Favorite Sin

Favorite Sin
SOULS


__ADS_3

AUTHOR POV


"Berenang?"


"Exactly. Aku mau main air di kolam renang yang ada di rooftop. Berdua sama kamu."


"Malam-malam begini renang? No Nadine, nanti masuk angin. Cuaca sedang mendung dan dingin. Tinggal menunggu waktu saja hujan akan turun!" Adrian menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Nadine mentah-mentah.


"Kan airnya bisa di-setting pakai air hangat?!" bujuk Nadine memelas.


"Tetap saja tidak. Kamu bisa sakit. Aku belum memasang kanopi untuk kolam yang ada di rooftop. Nanti kalau kehujanan atau kegerimisan, kepala kamu bisa pusing. Lagipula itu sudah lama tidak dipakai, belum dibersihkan. Jangan coba-coba memancingku!" Adrian tak ingin didebat.


Dia bangkit dari sofa-bed seraya memungut kemeja yang dilepasnya tadi. Kemudian tangannya terulur untuk Nadine, berniat mengajak istrinya kembali ke ruang makan dan menikmati hidangan makan malam yang sempat tertunda.


Seperti info sebelumnya yang ia dengar dari para pelayan di mansion, Nadine belum makan sejak sore tadi. Tentulah Adrian khawatir dibuatnya.


"Ckkk..katanya kamu mau menuruti semua permintaanku apa saja? Bebas...kamu bilang! Kenapa sekarang berubah pikiran?" Nadine berdecak kesal.


Adrian mendongakkan kepalanya menahan emosi yang berada di puncak ubun-ubun karena permintaan aneh istrinya.


"Bisakah kamu meminta hal lainnya saja?" Adrian lalu menyarankan ide yang lain, "Bagaimana jika diganti dengan berendam di bathtub kamar mandi biasa? Aku akan siapkan bath bomb dan menyalakan diffuser aromaterapi supaya kamu rileks?!" tawarnya.


"Enggak mau, rasanya itu beda...sensasinya beda. Kalau di rooftop bisa lihat view malam hari dan pohon-pohon." Nadine masih mengeyel.


Adrian membuat gesture mengangkat tangan. "Please Nadine..aku akan turuti apapun. Anything else but that!"


"Bohong...permintaan aku yang se-simple tadi aja kamu enggak mau. Apalagi kalau aku minta yang lain, pasti ujung-ujungnya kamu menolak lagi. Kapok ah!"


Adrian menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk bersabar agar tidak mengeluarkan taringnya yang menyeramkan dihadapan Nadine.


"Dengarkan aku Nadine." ucap Adrian penuh penekanan. "Kamu sedang hamil besar sekarang. Usia kandungan kamu sudah memasuki 7 bulan. Tolong lebih aware dengan kondisi fisik dan kesehatan kamu. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi itulah caraku untuk melindungi kamu!"


"Kalaupun kamu benar-benar ingin, aku juga tidak bisa menemani kan? Lihatlah luka yang ada di perutku! Masih basah dan belum selesai diobati. Kalau kena air, otomatis akan terasa perih. Jadi percuma saja!" jelas Adrian panjang lebar. Dia berharap Nadine bisa mempertimbangkan usulannya itu.


"Tapi aku pengen banget, gimana dong?" Nadine masih kekeuh untuk merengek. Dia yakin 100 persen kalau permintaannya ini murni karena bawaan bayi.


Selama hamil, pregnancy-craving yang dialami Nadine masih dalam kategori wajar. Dia tak pernah meminta hal yang aneh-aneh. Semuanya normal. Tapi sayangnya tidak berlaku untuk hari ini.


"Kamu saja belum makan malam, tapi malah mau lanjut main air. Sebaiknya perut kamu diisi terlebih dulu, anak-anak kita bisa kelaparan kalau ibunya saja tidak perduli begini!" omel Adrian balik.


