Favorite Sin

Favorite Sin
PREGNANT AGAIN?!


__ADS_3

AUTHOR POV


"Are you okay?" Adrian mengamati wajah istrinya yang terlihat lemas dan pucat.


Sebelum berangkat ke pantai tadi, sebenernya Adrian sudah tidak feeling dengan kondisi tubuh Nadine yang tampak mengkhawatirkan. Berhubung Nadine kekeuh untuk tetap pergi, akhirnya Adrian mengalah saja.


"I'm okay.." jawab Nadine lirih.


"Tapi kamu tidak terlihat seperti orang yang sedang baik-baik saja."


"No, I'm okay sayang..." sekali lagi Nadine meyakinkan sang suami bahwa kondisinya tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dirisaukan.


"Kamu yakin? Muka kamu pucat begitu. Kita pergi rumah sakit aja ya, periksa ke dokter yuk!" ujar Adrian sedikit memaksa. Tangan Nadine digenggam erat, hendak diajak bangkit dari duduk santainya pada tikar diatas tumpukan pasir pantai yang hangat.


"Ishh..lebay banget deh! Padahal aku enggak kenapa-napa ini. Mungkin ini kelihatan lemas karena efek semalam aku kurang tidur aja."


"Ckk! Apanya! Tadi aku lihat kamu muntah-muntah dan mual lho sebelum kesini. Kamu sih bebal sekali kalau dibilangin. Inilah alasan kenapa aku maju mundur dari tadi mau ngajakin pergi ke pantai. Kamu sedang tidak fit, tapi maksa untuk pergi." Adrian sedikit emosi karena kekeras-kepalaan Nadine. Susah sekali diberi tahu. Padahal Adrian pun juga wataknya sebelas dua belas.


"Ya habis gimana dong masa batal ke pantainya! Senin kan kamu udah mau berangkat. Enggak ada waktu lagi buat kita quality time kalau bukan hari ini."


"Benar juga sih, tapi kan paling tidak minimal kita bisa bikin piknik ala-ala saja di halaman rumah. Tidak perlu keluar-keluar begini. Takutnya kamu malah sakit kena angin pantai begini." omel Adrian panjang lebar.


Kebetulan akhir-akhir ini cuaca memang sedang tidak menentu. Kadang berangin, mendung, panas, tiba-tiba gerimis, dan kembali panas lagi. Cukup labil bukan?


"Stop ih ngomel-ngomelnya! Kamu enggak lihat apa ini anak-anak pada seneng main pasir. Bosan kali kalau mainnya hanya di seputaran mansion. Ya walaupun tempat tinggal kita besar dan luas tetep aja, Kian dan Kai butuh untuk melihat dunia luar dan main-main di alam bebas kayak begini." Nadine balik mencerca Adrian yang dimatanya bersikap berlebihan.


Kian dan Kai memang sedang asyik bermain dengan cetakan-cetakan mainan pasir milik mereka yang merupakan hadiah dari Arga, adik Adrian yang paling jahil itu.


Kedua bayi gemas itu malah fokus tengkurap kemudian duduk, balik tengkurap lagi diatas tikar. Kemudian sibuk bermain melempar dan meremas-remass butiran pasir. Mengabaikan kedua orangtuanya yang tengah bersitegang. Anak kecil mana tahu urusan orang dewasa.


Tentunya kegiatan si kembar gembul tersebut tak luput dari pantauan Nadine juga Adrian. Meski sedang berdebat, pandangan keduanya tidak akan lepas mengawasi Kian dan Kai. Takut kalau keduanya memakan pasir sembarangan.


Apalagi bahaya kalau mereka sampai merangkak mendekat pada tepi pantai. Kian dan Kai ini sama-sama penyuka air. Di mansion mereka saja setiap dua kali dalam seminggu suka berenang bersama Adrian. Tentunya dengan menggunakan pelampung leher.


"Iya aku mengerti. Tapi sepulang dari pantai kita harus tetap ke rumah sakit untuk check up. Tidak ada bantahan. Sebentar lagi aku akan berangkat ke Vegas, dan aku akan semakin tidak tenang meninggalkan kamu yang sakit di rumah."

__ADS_1


"Makanya kamu enggak usah pergi...stay di rumah aja sama aku dan twins!" bujuk Nadine memelas.


"Hmm, mulai lagi kan dramanya. Mana bisa begitu. Ada-ada saja kamu." Adrian mencolek ujung hidung Nadine.


Adrian mulai mengerti pola rayuan gemas ala Nadine. Ujung-ujungnya istrinya ini pasti berat melepasnya pergi ke Vegas. Padahal semua ini ia lakukan demi meringkuk Kelvin supaya penjahat itu tidak bebas berkeliaran lebih lama.


"Keputusan aku sudah final. Satu jam setengah lagi kita udahan main di pantainya terus ke rumah sakit untuk check up kesehatan kamu. Meski hawanya dingin tapi mataharinya sudah naik dan lumayan terik. Jangan sampai Kian dan Kai gosong kepanasan."


Mengingat kulit si kembar yang cukup sensitif, Nadine mengangguk setuju saja. Kedua anak laki-lakinya itu memang tidak bisa lama-lama terpapar sinar matahari. Suka timbul ruam merah kalau terlalu lama main diluar.


