
...ADRIAN...
"Surat wasiat? Surat wasiat apa Adrian..?" Nadine menghentikan aktivitas makannya dan menatapku serius.
"Sebelum Ayah kamu meninggal, beliau sudah membuat surat wasiat atas pembagian harta warisan yang diperuntukkan untuk kamu dan kakakmu."
"Darimana kamu tahu? Bahkan aku yang anaknya aja enggak tahu apa-apa..."
Ini yang membuatku benar-benar heran. Pak Harun tidak memberi tahu putrinya sendiri perihal surat wasiat atau harta warisan yang ditinggalkannya.
"Saya tahu karena saya telah memecahkan pesan tersembunyi dari brankas yang ditinggalkan oleh Ayahmu. Dari situ, ditemukan sebuah alamat rumah seorang pengacara yang disewa Ayahmu untuk membuat surat wasiat. Dan tadi sore saya mendatangi alamat pengacara itu, namanya Ida Bagus Aditya Bagja. Saya memanggilnya Ajik Adit. Kamu pasti tidak asing dengan nama itu!"
"Ajik Adit? Hmm..iya, ayahku cukup akrab dengannya. Beberapa kali sering ketemu juga. Tapi aku enggak tahu kalau dia seorang pengacara, aku pikir dia hanya rekan kerja biasa Ayah!" Nadine menerka-nerka
Seperti dugaanku sebelumnya, Nadine pasti familiar dengan Ajik Adit.
"Andai kata yang kamu ucapkan benar, lalu apa hubungannya surat wasiat Ayahku dengan flashdisk yang kamu cari?" tanyanya lagi.
"Saya tidak tahu apa jelasnya isi surat wasiat Ayahmu secara detail karena itu privasi yang tidak mungkin dibeberkan. Tapi satu yang pasti, di surat wasiat itu tertulis bahwa salah satu harta warisan yang diberikan Ayahmu adalah sebuah Safe Deposit Box. Di dalam Safe Deposit Box itu terdapat flashdisk dan hardisk yang saya cari. Karena tinggal kamu sekarang yang sebagai ahli waris sah dari Pak Harun, kamu pasti tahu selanjutnya apa."
"Maksud kamu, aku harus mencairkan harta warisan itu dulu supaya flashdisk dan hardisk itu bisa didapatkan?"
Aku mengiyakan pertanyaan Nadine. Dia sudah mulai memahami penjelasanku.
"Kalau begitu bawa aku ke tempat pengacara itu, aku akan membantu sebisa mungkin. Karena kamu pasti butuh tanda tanganku kan? Kalau dengan mencairkan harta warisan Ayahku kita bisa mendapat flashdisk dan hardisk itu, maka akan aku lakukan."
Ahh..ini dia, bagian yang paling tidak kusukai. Menjelaskan padanya bahwa dia harus menikah sebagai syarat untuk mencairkan warisan Ayahnya. Aku menghembuskan nafasku pelan.
"Andai prosesnya semudah itu, saya akan langsung membawamu kesana sekarang."
"Memang apa kendalanya?"
"Untuk mencairkan warisan itu, syaratnya kamu harus menikah dulu" kataku jujur.
"APAAA...?!!" teriak Nadine.
Sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya terhempas begitu saja hingga terjatuh ke bawah kursi.
"Tolong serius Adrian, jangan bercanda..." lirih Nadine. Senyumnya yang hangat tadi mendadak hilang.
__ADS_1
"Apa wajah saya kelihatan seperti orang yang sedang bergurau? Ini bukan waktunya bercanda Nadine. Jika tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung pada Ajik Adit. Saya punya nomornya, kamu bisa menghubungi beliau atau kamu mau saya antar kesana supaya lebih jelas?" aku menunjukkan keseriusanku.
"Tapi kenapa Ayah harus membuat surat wasiat seperti itu? Kenapa aku harus menikah?"
