
...NADINE...
Apa yang aku takutkan menjadi kenyataan sekarang.
Hamil.
Ya, aku sedang mengandung saat ini. Buah cintaku dengan Adrian. Apakah diantara kami sudah timbul perasaan cinta? Kurasa tidak, kami belum sampai pada titik tersebut.
Jika kalian bertanya kapan aku mulai menyadarinya, sebenarnya itu berlangsung sejak seminggu yang lalu. Jadwal tamu bulananku sudah terlampaui 2 minggu dari tanggal yang semestinya, artinya aku sudah telat.
Terhitung sejak saat itu, aku kerap kali mengalami morning sickness setiap harinya. Mual, pusing, mood yang naik turun adalah beberapa gejala yang aku alami.
Itulah kenapa sebelum keberangkatan kami ke Brazil 3 hari yang lalu, aku terdengar begitu mendesak Adrian untuk memperjelas hubungan kami berdua, yaitu karena dari awal aku sudah punya feeling kalau ada sesuatu yang janggal dengan diriku.
Walaupun aku sudah mengalami tanda-tanda kehamilan, aku tidak pernah memiliki keberanian untuk mengetesnya sendiri atau pergi ke dokter. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan.
Adrian juga tidak tahu mengenai hal tersebut karena aku pintar menyembunyikannya. Beberapa minggu terakhir, Adrian cukup disibukkan dengan beberapa urusan pekerjaan dan menyusun rencana untuk menangkap Galih sehingga perhatiannya padaku dapat teralihkan.
Tapi hari ini, entah ada sesuatu apa yang tiba-tiba mendorongku untuk ingin mengetes kebenarannya, apakah aku hamil atau tidak.
Dibawa guyuran shower, aku terduduk lemas sembari memegangi sebuah benda kecil panjang yang berbentuk pipih.
Testpack.
Aku baru membelinya tadi pagi, mumpung Adrian sedang pergi sejak semalam dan belum kembali. Kebetulan ada apotek yang letaknya berdekatan dengan hotel tempat kami menginap, hanya berjarak beberapa blok dari sini. Untungnya aku berhasil lolos dari jangkauan para bodyguards Adrian sehingga aku leluasa pergi ke apotek.
Dan kini, gambaran dua garis merah terpampang jelas pada testpack yang ada di genggamanku.
Aku harus bagaimana sekarang? Aku bingung. Apakah aku perlu memberitahu Adrian tentang hal ini? Dia adalah ayah dari bayi yang aku kandung, dia berhak tahu bukan?
Tapi aku tidak yakin apakah dia bisa menerimanya atau justru menolak kehadiran anak kami. Reaksi Adrian membuatku khawatir.
Tak ingin berlama-lama termenung di dalam kamar mandi, aku memutuskan untuk bangkit dan mengambil bathrobe milikku. Aku akan menelpon Mama Diana setelah ini.
📱
"Halo Mah..apa kabar? Ini Nadine, apa mama sibuk?"
__ADS_1
"Hi sayang...Mama dan keluarga yang lain sedang dalam keadaan yang sehat-sehat di LA, Mama juga lagi free kok! Kamu ada perlu apa telepon Mama?" ucap Mama Diana ramah.
"Hmm...Nadine bingung harus memulainya dari mana Mah..Nadine takut!!" lirihku pelan.
Jujur saat ini aku memang takut, takut akan reaksi Mama, Papa, dan adik-adik.
"Hey..Nadine kamu baik-baik saja kan sayang? Apa kamu sedang dalam bahaya, atau mungkin Adrian terluka? Coba pelan-pelan ngomong sama Mama.." cerocos Mama Diana.
"Nadine hamil Mah.."
Hening. Seketika sambungan teleponku dengan Mama berubah sunyi. Satu kalimat yang baru saja aku lontarkan membuat Mama Diana membisu.
"Mah, Mama masih disana kan?"
"Iy--iya, Mm--mama dengar kok sayang..Nadine kamu serius kan? Kk--kamu enggak lagi bercanda kan?" ucap Mama Diana terbata-bata.
Mama Diana terdengar tidak percaya. Jangankan Mama, akupun juga masih termangu.
"Ini bukanlah sebuah lelucon Mah..Nadine enggak mungkin bercanda kalau soal ini.."
