
AUTHOR POV
Nadine dan Adrian kini sedang duduk diatas pasir pantai yang terasa hangat, dengan posisi Adrian memeluk tubuh Nadine dari belakang.
Sedangkan Nadine dengan nyamannya menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian sembari mengelus lembut tangan kekar yang sedang melingkar di perutnya.
Sepasang suami istri itu tengah menikmati pemandangan laut yang indah, deburan ombak yang terdengar nyaring, serta matahari diatas langit yang mulai terbenam. Perasaan keduanya sama-sama hanyut oleh ketenangan dalam diam.
"Aku senang kamu akhirnya pulang, aku jadi tidak kesepian lagi." celetuk Nadine mendongakkan kepalanya ke belakang untuk melirik Adrian.
"Bukankah sama saja rasanya? Ada atau tidak ada aku..kamu pasti kesepian. Aku juga sering meninggalkan kamu dan kita bahkan jarang berbicara."
"Tetap saja rasanya beda kalau tidak ada kamu. Separuh diriku merasakan kehilangan."
"Kamu semakin pintar menggoda saja!" Adrian mencubit hidung Nadine.
"Biarin! Suka-suka aku lah!" Nadine terkekeh pelan.
Adrian hanya meresponnya dengan senyuman tipis seperti biasa. Adrian kemudian sedikit merapikan rambut panjang Nadine yang berantakan karena tertiup angin kencang. Agar tak menutupi wajah polos cantik Nadine, helaian anak rambut tersebut ditelusupkan oleh Adrian ke belakang telinga Nadine.
"Adrian..besok pagi, kamu mau kan antar aku untuk pergi ke rumah sakit menemui dokter kandungan? Semenjak datang ke LA, aku belum sempat check-up, terakhir kali ya pas waktu masih di Rio saat aku opname."
"Apa kamu ada keluhan yang serius sehingga kita harus ke rumah sakit?" Adrian kebingungan sekaligus penasaran kenapa Nadine harus ke dokter kandungan lagi.
"Enggak ada kok, sejauh ini normal. Hanya morning sickness biasa, setiap pagi perutku terasa kram dan aku mual."
"Kamu yakin hal seperti itu normal?" tanya Adrian ragu. Ada sedikit guratan kepanikan di wajahnya, karena tak tahu harus apa.
"Yes it is. Kita besok ke dokter untuk periksa kandungan yang rutin dilakukan setiap bulan bagi Ibu hamil. Dan juga sekalian minta resep obat penguat kandungan serta vitaminku yang sudah mulai habis."
__ADS_1
Ada sedikit kelegaan di hati Adrian tatkala mendengar kondisi Nadine tidak apa-apa, tapi ia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.
"Baiklah, akan aku temani."
Dalam hatinya, Nadine merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda karena sang suami berkenan untuk menemaninya check-up kehamilan.
Bagi Nadine, tak apa jika Adrian belum bisa menerima janin yang dikandungnya dengan sepenuh hati. Setidaknya ini Adrian sudah ada sedikit kemajuan.
"Oh ya, tadi apa saja yang kamu bicarakan dengan Papa dan Mama..sepertinya serius sekali? Apa ini ada kaitannya dengan Galih?" tanya Nadine penasaran.
Sebelum mereka berangkat ke pantai, Adrian sempat berbincang-bincang singkat terlebih dahulu dengan kedua orang tuanya di patio belakang rumah. Nadine sengaja tak ikut ataupun menguping karena ingin memberikan ketiganya privasi supaya Adrian lebih leluasa untuk bercerita.
"Iya. Pembicaraan kami memang tidak jauh-jauh tentang Galih."
"Lalu, bagaimana dia sekarang? Apakah kamu sudah menepati janjimu untuk membereskan semua masalah kamu dengan Galih?"
"Aku berharap dia mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatannya terhadap keluargamu, kamu, dan juga aku. Galih itu orang yang keji dan tidak waras. Mendengar namanya saja membuat hatiku panas. Karena dia aku dan Kak Nathan jadi kehilangan Ayah.." lirih Nadine dengan mata berkaca-kaca.
