
AUTHOR POV
Nadine terbangun dari tidur malamnya dan melihat kearah sekitar. Dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap, Nadine belum sadar jika dirinya berada di kamar dari sebuah yacht mewah saat ini.
"Ini dimana?"
Nadine bergumam sambil memegangi pelipisnya yang sedikit pusing. Yang Nadine ingat, dia sempat berciuman dengan Adrian lalu terlelap setelahnya. Berbicara tentang Adrian, dia juga tak menampakkan batang hidungnya.
Nadine menoleh ke arah jendela, tapi tak terlihat apa-apa karena gelap. Hanya saja, dia mendengar suara ombak laut bergaungan. Karena penasaran, Nadine ingin keluar untuk memastikannya sendiri.
Saat turun dari kasur dan hendak menyibakkan selimut bed covernya, Nadine dikagetkan dengan tubuhnya yang sudah dilengkapi dengan pakaian. Padahal, terakhir kali dia hanya memakai dalamann saja. Namun sekarang, tubuhnya dibalut oleh kemeja oversized putih dan celana pendek.
Sudah pasti kemeja yang dikenakannya ini milik Adrian, terlihat dari ukurannya yang kedodoran hingga lutut dan bau parfumnya sangat melekat.
Keluar dari kamar, pemandangan yang pertama kali dilihat Nadine adalah laut lepas. Berarti dugaannya benar.
Source: Pinterest
"Belum tidur Bu Nadine?" Ray muncul dari belakang saat Nadine menikmati suasana angin malam di dek.
Nadine menoleh, "Oh Ray, kamu ngagetin aja! Aku pikir enggak ada orang tadi. Ini aku baru saja bangun tidur terus langsung kesini."
"Kalau begitu, selamat menikmati fasilitas yang ada di yacht nya Bu..." Ray menunduk dan tersenyum ramah.
Nadine terkekeh, "Iya, pemandangannya luar biasa disini. Ngomong-ngomong, Adrian dimana?"
"Terakhir, Pak Adrian sedang berada di kabin Bu."
"Kita mau kemana ini Ray? Bukannya tadi aku dan Adrian ada di hotel ya..kenapa jadi ada di sebuah yacht?"
"Ada perubahan rencana Bu, Pak Adrian memutuskan agar kita semua bermalam di yacht saja. Menginap di hotel terlalu berbahaya, apalagi baru saja ada insiden baku hantam tadi. Untuk menghilangkan jejak dan supaya tak menambah skandal, ini adalah keputusan yang tepat." Ray menjelaskan panjang lebar.
Nadine mengangguk paham.
"Sekarang sudah jam 2 pagi Bu, apa Bu Nadine tidak ingin melanjutkan tidurnya?" tanya Ray.
"Tadi sih masih mengantuk, tapi entah kenapa aku enggak bisa tidur lagi!"
"Bu Nadine terlihat seperti orang yang sedang kepikiran, apakah semuanya baik-baik saja Bu??"
Nadine melirik Ray seraya menyunggingkan bibirnya, "Aku hanya mencoba memproses semua yang baru saja terjadi Ray, kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi sebelum dini hari tadi."
__ADS_1
Ray menggoyangkan kepalanya, "Saya tahu Bu kalau anda sangat ingin mengetahui kebenarannya. Tapi saya juga tahu konsekuensi apa yang akan saya dapat jika saya keceplosan memberitahu Anda." timpal Ray.
"Aku sadar hal itu Ray, sudah mulai terbiasa dengan misteri yang selalu disembunyikan Adrian. Hanya saja, yang membuat aku kesal...dia itu terlalu sombong, berhati dingin dan enggak mau bersikap terbuka. Aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran bos-mu itu!" hardik Nadine.
Nadine melanjutkan ucapannya, "Sejak pertemuan kami yang pertama kali sampai sekarang..dia benar-benar gila, dan dia membuatku jadi ikut gila!"
"Kalau aku jadi Adrian, otakku mungkin akan meledak dan tidak kuat menyimpan semua beban yang ada!" cerocos Nadine.
"Uhm...saya tidak akan membantahnya Bu karena memang itu benar. Tapi begitulah sifat Pak Adrian. Dan akan selalu begitu seterusnya. Tidak pernah berubah!" ucap Ray.
"Ray, kenapa kamu tiba-tiba manggil aku Ibu? Kemarin Nona.. kenapa jadi ibu sekarang? Padahal kamu lebih tua 4 tahun dariku kan?"
"Karena Bu Nadine adalah istrinya Pak Adrian sekarang, jadi saya manggilnya Ibu. Biar enak sepasang..kalau soal umur, bukan suatu masalah buat saya."
"Alasan kamu sama saja seperti Bibi Magda yang memanggilku Nyonya!" Nadine menepuk pelan lengan Ray dan tertawa kecil.
