
AUTHOR POV
Mendengar pengakuan Adrian, jiwa Nathan mulai memanas. Tangannya mengepal dengan erat dan isi otak di kepalanya mendidih. Nathan tidak terima mengetahui fakta jika ketentraman Nadine diusik oleh keluarganya Sean selama dirinya menghilang.
Belum lagi, dunia itu ternyata sempit. Nathan tak mengira jika Ayahnya--Harun, dulu pernah bekerja pada Papanya Adrian sebagai asisten sekaligus kaki tangannya. Dan karena keterkaitan yang mereka miliki di masa lalu, Nathan sekeluarga sampai harus dihadapkan dengan masalah pelik hingga Harun menjadi korbannya.
Adrian sengaja menceritakan semuanya secara detail pada Nathan, bagaimana kelakuan Galih sampai David hingga ke akar-akarnya. Dia ingin bersikap transparan tanpa ada yang perlu ditutupi. Kecuali fakta tentang alasan dibalik pernikahannya dengan Nadine.
Tujuannya satu, agar Nathan lebih waspada dan tidak mudah terhasut oleh musuh. Kali ini, Adrian ingin mengajak Nathan bekerja sama untuk menghancurkan Galih dan David. Maka dari itu, Nathan harus mendengar cerita yang asli versi Adrian.
"Benar begitu, Adrian? Kamu tidak bohong kan sama saya?"
"Apa untungnya berbohong. Saya bicara fakta tanpa ada ucapan yang dikurangi atau ditambahi sedikitpun. Kalau anda masih ragu, saya ada buktinya. Setelah mendarat, datang saja ke kediaman saya!"
"Saya pegang omongan anda." Nathan menghembuskan nafasnya kasar. "Untung saja Nadine sudah putus dengan Sean dan tak jadi menikah! Saya tidak bisa bayangkan jika adik saya menjadi menantu di keluarga toxic seperti mereka!"
Nathan masih ingat betul bagaimana excited-nya Nadine saat tahu dia dan Sean akan melangsungkan pernikahan yang selalu dia idam-idamkan.
"Memang dulunya mereka berdua sempat ada wacana untuk menikah?" Adrian tercengang karena dia tidak mengira hubungan Nadine dan Sean bisa sejauh itu.
Adrian selalu berpikir bahwa keduanya berpacaran karena selingan biasa, bukan mengarah ke hal yang serius.
"Iya. Sean pernah datang ke rumah menemui saya dan Ayah untuk meminang Nadine. Kami pun setuju-setuju saja karena hubungan keduanya siap untuk dibawa ke jenjang yang lebih serius. Meski terhalang restu pihak orang tua Sean, persiapan acara pertunangan mereka tetap jalan. Bahkan hampir 70% selesai." Nathan mengakui itu semua dihadapan Adrian.
"Tapi setelah tahu dia selingkuh, semuanya jadi batal. Hati saya remuk dan hancur saat itu. Ketika melihat Nadine datang dan menangis-nangis pada saya. Saya tidak terima Nadine diperlukan seperti itu.. makanya say--"
"Menghajar Sean sampai dia masuk rumah sakit?" timpal Adrian yang memotong perkataan Nathan.
__ADS_1
Nathan terkekeh, "Yahhh...saya membuatnya babak belur sampai patah tulang. Bogem mentah dari tangan saya mendarat sempurna padanya. Kalau Nadine tidak menghentikan saya waktu itu, mungkin Sean sudah menemui ajalnya."
"Keluarga mereka tidak menuntut kamu?" Adrian tertarik ingin tahu.
Dia paham betul bagaimana tabiat Keluarga Malik-Santoso dengan keangkuhan dan ego mereka yang sangat tinggi. Bukan tidak mungkin Nathan akan dituntut.
"Awalnya begitu! Mereka marah saat tahu saya membuat pewaris mereka hampir meregang nyawa. Tapi mereka tak bisa menuntut, karena saya mengancam balik akan membeberkan fakta perselingkuhan Sean pada publik."