"Mungkin Ayahmu telah memprediksi semua kejadian ini. Beliau yakin bahwa insiden penyergapan rumahmu pasti akan terjadi cepat atau lambat. Itu sebabnya, sejak awal pencarian flashdisk, Ayahmu terkesan mempersulit siapapun orang yang ingin mendapatkannya. Terbukti mulai dari pesan tersembunyi di brankas, sampai sekarang kamu diminta untuk menikah dulu supaya flashdisk itu bisa didapatkan."
Mata Nadine mulai berkaca-kaca. Tangannya mengepal sambil menopang dagu, memikirkan apa yang baru saja aku ucapkan. Aku tahu dia pasti merasa tidak nyaman dengan ini semua.
"Terkadang aku belum mengerti dengan ini semua. Kenapa bisa keluargaku berurusan dengan Galih? Apakah semua ini adalah pengorbanan yang benar-benar layak?" Nadine terisak.
"..Ayahku sampai meninggal, Kakakku menghilang, lalu sekarang..aku harus dihadapkan dengan situasi yang seperti ini sendirian. Jauh dari rumah, hidup dalam pelarian, bahkan untuk mendapat bukti flashdisk itu..aku harus menikah dulu?!" ucap Nadine dengan lirih.
"Galih dan komplotannya bukanlah orang biasa Nadine. Mereka akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan flashdisk dan hardisk yang disimpan Ayahmu itu. Aku takut jika aku harus memaksamu untuk menikah dalam waktu dekat, hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa menjerat Galih."
Aku tidak menyalahkan sikap Nadine sama sekali. Ini adalah pilihan yang berat. Jika aku berada di posisinya, aku juga akan menolak mentah-mentah untuk menikah.
Sekalipun aku tidak memiliki komitmen untuk melajang seumur hidup, tetap saja berat untuk dilakoni. Tapi dalam keadaan yang mendesak seperti ini, apa yang bisa dilakukan?
"Apa kamu memiliki pasangan?" tanyaku pada Nadine. Jika memang dia memiliki seorang kekasih, tentu ini akan lebih mudah.
Nadine tertegun sejenak. Dia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit bangunan rumah ini. "Enggak Adrian, aku enggak punya kekasih. Aku baru berpisah dengan pasanganku sekitar 4-5 bulan yang lalu."
Hal yang sama berlaku pada Nadine. Pembahasan kami barusan juga ikut mempengaruhi dirinya. Suara dentingan sendok dan garpu tak lagi terdengar. Hanya kesunyian yang mengisi ruang makan ini.
Persoalan ini sungguh membuatku stress. Bahkan pekerjaanku sampai terbengkalai karena mengurusi Galih dan kawan-kawan. Si tua bangka itu merepotkan saja.
"Aku akan pikirkan solusinya nanti. Lebih baik kita lanjut makan."
***
Malam semakin larut. Dinginnya udara di malam hari menemani kesunyianku yang tengah duduk bersantai di teras. Kurapatkan jaketku sembari melihat bintang-bintang malam. Secangkir teh hangat yang dibuat oleh Nadine di meja, belum tersentuh sama sekali olehku. Pikiranku masih tertuju dengan surat wasiat konyol yang dibuat Pak Harun.
Berbicara tentang Nadine, dia sudah masuk ke kamar terlebih dahulu sejak tadi. Setelah membuat minuman hangat untukku, aku menyuruhnya untuk langsung beristirahat.
Lama termenung dalam lamunan membuatku tidak sadar jika Ray berada di hadapanku sekarang.
"Selamat malam Pak Adrian" Ray menyapaku.
"Ray...?! Saya pikir kamu datang besok..?" aku sungguh tidak tahu kapan dia datang.
__ADS_1
"Tidak Pak, urusan persidangan Romy dipercepat dan sudah clear siang tadi. Maka dari itu saya bisa segera kembali."
"Terus dimana mobil kamu? Saya tidak melihatnya..?"
