Favorite Sin

Favorite Sin
MEET


__ADS_3

AUTHOR POV


Lelah menunggui sang Ayah di rumah sakit selama berjam-jam membuat badan Nadine terasa lengket. Jika rutinitasnya sehari-hari adalah mandi tiap sehabis sepulang kerja, tapi tidak untuk kali ini.


Jangankan mandi, untuk sekedar beristirahat memejamkan mata sejenak pun rasanya tidak bisa. Nadine tidak cukup tenang untuk meninggalkan sang ayah walau sedetik saja. Beberapa kali Nadine terlihat menguap dan mengusap-usap tubuhnya, menandakan bahwa dia sebenarnya kelelahan.


Nadine sebenarnya sudah tidak tahan ingin pergi ke toilet. Selain ingin buang air kecil, dia juga ingin membasuh mukanya dengan air segar agar tidak mengantuk.


"Mungkin tidak apa-apa jika aku tinggal sebentar saja" gumam Nadine


Supaya hatinya lebih tenang, Nadine meminta suster jaga untuk mengawasi Ayahnya selagi dia pergi sebentar. "Suster, saya titip jagain Ayah saya didalam ya..kalau ada apa-apa segera telpon ke nomor saya ini" Nadine memberikan kartu namanya kepada suster untuk berjaga-jaga.


"Baik mbak, itu pasti. Sudah menjadi tugas kami untuk menjaga dan merawat pasien."


Merasa sedikit tenang karena sudah menitipkan sang Ayah pada suster jaga, Nadine segera berjalan menuju toilet terdekat di area sana.


Selesai buang air kecil, Nadine meraih keran wastafel yang mengalirkan air segar itu untuk mencuci tangan, membasuh mukanya sekaligus berkumur. Dengan harapan bisa menyegarkan diri dari suasana hatinya yang kacau itu.


Tidak ingin berlama-lama meninggalkan sang ayah yang masih terbaring di ruang ICU, Nadine memutuskan untuk cepat kembali ke ruang tunggu pasien.


Karena berjalan dengan tergesa-gesa dan pikiran yang tak menentu, tak sengaja Nadine menabrakkan dirinya pada seseorang hingga membuat kepalanya terbentur pada tubuh keras milik sosok yang berada didepannya itu.


"Maaf, saya benar-benar enggak sengaja" ucap Nadine


"Lain kali, kalau jalan itu yang fokus jangan menunduk" pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan terlihat menahan amarahnya.


Bukan Adrian namanya kalau dia tidak terlihat emosi 24/7.


Adrian merasa kesal karena ditabrak begitu saja karena Nadine yang memang berjalan sempoyongan tadi.


"Maaf, kepala saya agak sedikit pusing jadi saya tidak begitu fokus melihat jalanan. Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian barusan, saya permisi dulu" Nadine mengucapkan permohonan maaf pada Adrian seraya pamit undur diri dengan wajah yang menunduk.


"Dasar aneh, enggak sopan banget dia..saat berbicara malah menunduk dan tidak menatap lawan bicaranya!" ketus Adrian saat Nadine sudah pergi begitu saja.


Sedangkan Ray yang sedari tadi mengekor di belakang Adrian hanya menatap bengong ketika melihat Nadine yang berjalan melewati mereka berdua.


"Itu bukannya Nadine Bimantara ya? Putrinya Pak Harun?" gumam Rey dalam hati.


Saat Adrian menoleh pada Ray, dia sadar bahwa sang asisten tidak mendengarkan ucapannya barusan.


"Ngapain kamu bengong?"


Ray pun terkejut karena ditegur oleh Adrian. "Ehhhmm, maaf pak.. perempuan itu tadi sepertinya mirip dengan putrinya Pak Harun."

__ADS_1


Adrian mengerutkan keningnya setelah mendengar perkataan Ray. "Yang tadi? Kamu yakin..?!"


"Ya sudah kita ikuti dulu nanti keburu hilang jejaknya" perintah Adrian.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengikuti Nadine. Sambil berjalan cepat dan sedikit berlari, Ray juga mengeluarkan ponsel dari sakunya seraya membuka galeri foto untuk menunjukkan gambar Nadine Bimantara pada Adrian.


"Ini pak fotonya, mirip kan?"


"Saya enggak begitu memperhatikan wajahnya dengan seksama, karena dia tadi menunduk terus. Tapi sepertinya kamu benar, itu lihat dia..!" Adrian menunjuk kearah Nadine yang berhenti di ruang tunggu ICU dari kejauhan.


"Tulisannya ruang tunggu ICU, dari kaca sini terlihat kalau didalam cuman ada perempuan itu dan dua pasang wanita-pria paruh baya. Putrinya Pak Harun kan pastinya masih muda, jadi ya kemungkinan besar dia orangnya."


"Apa langsung kita temui saja pak?" tanya Ray.


Adrian menatap Ray dengan wajah datar dan dingin, "Bukan kita, tapi kamu!"


"Saya sendirian saja pak?" Ray semakin bingung dengan maksud bosnya yang satu ini.


"Iya, kamu sendirian aja yang kesana. Ajak perempuan itu untuk bicara dan korek informasi penting darinya. Saya enggak mungkin menemuinya secara langsung karena alasan kerahasiaan identitas saya. Kamu mengerti kan maksud saya?"


