
...NADINE...
7 Bulan.
Adalah usia kehamilanku sekarang. Perutku yang membuncit ini--karena aku hamil anak kembar tentunya, semakin membuatku sedikit kesulitan untuk bergerak dan beraktivitas dengan lincah seperti dulu.
Bohong jika aku tidak insecure melihat perubahan bentuk tubuhku. Aku seringkali uring-uringan sendiri melihat pantulan diriku pada cermin.
Satu hal yang paling aku takuti saat ini, yaitu aku takut jika Adrian berpaling. Jalan pikiran suamiku itu sulit sekali untuk ditebak, itu sebabnya aku cemas sendiri memikirkannya.
Bagaimana jika dia selingkuh dan memiliki wanita lain karena bentuk tubuh yang sudah tidak memikat lagi?
Pertanyaan itulah yang selalu terngiang dalam otakku. Ditambah lagi dengan banyaknya peristiwa yang terjadi dalam kehidupanku akhir-akhir ini sering memicu diriku untuk overthinking.
Masalah yang aku maksud adalah Valerie dan Sean. Dua orang yang sampai sekarang belum menyerah untuk mengusik kehidupanku dan Adrian. Setiap harinya mereka tak bosan memberikan teror pada kami sekeluarga.
Athena hampir diculik saat sedang pergi menonton konser. Fiona yang terkena food poisoning saat makan di restoran. Yang terakhir, Arjuna dan Arga nyaris saja meregang nyawa karena mobil yang mereka tumpangi telah disabotase sehingga remnya blong.
Beruntungnya mereka tidak apa-apa dan selamat, berkat bodyguards Adrian yang tangguh. Semua bisa diatasi. Valerie kembali ditahan oleh pihak berwajib, sedangkan Sean masih dalam status buronan. Hal itu tak serta merta membuat Adrian menyerah, karena suamiku itu berjanji untuk mencari Sean hingga ke ujung dunia sekalipun.
Lamunanku terbuyarkan saat Bibi Magda datang menghampiriku, ketika aku sedang duduk bersantai di tepi kolam renang sambil membaca novel milik Adrian yang kuambil dari ruang kerjanya.
"Permisi Nyonya, saya mau izin bertanya. Barang belanjaan Nyonya mau diletakkan dimana ya? Sebab walk in closet di kamar Nyonya isinya penuh dan tidak cukup untuk dimasuki barang-barang lagi." ujar Bibi Magda.
"Hmm...taruh di kamar kosong yang di lantai 1 saja Bi, minta tolong pilihkan kamar yang sekiranya cocok untuk menyimpan barang-barang saya," jawabku.
Hampir saja lupa untuk menata belanjaanku, yang merupakan hasil oleh-oleh liburanku dari luar negeri. Kegilaanku terhadap shopping semakin menjadi-jadi saja sejak aku hamil. Baru 3 hari yang lalu aku dan Adrian kembali ke tanah air setelah melakukan perjalanan babymoon ke Spanyol dan Italia.
Bibi Magda mengangguk. "Baik Nyonya, akan saya bersihkan terlebih dahulu kamar kosongnya."
Ketika Bibi Magda hendak beranjak, aku tiba-tiba berubah pikiran dan menahannya. "Tunggu sebentar Bi, saya mau telepon Adrian dulu."
Bibi Magda tampak kebingungan dan mengusap pelipisnya. "Ekhmmm..b--baik Nyonya."
Bukan tanpa sebab aku menelpon Adrian. Aku paling tidak suka jika barang-barang pribadiku terlihat berantakan dan tidak tertata dengan rapi. Maka dari itu, aku berniat meminta Adrian untuk menyuruh orang yang bisa menyulap kamar kosong di mansion menjadi tempat walk in closet yang baru. Langsung saja aku mendial nomor Adrian dan berharap dia akan mengangkatnya.
📱
"Sayang...." aku menyapa Adrian dengan nada manjaku seperti biasa.
"Ada apa?" balasnya dengan intonasi datar.
Dalam hati aku mendengus kesal dengan jawaban cueknya. Sudah hampir setahun kami menikah, Adrian masih saja bersikap menyebalkan. Tapi ya sudahlah, tidak perlu diributkan karena ada hal yang lebih penting dari sekedar marah-marah atas sikap acuhnya.
