Favorite Sin

Favorite Sin
A PROMISE


__ADS_3

...ADRIAN...


"Aku harus pergi malam ini..." kataku jujur pada Nadine setelah aku selesai menyuapinya.


Setengah jam yang lalu, seorang perawat datang mengantarkan makanan untuk Nadine. Tadinya Nadine tidak berselera makan karena perutnya masih terasa mual, tapi aku memaksanya.


Kalau tidak begitu, dia tidak akan bisa minum obat. Aku ingin agar Nadine cepat sembuh. Jauh di lubuk hatiku, aku tak tega melihatnya yang pucat tak berdaya. Nadine tidak terlihat seperti biasanya, yang ceria, cerewet, dan murah senyum.


"Kamu mau kemana lagi? Kemarin kamu ninggalin aku sampai aku hampir diculik..dan sekarang kamu mau pergi lagi?" Nadine melayangkan protesnya seraya menyerahkan segelas air putih yang sudah berkurang setengahnya.


Aku menghembuskan nafasku kasar. "Jangan mendebatku, Nad. Aku tidak punya pilihan, aku harus menyelesaikan semua urusanku malam ini dengan Galih."


"Aku lagi hamil, Adrian..aku hamil anak kamu! Aku butuh kamu ada disamping aku, menjaga aku...tidak bisakah kamu memberikan aku perhatian yang penuh?"


Nadine menatap kearahku dengan pandangan yang lirih namun menusuk. Kata-katanya bagaikan sindirian terselubung, seolah-oleh aku tak memperdulikannya.


Faktanya memang begitu. Aku pergi meninggalkan dia dan mengabaikan kehamilannya. Tapi bukan berarti aku bersikap acuh begitu saja, aku tetap mengirimkan bodyguards untuk menjaga Nadine saat aku tak disampingnya. Kesalahan ada pada mereka yang tidak becus melaksanakan tugas yang kuberikan.


"Tolong Adrian, aku mohon untuk kali ini..kesampingkan dulu urusan kamu dengan Galih. Tetap disini, sampai aku sembuh..aku takut sendirian.." Nadine memohon dengan wajah memelas.


"Mama dan Papa ada di Rio, nanti aku akan minta mereka untuk datang kesini menemani kamu."


"Suami aku itu siapa? Kamu kan? Adrian Rhys Natadipura. Aku hamil juga anak siapa? Anak kamu. Kenapa jadi Mama sama Papa yang direpotkan? Aku cuman mau sama kamu!" sentak Nadine.


Kali ini Nadine sulit untuk diajak bernegosiasi. Dia malah semakin menangis meraung-raung. Nadine benar-benar tak ingin kutinggalkan.


Faktor hormon kehamilan Nadine membuatnya kerap sensitif dan emosional. Sudah sejak tadi ia berkali-kali menangis secara dadakan. Aku bisa memakluminya karena ini masih dalam batas wajar. Setidaknya itu yang kurasa.


Aku menghampiri Nadine dan memeluknya dari samping. "Tidak bisa Nad, aku memang harus pergi. Kamu sendiri kan yang bilang, kalau kamu ingin hidup kamu kembali normal seperti sedia kala? Maka biarkan aku menyelesaikan semuanya. Tidakkah kamu lupa, ayahmu butuh keadilan juga?!"


Seketika Nadine mengencangkan suara tangisannya. Hhhhh...aku jadi menyesal membawa-bawa nama Ayahnya, hingga membuatnya histeris seperti ini.


"Jangan menangis Nad, kamu kan tahu aku paling tidak bisa melihat perempuan menangis..."

__ADS_1


Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak bisa melihat perempuan menangis. Tapi ini berlaku hanya pada perempuan yang kuanggap innocent atau polos. Kalau dia seorang penjahat, aku tak akan memberinya ampun sekalipun dia menangis mengeluarkan darrah.


"Ya habis, kamu pakai sebut-sebut nama Ayah..kan akunya jadi ingat sama beliau!" Nadine terisak.


Aku membalikkan badan Nadine agar menghadap kearahku dan kami bisa bertatapan. Kemudian aku mengelus surai rambutnya hitam panjangnya yang menjuntai ke bawah.


"Aku janji sama kamu, setelah semua urusan Galih selesai...aku akan mencoba untuk memperbaiki hubungan kita," ucapku mantap.


