
AUTHOR POV
Sayang seribu sayang. Belum sempat Ray mengajak Nadine pergi untuk berbicara, salah satu suster jaga yang berada di ruang ICU memanggil Nadine untuk kembali menemui dokter. "Keluarga Bapak Harun Bimantara?"
Nadine segera bangkit dari kursinya dan mendekati suster itu, "Iya sus, saya putrinya."
"Mari ikut saya dulu.." ajak suster tersebut.
Fokus Nadine jadi teralihkan pada panggilan mendadak dari sang suster dan menghiraukan Ray begitu saja yang masih duduk manis di kursi tunggu.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Nadine bertanya pada dokter setibanya dia di ruangan khusus. "Ada apa ini dok? Apa ada perkembangan mengenai kondisi Ayah saya?" tanya Nadine.
"Maaf mbak Nadine, kami dan segenap tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun kondisi pasien semakin melemah di setiap jamnya. Racun timah yang terkandung dalam peluru sudah menyebar dan merusak hampir 75% organ pasien, terutama bagian jantung. Fungsi jantung pasien berkurang dan detak jantungnya sempat berhenti, sehingga kami harus menggunakan defibrilator untuk memulihkan detak jantungnya agar kembali normal."
"Kenapa bisa begitu dokter? Bukannya Ayah saya sudah dioperasi? Harusnya beliau sudah baik-baik saja tentunya... tapi ini kenapa jadi makin parah?" emosi Nadine mulai tidak stabil.
"Setiap operasi itu pasti memiliki resiko yang besar, terutama dalam kasus Bapak Harun. Tidak semua operasi bisa berjalan sesuai keinginan, meskipun kami sudah berusaha sekuat tenaga. Operasi memang berjalan lancar, namun after effect nya tidak mulus."
"Tidak mulus bagaimana maksud anda?" Nadine mulai membentak dokter yang menangani ayahnya.
"Saat ini, Bapak Harun bisa bertahan hidup karena tubuh beliau masih dipasangi dengan alat bantu medis. Selebihnya pasien sebenarnya sudah tidak bernyawa lagi. Jikalau sembuh pun, dipastikan beliau akan lumpuh total seluruh badan."
DUARRRR!!!!!!
Jantung Nadine bagai dihantam dengan bebatuan besar. Dadanya terasa sesak membuat Nadine sulit untuk bernapas. Matanya terbelalak lebar dan mulutnya menganga terbuka karena terkejut. Air mata yang sedari tadi ia bendung lolos begitu saja dengan jatuh menetes di pipinya.
"Saya benar-benar turut berduka akan kejadian ini. Dan dengan berat hati, saya harus memberikan 2 pilihan pada pihak keluarga pasien. Yang pertama, membiarkan Bapak Harun tetap dalam ICU sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Atau yang kedua, mencabut alat bantu yang terpasang di tubuh Pak Harun. Sebab sejatinya, nyawa pasien sudah tidak bisa tertolong lagi."
__ADS_1
Tubuhnya jatuh merosot ke lantai. Ingin hati dirinya berteriak sekencang mungkin, menangis sekeras mungkin, berlari secepat mungkin untuk menghilangkan rasa sakit ini. Tapi itu tidak bisa, itu tidak bisa dia lakukan...ia hanya menangis pilu tanpa mengeluarkan suara.
"Boleh saya menemui Ayah saya dok, paling tidak untuk yang terakhir kalinya. Saya mohon" pinta Nadine.
Dokter mengindahkan permohonan Nadine untuk melihat kondisi ayahnya sebelum dia mengambil keputusan.
Berat rasanya bagi Nadine untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang ICU. Melihat sang ayah, cinta pertamanya, sedang tertidur lemah dan pucat diatas kasur rumah sakit.
"Ayah...Nadine harus bagaimana? Apa Nadine benar-benar harus merelakan kepergian Ayah? Nadine belum siap yah...Kak Nathan enggak ada disini, jadi Ayah jangan tinggalkan Nadine!" ucap Nadine disela-sela tangisnya
Digenggamlah tangan sang ayah yang terasa dingin seperti sudah tak bernyawa. "Ayah kan sudah janji...jika Nadine menikah nanti, Ayah akan menggandeng dan menggenggam tangan Nadine untuk berjalan ke altar. Dan ketika Nadine memiliki seorang anak..ayah juga berjanji untuk menemani Nadine saat proses persalinan dan menikmati hari tua bersama cucu-cucu Ayah. Tapi kenapa Ayah bohong...ayah ninggalin Nadine sendiri..." lanjutnya.
