Favorite Sin

Favorite Sin
TAKEOVER THE COMPANY


__ADS_3

AUTHOR POV


"Selamat pagi Kak Nadine!!" terdengar pekikkan Arga dan Arjuna dari kejauhan.


Volume suara mereka cukup kencang sehingga Nadine yang sedang asyik membaca buku di ruang tengah sedikit terkesiap dibuatnya.


"Pagi juga...kalian ini bikin kaget aja tahu enggak!" Nadine segera mencuci tangan kemudian menyambut dua adik iparnya itu dengan memberi pelukan masing-masing.


"Maaf Kak, itu tadi idenya Arga...katanya dia mau sengaja kagetin!" Arjuna mengadu dan mendudukkan diri disebelah Nadine.


Nadine menyelidik pandangannya menatap netra Arga yang penuh akan intrik kejahilan itu. "Hmm..kebiasaan deh!"


Arga langsung merangkul bahu Nadine dan mengelus perut buncit kakak iparnya itu. "Sorry Kak, tapi keponakan-keponakan aku di perut enggak apa-apa kan? Pasti mereka senang nih didatangi oleh uncle yang ganteng!"


"Ganteng sih iya, tapi semoga saja anak-anak Kak Nadine nanti kelakuannya tidak persis dengan Arga yang suka cari perhatian dan iseng!" celetuk Arjuna.


"Dihh...jahil-jahil begini aku itu bikin kangen tahu enggak!" sahut Arga tidak terima. "Pasti setelah mereka lahir, aku bakalan jadi Uncle ter-the best...betul kan Kak?"


Nadine hanya tertawa menggeleng melihat perdebatan antara kedua adik iparnya itu.


"Jenis kelaminnya mereka apa Kak? Udah dicek belum? Mulai dari sekarang aku harus prepare, aku mau beli perlengkapan bayi sekaligus mainan untuk mereka!" ujar Arga semangat.


"Belum kelihatan Jun, waktu USG terakhir masih ngumpet-ngumpet nih baby-nya! Lagipula kakakmu Adrian juga menolak untuk mengetahui gender mereka lebih awal. Katanya tunggu saja nanti pas lahiran, biar bisa surprise.." jelas Nadine.


Adrian dan Nadine sepakat untuk merahasiakan gender bayi kembar mereka. Tadinya Nadine sempat penasaran dan ingin melakukan tes lebih lanjut untuk mengetahuinya, tapi Adrian tidak mau. Katanya, biar nanti saja.


"Sok misterius deh Kak Ian! Padahal kalau tahu gender baby-nya, pasti lebih bagus. Bisa siapkan nama dan lain-lain..tapi ya sudah sih balik lagi, suka-suka Kak Ian!"


"Bisa aja kamu!" Nadine menepuk pelan lengan Arga seraya tertawa kecil. "By the way, ini kalian ada apa kesini? Mau ketemu sama Adrian yah?" tanya Nadine.


"Betul Kak, kemarin Kak Ian telepon aku. Dia bilang, aku sama Arga diminta untuk datang ke mansion..so here we are right now!" Arjuna menyahuti.


Di hari Sabtu yang cerah ini, Adrian sengaja meminta Arga dan Arjuna untuk datang ke kediamannya. Ada suatu hal yang perlu mereka bahas bersama.


Tak lama setelahnya, Adrian akhirnya turun juga dari lantai atas dan ikut bergabung bersama istri dan kedua adiknya yang tengah asyik berbincang-bincang.


"Sudah lama kalian datangnya?" tanya Adrian dengan wajah datarnya seperti biasa.

__ADS_1


"Barusan aja kok Kak, sekitar 15 menit yang lalu," balas Arjuna.


Adrian kemudian merangkul adik-adiknya sebagai salam untuk menyambut kehadiran mereka. Tak lupa, Adrian memerintahkan pelayan untuk membuatkan minum dan membawakan camilan untuk mereka berempat.


Tanpa ingin berbasa-basi, Adrian langsung membicarakan poin penting akan maksud dan tujuannya mengundang Arga serta Arjuna datang ke rumah.


"Langsung saja Arjuna..Arga..ada yang ingin kakak sampaikan pada kalian. Ini sifatnya penting sekali, hal ini berkaitan dengan Natadipura Group." wajah Adrian berubah serius.


