
AUTHOR POV
Nadine melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Adrian.
"Hey..kok malah bengong? Boleh enggak aku bantu?"
Adrian menganggukkan kepalanya seakan memberi tanda untuk mempersilahkan Nadine melakukan apa yang diinginkannya.
"Ya sudah, kamu pegang dulu ini kotak P3K-nya, aku mau ambil air sama kain dulu buat bersihin darahnya. Setelah itu baru bisa dikasih obat merah.."
Dengan cepat, Nadine mengambil baskom di dapur dan mengisinya dengan air biasa. Tak lupa ia juga membawa serta wash-lap untuk membasuh luka Adrian. Sedangkan kotak P3K sudah diambil sebelumnya.
Saat kembali ke ruang tamu, tempat dimana Adrian berbaring...Nadine melihat Adrian sedang melepaskan sweater hoodie yang dikenakannya. Tinggal menyisakan tubuhnya tertutup dengan kaos oblong warna abu-abu polos.
Kaos berjenis slim-fit yang sangat ketat itu membuat otot-otot bisep Adrian mengecap dengan jelas, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang prima dan kekar.
Nadine mendudukkan dirinya di sebelah Adrian. "Permisi ya..aku izin untuk b-b-buka ini..." Nadine menjadi kikuk dan salah tingkah saat hendak mengangkat kaos Adrian.
"Iya."
Niat Nadine hanya ingin melihat seberapa parah luka di perut Adrian, mengingat darah yang mengucur tidaklah sedikit. Tapi entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Tak ingin munafik, berdekatan dengan Adrian seperti ini sudah membuat hatinya menggelinjang tak karuan.
"Ya ampun Adrian!! Ini lukanya parah, sepertinya perlu dijahit..kita ke rumah sakit aja yah?" luka sayat di perut Adrian menganga panjang dan membuat Nadine khawatir.
"Enggak usah, nanti juga nutup sendiri lukanya. Dibersihkan saja cukup!" jawab Adrian santai.
"E-e-hhh...m-m-mau ngapain kaosnya dibuka?" Nadine tak menduga Adrian akan bersikap frontal seperti ini.
"Katanya kamu mau bersihkan luka saya.. makanya ini dilepas sekalian kaosnya.. Lagipula kan kaos saya kotor kena bercak darah!!"
Melihat tubuh proporsional Adrian yang polos tanpa atasan membuat Nadine menelan ludahnya kasar.
"Kenapa? Kamu enggak pernah lihat yang begini?" tanya Adrian. Kegugupan Nadine dimanfaatkan Adrian untuk menggodanya sedikit.
Nadine membulatkan bola matanya. "Udah lah..jangan bahas yang aneh-aneh. Sini agak deketan, aku mau cepat bersihin biar enggak infeksi."
Adrian menarik sudut bibirnya keatas seperti senyuman mengejek. Ada kepuasan sendiri dalam dirinya melihat sikap Nadine yang malu-malu salah tingkah.
"Tahan ya, mungkin agak sedikit sakit."
Pelan-pelan Nadine mulai mengusap luka sayat di perut Adrian. Noda-noda darah yang menempel dibasuh lembut dengan wash-lap. Setelah sudah bersih, Nadine meneteskan obat merah pada kapas dan membubuhkannya pada luka Adrian.
__ADS_1
Tidak sesuai perkiraan Nadine sebelumnya, Adrian bersikap anteng dan cukup kooperatif saat diobati. Tidak ada drama rintihan kesakitan atau wajah yang meringis karena lukanya diberi obat merah.
"Kamu enggak kesakitan?" tanya Nadine sembari menempelkan perban kasa dan plester di perut Adrian.
"Enggak. Udah biasa."
Wajar saja, pekerjaan Adrian kan memang seorang bodyguard. Pastinya hal seperti ini normal terjadi, pikir Nadine.
"Nah..udah selesai! Jangan mandi dulu sebaiknya, diseka aja nunggu lukanya kering. Mau aku rebusin air hangat?" tanya Nadine pada Adrian.
"Saya bisa sendiri nanti."
Ketika Adrian berniat untuk beranjak dari sofa, Nadine menahannya dengan memegang pergelangan tangan Adrian.
Adrian menatap Nadine kebingungan. "Kenapa?"
"Itu pelipis kamu lebam keunguan..terus pipi kiri dan sudut bibir juga memar. Aku kompres sebentar ya?" Nadine menarik tangan Adrian untuk duduk kembali.
Nadine sudah mengganti air di baskom dengan air yang baru dan wash-lap yang bersih. Tidak tahu mendapat keberanian darimana, Nadine semakin mendekatkan tubuhnya pada Adrian supaya dia dapat mengompres wajah Adrian dengan mudah.
Tangan kirinya meraih tengkuk kepala Adrian, sedangkan tangan kanan bekerja untuk mengompres luka lebam di wajah tampan Adrian.
Tanpa sadar netra keduanya saling bertatapan lekat. Wajah mereka hanya tinggal berjarak beberapa inci, hingga hembusan nafas hangat mereka terasa satu sama lain.