"Nadine ingin sekali bersikap egois dan tetap mempertahankan ayah untuk bertahan...tapi saat melihat alat-alat yang terpasang di tubuh Ayah ini..Nadine jadi enggak tega! Nadine tahu Ayah sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan.."
"Kuatkan Nadine untuk melepas ayah...Nadine ikhlas.. apapun yang terjadi, selamanya Nadine akan selalu sayang dan cinta sama ayah. I love you to the moon and back...." lirih Nadine.
TTTIIIIITTTTT......
Dokter dan para suster yang berjaga bergegas masuk dan memeriksa Harun kembali. Dan ternyata....
"Kami mohon maaf, Bapak Harun sudah berpulang pada sang pencipta. Saya turut berduka cita untuk anda dan keluarga" ucap dokter.
Belum sempat Nadine memberikan keputusannya pada dokter untuk melepas alat bantu dalam tubuh Harun, Tuhan sudah memiliki rencana yang lain. Tanpa disadari, jantung Harun sudah berhenti berdetak dengan sendirinya selepas Nadine mengucapkan kalimat perpisahan pada Harun.
Sesaat setelah itu, para perawat dan dokter dengan sigap menindaklanjuti kondisi Harun yang sudah dingin terbujur kaku.
Satu persatu alat bantu yang masih tertempel dengan rapi di tubuhnya dilepaskan secara perlahan oleh para perawat yang berwenang.
__ADS_1
Salah satu suster yang bertugas mencoba untuk menenangkan Nadine dengan merangkulnya dan membawa Nadine keluar dari ruangan itu.
Ya, ruangan yang membuatnya merasakan trauma seketika..karena dia harus kehilangan sosok sang ayah di tempat itu.
***
Adrian dan Ray masih menunggu diluar dengan perasaan yang gelisah dan panik yang tidak berkesudahan, koreksi...hanya Adrian saja yang panik sebab Ray masih memiliki pikiran yang positif.
20 menit sudah terlewati, namun Nadine tak kunjung keluar dan menampakkan batang hidungnya. Adrian menjadi tidak sabaran dan ingin rasanya mendobrak pintu ruang ICU atau pintu ruangan khusus manapun untuk mengetahui apa yang terjadi. Memiliki sikap yang tidak sabaran sedari dulu, membuat dirinya frustasi.
"Kenapa lama sekali sih mereka semua ini, ngapain aja itu didalam?" dengan perasaan yang kesal Adrian sampai berjalan mondar-mandir kesana kemari.
"Harus sabar Pak Adrian, mungkin didalam Pak Harun sedang ditangani oleh dokter." Bukan senyuman yang didapat oleh Ray, melainkan tatapan mata tajam yang menusuk. Tapi kembali lagi, apa pernah Ray melihat Adrian tersenyum? Tentu saja tidak!!
Jika sifat Adrian yang seperti ini sudah mulai keluar, Ray akan memasang kuda-kuda dan bersiap diri untuk kena semprot bos-nya itu.
Meski sudah bekerja dengan Adrian selama 6 tahun, Ray masih suka bergidik ngeri ketika berhadapan dengan emosi Adrian yang tidak menentu. Apalagi saat Adrian sedang tantrum dan penyakitnya kumat, nyawanya sudah seperti diujung tanduk.
BRAKKKKK!!!!
Suara pintu ruang ICU terbuka dan akhirnya salah satu perawat terlihat keluar dari peradaban.
Adrian menghentikan langkah suster tersebut dan mulai memberondongnya dengan pertanyaan. "Permisi sus, saya mau tanya..pasien atas nama Harun Bimantara bagaimana kondisinya?"
"Mohon maaf, anda dengan siapanya kalau boleh tahu?"
"Kami berdua keluarganya dok, saya keponakannya Pak Harun. Tadi sepupu saya Nadine masuk kedalam, tapi sampai sekarang belum kembali juga. Saya jadi khawatir." Adrian melancarkan aksi kebohongannya untuk meyakinkan perawat tersebut agar dia mau memberi info lebih lanjut mengenai Harun.
__ADS_1
"Ohh..dengan keluarganya. Begini pak, mohon maaf sebelumnya..dengan berat hati saya ingin mengabarkan bahwa pasien atas nama Harun Bimantara telah dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22.35 tadi."
"HAHHHH..?!!!!" teriak Adrian dan Ray bersamaan.....