Ray mengangguk pelan "Iya pak, saya paham."


"Ya sudah sana buruan, jangan buang-buang waktu. Saya tunggu kamu di sebelah sana, supaya dia tidak curiga. Ingat! Harus berhati-hati Ray..earpiece dan clip on kamu jangan lupa dipakai, supaya saya jelas mendengar percakapan kalian" ucap Adrian sambil mengibaskan tangannya menyuruh Ray segera pergi.


"Baik pak, saya pergi menemui putrinya Pak Harun dulu."


***


"Permisi, selamat malam. Mohon maaf mengganggu waktunya," Ray mengawali perkenalannya dengan Nadine.


Nadine yang tertunduk lesu sedang memeluk kedua lengannya sendiri, sontak terkejut melihat kedatangan Ray secara tiba-tiba.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadine.


"Begini, saya ingin bertanya apakah benar jika anda adalah putri dari Pak Harun, Nadine Bimantara?"


Perkataan Ray barusan membuat Nadine membulatkan matanya lebar-lebar.


"Bagaimana dia bisa tahu identitasku?" batin Nadine


Karena Nadine sangat ragu dan tidak percaya dengan Ray, dia enggan menjawab pertanyaan dari pria itu dan malah balik bertanya, "Anda siapa?"


"Perkenalkan, nama saya Raymond, panggil Ray saja bisa. Sebenarnya saya sudah tahu kalau anda adalah Nadine Bimantara tanpa anda mengelak pun, yang tadi hanya untuk formalitas saja."

__ADS_1


"Lalu, ada kepentingan apa yang membuat kamu kesini?" ucap Nadine yang memandangi Ray dari atas kepala sampai ujung kaki.


"Maksud kedatangan saya kemari itu karena saya ingin menanyakan beberapa hal yang penting mengenai Pak Harun. Saya butuh bicara dengan anda."


"Hal penting apa?"


Ray menoleh kanan-kiri sebelum membalas pertanyaan Nadine. "Bisa ikut saya terlebih dahulu untuk bicara di tempat lain? Di tempat yang lebih sepi."


"Memangnya anda mau apa cari tempat yang sepi-sepi! Kalau memang ada perlu untuk bicara sama saya ya disini saja."


"Tapi hal yang akan saya bicarakan ini sifatnya rahasia, saya tidak ingin ada yang mengetahuinya. Sebaiknya kita berbicara di tempat lain, anda ikut saya."


Nadine menjadi emosi sendiri melihat Ray, bagaimana bisa laki-laki ini cukup lancang mengajaknya pergi. Pasti ini bagian modus dari kejahatan pikirnya.


"Saya tidak pernah mengenal anda sebelumnya. Anda hanyalah orang asing, pasti anda mau ngapa-ngapain saya kan!!", Nadine tanpa sadar membentak Ray hingga mengundang atensi dari orang-orang lain yang berada di ruang tunggu itu.


Nadine yang menyadari kesalahannya karena membuat suasana ruang tunggu menjadi berisik, berisiniatif untuk minta maaf pada orang sekitar. "Maaf atas ketidaknyamanannya."


Tak lama, Nadine menatap Ray kembali. "Dengar ya Mas atau Bapak..saat ini Ayah saya masih dirawat didalam ICU. Pikiran saya sedang kalut, saya tidak mungkin pergi kemana-mana. Lagipula, enggak ada jaminannya kan saya bisa aman kalau saya ikut pergi sama anda?" ucap Nadine berbisik, karena dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


"Saya bukan orang jahat. Niat saya hanya ingin bertanya satu dan lain hal tentang Pak Harun. Tidakkah anda merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan ayah anda?"


"Maksud kamu apa...?!" Nadine mulai penasaran.


"Saya tahu jika ayah anda terluka karena tertembak, benar begitu?" Ray menjeda pernyataannya sebentar. "Jika anda mau terbuka dengan saya, dan menceritakan semuanya..mungkin saya bisa membantu anda menemukan pelaku penembakan ayah anda."


Karena bingung, Nadine malah melamun dan mengalihkan pandangannya dari Ray.


"Saya tetap tidak percaya."


Ray semakin kesal saja dengan sikap Nadine. Dalam hati dia bergumam, bagaimana bisa perempuan ini sangat sulit untuk dibujuk. Memang wajahnya terlihat kriminal apa?


"Sepertinya perempuan ini akan cocok kalau dijadikan pasangan Pak Adrian. Sama-sama keras kepala" batin Rey.


Ray mengeluarkan dompetnya dari saku dan mengambil kartu identitasnya untuk ditunjukkan pada Nadine.


"Saya berani bersumpah bahwa saya bukanlah orang jahat. Ini kartu identitas milik saya. Anda bisa cek disitu...nama, alamat, dll.."


"Saat ini kita sedang menghadapi musuh yang sama. Saya akan bantu selidiki kasus Pak Harun jika anda mau bekerjasama dengan saya. Mohon bantuannya."


Nadine berpikir sejenak.


Sebenarnya dia sendiri juga penasaran dengan sosok Ray dan hal penting apa yang mau dibicarakannya.

__ADS_1


"Oke, saya akan ikut. Tapi jangan jauh-jauh dari sekitar sini dan tidak lama."


Akhirnya Nadine mengiyakan tawaran Ray tersebut.


__ADS_2