Favorite Sin

Favorite Sin
FLUENT IN ITALIAN


__ADS_3

AUTHOR POV


"Topi ini lucu banget!" ucap Nadine seraya mengambil sebuah topi pantai yang diperjualbelikan di toko souvernir pinggir jalan.


Setelah makan siang menuju sore mereka usai, Adrian dan Nadine memutuskan untuk berkeliling lagi sembari menunggu kabar kesehatan Nathan dari dokter dan perawat yang sudah ditugaskan khusus oleh Adrian untuk menjaganya.


"Topi yang ini maksudmu?" Adrian mengerutkan dahinya dan menunjuk topi yang dipegang Nadine.


"Iya..bagus kan modelnya? Pakai motif tribal dan garis-garis. Terus warnanya perpaduan antara cream dan merah! Keduanya itu warna kesukaanku. Bagaimana menurut kamu?"


"Jelek."


Nadine menghela nafasnya, "Hhh...kejam banget! Masa ini dibilang jelek? Kamu emang benar-benar ahli dalam bersikap kasar!" sindir Nadine.


"Saya tidak kasar, tapi saya jujur. Topi nya memang jelek modelnya!" komentar Adrian.


Mendengar hal itu membuat Nadine memutar bola matanya malas.


"Memangnya kamu menyukai topi itu?" Adrian bisa melihat dari raut wajah Nadine yang mupeng (muka pengen).


Nadine meraba-raba topi yang diminatinya, "Jujur sih iya..kalau menurutku topi ini lucu."


"Beli saja..!!" ucap Adrian dengan entengnya.


Nadine membantah, "Enggak mau!"


"Kenapa?"


"Soalnya kamu bilang topinya jelek.. jadi aku enggak akan beli!"


Adrian menatap Nadine kebingungan. Sebenarnya Nadine ingin membeli topi tersebut atau tidak? Beberapa menit yang lalu dia berminat, tapi sekarang malah berubah pikiran.


"Kenapa pendapat saya tiba-tiba penting buat kamu? Kalau kamu suka, maka belilah! Jangan terlalu banyak mikir."


"Enggak ahh..aku enggak jadi mau! Nanti kamu bakal mengejek aku karena sudah membelinya, jadi tidak!" Nadine meletakkan kembali topi tersebut ke etalase.


Adrian sedikit menahan tawa kecilnya melihat tingkah Nadine yang kekanak-kanakan.

__ADS_1


"Tuh lihat kan, belum beli aja kamu sudah menertawakanku! Apalagi kalau jadi beli.." Nadine mengerucutkan bibir mungilnya.


Bibir mungil yang sudah menjadi candu bagi Adrian. Sehingga tanpa disadari, Adrian menatap lekat bibir itu dengan seksama dan tak berkedip sama sekali. Adrian semakin gemas melihat tingkah Nadine saat sedang kesal.


"Saya akan membelinya untuk kamu. Ambilah!" perintah Adrian.


"Kamu mau belikan buat aku..benarkah?" kedua mata Nadine melebar berbinar-binar.


Adrian mengancam, "Cepat ambil sebelum saya berubah pikiran!"


"Okay..okay..tapi jangan dihujat yah kalau pas aku pakai!" diambilnya topi tersebut dengan rasa excited yang membuncah.


"Kurang kerjaan banget saya menghujat kamu! Topi nya memang jelek, tapi yang pakai kan bukan saya melainkan kamu. Jadi no hard feelings. Semua kembali pada yang ingin pakai!"


Adrian kemudian memanggil sang penjual yang baru saja kembali dari melayani pelanggan lain.


"Signore, quanto costa?" (Berapa harganya?) Adrian bertanya pada sang penjual seraya menunjuk topi yang dipegang Nadine.


Sang penjual mengangkat jarinya untuk memberikan harga, "45 euros."


"Ne prendo uno!" (Saya ambil ini!) Adrian menyerahkan selembar uang kertas bernilai 50 euro.


