Favorite Sin

Favorite Sin
STAY FOCUSED


__ADS_3

AUTHOR POV


Drtt...drtt..


"Sebentar, aku angkat telepon dulu." Adrian sengaja menjauh sementara dari Nadine untuk mengangkat telepon.


Nadine hanya bisa menatap suaminya heran.


📱


"Halo, Ray..." ucap Adrian berbisik-bisik.


"Selamat siang Pak, saya sudah ada diluar kamar rawat Bu Nadine."


"Saya akan keluar sekarang, kamu tunggu."


"Baik Pak, saya akan tunggu."


Adrian mematikan sambungan teleponnya.


"Kamu habis telepon sama siapa, kok sembunyi-sembunyi?" tanya Nadine.


Adrian menoleh, "Enggak, itu tadi Ray, dia ada diluar sekarang. Aku ada urusan penting yang harus dibahas. Kamu tidak masalah kan kalau aku tinggal sebentar?"


"Enggak mau ngobrol disini aja? Aku sekalian bisa mendengarkan.."


Adrian menunjukkan wajah datarnya. Kalau sudah begitu, berarti hal yang mau dibicarakan bersifat top secret. Nadine tak boleh tahu. Urusan penting yang dimaksud Adrian tidak jauh-jauh berkaitan dengan Galih.


"Okay, kamu bisa pergi. Tapi jangan lama-lama ya, aku takut sendirian," lirih Nadine. "Aku masih trauma.."


"Ini sebentar, tidak akan lama."


Mendapat lampu hijau dari istrinya, Adrian beranjak dari kursi duduk dan mengusap pipi Nadine lalu segera keluar menemui Ray.


"Nanti kita bicarakan lagi..tentang itu," Adrian menaikkan dagunya, merujuk pada perut Nadine yang didalamnya terdapat janin yang ukurannya baru sebesar kacang polong.


Nadine menjawabnya dengan anggukan kepala. Dirinya dan Adrian memang butuh waktu untuk menemukan solusinya bersama.


***


"Ray..." panggil Adrian dari kejauhan.


"Pak Adrian," Ray menunduk hormat. "Bagaimana keadaan Bu Nadine, Pak? Beliau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Dia baik-baik saja, tapi hanya untuk saat ini. Entah bagaimana besok dan seterusnya, Galih tidak bisa diremehkan. Saya terlalu ceroboh kemarin karena meninggalkannya sebentar. Tapi yang lebih fatal, kenapa bisa kalian itu kecolongan? Masih untung Nadine tidak jadi diculik kemarin!"


"Maafkan kami Pak, yang lalai dalam menjaga Bu Nadine. Ketika Bu Nadine pergi diam-diam lewat pintu darurat belakang hotel, disaat yang bersamaan anak buah Galih sempat menyerang. Bahkan kubu kami saling membuat kegaduhan didepan hotel."


Ray menyayangkan kejadian buruk yang hampir saja menimpa Nyonya-nya itu.


"Tapi sudah kamu bersihkan semua kan? CCTV dan lain-lain? Jangan sampai berita ini menyebar. Kita sedang berada di negara orang, saya tidak mau melanggar aturan disini."


"Semua beres Pak, aman." Ray sudah membersihkan semuanya sejak kemarin.


"Lalu, ada berita apa yang kamu bawa hari ini?" tanya Adrian lagi. Matanya menatap Ray tajam.


"Putri bungsu Galih sedang kami amankan saat ini. Dia ada di markas, Pak. Sedangkan putri sulungnya masih dalam tahap pencarian, dia telah kabur setelah kemarin terbukti ikut serta dalam upaya penculikan Bu Nadine."


"Lebih bagus, justru yang saya butuhkan itu! Kelemahan Galih terletak pada putri bungsunya, bukan si sulung. Wanita itu terlalu polos, sehingga memudahkan kita memanfaatkannya untuk memancing Galih keluar sarang. Kalau yang sulung, dia memang dasarnya tidak jauh beda dengan Galih."


Sebelum menjalin hubungan dengan Imelda, Galih pernah menikah dengan orang lain. Dari hasil pernikahan pertamanya, dia telah dikaruniai 3 orang anak. Istrinya meninggal saat melahirkan anak ketiga mereka, dan beberapa hari setelahnya sang putra juga menyusul ibunya. Menyisakan Galih dan dua putrinya saja.


Masa kecil kedua putrinya Galih dibesarkan oleh sang nenek yang tinggal di luar negeri. Dan ketika keduanya menginjak usia 13 tahun, mereka sama-sama dimasukkan ke dalam boarding school.


Drrtt...drtt...


Ponsel Adrian berbunyi kembali. Dan tertera nama Galih muncul di layar.


