
(Chapter ini disarankan untuk dibaca oleh readers yang sudah cukup umur dan usianya matang. Bagi yang belum, bisa langsung di skip ke bagian tengah saja 😁)
AUTHOR POV
"Tell me..what do you want?"
"You...I want all of you...Adrian..."
Tanpa berlama-lama, setelah mendengar jawaban Nadine, Adrian segera bangkit berdiri dari tempatnya. Dia menggendong Nadine dengan gaya koala.
Alih-alih membawa Nadine berbaring diatas ranjang, Adrian malah mengangkat tubuh istrinya itu memasuki kamar mandi dan mendudukkannya diatas meja marmer wastafel kamar mandi.
"Kenapa kita ke kamar mandi?" Nadine mengerutkan keningnya.
Adrian menyelipkan helai anak rambut Nadine ke belakang telinga, "Aku ingin melakukannya di kamar mandi."
Nadine terhenyak memundurkan kepalanya.
"Kamu tidak keberatan kan, kalau kita bercinta disini? Dibawah guyuran air shower..."
"Aku enggak masalah!" Nadine menggigit bibirnya seraya melepaskan blazer-nya yang melekat di tubuh.
Karena sudah tak tahan melihat Nadine yang menggigit bibir bawahnya dengan gaya tersipu malu, Adrian kembali memagutt bibir Nadine penuh kelembutan.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Nadine dan Adrian tidak terlalu tergesa-gesa saat bercumbuu. Mereka melakukannya dengan perlahan dan menikmati setiap momennya.
Hingga tak terasa, tangan Adrian bergerak melucuti pakaian yang dikenakan Nadine. Beruntungnya Nadine hanya mengenakan tube dress dengan spaghetti strap, yang memudahkan Adrian melepaskannya hanya dengan satu tarikan.
"Kamu tidak memakai braa?" Adrian menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum menyeringai.
"Nope..karena di dress-nya sendiri udah ada spon busanya." Nadine tersenyum menggoda. Kini gantian dirinya yang melepaskan kancing kemeja Adrian dari atas sampai bawah.
"You're such a naughty girl," Adrian menyunggingkan senyumannya.
"I am.."
Kedua tubuh mereka telah polos. Adrian kembali mengangkat Nadine menuju shower. Dia mendorong Nadine sampai tubuhnya menatap dinding dan menciumnyaa kasar.
Karena terkejut dengan gerakan ganas Adrian, tangan Nadine tak sengaja menyenggol keran shower hingga airnya menyala. Seketika tubuh mereka menjadi basah. Namun hal itu tak menyurutkan gairahh keduanya yang justru semakin membara.
Adrian lalu menurunkan ciumannya ke leher jenjang Nadine. Tangannya pun tak ingin diam dan ikut bermain nakal pada dua gundukan aset depan Nadine.
"Aarrhhhhh....hmmmm.." Nadine melenguhh keras merasakan kenikmatannya karena kini tangan Adrian berpindah meremass aset bagian belakang.
Nadine semakin mengeratkan kedua kakinya yang masih setia melingkar di pinggang Adrian.
"Aa..ddrian...this feels good," ucap Nadine lemah.
__ADS_1
"I knew it..just scream my name louder.." bisik Adrian pelan di telinga Nadine.
(Aku tahu itu..teriakkan namaku lebih keras..)
Setelah puas melakukan pemanasan, Adrian langsung memulai permainan inti mereka. Dibukanya kedua paha Nadine secara lebar-lebar, kemudian Adrian melesakkan juniornya ke dalam lembah surgawi milik Nadine.
"Aaaahhhh..." suara desahann Nadine tak terelakkan lagi.
"God..hmm, you're still tight, baby!" lirih Adrian.
(God..hmm, kamu masih rapat, sayang)
"Apa rasanya masih sakit?" tanya Adrian pada Nadine mengingat ini adalah kali kedua mereka melakukannya.
Tentunya milik Nadine masih butuh penyesuaian, tidak bisa langsung.
"Sedikit..tapi aku masih bisa tahan, ini tidak sesakit seperti malam pertama kita."
Adrian mengangguk paham, "Aku akan coba menahan diri untuk melakukannya perlahan..kamu yang mengatur ritmenya, okay?"
"Okay."