Nadine yang kepalanya menunduk langsung menoleh cepat dan menyipitkan matanya tak percaya padaku.


"Aku serius Nad, kita bisa memulainya dari awal. Kamu temani aku terapi ya...bantu aku untuk bisa melepaskan semua beban yang sedang aku pikul," aku meyakinkan Nadine.


"Tapi aku berharap kamu bisa bersabar menghadapi sifat-sifatku nantinya yang berpotensi untuk membuat kamu kesal," lanjutku.


Ada banyak sisi gelap dalam diriku yang belum diketahui Nadine sepenuhnya. Dan saat dia tahu, aku ingin Nadine siap. Jangan sampai dia ragu dan berhenti di tengah jalan seperti Naomi dulu.


Ketika Naomi tahu aku memiliki gangguan mental health, dia berubah labil untuk melanjutkan hubungannya denganku. Mungkin itulah salah satu faktor kenapa dulu aku memiliki pertimbangan sendiri untuk tidak menikahinya.


Dengan Nadine segalanya terasa berbeda, aku seperti terdorong untuk melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan prinsip yang aku pegang teguh selama ini. Nadine memiliki magnet yang adiktiif sehingga membuatku kecanduann untuk berada didekatnya tanpa aku tahu perasaan apa itu sebenarnya.


Aku mengangguk.


Hal ini sudah kupikirkan secara matang-matang ketika aku menjauh dari Nadine beberapa hari yang lalu. Sepulang dari Rio, aku akan menemui psikiater-ku. Aku akan kembali menjalani terapi ulang dan konsultasi untuk menghilangkan rasa cemas dan takut berlebih yang terkadang masih mengahantuiku.


Aku mau berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Untuk Nadine dan calon anak kami yang sedang ada di dalam kandungannya. Saat ini, aku mungkin masih belum menerima kehadirannya. Tapi lambat laun, aku harus menanamkan mindset yang baik-baik dalam otakku.


"Kalau gitu, aku juga ikut berjanji. Aku akan temani kamu setiap saat dan kapanpun saat kamu butuh aku. I'll be there for you, we're married remember?" Nadine mengangkat tangannya untuk mengelus wajahku.


"Ingat kata-kata janji suci yang telah kita berdua ikrarkan saat menikah? For better and worse.."


Sentuhan lembut dari tangannya seketika membuatku merasa tenang. Aku menemukan sebuah kedamaian disana. Wajah teduh Nadine seolah bisa menghapus segala kegelisahan dalam hatiku. Sehebat itu pengaruh Nadine.


"Kamu mau coba untuk mengelus perutku?" tanya Nadine hati-hati.

__ADS_1


Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya menggeleng ragu dan mengalihkan pandanganku.


"Hey...lihat aku" Nadine meraih daguku dan mengusap peluh yang menetes di dahiku.


Ya, aku berkeringat dingin sejak tadi. Membahas tentang masa depan bersama dengan Nadine membuatku gugup. Ini adalah sebuah perubahan besar dalam hidupku.


"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Kamu akan menjadi Daddy yang baik untuk baby kita nanti...percaya sama aku!"


"Kita lihat nanti..." aku tersenyum hambar.


Mulutku memang sudah mengeluarkan kata janji, untuk memperbaiki semuanya. Tapi aku tetap tidak bisa menjanjikan Nadine kalau ini akan berhasil.


Dengan gerakan yang pelan dan ragu-ragu, aku mengulurkan tanganku untuk memengang perutnya.


"Dokter bilang, usianya masih sekitar 8 Minggu."


"Kamu sudah bicara sama dokter?" Nadine memiringkan kepalanya penasaran.


"Iya, sebelum kamu bangun aku sempat berbicara dengannya," jawabku.


Nadine tersenyum sumringah seperti orang yang baru saja mendapatkan jackpot.


"Aku senang mendengarnya, itu berarti tandanya kamu perduli sama baby kita.."


Nadine mendekatkan wajahnya kepadaku dan langsung mencium bibirku cepat.


"I'm so proud of you..." Nadine menatapku dengan penuh cinta.


Aku tak membalas perkataannya. Tubuhku masih diam terpaku karena mendapat serangan dadakan dari Nadine yang membuat jantungku berdesir hebat.


Nadine baru saja menciumku. Dan entah kenapa, aku merasa senang akan hal itu.


***

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih


__ADS_2