Sedangkan Ray hanya menundukkan kepalanya tersenyum tipis.


"Ada apa menelpon?" ucap Adrian santai.


"Berani ya kamu menyandera putriku! Katakan, dimana dia? Aku tidak ingin berbasa-basi!!" bentak Galih di telepon.


Adrian menyunggingkan sudut bibirnya, dia cukup puas mendengar Galih yang kepanasan.


"Tentu saja saya berani. Anda sendiri juga telah lancang menculik istri saya, impas kan kita? Meskipun rencana kamu tidak berhasil...nyatanya rencana anda terlalu murahan. Mudah untuk ditebak." sindir Adrian.


"Bukan sekali dua kali anda berniat mencelakai saya dan keluarga, tapi tidak berhasil. Mulai dari sabotase mobil Ayah saya, menculik dua adik perempuan saya saat berlibur di beach house, anda yang berniat mengebomm perusahaan ayah saya..apakah ada satu yang berhasil?" lanjut Adrian.


Adrian sengaja untuk terus memancing emosi Galih dengan menyindirnya secara halus.


"Kamu benar-benar menguji kesabaranku!" Galih mulai geram.


"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api yang memulainya. Dari awal, saya sudah peringkatan kamu bukan, berhenti mengusik keluarga saya! Tapi anda tak mendengar. Ingat satu hal Galih, dendam saya belum terbalaskan. Bersiaplah untuk pesta yang besar!"


"Saya tidak takut! Malam ini juga, kita harus bertemu. Selesaikan masalah ini dengan jantan! Awas saja kamu macam-macam dengan putriku!" Galih mulai menantang balik.

__ADS_1


"Selama kamu tidak bersikap aneh-aneh, maka saya bisa pastikan putrimu tidak tergores seujung kuku-pun. Perintahkan anak buahmu untuk menjauh dari rumah sakit tempat istri saya dirawat. Jika dalam 5 menit mereka masih ada disini, saya akan kirimkan sebuah rekaman suara para anak buah saya yang menyikssaa putrimu."


"Jangan sembarangan kamu Adrian!" teriak Galih lantang.


Tubuhnya mendidih karena amarahnya yang tertahan. Dia cukup kesal karena lagi-lagi harus kalah langkah dari Adrian.


"Seberapa keras usahamu untuk menghancurkan saya dan keluarga, saya sudah jauh seribu langkah berada didepan kamu Galih! Camkan itu! Saya akan kirimkan titik koordinat untuk tempat kita bertemu. Datanglah pukul 9 malam. Saya tidak suka keterlambatan. Sampai berjumpa nanti, ayah tiriku."


Adrian mematikan teleponnya sepihak. Malam ini, dia akan menuntaskan segala problematikanya dengan Galih. Setelah ini, Adrian baru akan bisa fokus memikirkan Nadine dan calon bayi mereka. Perlahan, Adrian akan mencoba untuk menerimanya.


"Malam ini, kerahkan anak buah kita semua untuk ikut saya menemui Galih. Kamu juga harus ikut. Soal Nadine, nanti saya akan minta kedua orang tua saya untuk mengawasi dan menjaganya."


"Tuan Alan dan Nyonya Diana ada di Rio, Pak?" tanya Ray kaget.


"Iya, mereka sudah sekitar 1-2 hari disini.. entahlah kapan pastinya. Yang jelas ketika mereka tahu Nadine masuk rumah sakit, mereka langsung terbang ke sini dari LA."


Ray mengangguk paham.


"Istri saya sedang hamil, Ray." ceplos Adrian begitu saja.


"HAHHHHH??!!! Hamil, pak?" Ray memekik kencang.


"Bisa kamu kecilkan volume suara kamu, itu akan mengundang atensi banyak orang!" kesal Adrian.


"Mm--maaf Pak, saya kaget!" Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adrian memicingkan matanya, "Kenapa kaget?"


"Memang Ibu Nadine hamil anak siapa, Pak?" tanya Ray polos.


"Ya anak saya lah..kamu kira anak siapa? Anak kamu?" Adrian tak terima dengan lontaran pertanyaan Ray yang terkesan meragukannya.


"Saya tidak tahu harus apa, Pak. Saya ingin mengucapkan selamat, tapi saya takut Bapak tidak berkenan..karena..."


"Jangan dibahas! Fokus kita pada Galih sekarang, bukan urusan pribadi saya! Perketat keamanan disini, saya mau masuk dulu karena Nadine sudah menunggu. Segera siapkan apa yang diperlukan untuk nanti malam. Ingat, selalu cermat dan perhatikan semua detail." perintah Adrian.


"Baik Pak, laksanakan." ucap Ray lantang.


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di apk ini juga kok. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2