
AUTHOR POV
Ketika Kelvin dan Nadine sampai di rumah, bersamaan dengan itu terlihat para aparat kepolisian sudah berada di depan kediaman Nadine, yang didampingi oleh ketua RT setempat.
Kedatangan para polisi ke rumah Nadine dimaksudkan untuk menyelidiki kasus penembakan Harun yang terjadi kemarin sore.
Sebenarnya sejak semalam Nadine memang belum sempat pulang ke rumahnya, hanya menetap di rumah sakit karena sibuk mengurusi sang Ayah. Bahkan proses pemandian jenazah Harun sampai memasukkan jenazahnya kedalam peti juga dilakukan di rumah sakit.
Beruntung mamanya Kelvin membawakan baju ganti untuk Nadine dan membelikannya beberapa alat mandi untuk membersihkan diri. Karena sejak Harun dinyatakan meninggal dunia, Nadine enggan meninggalkan sang ayah walau sedetik saja.
Faktor lainnya, rumah Nadine juga sudah diberi police line sejak Kelvin melaporkan kejadian penembakan Harun ke kantor polisi. Yang artinya, rumah Nadine sedang diamankan oleh aparat hukum untuk memudahkan mereka dalam melakukan penyidikan. Sehingga tempat kejadian perkara harus ditutup.
Kondisi rumah Nadine saat ini masih sangat berantakan. Terlihat banyak bercak-bercak merah yang sudah mengering di lantai ruang tamu.
Nadine memberikan polisi pakaian terakhir yang digunakan Harun, serta jaket milik Nadine yang digunakan untuk menahan aliran darah yang keluar dari dada Harun. Kedua benda itu sengaja disimpan sebagai barang bukti yang mungkin akan berguna saat proses penyidikan.
Setelah lama berbincang-bincang dengan polisi dan memberikan keterangan semampunya, Nadine mengemasi beberapa pakaiannya untuk dibawa ke apartemen yang baru disewanya tadi pagi. Mulai hari ini Nadine akan tinggal disana sampai proses penyelidikan atas rumahnya yang dijadikan sebagai TKP rampung.
Tak lupa Nadine juga membawa serta beberapa berkas dan dokumen yang penting milik Ayahnya dan kakaknya--Nathan, dari brankas Harun. Sesuai amanat mendiang Ayahnya sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Siang ini, Kelvin sendiri yang akan mengantar Nadine pergi ke apartemennya. Key card apartemen sudah berada digenggaman Nadine sekarang. Proses sewanya cepat karena kebetulan pemilik unit apartemen sebelumnya adalah teman kantor Nadine sendiri. Jadi untuk fee dan kelengkapan lainnya bisa menyusul.
"Sebenarnya kamu gak perlu repot-repot lho Nad untuk tinggal di apartemen, kan mamaku udah nawarin kamu untuk tinggal di rumahku. Masih ada kamar kosong padahal!" ucap Kelvin saat mereka sudah masuk di dalam kamar apartemen itu.
Kelvin memang masih tidak setuju dengan keputusan Nadine yang ingin tinggal di apartemen sendiri.
Nadine meletakkan koper miliknya didekat lemari yang tersedia. "Aku sungkan aja Vin, kamu udah berbuat banyak buat aku dan keluarga. Udah cukup bantuannya...lagian aku juga butuh waktu untuk memikirkan ini semua."
Nadine berjalan mendekat ke arah Kelvin dan meyakinkannya. "I'm going to be fine, okay...."
"Emang susah dikasih tahu kamu itu!"
Nadine sedikit tertawa mendengar sahabatnya yang sedang mendengus kesal itu. Melihat tawa kecil Nadine meski hanya sejenak, membuat hati Kelvin menjadi lega. Setidaknya Nadine terlihat sedikit rileks.
"Tapi Vin, aku masih penasaran..kira-kira siapa ya yang udah bayarin semua biaya rumah sakit dan pemakaman Ayahku? Setiap kali aku tanya ke pihak RS nya, mereka selalu jawab 'rahasia'."
"Tadinya aku penasaran, tapi karena emang orangnya gak mau identitasnya diketahui. Ya berarti anggap aja itu rejeki nomplok ditengah-tengah badai Nad!!"
__ADS_1
"Mana bisa begitu Vin, aku harus ucapkan terima kasih sama orang itu.."
Tiba-tiba ponsel Kelvin berdering, saat Nadine belum sempat melanjutkan ucapannya. Nadine mempersilahkan Kelvin untuk menjauh agar bisa mengangkat teleponnya secara privat.
"Gimana? Udah teleponan nya?" tanya Nadine yang baru saja keluar dari toilet.
"Udah kok.."
"Dari siapa Vin? Cindy?"
Kelvin menjadi gugup saat Nadine mengucapkan nama Cindy. Tebakannya memang tepat. Melihat wajah Kelvin, Nadine menjadi semakin yakin kalau Cindy baru saja menelpon. "Bener kan dari Cindy?"
"Iyaa...sebenarnya aku emang ada janji sama Cindy untuk pergi nonton sore ini, udah dari jauh-jauh hari..tapi..." Kelvin menjeda ucapannya.
