Favorite Sin

Favorite Sin
FAMILY IN LAWS


__ADS_3

...NADINE...


Papa Alan tampak menegang ketika mendengar nama Ayah disebut. Apakah mereka sempat memiliki history bersama? Aku tidak tahu..


"Adrian...bisa kita bicarakan ini berdua saja?" tanya Om Alan.


"Kita bicarakan di ruang kerjaku saja Pa!" jawab Adrian.


Keduanya beranjak dari sofa. Ketika sudah berdiri, Adrian sempat melirikku sejenak dan menganggukkan kepalanya. Aku membalasnya dengan senyuman tipis.


Om Alan dan Adrian berjalan menuju ruang kerja yang aku tidak tahu letaknya dimana. Aku menatap kepergian mereka hingga punggungnya tak terlihat lagi.


Aku penasaran apa yang akan mereka diskusikan, apalagi ini menyangkut Ayah. Adrian berhutang banyak penjelasan padaku.


Kini hanya tersisa aku dan Tante Diana saja, berdua di ruangan besar yang penuh kesunyian.


"Nadine..." lirih Tante Diana yang mulai bersuara


"I-iya Tante.."


"Kok manggilnya Tante sih..Mama dong, sekarang kan kamu menantu di keluarga ini."


Tante Diana mendekatkan duduknya ke arahku seraya mengelus-elus punggung tanganku dengan kelembutannya.


"E-e-ehh..iya M-mama..Nadine akan coba, maaf karena Nadine belum terbiasa saja."


"Hal yang lumrah terjadi, tapi harus dibiasakan ya mulai sekarang! Mama senang bisa bertemu dengan kamu lagi disini...apalagi mengetahui status kamu dan Adrian. Mama semakin bahagia rasanya!"


"Aku juga sama senangnya dengan Mama!" sebisa mungkin aku berusaha terlihat akrab dan tidak menampilkan kecanggunganku.


"Terakhir tuh, katanya Athena pernah ketemu kamu di supermarket kapan hari...waktu itu Mama juga ada disana tapi terpencar dengan Athena. Kita gagal ketemu waktu itu, karena kamu pergi sama teman, kalau enggak salah?!"


"Ahh...iya Ma, waktu itu aku memang ada di supermarket lagi belanja kebutuhan sehari-hari sama Adrian. Terus enggak sengaja lihat Athena. Kita juga sempat bertukar nomor telepon dan ngobrol-ngobrol sebentar."


"Dunia itu sempit yah.. berawal dari kamu yang nolongin Fiona dan Athena, adik-adiknya Adrian..eh sekarang kamu malah jadi istrinya," canda Mama Diana.


Aku hanya bisa menanggapi omongan Mama dengan tawa yang tipis. Deg-degan sekali rasanya. Ternyata begini ya sensasi pertemuan pertama dengan mertua. Aku benar-benar gugup.


"Nadine, ada sesuatu yang Mama ingin katakan sama kamu..sayang.." wajah Mama Diana berubah menjadi serius.


"Apa Ma?" tanyaku polos

__ADS_1


Mama Diana menangkup pipiku di satu sisi. "Tidak banyak yang Mama inginkan, hanya saja..Mama titip Adrian ya sayang..tolong jaga dan bahagiakan dia. Apapun yang terjadi, Mama mohon untuk kamu agar tetap berada disampingnya..jangan pernah tinggalkan dia dalam keadaan terpuruk," Mama Diana terdiam sejenak.


"Mama sudah pernah menjadi saksi atas penderitaan yang dialaminya. Semoga dengan hadirnya kamu di hidup Adrian..dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik," lanjutnya.


Aku berusaha keras untuk memahami maksud Mama. Penderitaan? Apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian? Seserius itukah sampai Mama harus memohon dengan matanya yang berkaca-kaca saat bicara padaku.


Belum sempat aku membalas ucapan Mama Diana, Adrian dan Papa mertuaku sudah datang kembali ke ruang tamu.


"Ada apa ini..kok pada mellow? Mama nangis lagi ya?"


"Enggak Pah..ini itu tangisan kebahagiaan, Mama senang karena akhirnya ngerasain punya menantu itu gimana! Hihihi..."


Dengan sigapnya, Papa Alan menghapus buliran air mata yang mengalir di pipi Mama Diana. Romantis sekali mereka...meski sudah tergerus oleh usia, tak menyurutkan keduanya untuk bersikap manis satu sama lain.


"Oh ya Nadine..selamat datang di keluarga ini ya! Papa minta maaf kalau tadi Papa memberikan kesan yang buruk sama kamu. Sungguh, Papa tidak bermaksud seperti itu.." ucap Papa Alan.


"Iya Pah, Nadine memaklumi itu semua. Wajar kalau Papa bereaksi seperti tadi, aku pun juga sama terkejutnya dengan Papa", aku menoleh pada Adrian bermaksud untuk menyindirnya. Tapi yang disindir malah bersikap acuh.


"Ya sudah, Papa dan Mama mau pulang dulu dan mengabarkan berita ini pada adik-adiknya Adrian. Mereka pasti senang mendengarnya. Kalian juga butuh privasi untuk berbicara berdua," kata Papa Alan.


"Secepatnya, kalian Papa tunggu untuk datang ke rumah kami. Kehadiran kalian sangat bermakna buat kami sekeluarga," Papa Alan menepuk-nepuk bahu Adrian.