"Ini lho, barang belanjaanku yang dari kita liburan kemarin...itu ternyata enggak cukup kalau dimasukkan ke walk in closet di kamar kita. Katanya Bibi sudah penuh tidak muat lagi. Enaknya ditaruh dimana ya?" aku mengadu padanya blak-blakan.
"Ya tinggal ditaruh di kamar kosong kan bisa." jawabnya santai.
"Tapi nanti berantakan! Kan di kamar kosong lemarinya kecil. Masa cuman ditaruh biasa aja, sisanya jadi tercecer dan bergeletakan dong!"
__ADS_1
Adrian menghela nafasnya sejenak, aku bisa mendengar lirihan itu pelan, "Terus kamu maunya bagaimana?"
Aku menarik sudut bibirku dan tersenyum tipis. Rupanya Adrian sudah tahu kemana arah pembicaraanku.
"Buatkan aku walk in closet lagi di kamar kosong untuk meletakkan barang-barangku. Jadi biar baju, tas, dan sepatu baruku aku taruh sana nantinya. Boleh ya?" pintaku memelas.
Diseberang sana, Adrian terhening sejenak.
"Iya." Adrian kembali bersuara.
"Iya apa?"
"Iya nanti aku suruh orang untuk buatkan kamu kamar khusus supaya bisa taruh barang-barang belanjaan," sahutnya.
"Enggak mau nanti, maunya sekarang juga."
"Mana bisa semuanya jadi dalam waktu sehari Nadine? Harus dipikirkan dulu konsep ruangannya mau yang bagaimana, belum juga beli perabotannya...setidaknya itu butuh waktu 3 hari pengerjaan!"
"Tapi aku maunya sekarang, biasanya juga kamu kalau mengerjakan sesuatu selalu cepat. Kenapa yang ini butuh waktu lama?"
Hanya dari panggilan telepon saja, aku bisa menerka jika dia sedang memutar bola matanya malas. Pipi suamiku itu pasti berubah merah karena menahan emosi sekarang.
Tapi biarlah, aku tak perduli. Jika aku inginkan sekarang, maka harus kudapatkan juga sekarang. Entah kenapa semenjak aku hamil, aku menjadi orang yang demanding.
"Okay, aku akan kirimkan orangku hari ini juga. Satu atau dua jam lagi dia akan datang. Kamu puas?" sarkas Adrian dengan penekanan pada kalimat yang diucapkannya.
"Yeayyy!! Thank you so much love.. muach!!" ucapku seraya mengeluarkan suara kecupan dari jauh.
"Bye sayang...semangat kerjanya! Aku tunggu kamu di rumah."
Tittt...
Adrian tak merespon dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia mungkin sudah terlampau kesal dengan tingkah kekanak-kanakanku. Bodo amat, yang penting keinginanku terealisasi.
"Bibi, dengar sendiri kan tadi?" aku sengaja meloud-speaker panggilan teleponku dengan Adrian supaya aku tak perlu menjelaskan lagi dua kali pada Bibi Magda.
"Saya dengar, Nyonya."
"Kalau begitu, tetap lakukan saja tugas yang tadi saya berikan. Pilih kamar kosong lalu letakkan tumpukan paperbag saya didalamnya sementara. Nanti kalau orang suruhan Adrian datang, Bibi tolong tata dan atur yang rapi. Bisa?"
"Bisa dong Nyonya, siap laksanakan."
"Terima kasih Bi, Bibi bisa kembali bekerja."
"Saya pamit undur diri Nyonya." Bibi Magda menunduk dan segera melangkahkan kakinya kembali kedalam.
Fyuhh...
Masalah satu terselesaikan dan aku bisa bernafas lega sekarang. Sejak pulang dari babymoon, aku memang disibukkan dengan berbagai hal tentang urusan rumah tangga.
__ADS_1
Meski aku menganggur, repotnya tetap minta ampun. Maklum saja, aku dan Adrian terlalu lama meninggalkan Bali sehingga banyak urusan yang terbengkalai.
Mau tahu berapa lama aku dan suami tinggal disana? Jawabannya adalah 2 bulan. Satu bulan aku di Barcelona dan Canary Islands, dan sisa satu bulannya lagi aku berada di Rome dan Venice.
Butuh perjuangan untuk mengajak suami yang angkuh dan dingin seperti Adrian pergi liburan. Ketika kesempatan didepan mata, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Mumpung Adrian bersedia, sekalian saja aku puas-puaskan berlama-lama disana.
