
AUTHOR POV
***
-Flashback On-
"What do you want?" tanya Nadine lantang.
Supir taksi tak menjawab. Dia malah tersenyum menyeringai menunjukkan sikap culasnya. Setelahnya, si supir itu membekap mulut Nadine, menekannya sangat kuat hingga Nadine hampir kehabisan nafas.
"Let Me Go!!" Nadine berteriak berusaha melepaskan diri.
"Silent!! Stop being a rebel or I will give you a lesson..."
(Diam! Berhenti memberontak atau aku akan memberimu pelajaran...)
Akibat kalah oleh tenaga, Nadine akhirnya tumbang juga karena tak mampu memberikan perlawanan.
Ketika Nadine tak sadarkan diri, disaat yang bersamaan sekelompok bodyguards suruhan Papa Alan yang menaiki mobil van telah tiba untuk menyelamatkan Nadine.
Supir taksi tersebut telah diamankan dan diringkus ke dalam jeruji besi oleh pihak berwajib setempat.
Tak lama setelahnya, Nadine langsung dibawa menuju ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.
-Flashback Off-
***
Setidaknya itulah secercah informasi yang diberikan oleh Ray pada Adrian tentang bagaimana istrinya bisa selamat dari penculikan. Ray mengetahuinya setelah berkoordinasi dengan bodyguards kiriman Papa Alan.
Sebelum pesawat Papa Alan take off dari LA menuju Rio, entah kenapa Papa Alan memiliki firasat yang buruk terhadap menantunya itu. Papa Alan pun menyampaikan kegelisahannya pada sang istri.
Mendengar pengakuan suaminya, Mama Diana pun membatin dan ikut ketar-ketir mengingat kondisi Nadine yang tengah berbadan dua. Berawal dari dorongan feeling yang kuat itulah, Papa Alan mengirimkan orang suruhan bayangan tanpa sepengetahuan Adrian ataupun Nadine.
Dan benar saja kejadian, Nadine hampir diculik oleh komplotan Galih. Untung saja Papa Alan cepat tanggap. Telat sedikit, mungkin kisahnya akan berbeda.
Sedangkan bodyguards Adrian yang ditempatkan untuk mengawasi Nadine di hotel, mereka sudah mendapat teguran dan hukuman karena telah lalai menjaga istrinya sehingga bisa lolos dari penglihatan.
"Sudah berapa lama istri saya tertidur? Kenapa belum bangun-bangun juga dok, padahal sudah sejak kemarin kan dia di opname?" Adrian melipat kedua tangannya yang diletakkan diatas dada.
"Tubuh Nyonya Nadine saat ini sedang kelelahan, kemudian obat yang kami berikan juga bisa menjadi salah satu faktor kenapa beliau mudah mengantuk. Kita tunggu 1 atau 2 jam lagi Nyonya pasti akan bangun.." jawab Dokter Fritz, dokter pribadi kepercayaan keluarga Natadipura.
Adrian membuktikan ucapannya untuk menemukan rumah sakit tempat Nadine dirawat, meski tanpa diberitahu oleh orang tuanya. Bahkan kedua orangtuanya tak tahu jika Adrian sudah tiba disini.
Bukan perkara yang sulit. Dengan segala power yang dimiliki Adrian, mudah baginya untuk mendapat informasi tentang keberadaan Nadine dalam waktu sekejap.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan keadaannya? Dia baik-baik saja kan?" tanya Adrian lagi.
Dokter Fritz membuka suara, "Kondisi Nyonya Nadine baik. Tidak ada problem yang serius ketika saya periksa. Hanya saja untuk kandungannya sedikit lemah, maka dari itu kami berikan obat penguat kandungan. Ditambah lagi, Nyonya Nadine baru saja mengalami shock."
"Beruntung Nyonya tidak mengalami pendarahan dan lain sebagainya setelah kejadian yang kurang mengenakkan menimpanya. Yang Nyonya butuhkan saat ini adalah istirahat yang cukup selama dua hari kedepan. Saya akan tetap pantau kondisinya setiap saat," lanjutnya.
Dokter menyatakan kalau kandungan Nadine lemah. Seketika Adrian baru mengingat jika istrinya itu sedang mengandung.
"Sudah berapa lama usia kandungannya dok?"
"Kemarin saya sudah melakukan USG, dari situ terlihat jika usia kandungan Nyonya Nadine memasuki 8 Minggu."
Adrian mengangguk paham.
"Saya bisa menemui istri saya sekarang dok?" Adrian ingin melihat secara langsung keadaan istrinya, memastikan agar dia baik-baik saja.
"Tentu Tuan Adrian," Dokter Fritz mempersilahkan.
Adrian mendorong pintu ruang rawat inap Nadine dengan perlahan.
Tak bisa dipungkiri, melihat Nadine terbaring dengan kondisi lemah diatas kasur rumah sakit membuat Adrian bersedih. Terbesit sebuah penyesalan di lubuk hatinya. Seharusnya ia tak meninggalkan sang istri sendirian di hotel yang membuatnya hampir saja celaka.
