
...NADINE...
Takut.
Takut adalah satu hal yang menggambarkan perasaanku saat ini. Entah bagaimana bisa semuanya terjadi dengan sangat cepat. Baru saja tadi pagi aku masih bisa bercanda ria dengan menikmati sarapan bersama Ayah dan Kak Nathan. Tapi hanya dalam sekejap saja, kebahagiaan itu telah sirna. Yang ada hanyalah duka sekarang. Kak Nathan menghilang entah kemana, dan Ayah sedang terbaring lemah diatas kasur rumah sakit.
Duniaku benar-benar runtuh. Hatiku sangat sakit dan hancur sekarang. Perasaan yang tidak enak menggeluti tubuhku. Setelah melihat apa yang baru saja terjadi, aku menjadi overthinking. Aku merasa bahwa badai yang kualami belum berlalu.
Saat ini aku sedang berada didepan ruang operasi menunggu dokter menangani Ayah. Sebelumnya aku sudah mengurus segala administrasi rumah sakit dan menandatangani surat persetujuan operasi. Mengingat bahwa risiko yang ditimbulkan dari operasi pengeluaran peluru sangat besar, aku harus bersiap diri untuk hal yang terburuk sekalipun.
"Nad, yang sabar ya..Om Harun pasti baik-baik saja kok."
Ahh....saking paniknya, aku sampai lupa kalau ada Kelvin yang duduk disamping menemaniku di kursi tunggu.
"Makasih banyak ya Vin, kamu udah bantuin aku bawa Ayah ke rumah sakit..kalau tadi kamu gak ada didepan rumahku, aku gak tahu harus gimana..." aku menangis sesenggukan dalam pelukan Kelvin.
Kelvin berusaha menenangkan aku dengan memeluk dan mengelus lembut punggungku.
"Sebuah kebetulan juga Nad. Tadinya itu aku mau antar map sama laptop kamu yang tadi ketinggalan di kantor masih dalam keadaan nyala. Sekalian juga mau beli martabak depan gang besar rumah kamu, karena mamaku nitip. Tapi pas sampai depan rumahmu, aku kaget lihat kamu nangis-nangis...taunya ada insiden..."
"Kalau boleh tahu, sebenarnya kronologinya gimana?"
Aku melepaskan pelukanku dengan Kelvin dan menatapnya sejenak.
"Aku juga gak tahu Vin, kejadiannya begitu cepat. Berawal dari aku yang tadinya mau bikin kopi di pantry kantor sebelum pulang. Pas lagi bikin, tiba-tiba mug nya itu pecah jatuh ke lantai. Dari situ perasaanku mulai enggak enak.."
"Mendadak aku jadi keinget Kak Nathan sama Ayah. Akhirnya aku telpon Kak Nathan, dia bilang semuanya baik-baik aja. Cuma gak tahu kenapa, perasaanku tetep gak tenang. Makanya setelah telponan, aku memutuskan untuk cepet-cepet pulang dan langsung absen fingerprint, sampai lupa beresin laptop dan map."
"Pas di perjalanan pulang, Kak Nathan telpon aku lagi. Dia suruh aku untuk jangan pulang dulu, awalnya aku bingung kenapa. Gak lama setelah itu, aku mendengar suara Kak Nathan teriak kesakitan. Alhasil aku panik, nyetirnya buru-buru! Dan bener dugaanku, perasaanku yang gak enak terjawab. Sampai di rumah aku udah lihat Ayah yang tergeletak terus badannya banyak darah bercucuran..terus..."
Aku tidak sanggup menjelaskan lagi pada Kelvin. Dadaku terasa sangat sesak dan jantungku bagai ditikam belati saat ingin melanjutkan kata-kataku.
"Udah Nad, jangan diterusin kalau gak kuat..aku ngerti kok. Yang terpenting sekarang, kita berdoa sama-sama supaya Om Harun bisa cepat sembuh."
Aku hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Kelvin. Karena pikiranku sudah diliputi kekalutan saat ini, aku jadi mati rasa dan tidak bertenaga menjawabnya.
***
__ADS_1
Tak terasa, sudah hampir satu setengah jam lebih aku terduduk setia di depan ruang operasi. Ya, aku memang masih menunggu para dokter yang sedang menangani Ayah didalam sana.
Lampu indikator kecil berwarna merah yang berada diatas pintu kamar operasi belum padam. Tandanya, operasi masih sedang berjalan. Aku sendiri heran, kenapa lama sekali dan tidak selesai-selesai operasinya. Separah itukah kondisi Ayah?
Sambil menunggu, aku memejamkan mataku sejenak dan menyandarkan kepalaku ke belakang kursi tunggu. Insiden hari ini membuatku lelah. Tak hanya lelah hati dan pikiran tetapi lelah fisik juga.
*TUNG*
"Dengan keluarga Bapak Harun Bimantara?"
Yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Salah satu perawat memangil nama Ayah. Dokter yang menangani operasi Ayah juga sudah keluar dari ruang operasi. Karena ingin segera tahu mengenai hasilnya, aku bangkit dari kursi seraya menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi Ayah saya dok? Ayah saya baik-baik saja kan?"
Belum sempat dokter menjawab pertanyaanku, aku melihat ada empat orang perawat sedang mendorong hospital bed dengan cepat, yang mana terdapat ayah sedang terbaring diatasnya.
"Ayah saya mau dibawa kemana itu dok?" tanyaku dengan perasaan yang gusar.
"Mohon maaf, untuk kondisi pasien saat ini sedang kritis. Sehingga harus dilarikan ke ICU. Dimohon untuk tenang, mbak bisa ikut ke ruangan saya terlebih dahulu. Nanti disana saya akan menjelaskan lebih lanjut mengenai kondisi pasien."