Mungkin tadi Mama sempat terdiam karena masih dalam mode terkejut.
"Hmm..Mah, tapi.."
"No, enggak ada tapi-tapian..pokoknya kamu harus jaga kesehatan, jangan capek-capek, dijaga ya sayang kandungannya! Mama dan Papa akan segera menyusul ke Brazil sekarang juga.."
"Mah, masalahnya enggak sesimpel itu!" ucapku sembari memijat pelan pelipisku yang mulai terasa pusing.
"Ada apa sayang, apa kamu enggak happy dengan kehamilan kamu?" tanya Mama Diana hati-hati.
"Ini bukan tentang aku Mah...tapi Adrian. Mama tahu sendiri kan kalau Adrian itu enggak pernah mau punya anak. Lalu bagaimana reaksinya Ma saat tahu kalau aku mengandung? Aku takut dia marah.."
"Dimana letak kesalahannya Nadine? Kamu adalah istri sah Adrian dan sebentar lagi kalian berdua akan menjadi keluarga yang utuh. Ditambah dengan kehadiran seorang anak dalam rumah tangga kalian, so enjoy the process! Nikmati momen ini..Mama yakin Adrian senang," Mama Diana menghiburku.
Aku membatin. Terkadang aku lupa kalau sebenarnya Mama dan keluarga Adrian yang lain belum tahu kalau pernikahanku dengan Adrian hanyalah sebatas kontrak yang akan berakhir dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun lagi.
"Mah..ini Adrian lho, kita berbicara tentang Adrian. Kita berdua sama-sama tahu bagaimana history Adrian. Aku tidak berpikir dia mau menerima bayi ini Mah.." keluhku.
__ADS_1
"Nad, Adrian aja dulu pernah berikrar untuk tidak akan pernah menikah. Lihat realitanya, dia menikahi kamu pada akhirnya. Hal yang sama berlaku pada kasus ini. Belum tentu Adrian menolak kehadiran bayi kalian...dicoba dulu ya, pelan-pelan ngomong sama suamimu," Mama Diana mencoba menenangkan aku.
"Okay Mah..aku akan pikirkan ini nanti. Tapi aku mohon ya Mah..jangan sampai berita kehamilanku diketahui oleh banyak orang. Aku belum siap rasanya!"
"Kalau Mama kasih tahu keluarga internal kita saja boleh? Papa dan adik-adik Adrian berhak tahu sayang...mereka semua telah menantikan kehadiran anak kecil lagi di rumah kami. Apalagi Papa..beliau pasti akan senang!" Mama Diana membujukku.
Yang dikatakannya benar. Tapi aku sendiri belum mengecek kepastiannya ke rumah sakit perihal akurat atau tidaknya sebuah testpack ini.
"Mah..aku bahkan belum ke rumah sakit, aku takut ini cuman false alarm aja..bisa aja kan salah?!!"
"Sebenarnya testpack itu hampir 99% persen lho tingkat keakuratannya. Tapi kalau kamu memang belum berkenan, Mama janji akan tutup mulut dan merahasiakan ini semua. Mama menghargai keputusan kamu dan menunggumu sampai benar-benar siap."
"Thank you Mah.."
"Pesan Mama satu, dijaga ya sayang kesehatannya. Sekarang kamu tidak lagi satu, tapi ada janin dalam kandungan kamu yang butuh perhatian juga. Makan yang teratur, istirahat yang cukup...okay?"
Klekkk....
Seperti terdengar suara gagang pintu yang terbuka. Itu pasti Adrian. Aku harus cepat-cepat mematikan sambungan teleponku dengan Mama agar Adrian tak curiga.
"Siap Mah..oh ya maaf Mah, aku harus tutup teleponnya! Adrian sudah datang..."
"Okay sayang, titip salam buat Adrian..take care! Love you, bye"
"Bye, Mah.."
Tiittt...
Sambungan telepon terputus berbarengan dengan Adrian yang masuk kedalam kamar mandi, melihatku dengan posisi duduk diatas kloset.
"Ngapain kamu disini, Nad?"
***
Jangan lupa untuk kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya teman-teman..supaya Author lebih semangat untuk up nya 😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih.
__ADS_1