
AUTHOR POV
Nadine baru saja keluar dari penthouse Nathan setelah menghadapi perdebatan yang cukup alot. Keduanya masih sama-sama mempertahankan argumen masing-masing.
Nathan dengan ketidakberdayaan dirinya yang masih terbaring dan belum kembali dalam stamina prima, melarang keras kepergian Nadine ke Brazil. Tapi, bukan Nadine namanya kalau tidak keras kepala. Dengan atau tanpa persetujuan Nathan, dia tetap akan berangkat.
Melihat ke area parkiran, Nadine bisa melihat kalau mobil jemputan untuknya sudah ready.
"Nadine....."
Ketika Nadine membuka pintu mobil, Adrian tiba-tiba muncul dan sudah duduk manis di kursi penumpang dengan kaki yang menyilang.
"Adrian..kamu ada disini? Katanya supir kamu yang akan menjemputku?" ucap Nadine seraya masuk.
"Aku sengaja menyusul kamu kesini tanpa memberitahu dulu...urusanku sudah selesai lebih cepat dari perkiraan. Kita pergi sekarang?"
"Mobil kamu kemana?" tanya Nadine penasaran.
Biasanya Adrian lebih suka menyetir mobil sendiri, walaupun dia memiliki banyak supir yang bisa ditugaskan kapan saja.
"Dibawa sama Ray untuk servis bulanan, makanya kita pulang naik mobil ini sama supir. Aku juga sedang malas menyetir!"
Adrian kemudian memerintahkan supirnya untuk segera jalan.
"Gimana soal perbincangan kamu sama Nathan? Semua berjalan dengan lancar?" tanya Adrian.
"Hmm..enggak semudah yang aku pikir, Kak Nathan masih enggak setuju kalau aku ikut kamu ke Rio.." Nadine mengerucutkan bibirnya.
"Benar kan dugaanku, Nathan tidak mungkin mengizinkan kamu untuk ikut. Sebelumnya aku juga sudah menyarankan kamu untuk pergi ke LA sama keluargaku, tapi kamu menolak."
"Berapa kali harus aku bilang sama kamu, I don't care..aku akan tetap ikut kamu ke Rio!" ketus Nadine yang kini pandangannya beralih menatap keluar kaca jendela.
Adrian hanya bisa menggeleng-geleng.
"Loh, ini kita mau kemana? Arah balik ke mansion kamu kan belok ke kanan?!" pekik Nadine.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat!"
"Kemana? Tumben banget...kita belum berkemas lho!"
Niatnya, pulang dari penthouse Nathan, Nadine hendak mengepaki barang-barang bawaan yang ingin diboyong ke Brazil. Nadine adalah tipe wanita yang heboh ketika diajak travelling. Dia selalu ingin sempurna kalau packing.
"Aku sudah bilang kan, bawa barang yang simple aja! Baju tidak perlu semuanya dibawa, bisa beli disana nanti!"
Nadine akhirnya mengalah.
1 jam terlewati, Adrian memberhentikan mobilnya di sebuah beach house yang letaknya cukup jauh dari kota dan keramaian.
Suasananya teduh sekali. Bau air laut yang kentara dapat tercium dengan jelas. Semilir angin yang berhembus kencang membuat rambut panjang Nadine berterbangan. Dress yang dikenakan Nadine juga sedikit tertiup keatas.
"Ayo ikut aku..." Adrian menggandeng tangan Nadine untuk masuk ke dalam beach house.
__ADS_1
"Beach house ini punya kamu?" tanya Nadine sembari mengedarkan pandangannya menatap interior rumah.
"Iya. Aku baru membelinya sebulan yang lalu," jawab Adrian.
Adrian kemudian melangkahkan kakinya menuju mini bar untuk mengambil minuman dingin, sedangkan Nadine mendudukkan diri di sofa empuk.
"So, kita mau ngapain kesini?" ucap Nadine yang mengambil bantal kecil untuk diletakkan diatas pangkuannya.
"Tidak tahu," balas Adrian datar.
"Kalau enggak tahu kenapa kamu ajak aku kesini? Tujuannya apa?" Nadine mengerutkan alisnya.
"Ya aku memang tidak tahu, aku hanya ingin mengajakmu kemari..itu saja. Memang harus ada alasannya?" ketus Adrian seraya menghampiri Nadine dan menaruh segelas jus jeruk diatas meja.
"Ya, barangkali kamu ada sesuatu yang mau dibicarakan sama aku gitu?" kata Nadine sembari memainkan jari-jarinya.
Adrian tak menyahuti lagi dan memilih untuk meneguk minumannya, lalu mengarahkan penglihatannya menatap laut lepas.
Di sebelahnya, Nadine memiringkan tubuh dan menopang dagunya untuk menatap Adrian secara intens. Dilihat dari dekat seperti ini, Adrian semakin terlihat tampan bagi Nadine.
"Jangan menatapku seperti itu!" sentak Adrian hingga membuyarkan lamunan Nadine.
Adrian tidak nyaman ketika ada seseorang yang menatapnya dalam-dalam, sekalipun itu Nadine--istrinya sendiri.
"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu, Adrian?" ucap Nadine dengan hati-hati.
Keduanya terdiam sejenak. Suasana berubah menjadi hening. Yang ada hanya suara deburan ombak yang menabrak karang mengisi kekosongan mereka.
"Apa yang sedang kita berdua lakukan?" lirih Nadine.