"Hmm..apa sebaiknya tidak kalian bicarakan saja di ruang kerja? Atau aku pergi saja, supaya kalian bisa leluasa untuk berbicara?!" ucap Nadine.


Dia tidak ingin ikut campur atas peliknya konflik keluarga besar Natadipura, karena ia merasa itu bukan ranahnya ikut berbicara.


"Tidak perlu Nadine, tetap disini saja. Kamu istri aku, kamu juga berhak tahu akan hal ini!" tegas Adrian.


Nadine mengangguk paham dan menuruti perintah suaminya itu.


"Kembali pada topik sebelumnya. Kakak mau menginfokan kalau Opa meminta Valerie untuk sementara tinggal di mansion ini." tukas Adrian.


"Hah..Valerie? Si kriminal itu? Yang benar saja Kak!" Arga sontak kaget dan kebingungan sambil menampakkan raut wajah tidak suka, begitupun juga dengan Arjuna yang memberikan reaksi sama.


"Benar, Opa kemarin telepon Kakak bahas itu. Dan yang lebih anehnya lagi, Opa tiba-tiba mau mempertimbangkan Natadipura Group untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan keluarga Malik-Santoso," lanjut Adrian.


"Tunggu dulu..Opa ini..Opa siapa?" Nadine tak mengerti siapa Opa yang dimaksud dalam perbincangan mereka.


Adrian menjelaskan, "Opa itu ayah kandungnya nya Papa Alan. Aku belum sempat mengenalkannya padamu karena selama ini beliau tinggal di Belanda. Kemarin, beliau menelpon..minta aku menampung Valerie untuk tinggal di mansion sementara. Mengingat Valerie tidak punya rumah dan pekerjaan saat ini. Apalagi dia ada tanggungan anak bayi."


"Terus jawaban Kak Ian apa?" selidik Arjuna ingin tahu.


"Tentu saja menolaknya. Kakak tidak segila itu mau mengiyakan perintah Opa. Kalian semua tahu aku membenci Valerie. Mana mungkin aku izinkan dia menginjakkan kaki di mansion ini! Dan soal kerjasama dengan perusahaan Malik-Santoso, mereka itu musuh bisnis sejak dulu. Jelas Kakak tidak menghendakinya," tegas Adrian.


"Padahal Valerie itu punya riwayat kriminal. Belum lagi Sean, ayahnya sekarang ada dibalik jeruji besi setelah menyekap kakaknya Kak Nadine dan terlibat atas kasus pembunuhan berencana ayahnya Kak Nadine..." Arjuna menjeda ucapannya sembari berpikir keras.


"Apa yang ada didalam pikiran Opa saat ini? Kenapa Opa bisa berhubungan dengan dua orang itu? Aneh..jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Valerie dan Sean yang kemarin membuntuti aku dan Kak Nadine saat kami berbelanja!" lanjut Arjuna dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Mereka tentu punya maksud terselubung. Hebatnya lagi, mereka bisa mempengaruhi Opa dengan mudahnya. Ada sesuatu yang besar sedang direncanakan oleh mereka." timpal Arga.


"Kakak berani bertaruh, jika adik-adiknya Papa yang lain ikut terlibat. Tante Mawar dan Om Farhan pasti ikut mengompori Opa supaya aku berbelas kasihan atas kondisi Valerie saat ini. Mereka pasti yang suruh Opa untuk terima tawaran kerjasama dari Sean," ucap Adrian penuh keyakinan.

__ADS_1


Adik-adik dari Papa Alan sedari dulu selalu terlibat cekcok dan perseteruan dengan Adrian. Persaingan dalam keluarga besar itu nyata adanya, bahkan sepupu-sepupu Adrian juga ikut andil. Mereka tidak memiliki visi dan misi yang sama sehingga sering bersinggungan ketika ada acara keluarga dihelat.


"Kalau begitu, sekarang Kak Ian harus lebih ekstra lagi dalam menjaga Kak Nadine. Pasti akan ada banyak bahaya diluar sana yang mengancam ketentraman keluarga kalian." Arga memberi saran.


"Tanpa kamu suruh, Kakak pasti akan lakukan yang terbaik untuk melindungi Nadine. Kakak yakin jika ini semua hanyalah akal-akalan Opa supaya aku menerima tawarannya untuk men-takeover perusahaan Natadipura Group."