Sebagai seorang laki-laki, jiwa Adrian merasa tersentil karena tak bisa melindungi sang istri hanya karena ia merasa kecewa setelah mengetahui berita kehamilannya.
Adrian mulai mengusap kening Nadine dengan sentuhan lembutnya seraya menyingkirkan anak rambut Nadine yang menutupi matanya.
"Asalkan kamu tahu, aku bukannya menolak. Aku hanya tidak siap. Aku pernah mengalami sebuah trauma yang membuatku kecewa dan takut. Aku tidak ingin hal yang sama terjadi sama kamu," jari-jemari Adrian mengelus pelan pipi Nadine yang halus.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah mulai menerima kehadiranmu dihidupku. Aku sudah mulai terbiasa dengan sikap manja dan kasih sayang yang kamu berikan setiap harinya. Entah perasaan aneh apa yang aku punya saat ini, aku tidak bisa menjelaskan."
Kesempatan ini Adrian pergunakan untuk mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini mengganjal. Andai kata Nadine terbangun, Adrian tidak yakin bisa menyampaikan uneg-unegnya secara gamblang.
"Aku sayang kamu Nadine," Adrian mengecup kening Nadine selama beberapa detik.
Sesi curhat singkat tadi ternyata menimbulkan gejolak perasaan emosional dan meningkatkan rasa cemas berlebih di benak Adrian, membuatnya ingin segera melarikan diri dari kamar ini. Adrian takut tak bisa mengendalikan emosinya.
Ketika Adrian hendak beranjak pergi, Nadine rupanya telah sadar dan menahan tangan Adrian.
"Jangan kemana-mana, temani aku disini..." lirih Nadine.
"Kk--kamu s--sudah bangun?" Adrian menoleh gelagapan.
"Iyaa..sejak tadi.." Nadine tersenyum tipis.
Jika Nadine sudah bangun sedari tadi, artinya kemungkinan besar Nadine telah mendengar semua ungkapan hatinya.
__ADS_1
Setelahnya Adrian membantu Nadine untuk bangun membenarkan posisinya dan meninggikan kasur rawatnya agar keduanya dapat mengobrol dengan enak.
"Kamu baik-baik saja? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Adrian untuk mengalihkan perhatian.
Nadine menggeleng. Dia tahu suaminya ini mencoba menghindari topik tadi. Awalnya Nadine iseng berpura-pura tidur agar bisa tahu apa saja yang diucapkan suaminya tatkala ia tak sadarkan diri.
"Aku mendengar semuanya Adrian..kalau itu yang menjadi pertanyaanmu."
Degghh...
Ucapan Nadine begitu menohok membuat Adrian tergelak.
"Aku juga sayang kok sama kamu.." Nadine semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Adrian membuat jantung pria itu berdebar-debar.
"Adrian...kita berdua ini sudah menikah, aku ingin sekali kamu bersikap terbuka sama aku. Aku penasaran, sebenarnya apa yang membuat kamu takut dan trauma?" Nadine menatap lekat netra Adrian.
"Kamu sedang sakit Nadine, sebaiknya jangan tanya yang aneh-aneh dulu..istirahatlah!"
"Please, aku ingin tahu..tolong jelaskan!" Nadine memohon. "Apakah ini ada kaitannya dengan Naomi?"
"Darimana kamu tahu tentang Naomi?" Adrian melirik Nadine dengan tatapan tak suka.
"Aku pernah mendengar namanya disebut saat Valerie datang ke rumah Mama." Nadine beralasan.
Dia tak mungkin membongkar rahasia kalau Mama Diana lah yang telah menceritakan bagaimana latar belakang hubungan Naomi dan Adrian di masa lalu.
"Banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu Adrian, dan aku mau kamu jawab dengan jujur!"
Adrian mendengus, "Tanyakan saja. Tapi apapun yang kamu dengar nanti, aku harap kamu tidak kecewa. Aku sudah memperingatkannya."
"Aku siap." jawab Nadine dengan mantap.
Keduanya sama-sama terlarut dalam keheningan yang lama sebelum akhirnya Nadine membuka suara.
"Siapa Naomi? Kenapa setiap kali ada pembahasan tentang Naomi, wajah kamu selalu berubah tegang?" tanya Nadine.
Walau sudah tahu kenyataannya, Nadine ia tetap ingin mendengarnya langsung dari mulut Adrian.
"Mantan kekasihku. Tapi dia sudah meninggal karena kecelakaan." Adrian melepaskan genggaman tangan mereka yang bertaut.
"Ketika kamu mengambil keputusan untuk tidak akan menikah dan tidak mau memiliki keturunan, apa ini ada kaitannya dengan Naomi?" Nadine memiringkan kepalanya lemah.
"Mungkin, tapi tidak sepenuhnya. Ini lebih kepada masalah batin yang ada dalam diriku sendiri. Trauma dan ketakutan itu sudah kualami jauh sebelum aku mengenal Naomi, karena aku memiliki problem dengan mental health. I suffered from PTSD," Adrian menundukkan kepalanya.
***
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih