Favorite Sin

Favorite Sin
BETRAYAL (Part 1)


__ADS_3

AUTHOR POV


Nadine berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan makam sang ayah. Tak lupa ia meletakkan buket Bunga Lily Putih diatasnya. Sedangkan Adrian memilih untuk berdiri agak menjauh di belakang Nadine.


Hal itu sengaja dilakukan karena dia ingin memberikan privasi bagi Nadine. Lagipula dia juga tidak memiliki urusan atau hubungan dekat dengan Harun.


"Selamat sore Ayah, ini Nadine datang lagi untuk menjenguk Ayah. Sebenarnya baru tadi pagi Nadine ada disini, tapi rasanya aku udah kangen lagi sama Ayah...sepi sekali kalau Ayah tidak ada disamping Nadine."


"....tapi Ayah enggak perlu khawatir, Nadine gak akan sedih lagi kok..Nadine akan terus tersenyum, supaya Ayah tidak berat untuk meninggalkan Nadine di dunia ini. Ayah yang tenang yah disana...dan sesuai janji, Nadine akan terus berusaha untuk mencari keberadaan Kak Nathan. Kalau sudah ketemu, aku akan bawa Kak Nathan menemui Ayah..."


"Diatas sana, Ayah juga harus ikut bantu Nadine ya...bantu Nadine untuk memecahkan semua permasalahan dan kejanggalan yang terjadi. Tolong beri Nadine kekuatan..."


Ingin hati Nadine untuk berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Melepaskan semua air mata dan beban yang dipikulnya. Namun niat itu diurungkan karena Ayahnya diatas sana pasti tidak akan suka melihatnya bersedih seperti ini.


Nadine harus tetap semangat untuk menghadapi kenyataan dan mencari keadilan untuk Ayah dan Kakaknya. Jangan sampai perjuangan Ayahnya menjadi sia-sia.


"Udah dulu ya Ayah..hari udah mulai gelap, aku harus pulang sekarang. Besok pagi, aku akan kesini lagi...I love you Ayah.." Nadine mencium dan mengusap lembut batu nisan salib Ayahnya.


Ketika Nadine sudah selesai mencurahkan isi hatinya di pusara sang Ayah, dia segera beranjak dari tempat itu dan menghampiri Adrian yang sedang menunggunya dari kejauhan.


"Sudah?" tanya Adrian singkat.


"Iya, sudah..."


"Langsung ke kantor polisi berarti?"


"Ehhmm..sebaiknya kita ke rumah teman saya aja untuk ambil mobil. Rumahnya ada di daerah sini kok, enggak jauh. Nanti biar saya yang ke kantor polisinya sendiri, kamu bisa langsung pulang setelah nge-drop saya."


"Oke."


Adrian menyetujui ide Nadine tersebut, karena sebenarnya dia sendiri juga masih punya banyak urusan. Mengantar Nadine ke pemakaman dan kantor polisi saja sudah termasuk membuang-buang waktunya.


Tapi apa boleh buat, Adrian sudah memutuskan untuk mengajak perempuan itu ikut dengannya. Otomatis kemanapun dia pergi, Adrian harus mengantarnya.


Seperti sore ini, Adrian harus mengikuti rapat online dengan bagian marketing dan bagian keuangan perusahaannya. Seharusnya rapat tersebut dijadwalkan untuk start pagi tadi, tapi karena Adrian sibuk dengan urusan Nadine dan lain sebagainya, rapat pun tertunda.


Belum lagi dia harus mengutak-atik kembali soal teka-teki brankas milik Harun, yang sampai sekarang masih belum ada titik terang. Padahal target yang ditetapkan Adrian untuk menyelesaikan masalah flashdisk itu hanyalah 1-2 hari. Tapi ternyata, hal itu membutuhkan waktu yang lebih dari perkiraan. Padahal lusa dia harus segera kembali ke Bali. Tidak mungkin baginya untuk meninggalkan perusahaannya disana terlalu lama.


Mereka berdua pun langsung kembali masuk ke mobil untuk menuju rumah Kelvin. Jarak antara pemakaman Harun dan rumah Kelvin memang tidak jauh. Nadine tinggal mengarahkan saja pada Adrian kemana jalan rumahnya.


"Berhenti di rumah yang itu.." Nadine menunjuk rumah yang cat-nya berwarna biru. Adrian mengangguk tanpa ekspresi, seperti biasa.

__ADS_1


Mobil pun berhenti dan Nadine segera melepaskan seat belt yang melingkar di tubuhnya.


"Ini rumahnya?"


"Iya...yang ini, itu dari sini udah kelihatan mobil saya. Makasih ya udah mau antar saya, kamu bisa langsung pulang habis gini."


"Sama-sama."


"Oh ya, saya boleh minta nomor telepon kamu? Untuk jaga-jaga, supaya kita lebih mudah berkomunikasi. Sekalian juga minta alamat rumah kamu yang tadi, karena saya enggak begitu hapal jalan kesananya."


Adrian mengambil bolpoin dan kertas yang tersedia di dalam dashboard mobil. Dia segera menuliskan nomor telepon miliknya beserta alamat lengkap rumah yang menjadi tempat persinggahan mereka bertiga tadi.


"Ini.. " Adrian menyerahkan selembar kertas kecil yang berisi tulisannya.


"Sekali lagi, terima kasih ya." Nadine tersenyum tipis.


Kemudian mobil Adrian melesat pergi dari kediaman Kelvin. Sesuai kesepakatan, Nadine hanya akan di drop saja oleh Adrian.


Berdiri di depan pagar, Nadine lalu menekan tombol bel rumah Kelvin. Sudah berkali-kali bel ditekan, namun pemilik rumah tak kunjung keluar rupanya.