Keduanya lalu melanjutkan kegiatan panas mereka yang sempat tertunda sejenak. Mereka juga cepat kembali turn on, setelah beberapa kali pancingan.
Adrian menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan perlahan sesuai janjinya pada Nadine tadi, namun ketika beberapa menit terlewati..Nadine menginginkan yang lebih.
"Kamu yakin?" Adrian menyatukan keningnya pada Nadine.
"100%" jawab Nadine pelan.
Nadine semakin erat melingkarkan lengannya di leher Adrian dan menciumi bibirnya kembali.
"You're my favorite sin, Nad..." Adrian tertawa pelan dan menuruti permintaan istrinya.
Setelah berjam-jam bergelut di dalam kamar mandi, mereka akhirnya mengakhiri kegiatan panas itu, karena Nadine sudah mulai lemas akibat aktivitas percintaan mereka. Tak lupa mereka juga membersihkan diri setelahnya.
Adrian dan Nadine sekarang merebahkan tubuh mereka di ranjang kasur yang sebenarnya masih berantakan pasca Adrian mengamuk tadi. Keduanya masih belum mengantuk meski rasa lelah mulai menyerang.
Kepala Nadine bersandar di dada bidang Adrian, sedangkan tangan kanan Adrian mengelus-elus punggung polos Nadine yang selembut kain sutra. Tubuh Nadine masih polos dan hanya tertutup oleh bedcover. Kalau Adrian, dia sudah memakai boxer sejak tadi namun bagian atasnya masih shirtless.
"Apa yang sekarang kamu rasakan Adrian?" tanya Nadine seraya tangannya meraba-raba perut sixpack Adrian.
"Kosong."
Nadine mendongakkan kepalanya, "Maksud kamu?"
"Tak ada perasaan apa-apa, semuanya memang kosong. Hatiku sudah mati rasa."
__ADS_1
Adrian meluruskan pandangannya pada jendela besar di kamar tidurnya yang menghadap kearah taman belakang.
"Sebaiknya jangan dibahas. Aku sedang tidak mood, Nadine."
"Okay..kita bicara yang lain aja! Kamu lapar?" Nadine mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sedikit..."
"Aku masakin sesuatu ya?"
"Di rumah ini banyak pelayan, kenapa kamu repot-repot masak!"
"Aku cuman mau buatin kamu makanan yang spesial, masakan dari tanganku sendiri...gimana?"
"Terserah kamu saja."
Mendapat lampu hijau dari Adrian, Nadine langsung bersemangat dan segera bangkit dari tempat tidur untuk pergi ke dapur. Sebelum itu, dia harus ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil baju.
"Aaawww..." Nadine sedikit meringis karena masih merasakan nyeri di pangkal pahanya.
"Are you okay?" Adrian tampak khawatir.
Nadine tersenyum, "I'm fine..."
Nadine menarik selimut bedcover untuk menutupi tubuhnya dan berjalan menuju connecting door, karena sejatinya kamar tidur Adrian dan Nadine memang tersambung.
"Kenapa ditutupi? Aku kan sudah melihat semuanya..." Adrian menggoda Nadine.
Nadine menghentakkan kakinya kesal, "Ishhh...kamu jangan meledek gitu!!"
Karena malu, Nadine buru-buru melenggang pergi dan tak menggubris Adrian. Namun ketika ia hendak menarik gagang connecting door-nya, pintunya malah tidak bisa dibuka. Padahal Nadine sudah memasukkan kode password nya dengan benar sebelum ditarik.
"Ini enggak bisa dibuka? Password nya udah aku masukkan dengan benar.." selidik Nadine yang melirik Adrian.
"Rusak mungkin."
"Rusak? Perasaan kemarin-kemarin enggak ada masalah?!" Nadine mencobanya sekali lagi, dan hasilnya tetap tak terbuka.
"Entahlah...nanti aku suruh orang untuk membetulkannya. Kamu enggak perlu ke kamar sebelah, pakai kemejaku saja sementara!"
"Memang boleh?"
"Pakai aja, pilih sendiri di walk in closet..."
Nadine balik menghampiri Adrian dan mengecup pipinya sejenak. "Thank you," ucap Nadine dengan senyumannya yang mengembang.
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Kritik dan saran yang membangun juga akan sangat membantu dan diperlukan. Terima kasih.