"Duduk. Di beach house," Adrian menaikkan kedua bahunya.
Nadine menggeleng, "That's not what I meant...maksudku, hubungan apa yang sedang kita jalani saat ini?"
Nadine menjeda ucapannya sejenak.
"Kita sudah saling mengenal sejak 4 bulan lalu, saat kita pertama kalinya bertemu. Dan tak terasa, selama 3 bulan lamanya..kita terikat dalam pernikahan..."
"Sudah banyak hal yang kita lewati bersama. Meski diawal pernikahan kita berdua sama-sama canggung dan seperti orang asing, aku merasa sekarang semuanya berbeda. Hubungan kita mulai membaik bukan? Kita sudah saling nyaman, bahkan kita juga melakukan hubungan suami ist---"
Adrian menoleh Nadine sekilas dan memotong ucapannya, "Aku tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu Nadine..jangan bertele-tele!"
Nadine menghela nafasnya, "Pertanyaanku simple, apa kamu mau memberi kesempatan pada pernikahan kita?"
Deghhh....
Seketika tubuh Adrian membeku. Lidahnya terasa kaku tak tahu harus berbicara apa. Adrian tak memiliki jawaban atas pertanyaan Nadine. Terbersit sebuah tanda tanya dalam benak Adrian, ada gerangan apakah yang membuat tiba-tiba bertanya seperti ini?
Sedangkan Nadine sendiri, entah darimana ia mendapat keberanian untuk lancang bertanya mengenai topik yang membuat Adrian sensitif. Yaitu, cinta. Nadine merasa, hubungannya dengan Adrian sudah ada perkembangan. Tapi disisi lain, timbul perasaan hampa disana.
__ADS_1
Sejujurnya, sejak lama Nadine penasaran ingin membahas tentang kejelasan hubungan mereka berdua. Semakin kesini, Nadine semakin terbawa perasaan kala berada disamping Adrian terus menerus. Pertemuan intensif antara keduanya yang hampir setiap hari, membuat Nadine mustahil jika tidak jatuh cinta pada sosok Adrian.
"Bukankah semuanya sudah jelas dalam kontrak? Dari awal, aku sudah mewanti-wanti kamu untuk tidak mencampur adukkan perasaan pribadi ke dalam perjanjian kita! Setelah 2 tahun kita menikah, kita akan berpisah. Itu kesepakatannya!" Adrian mulai meninggikan suaranya.
"Lalu bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur melakukan hubungan suami istri! Itu tidak ada di dalam kontrak, tapi kita telah melanggarnya Adrian!" balas Nadine tak mau kalah.
"Itu tidak akan mengubah apapun..kita melakukannya juga atas dasar suka sama suka! Lalu kenapa kamu menuntutnya?
"Bagaimana jika aku hamil?" Nadine mengutarakan kekhawatirannya.
Saat melakukan penyatuan, Adrian tidak pernah menggunakan pengaman. Nadine juga tidak mengkonsumsi pil pencegah kehamilan atau memasang alat kontrasepsii. Itulah sebabnya Nadine ingin kepastian.
"Kamu tidak akan hamil!" ucap Adrian dengan penuh penekanan.
"Itu mungkin saja terjadi...kita sering melakukannya! Dan saat kita bercintaa, kamu bahkan enggak pakai pengaman..akupun juga enggak KB, so that's possible!" Nadine mendebat.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan sekarang?" tantang Adrian.
Nadine menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya,
"Bisakah kita melupakan semua kontrak itu dan memulai hidup yang baru? Kita start dari 0, membina rumah tangga yang selayaknya tanpa bayang-bayang kontrak 2 tahun itu."
Adrian meringis tak suka, "Aku tidak ingin mengingkari kesepakatan yang kita buat diawal. Aku ingin konsisten pada pendirianku."
"So what Adrian? Sudah banyak janji yang kamu ingkari! Kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu pernah bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, nyatanya kamu menikahi aku kan? Jadi apa bedanya?"
"Maka dari itu, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama!" Adrian masih keras kepala.
"Apa selama kita menghabiskan waktu bersama, kamu tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda Adrian? Apakah tidak ada sedikit benih-benih cinta diantara kita?" mata Nadine mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah mencintai dan tidak ingin dicintai juga," Adrian mengalihkan pandangannya. Dia tidak sanggup melihat Nadine menangis.
Nadine mendekat pada Adrian dan menangkup wajahnya lembut.
"Just look at me...look into my eyes..." lirih Nadine yang mengusap lembut wajah Adrian.
Adrian menunduk dan melepaskan kedua tangan Nadine yang ada di pipinya.
"Kita pulang sekarang! Besok pagi kita sudah terbang ke Rio, kamu bilang kamu mau packing? Aku tunggu di mobil.."
Adrian segera beranjak dan mengacuhkan Nadine yang masih termenung di sofa, meratapi apa yang baru saja terjadi.
"Hikss..."
Nadine terisak. Pada akhirnya, tangisannya pecah juga. Hatinya sakit setelah mendapat penolakan dari Adrian. Sebegitu tidak berharganya kah Nadine sehingga Adrian tak mau memberi pernikahan mereka kesempatan untuk bahagia?
***
Jangan lupa untuk kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya teman-teman..supaya Author lebih semangat untuk up nya 😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm Coming", di aplikasi ini juga kok. Terimakasih.
__ADS_1