"Mari silahkan duduk disini" dokter mempersilahkan aku untuk duduk.
"Jadi bagaimana dok, operasi Ayah saya berhasil kah? Ayah saya kenapa harus dibawa ke ICU?"
"Jadi begini, saya dan segenap tim medis sudah melakukan operasi pembedahan untuk mengeluarkan peluru yang terdapat di bagian dada pasien. Sebelumnya kami sudah melakukan pemeriksaan rontgen dan menggunakan alat ultrasonografi untuk mencari peluru yang terdapat dalam jaringan," dokter menjeda ucapannya sembari menunjukkan hasil pemeriksaan rontgen Ayah kepadaku.
"Berdasarkan hasil, seperti yang bisa dilihat di monitor saat ini. Terdapat dua peluru yang bersarang di tubuh pasien. Untuk peluru pertama, tidak terlalu dalam tembusannya sehingga mudah diatasi. Tapi untuk peluru yang kedua, ini letaknya terlanjur cukup dalam sehingga sudah merusak jaringan pembuluh darah dan organ-organ yang ada di tubuh pasien. Hal ini tentu menimbulkan perdarahan hebat yang dapat mengancam nyawa."
Tanpa sadar, mataku terbelalak sambil meneteskan air mata yang sedari tadi sudah aku tahan. Kedua tangan ini menutup mulutku untuk menghindari suara isak tangisan yang dahsyat agar tidak keluar dari bibir ini.
"Kedua peluru sudah berhasil dikeluarkan, hanya saja untuk peluru yang kedua ini..terdapat efek samping yang timbul. Dimana pasien mengalami keracunan timah yang terkandung dalam peluru tersebut. Itu sebabnya kondisi pasien sangat drop dan dinyatakan kritis, sehingga harus dirawat di ICU untuk mendapat perawatan intensif."
"Saya dan segenap tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani kondisi bapak. Dan untuk kedepannya kami akan tetap mengutamakan keselamatan beliau. Selain penanganan medis, hal lain yang bisa dilakukan saat ini adalah perbanyak doa untuk kesembuhan bapak."
Baru saja aku keluar dari ruangan dokter, kakiku mendadak lemas sampai-sampai Kelvin ikut membantu menopang tubuhku. Aku benar-benar shock saat mendengar penuturan dokter tadi mengenai kondisi Ayah. Aku begitu emosional dan meluapkan semua kesedihanku pada Kelvin.
Kenapa ini harus terjadi padaku Tuhan?
__ADS_1
***
"Makan dulu Nad, ini ada pecel ayam" Kelvin yang tadi sudah izin padaku untuk pergi sebentar sudah kembali lagi dengan membawa kresek yang sudah pasti isinya makanan. Baunya bisa tercium..
"Kamu beli dimana?" tanyaku pada Kelvin.
"Di depan rumah sakit ada banyak warung PKL yang jualan, jadi aku beli aja deh. Soalnya pas lihat makanan di kantin rumah sakit enggak selera."
"Makasih Kelvin..."
Tidak munafik sih, perutku memang lapar. Aku sendiri belum makan sejak siang sampai detik ini. Apalagi dalam keadaan yang seperti sekarang ini, mana sempat aku makan? Beruntung Kelvin berbaik hati membelikan aku makanan.
"Vin, tapi kok cuman sebungkus? Kamu enggak beli?"
"Enggak Nad, aku udah makan sekalian disana tadi. Makanya agak lama baliknya" kata Kelvin.
"Iya ini makan, makasih yahh.."
Belum satu suap memakan makanannya, aku langsung teringat Ayah yang sedang berjuang untuk hidup didalam ruangan ICU. Seketika mataku sudah tergenang air mata lagi.
"Loh kok nangis sih...?"
"Aku inget Ayah, Vin! Ayah masih terbaring didalam sana sedangkan aku enak-enakan makan disini."
"Hey, jangan gitu dong. Harus makan! Kamu butuh tenaga, kalau kamu gak makan ayahmu pasti sedih. Nanti siapa yang bakal jagain dia kalau kamu ikut-ikutan sakit karena gak makan? Udah ya jangan nangis lagi....Om Harun pasti sembuh! Positive thinking dong.." Kelvin mencoba menyemangatiku.
"Okay." jawabku singkat
"Oh ya Vin, tadi katanya Tante Arin minta dibelikan martabak sama kamu. Terus gimana..kamu gak pulang? Nanti dicariin...aku gak apa-apa kok disini sendiri."
"Santai Nad, aku udah telepon mama dan jelasin kalau ayahmu masuk rumah sakit, tapi aku ga kasih tahu kok kenapa-kenapanya. Jadi katanya gak apa-apa, cuman maaf ya..baru besok orangtuaku dateng kesini nengokin Om Harun. Soalnya sekarang lagi ada saudara jauh di rumah gak bisa ninggal, jadi mereka titip salam aja" ucap Kelvin.
"Iya enggak apa-apa, support dari mereka sudah lebih dari cukup buat aku. Makasih banyak ya Vin, aku jadi ngrepotin kamu terus. Makasih banyak sekali lagi..."
"Udah ah.. kenyang makasih nih aku. Buruan tuh cepetan makan, mumpung masih anget! Aku tahu kamu pasti kelaperan! Yang penting semangat.. perut kenyang baru deh bisa mikir.." celoteh Kelvin.
Aku tersenyum tipis memandangi sahabatku yang satu ini. Sahabat yang sebenarnya baru kutemui satu tahun setengah yang lalu, tapi rasanya seperti sudah lama aku mengenalnya.
__ADS_1