Adrian tak percaya, "Semudah itu?"
"Mereka semua kan gila hormat, itu sebabnya mereka lebih memilih mundur pelan-pelan daripada citranya rusak. Tidak perlu effort yang berlebih untuk membuat mereka menciut," sahut Nathan.
"Nadine beruntung memiliki kakak yang sayang padanya," puji Adrian pada Nathan.
"Saya sangat sayang dengan Nadine. Dia adik perempuan saya satu-satunya. Apalagi sekarang tinggal dia keluarga yang saya punya. Saya tidak mau dia terluka," wajah Nathan berubah sendu.
"Kalau boleh saya tahu, anda sendiri punya masalah apa dengan David? Saya beberapa kali mendengar selentingan berita di media kalau keluarga kalian saling berseteru."
Keluarga Natadipura dan Keluarga Malik-Santoso adalah dua keluarga pebisnis yang cukup tersohor di negeri ini. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kedua belah pihak bersitegang.
"Alasan yang klasik, apalagi kalau bukan saingan bisnis. David dan Papa saya itu bermusuhan sejak lama hingga mendarah daging. Dan akhirnya menyeruak sampai turun temurun, terus menyebar sampai ke seluruh keluarga besar."
Belum selesai Adrian melanjutkan ceritanya, tiba-tiba Nadine datang menghampiri.
"Hai...kalian berdua kayak lagi ngobrol serius? Ngomongin apa aja sih?" sapa Nadine yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
"Ini hanya obrolan lelaki biasa," jawab Nathan santai.
__ADS_1
"Hmm..saya akan ke galley dulu untuk makan. Kalian bisa lanjut untuk mengobrol. Saya ke belakang ya..kalau butuh apa-apa tinggal bilang," Adrian tersenyum tipis dan mengusap lembut lengan Nadine.
Sebisa mungkin Adrian menunjukkan afeksi nya pada Nadine agar Nathan tidak curiga. Walaupun interaksi keduanya tadi masih terdengar begitu formal, setidaknya Adrian sudah berusaha.
"Dia masih kaku aja ya sama kamu, padahal kalian udah nikah.."
"Pernikahan kami kan belum genap 2 bulan Kak! Wajar kalau masih canggung, apalagi kami berawal dari orang asing. Hubunganku dan Adrian itu berjalan dengan cepat."
"Bukannya kalian sudah kenal lama?" selidik Nathan.
"Iy--iya..kami sudah kenal lama sih, tapi kan enggak dekat karena dia itu bos besar! Mana berani aku, pas aku habis putus dari Sean..baru deh dia maju! Bisa dibilang, kami pacaran setelah menikah lah.." Nadine tersenyum meringis. Hampir saja ia keceplosan
"Are you happy Nad? To be married with him?", Nathan menatap lekat netra adik kesayangannya itu.
(Apakah kamu bahagia Nad? Menikah dengannya?)
"He makes me happy and feel safe Kak, no need to worry!" Nadine memberikan keyakinan pada Nathan seraya memegang halus punggung tangannya.
(Dia membuatku merasa bahagia dan aman Kak, tak perlu khawatir)
"Hanya itu yang ingin Kakak dengar Nad, asalkan kamu bahagia..Kakak pasti akan support hubungan kamu dengan Adrian. He's a good guy I think.." Nathan mengerlingkan mata kanannya.
"Wowww..woww..tadi Kakak emangnya ngomong apa aja sih sama Adrian? Ajaib ya dia, bisa bikin Kakak melunak gini..tumbenan banget?!" Nadine tertawa kecil meledek.
"Seperti yang kamu bilang tadi, kamu aman kan saat bersamanya? Entah kenapa Kakak juga merasakan hal yang sama. Kakak yakin dia bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik. Soal cinta, seiring perjalanan waktu..kalian pasti akan bisa menerimanya satu sama lain suatu hari nanti.." Nathan berpesan.
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.