Favorite Sin

Favorite Sin
AFTER THE FIRST NIGHT


__ADS_3

AUTHOR POV


Pukul 3 pagi dini hari, Nadine mendadak terbangun dari tidurnya, dengan kondisinya mata yang mengerjap-ngerjap tanda bahwa dia masih mengantuk.


Nadine merasa hampa, ketika ia meraba-raba sisi kasur disampingnya yang kosong. Dimana Adrian? Kenapa tidak ada disini?


Dengan posisi duduk setengah bangun, Nadine menyandarkan tubuhnya pada headboard kasur. Dia celingukan ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan suaminya itu.


Ceklek...


Pintu kamar hotel terbuka. Seorang pria tinggi bertubuh tegap dan kekar masuk ke dalamnya. Dan sosok itu adalah Adrian.


"Kamu sudah bangun?" tanya Adrian seraya melepaskan jaket miliknya.


"Hmm...aku barusan bangun," Nadine berdehem dengan nada malas. "Kamu habis dari mana, malam-malam begini keluar?"


"Saya dari apotek," jawab Adrian.


"Apotek? Untuk apa?" tanya Nadine penasaran.


Adrian mengeluarkan sebuah botolan kecil dari kantong celananya, "Saya beli pil kontrasepsi untuk kamu."


"Memang ada yang buka? Padahal ini udah jam 3 dini hari!"


"Ada. Itu buktinya saya beli!" sahut Adrian.


Awalnya Adrian sempat ragu untuk mencari apotek yang masih buka. Untung saja, tepat di seberang hotel tempat mereka menginap, ada toko obat 24 jam yang siap sedia buka.


Ucapan Adrian barusan menyadarkan Nadine akan sesuatu hal, sebab bukan tanpa alasan Adrian membelikan pil kontrasepsi untuk Nadine.



***FLASHBACK ON***



"Nad, kamu sangat sempit!!" ucap Adrian yang sedang memompa pinggulnya, mengisi lembah surgawi Nadine dengan juniornya.



"Arhhhh...."



Nadine mengerangg keras, menancapkan kukunya di bahu Adrian. Sedangkan Adrian asyik menghissap leher jenjang Nadine dengan kuat.



"Oh God, suaramu terdengar sangat seksii di telingaku!"



Tak henti-hentinya, suara erotiss nan manja keluar dari mulut Nadine ketika mereka melakukan penyatuan. Tentunya hal ini semakin meningkatkan gairahh Adrian untuk menekan masuk miliknya agar lebih dalam.


__ADS_1


"Saya sudah hampir keluar...tapi saya tidak bisa berhenti!!"



"Kalau begitu jangan berhenti, lanjutkan saja!"



"Tapi--"



Adrian mencoba mengingatkan Nadine tentang resikonya, tetapi matanya bergetar dan tertutup. Sensasi kenikmatan surga dunia telah menguasai jiwa Adrian, hingga dia melenturkan pinggulnya untuk masuk lebih dalam. Sedalam mungkin yang dia bisa untuk memenuhi Nadine.



"Adrian.. that feels good.."



Jari-jari Nadine semakin menekan ke bagian bawah tulang belakang Adrian. Menariknya untuk lebih dekat dan lebih dalam.



"God, I have to stop now..kita keluar bersama!" perintah Adrian.



*BLESSS*...




Perlahan, Adrian menarik miliknya keluar dan mengecup kening Nadine. "Thanks for tonight, baby.."



Kemudian Adrian membaringkan tubuhnya dengan santai disamping Nadine. Keheningan tercipta diantara keduanya yang masih terdiam membisu, setelah larut dalam euforia yang menyisakan kenangan tak terlupakan.



***FLASHBACK OFF***



"Saya sudah pesankan makanan untuk kamu! Mungkin sebentar lagi datang. Sebelum minum obat, perut tidak boleh kosong."


"Iya aku ngerti.."


Pandangan Adrian kini menatap lekat ke arah Nadine. Tubuh Adrian bersender pada dinding dengan kedua tangannya yang dilipat diatas dada.


"Kenapa lihat aku begitu?"