"Baiklah Ray, aku berubah pikiran! Sepertinya aku mengantuk sekarang..aku akan lanjut tidur..selamat malam!"
Selepas Nadine dan Ray berpamitan untuk beristirahat, tiba-tiba saja Nadine dikejutkan oleh suara teriakan dari kamar yang ada di kabin atas saat ia kembali masuk.
"Tidak..tidak..tidak..tidak!"
"Pergi, kamu dari hidup saya!"
Nadine mengguncang-guncangkan tubuh Adrian pelan, "Hey..Adrian bangun! Nadine ada disini amu baik-baik aja?"
"Tolong..Mama tolong...jangan tinggalkan aku!!" Adrian meracau dalam mimpinya.
Sekujur tubuh Adrian dipenuhi oleh keringat dingin dan bibirnya pucat pasi. Dia menggigil sambil terus meracau, menyebutkan kalimat-kalimat yang tak Nadine pahami. Tapi yang jelas, Adrian terlihat ketakutan.
"Tidak..jangan lakukan itu... menjauhlah!!
"Adrian bangun!" Nadine mencoba sekali lagi menggoyahkan tubuh Adrian.
Tak lama, kedua mata Adrian terbuka sembari melotot. Warna manik mata indahnya berubah menjadi kemerahan.
Adrian terbangun dari mimpi buruknya lalu ia menyergap tubuh Nadine dan memeluknya erat seakan tak ingin terlepas.
"Adrian, ini aku Nadine...are you okay?" Nadine mengelus-elus punggung kekar Adrian. "Apa yang terjadi?"
Adrian melepaskan pelukannya dari Nadine, kemudian membasuh keningnya yang berkeringat. "Bawakan saya segelas air!" hanya itu kalimat yang terucap dari bibirnya.
"Okay, tunggu dulu" Nadine segera mengambil sebotol air mineral yang masih tersegel diatas nakas.
__ADS_1
"Ini minumannya, kamu tenang dulu.." lirih Nadine.
Adrian meneguk habis sebotol air itu tanpa tersisa sembari Nadine masih mengelusi punggungnya dengan maksud ingin menenangkan.
"Apa kamu mau membicarakannya?" Nadine bertanya.
Adrian hanya menggeleng, yang tandanya ia tidak ingin membahas perihal tadi.
"Kalau begitu, kamu istirahat lagi aja...panggil aku kalau sedang butuh. Aku ada di kamar bawah." ucap Nadine.
"Nadine..." Adrian menghentikan Nadine yang hendak kembali ke kamarnya.
Nadine menoleh, "Ya?"
"Bisakah kamu tetap tinggal?"
"Aku kan memang sudah di sini..apa menurutmu aku akan melompat dari kapal ini?"
"Bukan itu maksud saya..." Adrian mendadak canggung. Dia ingin sekali meminta Nadine untuk tidur dalam satu kamar bersamanya tapi dia takut Nadine menjadi kegeeran.
"Jadi apa maksudnya?" tantang Nadine.
"T-tidur dengan s-saya malam ini?!" Adrian mengucap kata dengan terbata-bata.
Nadine mengernyitkan dahinya, "Kamu yakin?"
"Kalau enggak yakin, mana mungkin saya tanya! Kamu bersedia tidak? Tidak ada penolakan ini perintah!" tegas Adrian.
Nadine yang paham akan kondisi Adrian yang tidak stabil, tak berani banyak berkomentar dulu dan tak ingin memaksa juga. Jika Adrian siap, maka dia pasti langsung bercerita dan Nadine akan dengan senang hati mendengarnya.
"Oke..." Nadine setuju. "Aku ambil selimutku dulu dibawah. Nanti aku akan kembali lagi dan bisa tidur di sofa."
"Tidak perlu! K-kamu bisa tidur di tempat tidur..yang..s-sama..d-dengan saya!" Adrian menurunkan egonya demi bisa tidur malam ini dan mimpi buruknya tak kembali.
"Kepala kamu habis kepentok? Kok aneh banget tiba-tiba kamu memintaku untuk tidur di ranjang yang sama denganmu? Yakin?" selidik Nadine.
"Ini masih pukul 2.15 dini hari Nadine, dan saya tidak punya banyak tenaga untuk berdebat denganmu...jadi mari kita langsung tidur!" sentak Adrian.
Apapun yang keluar dari mulut Adrian, bunyinya pasti perintah yang tak bisa dielakkan. Maka dari itu, Nadine terpaksa mengiyakannya meski dalam hati ia kesal.
***
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan beri hadiah ya untuk dukungan author agar bisa lebih bersemangat lagi upload-nya! Semoga suka dan terima kasih 😊
__ADS_1