Sudut matanya berlinang air menahan tangis agar tidak luruh menetes ke pipi. Nadine tampak begitu emosional karena sekelebat bayangan Ayahnya yang terkapar tak bernyawa di ruang tamu rumah mereka tiba-tiba muncul. Nadine masih sering menangis jika mengingat momen tragis itu yang secara langsung berada di depan mata.
"Nad, ingat apa yang pernah aku katakan? Jangan menangis...aku tidak bisa..." Adrian merenggangkan pelukannya pada Nadine dan menghapus genangan air di pelupuk mata istrinya itu.
"Maaf, aku selalu tak bisa menahan diri kalau mengingat Ayah.." Nadine menunduk sedih.
Adrian mengapit dagu Nadine dengan ibu jarinya dan membuat gerakan untuk menaikkannya. "Ayah kamu sudah tenang diatas sana. Galih akan diadili seadil-adilnya atas perbuatan jahat yang sudah ia lakukan. Bukan hanya dari pihak berwajib saja, tapi dari aku sendiri juga sudah menyiapkan sesuatu untuknya."
Nadine memicingkan matanya. "Maksud kamu?"
"Kamu akan tahu nanti. Intinya, aku tidak mungkin melepaskan Galih begitu saja. Dia harus diberi efek jera dan ketakutan agar kapok. Aku akan membalas setiap perbuatannya, sama persis seperti apa yang pernah dia lakukan terhadapku saat kecil." ucap Adrian.
__ADS_1
Namun sayangnya penjelasan itu terdengar begitu samar-samar dan sulit dimengerti oleh Nadine.
"Lalu bagaimana dengan ayahnya Sean, apa ia ikut ditahan juga?" tanya Nadine lagi.
"Maksud kamu David Malik-Santoso? Tentu saja iya, aku sudah pernah berkata bukan jika aku tidak akan main-main. Siapapun yang berani mengusik ketenangan keluargaku, maka akan aku berantas. Tidak ada pengampunan. Sebelum kita berangkat ke Turin, dia sudah aku jebloskan ke dalam jeruji besi!" tegas Adrian.
Suasana berubah hening. Hanya ada suara deru ombak yang mengisi kesunyian mereka. Nadine memilih tak berkomentar tentang hal itu, meski di dalam hatinya juga timbul rasa keterkejutan.
"Kenapa diam? Sedang memikirkan Sean? Kamu pasti khawatir kan karena ayah dari mantan kekasihmu itu ditahan."
Entah kenapa, Adrian tiba-tiba saja mendadak emosi. Pembahasan mengenai David pasti memiliki kaitan erat dengan Sean, yang notabene adalah mantan kekasih Nadine. Bisa dikatakan, Adrian sedikit cemburu tapi dia belum sadar.
Nadine menangkup pipi Adrian. "Hey, kok jadi negatif begitu pikirannya! Aku diam bukan berarti aku memikirkannya, kurang kerjaan sekali! Aku hanya tak tahu harus berbicara apa. Lagipula aku juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan oran tua Sean. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, okay?!"
Adrian mengangguk, diikuti dengan senyuman manis Nadine yang dalam waktu sekejap bisa membuat segala kegundahan di hati Adrian menghilang seketika.
"ASTAGA...AKU LUPA!!!!" Nadine memekik dengan suara kencang hingga memekakkan telinga Adrian.
"Lupa apa sih? Tidak perlu berteriak!!" protes Adrian.
"Itu..ak--aku...lupa mengabari Kak Nathan! Semenjak kita berdua pergi ke Rio sampai sekarang kita ada di LA, belum sekalipun aku menghubunginya! Matilah aku!" Nadine menepuk-nepuk dahinya merutuki kecerobohannya yang tak memberikan kabar pada sang kakak.
Siap-siap Nadine harus menerima konsekuensi untuk diceramahi Nathan panjang lebar bagaikan pidato.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up 😊
Maaf kalau belum bisa upload rutin karena kesibukan di real life..jangan di unfav ya..aku bikinnya perjuangan nih! Terimakasih, sudah mau setia untuk baca! Kedepannya bakalan lebih seru kok...hihi
__ADS_1