"Enggak apa-apa."

__ADS_1


Dan sesaat Nadine langsung tersadar jika tubuhnya masih polos, hanya berselimutkan bed cover. Sialnya, bed cover tersebut tidak menutupi tubuh bagian atas Nadine sehingga kulitnya itu terekspos tanpa sadar.


Pantas saja Adrian menatapnya dengan senyuman yang menyeringai sejak tadi. Ternyata ini alasannya! Dengan gerakan tangan yang cepat Nadine menarik selimut itu keatas dan menutupi tubuhnya.


"Kenapa ditutupin begitu? Padahal saya kan sudah lihat semuanya!" Adrian menggoda Nadine yang sedang berusaha keras menahan rasa malu.


"Ya tetep aja, aku malu!" pipi Nadine berubah merah. "Kamu balik badan dulu deh!"


"Buat apa?"


"Aku mau ke toilet untuk buang air kecil sekaligus bersih-bersih. Ini rasanya lengket banget!"


"Memangnya kamu bisa jalan sendiri ke toilet? Saya gendong saja.."


"Enggak perlu! Jelas aku bisa lah..kan tinggal jalan aja! Aku masih punya dua kaki yang utuh,"


"Yakin tidak butuh bantuan? Saya berikan penawaran terakhir untuk kamu. Mau saya gendong atau jalan sendiri?" Adrian menyunggingkan senyum nakalnya.


"Aku bisa kok..aku cuman perlu kamu untuk balik bada dan jangan ngintip pas aku jalan ke toilet! Okay?!"


"Ya sudah kalau maumu begitu," Adrian memilih untuk mengalah dan menuruti permintaan Nadine.


Ketika Nadine hendak beranjak dari kasur, tiba-tiba dia merintih kesakitan karena merasakan perih di area sensitif miliknya.


"Awwhh...." lirih Nadine yang tubuhnya limbung dan jatuh lagi ke kasur.


Adrian menoleh, "Benar kan kata saya, kamu itu butuh bantuan untuk jalan!"


"Aku enggak tahu kalau rasanya sesakit ini!" ucap Nadine polos.


Bagaimana tidak sakit kalau selama semalam suntuk Adrian menggempur Nadine hingga pukul 12 malam? Saking candunya, Adrian menolak untuk berhenti dan tetap melanjutkan kegiatan panas tersebut hingga beronde-ronde.


"Tentu saja rasanya sakit! Ini kan pengalaman pertamamu, jadi belum terbiasa. Sini saya gendong saja ke toiletnya!"


Tanpa ba-bi-bu, Adrian langsung menyibak selimut bed cover tersebut. Tangannya menangkup tubuh Nadine untuk digendong menuju kamar mandi.


Adrian lalu mendudukkan tubuh Nadine diatas closet karena Nadine bilang, dia ingin buang air kecil terlebih dahulu.


Sembari menunggu Nadine selesai, Adrian melangkahkan kakinya untuk menghampiri bathub. "Kamu mau sekalian mandi atau tidak?" tanya Adrian yang memunggungi Nadine.


"Iya, boleh.."


Mendengar kata iya, Adrian langsung menyalakan keran air panas untuk mengisi bathub. Dan setelah air hampir terisi penuh, Adrian menambahkan oil essence dengan aroma bunga yang khusus untuk mandi ke dalam bak sebagai wewangian.


Tak lupa ia juga menyediakan bath bomb yang masih utuh. Pikirnya, biar Nadine saja yang mencampurkannya sendiri nanti.


"Dari mana kamu bisa mendapatkan essentials itu semua?"


"Pihak hotel yang memberikannya. Sayang kan kalau tidak dipakai! Ini sudah siap semuanya..kamu bisa langsung mandi. Saya tinggal dulu."


Adrian sengaja membiarkan Nadine mandi sendirian untuk memberikannya privasi, agar tidak ada kecanggungan yang terjadi. Apalagi Adrian paham jika Nadine masih malu-malu, meski keduanya sudah melakukan penyatuan bersama semalam.


***


BONUS VISUAL

__ADS_1



Jangan lupa ya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah sebanyak mungkin..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2