Favorite Sin

Favorite Sin
AFTER LOVE


__ADS_3

AUTHOR POV


"Untung aja Kian dan Kai belum bangun. Kita terlalu lama main-mainnya di kamar mandi. Kamu juga susah banget disuruh berhenti!" Nadine menggerutu seraya mengenakan kembali pakaiannya secara tergesa-gesa.


"Lama kamu bilang? Justru yang tadi itu terlalu sebentar, Nadine." Adrian merasa belum puas menggempur istrinya.


Karena normalnya, durasi bercinta mereka bisa sampai lebih dari ini. Bahkan semalam suntuk pun, Adrian dan Nadine sanggup mengarungi kenikmatan dunia tersebut.


"Lagipula wajar kalau aku kelepasan. Kita kan sudah lama tak melakukannya Nad.."


Nadine melirik sekilas, "Iya sih..tapi enggak di rumah Opa kamu juga. Jadinya aku malah enggak enak sama keluarga kamu. Mereka pasti nunggu kita diluar sana!"


Sembari Nadine sibuk mengoceh, Adrian menghampiri istrinya itu yang tengah kesulitan membenarkan pakaiannya.


Diciumnya pundak polos Nadine sekilas, kemudian Adrian berkata, "Sudahlah jangan protes, kamu sendiri juga ikut menikmatinya bukan? Tidak usah kita pikirkan tentang opini keluargaku. Biar saja mereka menunggu. Opa juga sudah sembuh begitu.."


Setelah mengatakan itu, Adrian menaikkan resleting bagian belakang dress Nadine dari bawah hingga keatas sampai tubuh Nadine terbungkus dengan sempurna.


Nadine tersenyum tipis. Tak bisa ia pungkiri, dirinya memang merindukan sentuhan dari sang suami juga. Bohong kalau dia bilang dia tidak menikmati percintaan panasnya di bathtub dan dibawah guyuran shower bersama Adrian tadi.


Melihat Nadine yang tersipu malu karena pipinya berubah merah merona, Adrian kembali menggodanya. "Kamu pasti masih terbayang-bayang dengan kegiatan kita di kamar mandi bukan? Apa mau melakukan itu sekali lagi? Mumpung anak-anak masih tidur.." ucap Adrian seraya merangkul pinggang Nadine yang sudah kembali ramping setelah melahirkan.


"Ishhh..kamu apa sih! Pikirannya itu terus!" keluh Nadine yang dengan gerakan cepatnya merenggangkan pelukan Adrian pada pinggulnya.


Nadine lalu bergegas menuju meja rias hendak memoleskan make-up lagi pada wajahnya. Beruntung ia selalu membawa pouch make up kemanapun.


Sedangkan Adrian, pria itu justru memilih untuk menurunkan baby bedrail. Kemudian kembali membaringkan tubuhnya di kasur untuk menemani kedua putranya yang masih betah tertidur.


"Astaga Tuhan..sayang aku lupa!!" tiba-tiba Nadine baru teringat akan satu hal.


"Lupa kenapa sih? Suara kamu jangan keras-keras nanti twins bangun!" tegur Adrian.


"Oh iya maaf.." kata Nadine berbisik sambil menutup mulutnya. "Itu..tas aku ketinggalan di mobil.."


"Tidak ketinggalan, itu kan ada di pojokan!" Adrian menunjuk pada tas jinjing warna merah yang terletak dekat lemari. Padahal bukan itu yang dimaksud Nadine.

__ADS_1


"No, bukan itu sayang..maksud aku travel bag! Yang tadi sengaja aku bawa dari rumah. Didalam tas itu ada baju ganti aku, kamu, sama baju-bajunya twins dan perlengkapan lainnya."


Adrian baru ingat, "Oh yang itu..iya ada tapi masih di bagasi. Aku lupa menurunkannya dari mobil. Tadi sibuk mengeluarkan Kian dan Kai dari car seat."


"Ya sudah, sini mana kunci mobilnya..biar aku yang ambil kedepan."


"Tidak, untuk apa diambil? Sebaiknya kita segera kembali setelah ini. Aku tidak mau berada disini terlalu lama. Tidak penting." Adrian buru-buru beringsut dari ranjang dan kembali mengenakan kaosnya.


Sebelum Nadine menyanggah pernyataan suaminya, tiba-tiba ponsel Adrian diatas nakas bergetar. Dari situ terlihat ada sebuah panggilan masuk dari adiknya, Arga.


Drtt...drtt...


📱


"Halo Kak..Kak Ian dimana? Apa masih di kamar ya?"


"Iya, masih di kamar. Sibuk mengurus twins yang sempat rewel," Adrian beralasan. Tak mungkin ia blak-blakan mengaku pada sang adik bahwa dia dan Nadine baru melakukan olahraga kasur. "Memangnya ada apa Arga?


"Kakak segeralah ke patio taman belakang. Ini sudah ditunggu sama Opa dan anggota keluarga lainnya.."


