_1
"Sayang..jangan dipikirkan ya omongan Mama dan adik-adikmu. Itu hanya omongan selingan. Kita semua enggak menuntut kamu untuk cepat-cepat hamil. Dinikmati saja prosesnya...biar mengalir." Mama Diana yang merangkul bahu Nadine.
"Iya Mah...aku juga santai aja. Wajar kalau Mama dan Papa ingin memiliki seorang cucu, itu hal yang biasa."
Athena dan Fiona ikut mendekat pada Nadine. "Kak maaf ya kalau kita ada salah ngomong tadi. Kita enggak bermaksud bikin kakak kepikiran." Mereka takut jika Nadine tersinggung.
Sebuah senyuman terulas di wajah Nadine. "Ishhh..apa nih, Kakak baik-baik aja kok. Sama sekali enggak masalah. Itu tadi bukan sesuatu hal yang perlu dibesar-besarkan."
Mereka berempat pun saling melemparkan senyuman satu sama lain.
"Permisi Nyonya, Non, maaf saya mengganggu. Barusan Tuan Alan meminta saya untuk memanggil Non Athena dan Non Fiona." ucap Chika, salah satu pelayan di mansion.
"Manggil untuk apa? Dimana Papa?" tanya Fiona.
"Kurang tahu Non soal kenapa-kenapanya. Saya cuman dapat pesan kalau Non ditunggu di taman belakang."
"Kalian berdua langsung ketemu Papa aja sana, takut ada sesuatu yang penting!" sahut Mama Diana.
"Oke Mah, kita ke belakang dulu."
Fiona dan Athena meletakkan alat-alat masak yang mereka pegang untuk segera menemui Papa Alan di taman.
"Enggak usah Chika, kamu kembali ke paviliun saja. Saya sama Nadine bisa tangani sendiri kok ini. Enggak keberatan kan Nad?"
"Enggak Mah... aman kok!" jawab Nadine.
Chika akhirnya pamit undur diri dan kembali ke paviliun karyawan.
"Mama sudah banyak mendengar tentang kamu Nadine. Mama turut berduka ya dengan apa yang terjadi pada keluarga kamu. Mama harap Ayah kamu sudah tenang disana..dan kakakmu bisa segera ditemukan."
Nadine tersenyum tipis. "Makasih Ma..Nadine sangat menghargai itu."
"Oh ya Nad Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Tanya apa Mah?" Nadine menoleh pada Mama mertuanya
"Apa Adrian masih sering bermimpi buruk saat tidur?"
DEGHH....
__ADS_1
Lagi-lagi Nadine terjebak dalam pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bagaimana bisa dia tahu sedangkan dia dan Adrian tak pernah tidur bersama!
"Mi..mimpi buruk apa Mah? Selama ini, semuanya baik-baik saja kok. Nadine enggak pernah tahu soal itu!"
"Huh..syukurlah, Mama hanya takut mimpi buruknya sering kumat. Biasanya saat suasana hati Adrian sedang buruk atau ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya..dia akan mengalami mimpi buruk hingga keringat dingin di sekujur tubuh."
"Dan mimpi buruk itu bukan sekadar mimpi buruk biasa...Adrian akan tantrum setelahnya."
"Nadine enggak mengerti maksud Mama?!"
"Sayang..Adrian mungkin enggak akan pernah bercerita ini ke kamu. Tapi Mama akan kasih tahu. Ini tentang Adrian."
"Mama jangan buat aku takut..ada apa sama Adrian Mah?" Nadine panik.
"Adrian memiliki kesehatan mental yang kurang bagus sejak kecil. Gangguan PTSD yang dialaminya itu disebabkan karena dia mengalami peristiwa mengerikan yang membuatnya trauma...
"Belum tahu pasti, apakah dia bisa sembuh total atau tidak. Karena dalam situasi ini, jika Adrian ke-trigger..maka itu dapat membawa kembali memori buruknya disertai dengan reaksi emosional yang intens."
"Peristiwa mengerikan apa yang terjadi Mah, sampai Adrian bisa menjadi seperti itu?" Nadine mulai mengorek informasi dengan harapan dia bisa lebih memahami Adrian.
"Saat Adrian berumur 10 tahun, dia menyaksikan ibu kandungnya dibunuh didepan mata."
Nadine menutup mulutnya dengan kedua tangan dan cukup terkejut mendengar pengakuan Mama Diana.
"J--jadi Mama bukan ibu kandungnya Adrian?" lirih Nadine yang masih shock.
"Bukan sayang..Mama hanyalah ibu sambungnya. Diantara anak-anak Mama, hanya Adrian lah hasil anak dari pernikahan pertama Papa Alan."
"Tapi Mama sangat sayang sekali sama anak itu. Mama takut dia berlarut-larut dalam kegelapan dan keterpurukan. Itu sebabnya kenapa Mama senang sekali saat dia bilang sudah menikah dengan kamu. Itu artinya, perlahan Adrian mau berubah..."
Mama Diana menggenggam erat kedua tangan Nadine. Pelupuk matanya bergelinang air mata.
"Adrian sudah melewati banyak peristiwa buruk dalam hidupnya. Saat dulu dia tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya, Adrian pernah mengalami tindak kekerasan."
"Jadi Mama mohon dengan sangat sama kamu sayang, tetap berada disisi Adrian dalam keadaan apapun ya..tolong bantu dia keluar dari kegelapan. Hanya kamu satu-satunya harapan yang kita punya untuk membawa Adrian ke jalur kebahagiaan" Mama Diana tersedu-sedu.
Entah kenapa, mendengar cerita Mama Diana tentang Adrian mampu menyesakkan rasa sakit di dada Nadine. Dia tak pernah mengira jika masa lalu suami kontraknya itu begitu pelik.
Dibalik sikapnya yang dingin dan angkuh, tersimpan sejuta misteri kesedihan didalamnya. Nadine mencoba untuk mencerna semua informasi yang diterimanya pelan-pelan...
__ADS_1