"Apa mungkin Kelvin masih keluar sama Cindy ya?" gumam Nadine.


Tapi sebelumnya Nadine sudah janjian dengan Kelvin via chat dan bilang kalau mobilnya akan diambil sore hari.


Saat masih mencoba untuk menelpon Kelvin, mata Nadine menatap gembok pagar rumah yang terbuka. "Ceroboh sekali Kelvin...masa ini pagar enggak dikunci! Kayaknya Om Rahman dan Tante Arin lagi gak dirumah..."


Meski lancang, Nadine memilih untuk masuk saja ke dalam rumah itu karena biasanya juga tidak apa-apa. Mengingat hubungan Nadine dan keluarga Kevin sudah sangat-sangat dekat.


Memasuki rumah tersebut, tak sengaja Nadine mendengar sebuah percakapan antara dua orang. Dengan pintu depan yang sedikit terbuka dan volume suara yang besar membuat suara kedua orang itu bisa terdengar.


"Rencana kita sudah berhasil...Harun sudah mati sekarang, selanjutnya kita habisi Nathan. Kalau sudah, maka beralih ke adik perempuannya itu..Nadine..."


Deghh...


Mendengar hal itu, jantung Nadine rasanya seperti dihantam ribuan karang. Tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Sukma dalam dirinya sudah akan terlepas melayang.


Terkonfirmasi sudah jika kematian Ayahnya memang benar-benar termasuk dalam pembunuhan berencana. Dan selanjutnya nyawa dirinya dan Kakaknya Nathan yang entah dimana keberadaannya..akan terancam pula.


"Bagaimana kamu setuju untuk ikut serta lagi kali ini?"


^^^"Pastinya!! Kita kan sudah melangkah sejauh ini. Mana mungkin aku melewatkannya.."^^^

__ADS_1


"Jadi kamu sudah tidak perduli lagi dengan perempuan itu? Padahal kan kalian bersahabat!! Ha..ha..ha.."


^^^"Jangan mengejekku, aku juga terpaksa berteman dengannya! Dengan begitu aku bisa mendapatkan kepercayaan darinya, lalu aku manfaatkan itu untuk menghabisi dia dan keluarganya. Sesuai perintah dari bos besar."^^^


"Aku suka pemikiran jahatmu..bos tidak salah merekrutmu dalam misi ini.."


Nadine menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bulir air mata membasahi pipinya. Suara yang didengarnya itu, jelas sekali bahwa itu suara milik Kelvin..


Ya..Kelvin...


Mengejutkan bukan? Orang yang selama ini Nadine percayai sebagai orang yang tulus berteman dengannya. Orang yang mengklaim untuk akan selalu ada dan bisa diandalkan oleh Nadine, nyatanya berkhianat.


Karena sudah tidak tahan lagi mendengar percakapan busuk itu. Nadine akhirnya menghampiri kedua orang tersebut dan berniat melabrak mereka.


"Kelvin...." ucap Nadine dengan nada tegas.


"Nadine..k-k-kamu kok ada disini?" seketika Kelvin menjadi panik melihat Nadine yang tiba-tiba muncul di depannya.


"Kenapa? Kaget kamu...!! Aku udah dengar semuanya barusan..aku gak nyangka, kamu berbuat seperti itu!!"


Wajah panik Kelvin berubah menjadi wajah yang menyeringai. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang mengejek. "Jadi kamu udah dengar semuanya? Bagus deh, aku jadi enggak perlu menjelaskan lagi..."


PLAKKKK!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Kelvin. "Keterlaluan kamu Kelvin...kamu jahat!! Kenapa kamu lakukan ini semua? Apa salahku dan Ayahku...sampai kamu tega untuk ikut serta merencanakan pembunuhan Ayahku!!! Bahkan aku mendengar kamu juga akan menghabisi nyawaku dan Kak Nathan" teriak Nadine.


"Jawabannya simple..karena uang! Aku butuh uang dalam jumlah yang besar, dan seseorang menawarkan pekerjaan yang menarik untukku..tidak mungkin aku tolak!!!"


"Aku sudah merencanakan semua ini dengan matang Nadine...apa kamu tidak curiga saat aku dan keluargaku mengajakmu liburan? Sebenarnya itu hanyalah pengalihan isu. Tanpa kamu tahu, saat kita pergi liburan..Ayah dan Kakakmu itu sudah kena terror..."


"...dan apakah sebuah kebetulan, kalau saat peristiwa penembakan Om Harun..aku sudah berada di depan rumahmu, berakting seolah-olah aku menjadi penyelamat yang membawanya ke rumah sakit. Padahal, tidak begitu...itu sudah ada di skenario. Bahkan hari ini, aku tidak menemui Cindy..tapi menemui bosku untuk menyusun rencana berikutnya."


Kelvin menjelaskan semuanya panjang lebar, semakin menambah rasa sakit hati dalam diri Nadine.


"Tega kamu Kelvin.."lirih Nadine.


Matanya mulai basah karena air mata. "Ap--apa, orang tua kamu tentang hal ini?" bibir Nadine bergetar.


"Hahhh! Mereka tidak ada kaitannya dengan ini...semua murni dari aku! Ha..ha..ha.." tawa Kelvin menggelegar hingga menyelimuti seisi ruang tamu.


Kelvin mulai berjalan kearah Nadine dengan tatapan yang tidak bisa digambarkan. Orang yang tadi berbincang-bincang bersama Kelvin pun melakukan hal yang sama, bahkan dengan gamblang wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya pada Nadine.

__ADS_1


Kedua pria itu bergerak maju dan semakin mendekat, seolah-olah ingin menyergap Nadine saja. Membuat Nadine menjadi ketakutan setengah mati melihat mereka berdua. Entah apa yang akan dilakukan kedua pria itu padanya...


__ADS_2