"Aku akan makan kalau kamu menuruti permintaanku tadi. Please..." Nadine memohon dengan menautkan kedua telapak tangannya. "Atau enggak gini aja..kamu engga perlu ikut nyebur. Awasi aku dari luar. Nanti kamu duduk-duduk aja di pool-chair?!"


Lagi dan lagi, jurus maut Nadine dengan tatapan puppy-eyes yang memelas mulai dikeluarkan. Adrian pasti akan kalah. Sudah jadi rumusan umum.


"Kenapa sih keras kepala sekali kalau dikasih tahu?" dimata Adrian, Nadine benar-benar menyebalkan sekarang.


Istrinya itu hanya menganggukan kepala seraya mengatupkan bibirnya menahan tawa. Jujur saja sebenarnya ia tak tega melihat Adrian yang begitu frustasi. Tapi tak apalah, sekali-kali menggoda suami.

__ADS_1


"Fine!! Tapi setel--"


Belum sempat Adrian menyelesaikan perkataannya, Nadine langsung melompat kesenangan dan mengalungkan lengannya pada leher Adrian. Dengan sikap manjanya, ia menciumii seluruh wajah Adrian tak bersisa. Mata, hidung, pipi, dan bibir yang terakhir.


Wanita..oh wanita..jika kemauannya sudah dipenuhi, maka beginilah jadinya.


"Jangan lompat-lompat Nadine, kamu hamil! Aku ngeri membayangkan anak-anak kita didalam perut terguncang!!" pekik Adrian.


"Ishhh..banyak alasan! Lebih ngeri lagi kalau pas lihat kamu lawan musuh. Kamu kan sadiss!" sahut Nadine tak mau kalah.


"Beda konteks." jawab Adrian singkat. "Sudahlah lupakan itu. Ini kamu mau lanjut mengobati aku atau tidak? Aku sudah terlanjur lepas kemeja..kalau tidak jadi, ya aku akan kenakan lagi pakaianku!"


"Jadi-jadi...sini, kamu makanya jangan berdiri-berdiri gitu!" Nadine menarik tangan Adrian untuk duduk manis lagi.


Nadine lanjut mengobati luka Adrian, lalu membuka penutup perban pada perut suaminya itu. Perban lamanya telah dipenuhi oleh noda merah yang merembes sehingga harus cepat-cepat diganti.


"Tunggu sebentar..." Nadine menghentikan kegiatannya sejenak. Pandangannya tertuju pada gambaran tinta hitam permanen yang melekat di dada sang suami.


Sebuah tato bergambar kedua bola mata seseorang, lengkap dengan alis dan bulu mata yang lentik. Terlihat begitu nyata.


Nadine seperti merasa tak asing dengan mata itu?!


"Kk--kk--kamu buat tato lagi?" Nadine meraba dadaa bidang suaminya, mengamati tato tersebut lebih dalam.


Adrian hanya membalasnya dengan anggukan tanpa mengeluarkan suara.


"Seminggu yang lalu." jawab Adrian.


Tato itu memang dibuat saat Adrian sedang dalam perjalanan bisnis diluar kota beberapa waktu yang lalu. Masih tergolong baru. Wajar bila istrinya tak tahu.


Nadine menengadahkan kepalanya. "Gambar mata ini terlihat sangat familiar, apa in--"


"Yours," Adrian memotong perkataan Nadine. "These eyes..are yours, Nadine."


Keduanya terdiam cukup lama sebelum Nadine kembali membuka suara untuk bertanya.


"Maksud kamu..ini gambar bola mataku?" sekali lagi Nadine bertanya untuk memastikan. Dia tak mau kelewat percaya diri.


"Hmm..indeed." Adrian meresponnya singkat.


"Tapi..kenapa?" ucap Nadine lirih.


Wanita itu masih tak percaya kenapa suaminya berbuat nekat dengan membuat tato dengan kedua bola matanya. Digambar pada tubuhnya pula.


"Hanya karena aku menginginkannya." Adrian mengedikkan bahunya. "It's not that deep..."