...
...
Benar saja, Adrian menepati janjinya. Kurang dari satu jam, orang suruhannya telah datang dengan membawa sejumlah furniture dan beberapa alat tempur lainnya untuk merombak kamar kosong di mansion menjadi walk in closet.
"Saya baru sadar, kalau ternyata mansion ini memiliki banyak kamar kosong yang tersedia untuk dipakai." aku mengedarkan pandangan menatap deretan kamar di lorong lantai satu.
"Waktu Bibi mengajak saya house tour dulu, rasanya tidak sebanyak ini deh!" celetukku lagi.
"Betul itu Nyonya, mansion ini memang luas dan banyak kamar kosong siap pakai! Bahkan pelayan disini sampai kelelahan ketika membersihkannya," timpal Sinta yang juga ikut berada dalam ruangan, membuatku terkekeh.
Setelah percakapan singkat kami, aku kembali fokus untuk mengarahkan para pekerja suruhan Adrian untuk mengatur tata letak furniture-nya dan menempelkan wallpaper serta dekorasi yang cocok untuk ruangan.
Ketika para pekerja itu sudah paham akan jobdesc mereka masing-masing, aku langsung saja keluar dari tempat yang banyak debunya itu. Wajar sih, karena kebetulan Bibi Magda memilih ruangan yang sudah lama tidak ditempati.
"Oh ya Bi, saya sudah lama ingin bertanya pada Bibi tentang ruangan yang ada di pojokan lorong itu. Kalau boleh tahu, itu tempat apa ya?" aku menyelidik penasaran.
Waktu pertama kali tiba disini, aku sempat memperhatikan ruangan itu tapi tidak pernah tahu ada apa didalamnya apa. Apalagi lorong sayap timur itu kelihatan menyeramkan & gelap.
Asumsiku, mungkin saja lorong di area itu bersifat pribadi dan sangat ketat dijaga. Aku bahkan tidak berani menggerakkan kakiku untuk menuju kesana.
"Kamar itu dulunya jadi perpustakaan Tuan Adrian, Nya. Tak hanya itu, didalamnya juga ada beberapa perlengkapan berkuda dan panahan milik Tuan. Kurang lebih seperti tempat penyimpanan," terang Bibi Magda.
Tempat penyimpanan?
Hmm..begitu rupanya. Tapi aku tidak bisa bohong kalau vibes dari area itu tampak mencekam. Auranya terlihat seperti area yang lama ditinggalkan.
"Bibi dan pelayan yang lainnya apa masih sering membersihkan ruangan itu?"
"Dulu sih iya Nya, tapi sekarang tidak lagi. Kami berhenti membersihkan kamar itu sekitar 5 bulan yang lalu atas perintah Tuan Adrian. Sebab mulai dari perpustakaan pribadi serta beberapa perlengkapan berkuda dan panahan milik Tuan telah dipindahkan ke mansion di bagian sayap barat."
"Saya jadi penasaran deh Bi sama isi didalamnya! Tapi takut kalau mau masuk..kayak seram gitu deh!"
"Ajak Tuan Adrian saja Nya, beliau yang sekarang pegang kunci kamar tersebut. Ruangannya memang luas dan besar sekali. Dari dalam bisa terlihat view bukit indah, kolam ikan, dan kebun mawar."
Entah kenapa, aku mendadak terhipnotis kala melihat area lorong itu. Yang tadinya merasa takut, tiba-tiba keberanian menyeruak dan menggoyangkan jiwaku untuk maju tak gentar.
Dengan langkah gontai sambil memegangi perutku yang membesar ini, aku menapakkan kakiku untuk berjalan menuju area itu. Aku mengabaikan Bibi Magda, Sinta, serta pelayan lain yang sibuk mengangkuti paperbag belanjaanku. Mereka pasti tidak sadar aku menghilang saking sibuknya.
Dan sekarang, berdirilah aku disini. Tepat didepan kamar yang sedari tadi menarik perhatian. Ceklek...
Pintunya tidak terkunci. Begitu aku lihat isi didalamnya, denyut nadiku meningkat dan jiwaku meremang seketika. Tanganku yang masih memegang tuas pintu menjadi tegang dan kaku.
__ADS_1
Astaga Tuhan...ruangan ini.....
***