"Jangan bilang kamu mau cancel karena aku! Vin, c'mon..kalau mau pergi ya pergi aja. Jangan dianggurin Cindy nya! Mumpung lho, kapan lagi coba?" Nadine tidak akan membiarkan kencan Kelvin dan Cindy gagal hanya karena Nadine sedang berduka.
"Tapi kan kamu baru aj--"
"I will be just fine here... you've already done so much for me! Please, go on a date with her!"
"Okay, tapi ingat ya..kalau ada apa-apa langsung kabari! Ponselku selalu on 24/7. Sehabis aku pergi sama Cindy, kita akan lanjut bahas kasus kakakmu Nathan."
Saat ini kasus menghilangnya Nathan sedang dalam tahap proses pencarian oleh pihak kepolisian. Belum banyak yang bisa dibahas mengingat minimnya bukti dan petunjuk yang mereka miliki. Tapi Nadine dan Kelvin akan berusaha sekuat tenaga mereka untuk mengungkap kebenaran dan membawa Nathan kembali.
"Oh ya satu lagi, jangan lupa makan! Ini udah jam segini..pesen online aja biar gak ribet!" Kelvin mengingatkan Nadine untuk tidak lupa mengisi perutnya sebab Kelvin sangat hafal jika Nadine susah untuk makan apabila dia sedang bersedih.
"Ckk..iya Kelvin. Udah sana susul Cindy, jangan bawel! Dandan yang cakep yah!" seru Nadine.
Nadine pun mengantar Kelvin sampai keluar dari apartemen dan melambaikan tangan padanya. Setelah itu dia kembali masuk kedalam dan segera memesan makanan lewat aplikasi online.
***
"Benar ini tempatnya?" tanya Adrian.
Adrian dan Ray sudah berdiri persis didepan kamar apartemen yang ditinggali Nadine saat ini. Sudah ada sekitar 10 menit yang lalu mereka datang, namun pintu kamar tersebut tak kunjung diketuk. Karena Adrian masih tidak yakin, dia tidak mau menanggung malu karena salah ketuk kamar orang.
"Benar kok pak, saya pastikan ini akurat. Putrinya Pak Harun memang tinggal disini sementara waktu, selagi rumahnya masih diselidiki polisi. Dia kesini diantar oleh sahabatnya yang bernama Kelvin. Saya sendiri sudah konfirmasi dengan bawahan kita yang tadi mengikuti mobil mereka."
__ADS_1
"Awas aja kalau salah!!" Adrian mengancam Ray.
Tombol bel kamar apartemen sudah ditekan. Nadine yang mengira bahwa itu pesanan makanannya yang datang, langsung beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu.
Sebelum Nadine benar-benar keluar, dia ingin memastikan siapa orang yang menekan bel pintunya terlebih dahulu dengan melihatnya lewat lubang kecil yang ada di pintu.
Saat dilihat, ternyata yang datang bukan kurir makanan. Melainkan dua orang pria dengan pakaian yang rapi dengan tubuh tinggi semampai.
"Selamat siang, apakah benar anda adalah Nadine Zerina Bimantara?" tanya Adrian dengan wajahnya yang dingin dan datar.
Nadine seketika menjadi sedikit ketakutan melihat kedua pria yang ada didepan pintunya itu. "Iya benar dengan saya sendiri, kalian siapa dan ada perlu apa?"
"Bisa kita bicarakan ini didalam?" Adrian tidak ingin bertele-tele.
Melihat keraguan yang ada di wajah Nadine, Ray yang sedari tadi bersembunyi dibalik tubuh tegap Adrian langsung berinisiatif untuk menampakkan dirinya didepan Nadine.
"Masih ingat saya?" ucap Ray
Samar-samar, Nadine mencoba mengingat-ingat wajah Ray. "Kamu yang kemarin menemui saya di ruang tunggu ICU kan?" Nadine akhirnya ingat siapa orang yang ada didepannya itu.
"Iya saya Ray, orang yang kemarin. Seperti yang saya sudah katakan sebelumnya, saya bukan orang jahat...saya kemari untuk membahas percakapan kita kemarin yang belum selesai" jelas Ray.
"Lalu dia siapa?" Nadine menunjuk jari telunjuknya kearah Adrian.
"Dia atas--"
"Saya Adrian temannya Ray." Adrian langsung menyela ucapan Ray. Hampir saja kedoknya terbongkar karena mulut Ray yang ember.
Adrian memberikan kode pada Ray untuk melanjutkan sandiwara ini dengan menyikut perut Ray secara pelan.
"I..i..iya..dia teman saya..Adrian"
Meski Nadine sedikit ragu, dia tetap mengizinkan Adrian dan Ray untuk masuk. Karena menurut Nadine, tampang dan perawakan mereka berdua tidak seperti tampang orang kriminal. Dan barangkali saja, Nadine memiliki petunjuk setelah mendengar penjelasan dari kedua pria itu.
"Baiklah, saya izinkan kalian masuk. Tapi awas ya! Jangan berani macam-macam. Silahkan.."
Kemudian Nadine memperbolehkan keduanya untuk masuk ke dalam apartemen dan mempersilahkan mereka untuk duduk diatas sofa.
__ADS_1