
...ADRIAN...
"Harta warisan Pak Harun tersebut bisa dicairkan, jika sang ahli waris sudah MENIKAH."
Kata-kata Ajik Adit itu terngiang-ngiang di kepalaku sekarang. Menikah?! Aneh-aneh saja persyaratannya. Apa tidak ada hal lain yang sekiranya mudah?
"Mohon maaf jika saya lancang bertanya Pak, tapi saya ingin tahu..untuk rencana selanjutnya bagaimana ya Pak?" tanya Roni.
"Ini saya juga lagi mikir, Ron!!!"
"Saya punya saran, Pak...bagaimana kalau kita buat Nona Nadine menikah?"
"Katakanlah saya setuju dengan kamu, terus dia nikahnya sama siapa? Mana calonnya? Enggak segampang itu Ron!! Ngurus berkas pernikahan sih gampang, tapi kesiapannya? Walaupun Nadine ada pasangan sekalipun, belum tentu dia mau nikah cepat.."
"Tidak ada salahnya Pak untuk mencoba mengajak Nona Nadine untuk diskusi atau negosiasi. Coba ditanyakan dulu dengan yang bersangkutan, apakah orangnya bersedia untuk menikah. Kalau Nona ada pasangan akan lebih mudah, kalau tidak ada bisa dicarikan. Atau mungkin nikah sama bapak--"
Belum sempat Roni selesai bicara, aku langsung menyela ucapannya. "Heh!! Ngomong apa barusan?!! Cari ribut kamu sama saya?!"
"Ti-tidak Pak...s-saya cuman memberi masukan saja."
"Masukan sih iya, tapi ngapain nyuruh saya nikah sama Nadine?! Gila kamu!!!"
"Maaf Pak..saya tidak bermaksud."
"Kamu diam saja, mendengar kamu bicara malah membuat saya pusing. Nanti akan saya pikirkan lagi, sekali lagi kamu ngomong kayak tadi..nih tangan saya sendiri yang akan melayang ke wajah kamu!!!" aku mengangkat tangan kananku keatas menakut-nakuti Roni.
"B-b-baikk..Pak."
Mood-ku hancur berantakan hari ini. Sudah datang jauh-jauh tapi tidak mendapat apa-apa. Ini hanya membuang-buang waktu. Lalu ada Roni yang memancing amarahku dan membuatku kesal. Punya keberanian dari mana dia, menyarankan aku untuk menikahi perempuan itu begitu saja. Sudah tahu kalau aku ini punya prinsip tidak akan menikah seumur hidup, masih saja dibahas-bahas.
Jangankan menikah, mengajak Nadine untuk ikut tinggal bersama saja aslinya aku sangat terpaksa. Lalu, bagaimana bisa dia aku nikahi?
"Saya sedang tidak mood hari ini, jadi untuk rencana makan malam saya dengan klien dari Jerman nanti..kamu dan Siska saja yang datang untuk mewakili saya. Bilang ke mereka, saya berhalangan hadir karena sakit.."
"Mengerti, Pak."
***
Aku sudah kembali berada di kantorku sekarang. Setelah melewati perjalanan panjang yang tak menghasilkan apa-apa, aku memutuskan untuk membersihkan diriku dulu dibawah guyuran shower kamar mandi di ruanganku, sebelum pulang ke rumah. Yang mana rumah dimana tempat Nadine tinggal, bukan mansion-ku.
__ADS_1
Sebenarnya, aku lebih ingin pulang ke mansion..tapi aku lebih perlu bertemu dengan Nadine untuk membahas pertemuanku dengan Ajik Adit. Aku harus sampaikan pada Nadine perihal surat wasiat Ayahnya itu. Jika saja aku bisa memaksa Nadine untuk segera menikah, maka semuanya akan beres. Semoga saja perempuan itu tidak menyulitkan aku saat diajak negosiasi.
Selesai mandi, aku memilih-milih pakaian yang tersedia di lemari untuk aku kenakan. Kali ini aku harus memakai baju dengan style yang terlihat biasa. Tidak mungkin juga aku berpakaian mencolok, Nadine bisa curiga nanti kalau aku bukan orang biasa
Pilihanku jatuh pada turtleneck sweatshirt berwarna hitam. Karena di lemariku hanya ada ini ternyata...jadi aku pakai saja. Saat dilihat dari kaca, sebenarnya tampilan-ku tidak mencerminkan kesederhanaan.
Selama ini aku memang hanya punya stock yang sedikit untuk pakaian casual biasa. Besok saja lah aku akan membeli beberapa pakaian yang sekiranya terlihat normal di mata Nadine.
***
Ketika aku datang, rumah terlihat sepi. Wajar saja karena memang yang tinggal didalamnya hanya Nadine. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. Semoga saja dia tidak tidur. Secara logika, jam segini memang masih terlalu dini untuk tidur malam. Tapi karena aku tidak tahu menahu mengenai kebiasaan perempuan itu, bisa saja dia terlelap.
Ku-langkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Waktu pintu telah terbuka, kedatanganku langsung disambut oleh aroma masakan yang begitu harum. Membuatku jadi lapar. Apalagi aku belum makan sejak pulang dari supermarket bersama Nadine.
