
AUTHOR POV
Makan malam pun tiba. Baik Adrian maupun Nadine sudah sama-sama rapi dan siap untuk menyantap makan malam.
Bibi Magda beserta pelayan-pelayan lain telah menyiapkan tatanan meja ala fine dining. Menu makanan yang tersedia cukup beragam.
Ada baked mashed potatoes, fusili carbonara, roasted chicken, crusted turkey tenderloin, dan beberapa pudding desert. Saking banyaknya, Nadine merasa kalau ini terlalu berlebihan jika hanya diperuntukkan bagi 2 orang saja.
"Besok pagi saya harus pergi karena ada urusan. Jadi Bibi Magda yang akan mengajak kamu untuk house tour di mansion ini nanti. Dia akan menjelaskan semua aturan tentang household yang harus dipatuhi," jelas Adrian disela-sela makannya.
"Aturan..?".Nadine menautkan kedua alisnya.
"Iya, aturan. Saya orang yang sangat disiplin dan teratur. Semuanya harus selalu berjalan sesuai keinginan saya. Disini, ada beberapa hal yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan."
Nadine memutar bola matanya. Dia memandang Adrian dengan tatapan kesal. Kalau boleh memilih, sebenarnya dia malas tinggal bersama Adrian lagi. Tapi demi keselamatan dirinya, terpaksa harus.
"Kamu masih ingat Romy dan Kelvin?" tanya Adrian.
Tentu Nadine masih mengingat kedua pria jahat itu, terutama pengkhianatan Kelvin...mantan sahabat baiknya. Semua masih membekas dalam ingatannya.
"Ingat..kenapa memangnya?"
"Saya mau memberikan update saja, saat ini Romy telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan denda sebesar 300 juta. Ray yang menghadiri sidang putusannya. Untuk Kelvin, dia masih berstatus buronan karena berhasil melarikan diri sebelum ditangkap."
Dalam hati, Nadine bersyukur jika pelaku perencanaan pembunuhan terhadap Ayahnya telah ditahan. Meski tidak setimpal, karena nyawa Ayahnya yang telah hilang tak akan terganti..setidaknya Nadine lega karena Romy mendapatkan hukuman seberat itu.
Hanya saja dia merasa tidak puas dengan Kelvin yang masih bisa lolos. Secepatnya Nadine harus melakukan sesuatu untuk mencari Kelvin bahkan sampai ke ujung dunia pun akan dia tempuh demi membalaskan dendam pada pengkhianatan yang diterimanya.
"Uang 300 juta dari denda itu mau kamu apakan rencananya?"
"Belum kepikiran. Mungkin akan aku simpan dulu!" jawab Nadine ragu. "Oh ya..kalau perkembangan kasus Kakakku gimana? Sudah sampai tahap mana sejauh ini?" tanyanya lagi.
"Masih sama, belum ada titik terang. Saya dan Ray masih menyelidikinya, dengan dibantu oleh tim detektif sewaan."
__ADS_1
"Boleh aku ikut dalam penyelidikan itu? Yang hilang itu kakakku, tapi selama ini..kamu enggak pernah melibatkan aku dalam proses pencariannya. Kamu selalu berjalan sendiri tanpa mau diskusi dengan aku."
"Terlalu berbahaya jika kamu ikut serta. Lagipula, lebih enak kalau kamu bersantai dan duduk di rumah saja bukan? Tinggal terima beres," ucap Adrian santai.
"Terima beres apanya? Ini udah hampir sebulan, tapi belum ada kejelasan juga. Berarti memang kamu yang enggak becus mencarinya! Dan apa kata kamu..terlalu berbahaya? Kamu pikir mentang-mentang aku perempuan..aku lemah begitu?" tegas Nadine.
Adrian mengepalkan tangannya menahan emosi. Sendok dan garpu makan yang dipegangnya pun sampai hampir bengkok.
"Memang kenyataannya begitu kan? Lihat pistol saja kamu sudah keringat dingin, apalagi nanti bertemu dengan hal lainnya yang menyeramkan..bisa pingsan ditempat kamu! Yang repot siapa? Ya, saya!" balas Adrian.
