Favorite Sin

Favorite Sin
PROBLEMS HAVEN'T BEEN SOLVED


__ADS_3

AUTHOR POV


"Fyuhhh...akhirnya bisa lolos..deg-degan banget Kak!" Arga mengusap peluh keringatnya yang menetes di pelipis.


Adrian membalas dengan senyuman tipis.


"Kamu sudah harus mulai terbiasa Arga! Kejadian seperti ini enggak akan sekali dua kali terjadi. Mengingat reputasi keluarga kita yang cukup berpengaruh, pasti akan ada banyak bahaya yang menghadang."


"Tadi kenapa kita enggak minta bantuan sama bodyguard Kakak aja? Katanya mereka ada banyak..tapi malah kita yang kerepotan melawan sendiri!"


"Para bodyguards Kakak alihkan untuk bergerak menyelamatkan keluarga besar kita yang tersandera di ruang tengah. Tadinya Kakak tidak perduli, tapi kalau dipikir-pikir...mereka semua harus selamat. Kakak masih membutuhkan mereka dalam keadaan hidup-hidup."


Arga sudah menduga, kalau kakaknya itu pasti memiliki sesuatu terselubung dibalik usaha penyelematan keluarga besar mereka. Selama ini, Adrian dikenal begitu membenci adik-adik Papa Alan dan sepupu-sepupunya sendiri. Bagi Adrian, mereka semua tak lebih dari orang-orang yang bermuka dua dan penjilat.


"Memang apa yang kakak butuhkan dari mereka?"


"Tanda tangan. Kakak masih butuh tanda tangan mereka untuk balik nama atas kepemilikan saham Natadipura Group."


Arga tersentak dan menoleh cepat.


"Jadi Kakak sudah mulai berubah pikiran dan memutuskan untuk mengambil kepemilikan saham Natadipura Group?" Arga memicingkan matanya curiga.


Sebelumnya, Adrian selalu menolak mentah-mentah apabila diajak membahas hal-hal yang berkaitan dengan Natadipura Group. Arga penasaran, apa yang mendasari Adrian merubah pikirannya.


"Iya, bukankah itu hak Kakak? Papa sudah memberiku lampu hijau Jadi sah-sah saja kan..kenapa kaget?"


"Kakak memang berhak..hanya saja aku kaget karena ini mendadak. Biasanya Kakak bersikap acuh tentang Natadipura Group. Kenapa sekarang berubah?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri," jawab Adrian penuh teka-teki.


"Selalu aja penuh misteri!" kesal Arga.


Setengah jam berlalu, mereka akhirnya tiba juga di penthouse milik Adrian. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Ray dan beberapa bodyguards yang sedang berjaga-jaga di area lobby.


"Malam, Pak Adrian..." Ray memanggil sembari menunduk hormat.


"Malam Ray, semuanya aman kan?" tanya Adrian yang baru saja keluar dari mobil.


"Aman terkendali, semua keluarga anda telah berkumpul di penthouse yang ada di lantai 25. Kami telah berhasil membekuk 5 orang anak buah Galih, mereka ada di markas sekarang. Setelah ini, kami akan interogasi mereka," terang Ray.


"Kerja bagus! Oh ya..tadi saya kesini naik mobil anak buahnya Galih, bukan mobil yang sudah kamu siapkan. Besok, saya mau kamu bongkar mobil Rubicon itu. Cari chip tersembunyi didalamnya, atau temukan barang apapun yang sekiranya mencurigakan. Besok pukul 1 siang, semua harus selesai. Sanggup?"


Ray menyanggupi perintah Adrian. "Baik Pak, saya akan langsung proses dan mengkoordinasikannya pada bawahan kita."


"Okay, saya naik dulu keatas. Nanti kalian akan saya beri bonus atas kerja yang bagus hari ini."

__ADS_1


"Terima kasih Pak Adrian," sahut mereka bersamaan.


Adrian dan Arga pamit undur diri dan segera naik menuju lantai penthouse dimana keluarga mereka berada.


Tringg.......


"Ahh...Pah, akhirnya mereka datang!" Mama Diana beranjak dari sofa dan berjalan cepat menghampiri Adrian dan Arga.


"Kalian baik-baik aja kan?" Mama Diana menangkup pipi keduanya berbarengan.


"Cuman luka sedikit ajah Mah..biasa.." jawab Arga santai. "Ini, aku udah ambil tas punya Mama, Fio, dan Athena. Semua barang-barang penting kalian sudah kumasukkan juga."


"Makasih ya sayang..." ucap Mama Diana.


Dibandingkan Adrian yang hanya terluka di bagian tangan, Arga memang agak parah karena terdapat luka lebam di pipi bekas kena pukul lawan.


Kaki Arga sedikit keseleo akibat salah posisi saat menendang kaca mobil. Sudut bibirnya juga sedikit sobek sehingga mengeluarkan darah, meski sudah kering.


"Arjuna, kamu gotong Arga ke kamar biar dia istirahat. Dan Athena, ambil kotak P3K yang ada di kabinet dapur bersih. Kalian obati luka Arga..."


"Okay Kak."


Arjuna dan Fiona membopong tubuh Arga untuk dibawa ke kamar.


Tak lama setelahnya, Nadine yang baru saja kembali dari toilet segera berlari memeluk Adrian dengan mata berkaca-kaca.


Nadine mendongakkan kepalanya lalu menangkup pipi Adrian, "Kamu baik-baik aja kan..enggak ada yang sakit kan? Bilang sama aku, mana yang sakit?"