"Tapi ini kan permanen, Adrian..."

__ADS_1


"Justru itu, memang sengaja supaya tidak bisa dihapus. Begitu juga dengan memori atau kenangannya."


Nadine menggeleng tak paham. "Aku masih enggak ngerti..."


Adrian merapatkan tubuhnya dengan sang istri, mengikis jarak diantara mereka agar duduknya tidak terlalu berjauhan.


"Kamu ingat tidak, kalau kamu sering bertanya padaku tentang apa yang aku sukai dari kamu?!"


Nadine menangkup sisi wajah Adrian sambil tertawa pelan. "Ingat. Aku pasti akan selalu ingat, karena sampai detik ini kamu belum mau menjawabnya."


"Apa kamu mau tau jawabannya sekarang?" Adrian meraih tangan Nadine yang berada di wajahnya untuk digenggam dan diletakkan diatas pangkuannya.


Nadine menautkan kedua alisnya, "Apa itu?"


"Selain senyum indah yang merekah di bibir mungil kamu, aku juga sangat suka dengan tatapan intens dari matamu."


"Tatapan mataku?" selidik Nadine penuh tanda tanya.


Adrian menarik sudut bibirnya keatas sambil menyentuh kelopak mata Nadine sekilas.


"Alasannya...karena didalam kedua bola matamu ini, tersirat sebuah ketulusan cinta yang begitu murni."


Degh...


Seketika jantung Nadine berdegup kencang bagaikan dialiri oleh ribuan volt listrik. Kedua lututnya melemas. Tubuhnya diam membeku. Pernyataan Adrian barusan seolah menghapus keraguan Nadine selama ini.


Jujur saja, setelah berbulan-bulan menjalani biduk rumah tangga bersama, terkadang Nadine merasa bahwa Adrian seringkali merasa tidak percaya diri akan hubungan mereka. Meskipun keduanya sudah saling gamblang mengungkapkan kata cinta satu sama lain.


Berulang kali Nadine membujuk Adrian untuk tetap yakin, sayangnya suaminya itu selalu menunjukkan sikap skeptis. Mulut berkata iya, tapi hati masih ragu.


Sekarang Nadine bisa bernafas lega. Akhirnya Adrian dapat melihat seberkas cahaya atas ketulusan cinta yang ia curahkan sepenuh hati. Hanya karena ditatap oleh mata brownish-hazel milik Nadine, Adrian mampu merasakan getaran asmara itu.


"Ketika kamu menatapku, pupil matamu membesar. Hal ini sering terjadi ketika kamu sedang tertarik pada seseorang. Aku bisa merasakan cinta dan kasih yang kamu berikan begitu besar."


Nadine membiarkan mulutnya terbuka. Kini kedua bola matanya sudah basah, penuh dengan genangan air mata. Tak pernah ia sangka jika Adrian dapat melakukan hal yang melampaui batas pemikirannya.


"Kamu selalu punya seribu cara untuk mengejutkanku Adrian...dan ini salah satunya. A tattoo of my eyes?" Nadine tertawa cekikikan. "Aku mungkin tidak akan pernah menemukan pria diluaran sana yang mau menato gambar mataku pada tubuhnya." goda Nadine dengan nada manja.


"Apa yang membuat kamu berpikir kalau aku akan membiarkanmu mencari pria lain?" ujar Adrian protektif.


Nadine kembali tertawa dan mendekatkan wajahnya pada Adrian. Perlahan, Nadine mendaratkan ciumann yang terkesan intimm namun begitu lembut di bibir suaminya.


Adrian membalas ciumann tersebut dengan merengkuh tubuh Nadine agar semakin rapat. Jari-jemarinya yang panjang bergerak memberikan sentuhan halus di punggung yang mulus nan putih milik istrinya.


Seusai pagutan bibir keduanya terlepas, Adrian menyatukan keningnya pada sang pujaan hati.


"Nadine, your eyes have bewitched me body and soul...."

__ADS_1


***


__ADS_2