Baik Papa Alan dan Mama Diana, keduanya bergantian untuk memelukku dan bercipika-cipiki. Kemudian aku dan Adrian mengantarkan mereka sampai ke depan.


Setelah keduanya pergi, aku membalikkan badan untuk bertatapan dengan Adrian. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, dia berhutang banyak penjelasan padaku. Aku tidak akan segan-segan untuk memborbardir nya dengan sejuta pertanyaan.


"Kita harus bicara! Banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu!" tegasku seraya melipat kedua tangan di dada.


"Silahkan.." Adrian membuat gesture tangan untuk mempersilahkan aku berjalan duluan.


***


Aku dan Adrian berjalan santai menyusuri taman indah yang terletak didalam mansion. Suasananya sangat sejuk dan rimbun akan pepohonan.


"Jadi, siapa kamu sebenarnya?"


"Adrian."


Aku mendengus kesal. "That's not what I meant.." (itu bukan maksudku)


"Nama lengkap saya Adrian Rhys Natadipura. Dari nama belakang itu kamu pasti tahu siapa keluarga saya."

__ADS_1


DEGHHHHH....


Natadipura?! Seperti pernah mendengar....


"Apa nama Natadipura yang tersemat di nama belakangmu itu nama yang sama dengan pemilik dari Natadipura Group?" tanyaku penuh keraguan.


"Iya. Tapi saya bukan pemilik Natadipura Group, itu bisnis yang dikelola keluarga! Saya punya perusahaan sendiri yang terpisah, Adrian Corps namanya..."


Siapa sih yang tidak tahu Natadipura Group dan Adrian Corps. Perusahaan tempatku bekerja dulu saja pernah berasosiasi dengan perusahaan mereka. Nama mereka masuk dalam kategori pesohor di dunia bisnis.


Aku baru tahu nama belakang Adrian itu ada Natadipura-nya. Karena saat kami mengucapkan janji suci, Adrian hanya menyebutkan jika namanya itu Adrian Rhys, tidak ada embel-embel Natadipura.


Aku tidak pernah memperhatikannya secara detail. Selama ini, kepentingan mengurus dokumen pernikahan dan lain-lain selalu Adrian yang mengatur. Akta nikah kami pun, dia yang simpan! Aku tidak berkesempatan untuk mengetahuinya atau bahkan melihatnya.


"Kenapa diam? Tadi katanya banyak yang ingin ditanyakan!!" sindirnya.


"Aku masih enggak percaya kalau kamu dan keluargamu adalah orang yang cukup berpengaruh. Aku banyak mendengar tentang kehebatan bisnis yang dilakukan oleh Keluarga Natadipura, tapi aku enggak pernah tahu kalau kamu orangnya..."


"Selama ini saya dan keluarga inti tidak pernah menampakkan wajah kami secara gamblang di media, kecuali Papa dan pihak keluarga besar saya yang lain. Mungkin ada satu atau dua foto yang diambil paparazi, tapi gambarnya selalu blur."


"Kenapa begitu? Bukankah biasanya orang-orang seperti kamu itu suka ketenaran ya? Tampil di media juga bisa dijadikan ajang untuk kepentingan engage business.." tanyaku lagi.


"Saya punya persepsi yang berbeda. Semakin terkenal seseorang, maka semakin banyak bahaya yang akan datang. Kamu lihat sendiri kan kejadian yang kita alami beberapa hari ke belakang. Mereka yang tidak tahu saja sudah berniat mencelakai saya...apalagi kalau tahu!"


"Tapi disisi lain ada untungnya juga menjadi bagian dari Keluarga Natadipura. Semacam ada privilege tersendiri. Meski banyak bahaya yang datang, setidaknya kami punya perlindungan. Orang akan berpikir dua kali untuk berani macam-macam pada kami...itu alasan kenapa saya bawa kamu tinggal disini."


Lelah mengitari taman yang luas ini, kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman.


"Kenapa menyamar sebagai seorang bodyguard?"


"Memang saya pernah bilang kalau saya ini bodyguard? Kamu sendiri kan yang berasumsi!" ejeknya.


"Tapi waktu aku tanya begitu, kamu juga diam aja enggak menjawab...jadi ya aku pikir kamu beneran bodyguard!!"


"Saya tidak mau ribet, jadi saya mengiyakan saja pernyataan kamu. Toh pada waktu itu, saya juga tidak bisa memberitahu kamu soal identitas saya."


"Lalu soal Ayah..tadi kamu menyebutkan nama Ayahku didepan Papa. Aku bisa melihat ketegangan dalam dirinya. Ada hubungan apa mereka?"


"Tidak ada yang serius. Dulu Ayahmu pernah bekerja sebagai asisten pribadi Papaku di perusahaan..sama seperti Ray dan saya. Sudah lama sekali Papa hilang kontak dengan Ayah kamu, itu sebabnya dia terkejut."


"Hanya itu?" aku menyatukan kedua alisku.

__ADS_1


"Iya, hanya itu. Kalau enggak percaya, tanyakan sendiri pada orangnya!".ketus Adrian, membuatku tak ingin bertanya-tanya lagi padanya.


Saat ini aku dan Adrian sama-sama duduk termenung di bangku taman. Tak ada lagi sepatah kata yang keluar dari mulut kami. Hari sudah mulai gelap dan matahari telah terselimuti. Kami memilih untuk menatap langit-langit, sembari menikmati senja yang mulai turun.


__ADS_2