"Loh..kamu sudah datang rupanya?"


"Bilang pada Opa dan yang lainnya untuk tak menunggu kehadiran Kakak. Setelah ini Kakak mau pulang. Kian dan Kai tak betah berlama-lama di rumah Opa."


"Kak Ian bagaimana sih? Kenapa malah mau pulang? Aneh sekali..sudah sampai disini ya tanggung sekali! Ayo kak kemari, sebelum aku kena amuk Papa dan Opa. Sudah bye! Aku tutup dulu.." Arga mengucapkannya seolah tak menerima penolakan.


Panggilan telepon terputus begitu saja karena dari sana, Arga sudah lebih dulu mematikannya secara sepihak.


Adrian berdecak kesal dan mengusap wajahnya kasar.


"Apa enggak sebaiknya kamu temui mereka dulu. Setidaknya ajaklah mereka berbicara baik-baik sebentar saja. Mungkin ada sesuatu penting yang perlu dibahas.." saran Nadine yang tidak sengaja ikut menguping pembicaraan Adrian dengan Arga.


"Sumpah demi Tuhan Nad, aku malas sekali bertemu dengan orang-orang bermuka dua seperti adik-adiknya Papa!" keluh Adrian.


"Ingat misi kamu Adrian. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin membuat Arga dan Arjuna memegang kendali penuh Natadipura Group dan secara resmi men-takeover perusahaan tersebut."

__ADS_1


"Kalau kamu masih berambisi untuk itu, maka kamu harus ikut hadir dalam forum keluarga. Kawal semuanya hingga tuntas. Kamu yang lebih tahu bagaimana liciknya adik-adiknya Papa. Untuk itu, kamu harus menguatkan adik-adik kamu dengan hadir disana." celoteh Nadine panjang lebar.


Meskipun Adrian sedang dalam mode malas dan juga denial, tapi yang dikatakan oleh istrinya itu ada benarnya juga. Tante Mawar dan Om Farhan berpotensi untuk membuat mental Arga dan Arjuna down, baik dalam urusan bisnis ataupun harta warisan.


"Fine, aku akan kesana. Tapi ingat ya..jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai kamu keluar tanpa mengabariku. Ingat pesanku untuk tidak memakan suguhan apapun yang tersedia di rumah ini."


"Iya sayang." Nadine mengalungkan kedua lengannya pada leher Adrian. "Kalau nanti lapar, aku bisa makan roti dan beberapa snack yang tadi kita beli sebelum berangkat. Jangan khawatir.."


"Aku akan suruh Samir mengantar travel bag yang ada di mobil ke kamar ini."


Nadine mengernyitkan dahinya, "Jino dan Samir ada disini juga?" tanyanya heran.


"Tentu saja mereka ikut! Apa yang membuat kamu berpikir kalau aku tidak akan membawa bodyguards saat kita bepergian?"


"Habisnya aku enggak lihat mobil mereka membuntuti kita dari belakang."


"Namanya juga bodyguards bayangan. Memang sudah tugas mereka untuk melindungi kita dari jauh. Kamu hubungi saja Jino dan Samir kalau butuh apa-apa selama aku sibuk berbincang-bincang dengan Opa nantinya..." jelas Adrian.


Nadine mengangguk paham.


"Nanti kalau ada yang ketuk pintu jangan langsung dibuka Nad, pastikan dulu siapa orangnya lewat lubang pintu!" pesan Adrian lagi. Tak henti-hentinya Adrian mengingatkan Nadine untuk bersikap waspada dan jangan lengah.


Keluar dari kamar ini, Adrian akan langsung memerintahkan Jino dan Samir berjaga-jaga diluar kamar Nadine. Biar saja ia dikatakan berlebihan. Adrian hanya antisipasi. Jangan sampai anak-anak dan istrinya celaka. Karena sejatinya, rumah Opa Willy bukanlah tempat yang aman bagi keluarga kecilnya.


"Hmm...iya sayang aku mengerti! Kenapa harus diulang terus sih, jadi bosan dengarnya!" gerutu Nadine.


Karena gemas melihat Nadine yang memanyunkan bibirnya, Adrian jadi tidak tahan untuk tak mengecup bibir mungil itu.


Ralat, bukan kecupan lagi. Adrian malah memagutt dan melumatt bibir Nadine dengan ganasnya.


Cupp...cupp..cupp


Pada akhirnya Nadine ikut luluh dan tak segan membalas ciumann tersebut. Tubuhnya selalu meremang dan tak kuasa menahan gejolak asmara ketika keduanya salinh menautkan lidah satu sama lain.


"Hmmpph..Adrian stop! Sudah nanti kebablasan lagi.." Nadine mendorong tubuh kekar suaminya untuk memberi jarak.

__ADS_1


"I haven't had enough of you...kita lanjutkan nanti malam.." bisik Adrian lirih tepat di telinga Nadine.


***


__ADS_2