Papa Alan, Mama Diana, dan Fiona saling menatap satu sama lain. Ketiganya cukup sadar diri kalau Adrian dan Nadine butuh privasi. Agar tidak menjadi nyamuk pengganggu, mereka memutuskan pergi ke kamar masing-masing yang telah disiapkan.


"Adrian, besok tolong jelaskan pada kami ya..tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Untuk sekarang sebaiknya kamu istirahat juga. Papa senang kamu baik-baik saja."


"Iya Pah.. aku dan Nadine permisi dulu."


Adrian menggandeng tangan Nadine dan keduanya langsung masuk kamar.


"Ini kamu habis menghajar orang ya, sampai darahnya mengering begini?" Nadine memegangi tangan Adrian dan mengusap lembut buku-buku jari Adrian yang lebam.


Adrian mengangguk dengan ekspresinya yang datar.


"Kapan semua ini berakhir, kenapa sih setiap hari kita selalu diliputi oleh rasa ketakutan? Apa para penjahat itu belum kapok? Kenapa mereka enggak dilaporkan polisi dan dimasukkan ke penjara aja?"


"Masalahnya tidak sesimpel itu. Bahkan hukuman penjara pun tak cukup membuat mereka jera. Akan terlalu mudah jalan mereka kalau langsung masuk penjara dalam waktu dekat. Hukuman yang pantas bagi itu adalah hukum rimba..siapa yang kuat dia yang menang. Yang kalah akan binasa."


"Tapi enggak harus begini juga! Mau sampai kapan? Aku itu enggak tahan kalau hampir setiap harinya melihat kamu pulang dengan keadaan seperti ini terus-menerus!" Nadine kembali menangis.

__ADS_1


"Kapan kamu bisa menangkap Galih? Ini udah jalan 3 bulan, tapi belum ada hasil! Padahal kamu janjinya 4 bulan akan beres!" lanjutnya.


Wajah cantik Nadine telah sembab dipenuhi oleh genangan air mata yang terus mengalir. Emosinya mulai menggebu-gebu melihat peliknya persoalan Galih yang tak kunjung berakhir.


"Hey, jangan menangis! Kamu tahu saya paling tidak bisa melihat seorang perempuan menangis..." Adrian segera mengelap air mata Nadine yang tumpah di pipi.


"I'm just worried about our safety," lirih Nadine pelan.


"Aku janji akan membereskan ini semua secepatnya. Besok aku akan memajukan keberangkatan Papa dan Mama serta adik-adik ke Los Angeles. Sebaiknya kamu juga ikut dengan mereka karena malamnya aku harus terbang menuju Rio de Janeiro."


"Brazil? Untuk apa kamu pergi kesana? Kenapa aku enggak ikut kamu..aku enggak mau ya kita pisah!"


"Nad, ini demi keselamatan kita semua. Terlalu berbahaya kalau kamu ikut denganku!"


"No..aku ikut kamu! Persetann dengan semua bahaya yang menghadang, I don't care!! Apa yang kamu sembunyikan..kamu belum jawab pertanyaanku tentang kenapa kamu harus ke Rio??!!" Nadine menggoyangkan bahu Adrian menagih jawaban.


"Lokasi terakhir Galih dan David ada disana. Aku menargetkan diri untuk menangkap mereka dalam minggu ini. Untuk misi peledakan perusahaan Papa yang dirancang Galih jauh-jauh hari, semua telah teratasi. Aku dapat pesan dari Ray kalau tim-ku ternyata berhasil menjinakkan bom tersebut, di jam yang sama ketika anak buah Galih menyergap."


"Apa mungkin ini berhubungan ya...karena mereka tahu kamu sudah menjinakkan bom-nya, Galih langsung menjalankan plan B nya!" seru Nadine.


"Tepat sekali. Maka dari itu, aku harus pergi ke Rio besok malam. Aku sudah punya rencana untuk menangkap mereka."


"Aku tetap mau ikut. Please...aku enggak bisa kalau hanya duduk manis menunggu. Karena mereka, aku kehilangan Ayahku..Adrian! Aku juga berhak kan untuk membalas dendam?" tegas Nadine yang kekeuh dengan pendiriannya.


Adrian bimbang. Dalam hati, dia ingin Nadine ikut mendampinginya ke Rio. Tapi disisi lain, ini terlalu berbahaya. Adrian tak bisa menjamin keselamatan Nadine ketika disana nanti.


"Bagaimana dengan Nathan? Aku tidak yakin dia akan setuju kamu ikut denganku! Kalau kamu ikut, Nathan pasti akan memaksa ikut juga. Sedangkan kondisi dia belum begitu membaik."


"Aku akan bicara pada Kakak besok pagi. Tolong kamu drop aku di penthouse nya ya...aku jadi boleh ikut kan?" Nadine merengek.


Adrian mengalah, tak ada gunanya berdebat dengan Nadine yang sama keras kepalanya.


"Okay, kalau Nathan mengizinkan...kamu akan pergi ke Rio bersamaku."


"Thank you.." Nadine mengecup bibir Adrian sekilas kemudian memeluknya erat.


Adrian hanya terdiam dan tak menggubris perlakuan Nadine. Entah apa yang merasuki Nadine hingga belakangan ini, dia sudah mulai berani bersikap frontal dan tak lagi malu-malu.


***


NADINE



***

__ADS_1


Mohon kesediaannya untuk memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya. Terima kasih 😁


__ADS_2