Karena rumah ini tidaklah besar, aku bisa melihat dari tempatku berdiri jika Nadine sedang berada di dapur. Aroma masakan itu pasti ulahnya. Sepertinya dia juga belum sadar akan kedatanganku. Nadine terlalu asyik berkutat dengan masakannya itu.
"Hey..."
"Adrian?? Kamu pulang...aku pikir kamu masih diluar karena ada urusan?"
Aku? Sekarang Nadine sudah mulai berani menghilangkan kata-kata formalnya. Terakhir kali bertemu, dia masih menggunakan kata saya saat berbicara denganku.
"Bagus kalau gitu, kamu jadi bisa beristirahat kan?" Nadine memancarkan senyuman tipisnya sambil mengamatiku dari atas sampai bawah.
Mungkin karena saat meninggalkan rumah, pakaianku tidak seperti ini. Aku yang sadar diperhatikan olehnya pun, membuka suara. "Saya tadi ada acara sebentar, menemani atasan saya."
"Kamu sudah makan malam belum?"
"Belum." Dan perutku terasa keroncongan sekali, batinku dalam hati.
"Kita makan sama-sama yuk! Untungnya aku masak dengan porsi besar, jadi bisa buat berdua."
Aku berjalan mendekat pada Nadine. "Masak apa kamu?"
"Ini ada roasted chicken, meatballs with tomato sauce, sama mashed potatoes..."
"Banyak banget masaknya?!!"
__ADS_1
"Emang sengaja banyak, karena aku bikin sekalian buat kamu. Kali aja malam-malam kamu pulang terus lapar. Kalaupun enggak pulang, ya bisa buat besok sarapan...tinggal dihangatkan. Dan ternyata bener kan, kamu pulang..belum makan lagi. Jadi pas deh..!!"
Nadine mulai menyiapkan semua kebutuhan makan malam kami. Dari merapikan meja dan alat makan sampai menghidangkan semua masakannya diatas meja. Aku hanya terima beres dan duduk manis melihatnya bekerja. Dia bahkan sampai mengisi piring makananku tanpa harus kuminta.
"Kok diem aja? Dimakan dong!"
"Iya" jawabku singkat.
Satu suapan sendok mashed potatoes beserta meatballs masuk ke mulutku. Hmmm..rasanya tidak buruk. Perempuan ini pintar memasak juga rupanya. Makanan yang dia buat terasa enak.
Apa karena aku sedang lapar ya, jadi semua makanan terasa enak di lidahku? Entahlah, tapi yang jelas..aku tidak rugi mengajaknya berbelanja di supermarket. Hasil masakannya worth it.
"Enak nggak rasanya? Ada yang kurang?"
"Ini cukup. Rasanya lumayan."
"Syukur deh kalau kamu suka. Aku sengaja memasak menu-menu ini, karena semua makanan yang diatas meja ini adalah favoritnya Ayah dan Kakakku. Hampir setiap weekend, mereka selalu minta dimasakin ini." Nadine tersenyum getir.
Aku bisa melihat jelas gurat kesedihan masih menempel di wajahnya. Terhitung baru beberapa hari kehilangan Ayah dan Kakaknya, Nadine seperti orang yang kelimpungan. Dia begitu mencintai Ayah dan Kakaknya.
Matanya sembab-sembab sayu karena terlalu banyak menangis dan begadang semalaman. Kulihat bobot tubuhnya semakin susut. Meski terkadang dia masih bisa tersenyum, dibalik itu sebenarnya dia tengah menyembunyikan goresan luka dalam.
Sangat bertolak belakang denganku. Saat ibu kandungku meninggal tepat di hadapan mataku, aku malah bersikap biasa saja. Tidak ada kesedihan, tidak ada air mata. Yang ada hanyalah rasa kemenangan sebab dia akan pergi meninggalkanku selamanya. Memang itu yang aku harapkan.
Kejam? Tidak. Karena aku membencinya hingga ke akar-akar. Dia yang membuatku menjadi orang yang tidak berperasaan. Aku jadi iri melihat Nadine yang tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis dan dilimpahi dengan kasih sayang tulus.
Tapi sudahlah, persetann dengan semua cinta dan kasih sayang. Aku tidak membutuhkan itu lagi. Yang aku pikirkan saat ini, adalah memberitahu Nadine perkara surat wasiat Ayahnya itu...
"Nad...ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama kamu."
"Iya, silahkan...mau ngomong apa?" tanya Nadine yang sedang menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Ini tentang flashdisk milik Ayahmu.." ucapku to the point.
"Flashdisk? Jadi gimana..apa sudah ketemu?" Nadine menatapku penasaran.
"Sudah. Dan ini ada kaitannya dengan surat wasiat milik Ayahmu."
Nadine masih menatapku kebingungan. Ini akan jadi malam yang panjang....
__ADS_1
***
Jangan lupa untuk beri dukungan dengan cara memberi like dan vote nya ya, itu akan sangat membantu Author agar lebih bersemangat untuk up..terima kasih telah membaca, saran dan kritik akan diterima selagi bermakna positif :)