Menurut prediksi Adrian, andai kata ia mengiyakan permintaan Opa-nya itu, beliau pasti akan menarik kembali ide-ide gilanya. Trik murahan dari Opa bagaikan ultimatum ancaman atau gertakan agar Adrian menuruti kemauannya.


"Opa sepertinya masih berharap agar Kakak bisa takeover perusahaan Natadipura Group. Sebagai cucu laki-laki pertama keluarga ini, Kakak memang pantas memegang kendali aset perusahaan itu. Kenapa tidak diterima saja?" pertanyaan ini selalu terngiang di kepala Arga.


Entah kenapa Kakaknya itu selalu menolak keras untuk mengambil alih kepemimpinan Natadipura Group.


"Kakak tidak mau, karena kakak ingin kalian berdua lah yang takeover!" ucap Adrian dengan entengnya.


"Kita kak? Apa tidak salah?" pekik Arga lantang.


"Salahnya dimana? Kalian kan keturunan keluarga Natadipura, jadi kalian juga berhak atas aset itu, secara garis darah juga kalian anak dari putra sulung Opa. Tidak ada yang salah!"


"Tapi kak--"


Adrian menyela, "Tidak ada tapi-tapian. Tugas kalian sekarang adalah mengambil alih 55% aset Natadipura Group."


Ada beberapa faktor yang membuat Adrian enggan untuk men-takeover Natadipura Group. Salah satunya adalah keuangan perusahaan yang sudah tidak sehat. Jauh sebelum Papa Alan memimpin dan semakin memburuk ketika Papa Alan hendak resign belakangan ini.


Bukan Papa Alan tidak becus, tapi karena adik-adiknya lah yang melakukan tindak korupsi dan bobrok dalam bekerja. Saat Papa Alan menikah dengan Imelda dulu saja, perusahaan itu sempat bangkrut karena ketidakmampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka panjang dan pendeknya.


Adik-adik dari Papa Alan sama sekali tidak bisa diandalkan sehingga mereka kebablasan. Endingnya, Papa Alan bersusah payah untuk mengcover segala problematika yang ada. Belum lagi, Adrian malas berurusan dengan adik-adik Papa Alan yang tidak tahu diuntung. Papa Alan juga terlalu lunak dan lebih banyak mengalah, dengan alasan tidak mau cari ribut.


Arjuna meragu, "55% itu besar lho Kak, apalagi harus dibagi-bagi sama adiknya Papa. Kemampuanku dan Arga masih minim kalau urusan bisnis, aku tidak yakin bisa berhasil! Jangankan 55%, aku yang punya saham 5% disana saja sudah mati-matian untuk mempertahankannya."


"Stop being a pessimist! Kamu dan Arga itu sudah mampu untuk mimpin perusahaan. Kalian saja yang kurang showoff, jadi Opa cuma tahu dua atau tiga orang cucunya yang berkecimpung di dunia bisnis. Jangan pikir kakak tidak selidiki bisnis yang kalian geluti secara diam-diam, kakak sudah liat progressnya. Kakak percaya kalian!"


Arjuna dan Arga saling memandang satu sama lain. Mereka masih tetap ragu meski mendapatkan dukungan penuh dari Adrian.


"Sekalipun kita compatible untuk takeover perusahaan, tetap saja Kak Ian yang lebih handal. Waktu kakak seumuran kita, kakak sudah achieved semuanya. Sedangkan kita masih stuck dan belum lulus kuliah. Kalau mau takeover perusahaan sebesar Natadipura Group, pasti banyak resikonya. Belum lagi berhadapan sama Om Farhan, Tante Mawar, dan anak- anaknya! Mana sanggup!" Arga mengutarakan keresahannya.


"Semua ada prosesnya, kakak dulu juga tidak instan. Selama ada tekad dan ambisi yang kuat, pasti bisa. Kakak juga akan bantu! Kakak akan menggembleng kalian untuk menguasai bagaimana seluk beluk dunia bisnis. Pegang janji kakak, hanya dalam kurun waktu 1 bulan, 55% aset Natadipura Group akan jatuh ke tangan kalian," tegas Adrian dengan pasti.

__ADS_1


Arjuna dan Arga tak lagi bisa menghindar. Mereka berdua mencoba untuk mempertimbangkan saran Adrian dan mengikuti alur rencana kakaknya. Mereka yakin, Adrian lebih paham soal ini.


***


__ADS_2