"Grazie mille.." (Terima kasih banyak) ucap sang penjual.


"Prego." (Sama-sama)


Nadine hanya bisa bengong melihat interaksi Adrian dengan sang penjual topi yang menggunakan bahasa Italia. Dia sama sekali tidak tahu apa artinya dan hanya ikut manggut-manggut saja.


"Aku baru tahu kalau ternyata kamu fasih dalam berbahasa Italia, ini sangat mengejutkan!"


"Banyak yang tidak kamu ketahui tentang saya."


"Andai kamu mau bersikap terbuka, aku pasti tahu!" Nadine menaik-naikkan kedua alisnya.


Adrian yang disindir memilih untuk tak menggubris Nadine, "Apakah ada barang tertentu yang ingin kamu beli lagi?"


"Enggak, aku hanya suka dengan topi yang satu ini. Lagipula harganya juga mahal-mahal! Beli topi aja udah habis €45..cukup deh!"

__ADS_1


Adrian terkekeh, "45 euro itu tidak mahal Nadine, itu normal."


"Iya normal, tapi itu bagi kantong orang-orang seperti kamu! Tapi makasih ya, udah dibeliin..aku suka!" ucap Nadine seraya menerima paper bag berisikan topi yang dibeli tadi dari sang penjual.


Adrian mengangguk, "Hmm...kita pergi sekarang!"


***


"Berapa banyak bahasa yang kamu kuasai selain Bahasa Inggris dan Bahasa Italia?" tanya Nadine.


Keduanya baru saja keluar dari kedai es krim gelato karena Nadine sedang ingin sesuatu yang segar-segar.


"Perancis, Jerman, dan Spanyol." jawab Adrian.


Nadine membelalakkan matanya terkejut, "Wow...dimana kamu belajar semua itu?" tanya Nadine penasaran.


"Saya dulu pernah mengambil kelas Bahasa Prancis dan Spanyol dengan serius saat kuliah, sehingga saya sangat fasih dalam keduanya. Kalau untuk Bahasa Jerman dan Italia, saya belajar autodidak. Jadi belum terlalu lancar bicaranya. Saya masih perlu belajar mengucapkannya dengan benar."


Nadine memuji, "Tapi tadi kamu hebat lho pas speaking Italian...enggak terdengar kaku seperti orang yang masih belajar. Kamu udah kayak ahli bahasa!"


"Saya punya alasan tersendiri. Dengan menguasai beberapa bahasa asing, saya bisa mendapatkan klien. Pendekatan budaya dan bahasa selalu berhasil untuk mendapatkan minat terbaik para investor dan klien.."


"Singkatnya, hal ini akan mempermudah perusahaan saya untuk mendapatkan penawaran bagus. Bonusnya, saya bisa tampak seperti seorang jenius di depan orang-orang," lanjut Adrian.


"Hmm..kebiasaan, terlalu percaya diri!"


Adrian menatap Nadine dengan senyuman sinis, "Saya tidak akan menjadi CEO jika saya tidak terlalu percaya pada diri saya sendiri, Nadine.."


Adrian kemudian mendekatkan wajahnya ke Nadine. Keduanya saling bertatapan dengan pandangan yang sangat intens.


Nadine menjadi gugup dibuatnya karena wajah Adrian sudah cukup dekat hingga menyisakan jarak yang hanya sejengkal.


Suasana berubah menjadi tegang dan panas. Saking panasnya, es krim cone yang dipegang Nadine ikut meleleh hingga jatuh ke tangan.


Tiba-tiba, tangan kanan Adrian dinaikkan untuk mengusap bibir Nadine yang belepotan terkena sisa es krim dengan lembut.


"Pelan-pelan saja makannya! Tidak ada yang akan merebut es krim-mu.." Adrian berbisik tepat di telinga Nadine, hingga sekujur tubuh Nadine meremang.

__ADS_1


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2