Tak bisa Adrian pungkiri, bibir mungil nan lembut yang berwarna pink kemerahan milik Nadine sungguh menggoda. Bibir itu seakan-akan memanggil dirinya untuk dapat dikecup mesra. Caranya bernafas terdengar berat dan putus asa, menunjukkan betapa sulitnya untuk menahan diri tidak menerkam Nadine saat ini.
Ini adalah pengalaman yang baru bagi Adrian, hadirnya Nadine dalam hidupnya memberi angin kesegaran yang tak pernah dia rasakan. Meski belum lama mengenal satu sama lain, entah kenapa..kelembutan dan kepolosan Nadine memiliki tempat tersendiri di hati Adrian.
Bingung. Adrian sungguh tak mengerti perasaan apa yang sebenarnya dia alami saat ini. Apakah ini adalah rasa suka? rasa cinta? Oh..tidak..tidak..terlalu cepat untuk mengatakan kata 'cinta'.
Cinta adalah omong kosong. Tidak ada namanya cinta yang murni di dunia ini. Tidak mungkin Adrian tertarik pada istri kontraknya ini yang notabene hanyalah perempuan biasa.
Gejolak yang sama dirasakan juga oleh Nadine. Semenjak mengenal Adrian, dia merasa perlu untuk menemui seorang kardiolog atau dokter spesialis jantung untuk memeriksanya. Bagaimana tidak? Setiap kali berhadapan dengan Adrian, jantungnya selalu tidak aman.
Hatinya berkecamuk, seperti ada desiran ombak yang sedang marah menabrak karang tanpa suara disana. Rumit untuk dijelaskan bukan? Itulah yang dialami Nadine saat ini.
Tak sanggup untuk menahan lebih lama lagi, kedua bibir mereka akhirnya menyatu juga setelah lama beradu tatap.
Adrian ingin mengambil kendali. Dia meletakkan telapak tangan kanannya di pipi Nadine sembari mengusap-usapnya secara halus dengan ibu jarinya.
Disesapnya bibir atas Nadine yang manis bagaikan permen lollipop, terlihat lembut namun agresif. Adrian meraih tengkuk Nadine dan merapatkannya erat agar adegan ciuman mereka berdua terasa lebih dalam...
__ADS_1
Tak ingin kalah, Nadine ingin membalas kecupan Adrian di bibirnya itu. Dia langsung melemparkan wash-lap yang dipegangnya ke sembarang arah dan mengalungkan kedua lengannya ke leher Adrian.
Suasana di ruang tamu semakin panas dan menghangat karena suara cecapan demi cecapan mengisi ruangan itu. Adrian dan Nadine semakin terbawa suasana...
Tak ada inisiatif dari keduanya untuk menghentikan kegiatan panas itu. Bahkan saat keduanya mulai kesulitan untuk bernapas, mereka hanya menjedanya sebentar lalu melanjutkan ciuman itu kembali.
Ketika rasa nyaman sudah dikantongi keduanya, Adrian berani memberi gigitan kecil pada bibir bawah Nadine, memaksa mulutnya untuk sedikit terbuka agar lidah keduanya dapat bertaut.
Sesaat ciuman mereka terlepas untuk mengatur nafas sejenak...bibir Adrian mulai turun ke leher jenjang Nadine. Tak henti-hentinya dia menyesap kulit putih Nadine hingga meninggalkan bekas merah disana...
"Aaahh...." suara manja yang keluar dari mulut Nadine menggema memenuhi isi ruangan. Sontak, ini membangkitkan gairah Adrian yang terpendam lama.
Adrian merasakan dirinya mulai berkedut. Dipeluknya pinggang Nadine dengan erat sehingga sekujur tubuh mereka seperti dialiri tegangan listrik yang dapat menghasilkan ribuan volt.
Saat mereka berdua akan bertindak lebih jauh. Alam bawah sadar Adrian tiba-tiba muncul bagaikan alarm pengingat.
DEGHHH....
Sadar jika yang dilakukannya akan berdampak pada sebuah ketidakpastian, Adrian segera melepaskan diri dari Nadine.
Keduanya menghembuskan nafas yang tersengal-sengal. Tubuh mereka masih bergetar akibat dari sisa-sisa aktivitas tak terduga yang baru saja mereka lakukan.
Baik Adrian maupun Nadine masih menghindari kontak mata satu sama lain. Tatapan keduanya lurus dan kosong. Mereka tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan...ini gila..benar-benar gila.
Siapa yang mengira bahwa niat awal yang hanya ingin sekedar mengobati luka..malah berakhir dengan hal seperti itu.
Tak ingin berlama-lama dalam situasi kecanggungan, Adrian segera beranjak dari tempatnya dan memungut hoodie serta kaos miliknya yang tergeletak di lantai.
Adrian meninggalkan Nadine yang masih merenung dalam kebimbangan....
**Sebenarnya ini udah di up dari kemarin, tapi terkendala karena enggak lolos review, ya sudahlah 😁 Mohon maaf ya kalau ada yang kurang...karena belum pengalaman \+ pihak NT nya agak gimana gitu...✌️**
**Kasih Visual Adrian dan Nadine lagi biar seger** :)
__ADS_1