Nadine menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Nasib buruk apakah yang harus dipikulnya hingga ia harus bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti Adrian.
"Untuk selanjutnya, aku pastikan..itu enggak akan terjadi lagi! Aku sudah siap!"
"Kamu belum siap."
"Sudah..." Nadine tak mau kalah.
Makan malam pun berakhir tanpa ada pembicaraan lagi setelah keduanya bersitegang. Mereka langsung kembali ke dalam bilik masing-masing dengan perasaan yang masih mengganjal.
***
"Selamat pagi, Nyonya Nadine." sapa Bibi Magda dengan senyuman cerahnya. Pagi-pagi sekali, beliau sudah mengetuk pintu kamar Nadine.
"Ohh..Halo, selamat pagi juga Bibi Magda!" balas Nadine tersenyum.
"Bagaimana tidurnya, Nyonya? Apakah nyaman?"
Nadine tertawa kecil. "Tidak terlalu, saya baru bisa tidur jam 1 dinihari. Mungkin karena ini pertama kalinya saya menginap disini, jadi saya belum terbiasa."
"Tidak apa-apa Nyonya, cepat atau lambat nanti anda akan merasa seperti di rumah sendiri."
"Rumah sendiri?" Nadine tidak yakin apakah dia akan betah untuk tinggal berlama-lama disini. "Semoga saja begitu!"
__ADS_1
"Jadi, anda mau sarapan dengan menu apa Nyonya?"
"Boleh minta tolong buatkan saya strawberry waffle dan orange juice?" pinta Nadine.
"Boleh dong Nyonya, mau dibawakan ke kamar atau anda yang turun ke meja makan?"
"Saya agak sedikit kurang sehat hari ini. Kalau tidak keberatan, tolong dibawa ke kamar sini saja!"
"Tentu Nyonya, sesuai keinginan anda!" sahut Bibi Magda.
"Hmm..apa Adrian sudah pergi Bi?"
"Sudah dari tadi. Tuan pergi ke kantor sekitar 20 menit yang lalu. Tuan juga sempat meninggalkan ini untuk Nyonya."
Bibi Magda memberikan sebuah map coklat yang ukurannya sedang namun bentuknya tebal.
"Ini apa isinya Bi?" Nadine penasaran.
"Coba dibuka saja Nyonya, karena saya tidak punya wewenang untuk ikut tahu. Saya permisi dulu ya Nya, mau buatkan request sarapan Anda!"
Nadine tersenyum ramah. "Iya Bi, makasih banyak ya..."
Bibi Magda keluar dari kamar seraya mengambil pakaian kotor milik Nadine yang ada di kamar mandi.
Nadine yang penasaran akan isi map coklat pemberian Adrian, segera membuka pengaitnya. Dia merogoh isi map tersebut. Saat dilihat, ternyata ada 2 buah kartu yang masing-masing terdiri dari black card dan platinum card. Tak hanya itu, didalamnya juga terdapat paspor dan visa multiple entry untuk kunjungan ke Eropa atas namanya.
Adrian meninggalkan selembar kertas catatan untuk Nadine.
"Gunakan fasilitas kartu yang saya berikan dengan bijak. Kamu bisa pakai itu untuk kebutuhan kamu sehari-hari. Ada black card no limit, dan platinum card dengan saldo 500 juta. Kalau kamu mau bertanya tentang paspor dan visa, saya akan jelaskan nanti setelah saya pulang."
Adrian sungguh tidak main-main dalam hal ini. Dia menepati janjinya untuk menjamin kehidupan Nadine, asalkan dia menurut dan mau mengikuti rencananya.
Sejatinya, yang diinginkan Nadine bukanlah kemewahan atau fasilitas yang wow. Yang diinginkannya cukup sederhana...yaitu kejelasan dan transparasi. Nadine tidak terlalu suka dengan sikap Adrian yang suka mengatur, suka menutupi sesuatu, dan terlalu arogan.
__ADS_1