"Saya dijemput dan diantar oleh supir kantor Pak, mobil saya sengaja tidak saya bawa kesini supaya Nona Nadine tidak curiga."
"Yah..kamu benar. Oh ya..Ray, kamu sudah lihat pesan yang saya kirimkan tadi?"
"Sudah, Pak" Ray menundukkan kepalanya.
"Saya bingung Ray, persyaratan kali ini tidak mudah. Ajik Adit tidak bisa disogok atau diajak negosiasi. Dia tetap kekeuh dengan pendiriannya. Saya juga tidak melihat kita bisa menggunakan cara paksa dalam situasi ini. Satu-satunya opsi yang bisa ditempuh, ya Nadine harus menikah dalam waktu dekat."
"Tanggapan Nona Nadine bagaimana pak?"
"Shock. Semenjak saya membahas tentang itu padanya, yang dia lakukan hanyalah diam dan menangis."
"Saya harus bagaimana lagi Ray? Dengan siapa Nadine akan menikah? Dia tidak memiliki kekasih atau orang yang dekat dengannya. Saya juga tidak mungkin kan, menikahkan dia dengan orang sembarangan!! Mau saya nikahkan dengan kamu, kamunya sudah ada calon istri."
Ray tergelak mendengar ucapanku barusan. Aku bisa melihat jakunnya yang mulai naik turun karena tegang. Dia pasti takut jika aku menyuruhnya untuk menikahi Nadine. Ray paling tidak bisa menolak perintahku.
"Tenang, saya tidak akan menyuruhmu untuk menikahinya. Kamu kan sebentar lagi akan menikah."
"Syukurlah Pak, saya benar-benar mati suri jika Pak Adrian memintanya." Ray memang sudah cinta mati dengan kekasihnya itu, tidak mungkin juga pernikahannya batal karena persiapan sudah 80%.
"Tidak ada kandidat yang pas saat ini. Karyawan atau pegawai di perusahaan yang sekiranya capable juga rata-rata sudah berkeluarga semua. Mencari laki-laki yang mau menikahi Nadine dalam waktu dekat sangat sulit, kalaupun dapat Nadine belum tentu mau menikah..sedangkan kita dikejar deadline. Sebelum Galih bergerak lebih jauh, kita harus cepat!" jelasku panjang lebar sambil menyesap secangkir teh yang mulai mendingin.
"Maaf jika saya lancang pak. Ini mungkin terdengar sedikit ekstrim, tapi jika bisa..kenapa bukan bapak saja yang menikahi Nona Nadine?" sahut Ray.
"Saya kamu bilang????!! Udah gila kamu!!! Saya sudah berkomitmen untuk tidak menikah! Kamu sudah lama kerja sama saya, harusnya kamu tahu!!!" emosiku mulai tersulut. Membuat Ray kaget hingga tubuhnya mundur ke belakang.
Tidak Roni, tidak Ray...sama saja gilanya! Mereka menyarankan aku untuk menikahi Nadine.
"Hanya sementara Pak, demi flashdisk dan hardisk itu. Jika semua masalahnya berakhir, bapak bisa berpisah dengan Nona Nadine setelahnya. Saya akan bantu untuk membuat surat perjanjian dan kontrak pernikahan antara bapak dengan Nona Nadine."
Rupanya Ray masih berani menjawab. Aku memicingkan mataku kearahnya. Kalau saja dia bukan asisten kepercayaanku yang jenius, sudah kucincang habis dia saat ini.
"Coba dipikirkan lagi Pak, ini solusi yang menguntungkan. Jika Nona Nadine menikah dengan Bapak, semua bisa dilakukan secara cepat, rapi, dan diam-diam. Rahasia akan terjamin karena hanya pihak internal lah yang tahu." Ray meyakinkanku.
Gila..ini benar-benar gila... masalah ini membuatku hilang akal....
__ADS_1