Itu sebabnya sekarang kolam renang, taman, dan segala spot bersantai yang ada di mansion megah mereka kini dilengkapi dengan atap atau kanopi diatasnya.


"Oh ya, karena Senin aku sudah berangkat. Nanti kamu datang ke acara nikahan temanmu itu biar ditemani Arga atau Arjuna saja ya. Fiona dan Athena sedang sibuk. Kalau dua berandal itu kebetulan sedang free. Awas kamu berangkat sendirian! Aku sentil nih.." Adrian mengusulkan alternatifnya karena dia tidak bisa menemani.


Beberapa hari yang lalu Nadine menerima undangan resepsi pernikahan dari rekan kantornya dari perusahaan lama tempat dia bekerja dulu. Lumayan akrab juga dengan yang bersangkutan, sehingga tidak enak kalau tidak hadir.


"Iya ya! Aku malah lupa lho kalau enggak kamu ingatkan! Untung deh..makasih sayangku!" Nadine mencubit gemas kedua pipi Adrian.


"Pokoknya kemanapun mau pergi harus dengan pengawasan bodyguard kita. Izin sama aku kalau mau keluar rumah sama twins. Handphone harus selalu aktif, GPS jangan sampai mati. Bawa power bank kemanapun biar tidak ada alasan baterai habis. Aku paling sebal kalau kamu sulit dihubungi!" ucap Adrian panjang lebar.


Ditambah lagi dengan kesibukan mengurus anak tanpa bantuan pengasuh, semakin sibuk saja dirinya. Bahkan handphone miliknya sering menganggur.


"Iya sayangku..duh bawel banget sih ini si ganteng! Aku juga enggak mungkin membahayakan keselamatan aku sama anak-anak. Tentu pakai bodyguard kalau mau jalan-jalan."


"Bagus kalau sadar diri. Soalnya kamu kan suka ngeyel kalau disuruh pergi sama pengawal. Yang katanya risih lah, ribet lah, padahal demi keamanan." gerutu Adrian yang disambut gelak tawa Nadine.


Kalau sudah mode protektif gini Adrian memang garangnya luar biasa. Tegas tapi bikin gemas juga dimata Nadine.


"Oh ya satu lagi, sebaiknya kalau kamu pergi ke acara nikahan itu twins jangan dibawa deh. Titipkan pada Mama saja. Acara resepsi gitu kan biasanya lama, kamu pasti juga ingin me time dengan teman-teman lama. Lagipula aku juga tidak suka pipi Kian dan Kai dipegang sama orang asing. Tangan mereka tidak higienis bikin iritasi nanti."


Nadine manut saja, mengiyakan permintaan Adrian daripada suaminya itu semakin mengomel. Meskipun yang dikatakan Adrian ada benarnya. Membawa si kembar ke acara nikahan di malam hati itu bukan suatu hal yang bijak. Mereka masih bayi yang mana seharusnya tidur tenang di rumah.


Suara hingar bingar dan sound pesta yang tentunya meriah dan menggelegar berpotensi membuat twins rewel apabila diajak.


"Acaranya tanggal berapa sih itu resepsi teman kamu? Nanti biar Ray aku suruh arrange pasukan pengamanan buat kamu." tanya Adrian sekali lagi.

__ADS_1


"Lupa, sebentar aku cek di handphone. Kalau enggak salah aku foto kok tanggal, hari, dan lokasi tempat pestanya."


Nadine mengorek-ngorek isi tasnya untuk mengambil gawai miliknya. Setelah dapat, diusapnya layar lock screen dan dibukanya file galeri.


Dalam undangan tertera tanggal 19 Juni, yang berarti 2 hari lagi.


Tapi tunggu dulu. Tanggal 19? Jika lusa adalah tanggal 19 berarti sekarang tanggal 17.


"Sayang... sekarang tanggal 17 yah?" tanya Nadine dengan raut wajah paniknya. Mendadak tubuhnya keringat dingin dan bibirnya semakin memucat.


"Iya sekarang tanggal 17. Memangnya kenapa kamu kelewatan tanggal acaranya?" tanya Adrian penasaran.


"B--bukan.."


"Terus kenapa? Kamu kok jadi diam panik begitu? Jangan bikin orang kepikiran."


"Itu..itu...ak--aku.."


"Kenapa sih? Kok ngomongnya terbata-bata begitu?!" Adrian semakin mendesak Nadine, menuntut penjelasan wanitanya itu.


"Aku telat."


"Telat apa? Telat kelewat tanggal acaranya? Kalau begitu ya sudah tidak apa-apa. Kirim hampers atau bingkisan saja ke rumah teman kamu itu. Bilang maaf karena tidak bisa datang sebab lupa tanggal."


"Ishh bukan soal resepsi. Tapi aku telat datang bulan!!" sentak Nadine yang membuat keduanya sama-sama kaget.


Adrian sampai membelalakkan mata saking tercengangnya.


Hening.


Tanpa suara.


Hanya terdengar irama deburan ombak serta suara gemas ala-ala bayi yang keluar dari mulut si kembar.


Fakta yang diucapkan Nadine meninggalkan keterkejutan. Nafas Adrian rasanya tercekat. Suaranya merintih terbata-bata. "Kk--kamu..."

__ADS_1


"I think I'm pregnant again..." lirih Nadine.


__ADS_2