
...NADINE...
Sudah terhitung 2 minggu lamanya usia pernikahanku dengan Adrian. Sejauh ini semuanya masih lancar-lancar saja dan tidak ada perubahan yang signifikan. Komunikasi diantara kami tetap berjalan, meski kami jarang bertemu. Sesekali dia ada di rumah, aktivitas yang dilakukannya hanya sekedar makan atau mandi..lalu pergi lagi.
Aku tidak berani bertanya pada Adrian tentang urusan apa yang membuatnya jarang ada di rumah. Bahkan soal flashdisk dan hardisk Ayah yang sudah dipegang Adrian pun aku tidak bertanya apa isinya. Melihat wajah Adrian yang mood nya selalu naik-turun membuat nyaliku ciut untuk sekedar berbasa-basi.
Soal Adrian yang jarang pulang, aku yakin ada kaitannya dengan pekerjaan. Aku bisa memaklumi itu. Dia kan berprofesi sebagai seorang bodyguard sekaligus kaki tangan bos besar yang membuat tenaga Adrian dibutuhkan 24/7. Tentunya kemanapun atasannya itu pergi dia akan ikut mengekor di belakang.
TOKKK..TOKK...TOKK
Ketukan pintu depan terdengar oleh telingaku. Tubuh dan mataku masih terjaga meski jam sudah menunjukkan pukul 11 malam karena aku terlalu asyik membaca buku sastra koleksi Ayah.
Siapa yang bertamu malam-malam begini?
Apa itu Adrian? Tapi rasanya tidak mungkin. Baru tadi sore pria dingin itu mengabariku bahwa dia tidak akan pulang ke rumah. Jikalau dia pulang sekalipun, maka tak perlu repot-repot mengetuk pintu. Adrian punya kuncinya sendiri, jadi biasanya langsung masuk. Hal yang sama berlaku pada Ray.
Aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan meletakkan buku sastra yang sedang kubaca diatas nakas. Dengan memakai piyama pendek dan sandal tidur bulu sebagai alas kaki, aku bergegas menuju pintu depan.
Sebelum aku membukanya, aku akan mengecek terlebih dahulu lewat lubang pintu kecil yang terpasang. Hasilnya? tidak ada siapa-siapa diluar. Lalu siapa yang mengetuk? Telingaku masih normal. Pendengaranku juga tajam, jelas-jelas tadi ada suara ketukan pintu.
TOKKK..TOKK...TOKK
Suara itu muncul kembali. Tapi kali ini bunyinya dari arah pintu belakang. Ada apa ini? Apa mungkin ada setan? Atau jangan-jangan ada orang iseng yang sengaja menjahiliku malam-malam begini. Tapi untuk apa?
TOKKK..TOKK...TOKK
Ketukan pintunya semakin kencang sekarang. Hal ini semakin membuatku bergidik ngeri karena aku sedang sendirian disini. Rumah tetangga juga jaraknya jauh antar rumah, dan aku tak terlalu akrab dengan mereka.
Tak mau berpikir panjang, aku segera kembali ke kamar untuk mencari handphone ku. Aku akan menghubungi Adrian atau Ray dan meminta mereka untuk pulang. Ditengah kepanikan yang melandaku, aku mendial nomor Adrian dan berharap dia akan mengangkatnya.
__ADS_1
Tapi ternyata, panggilan teleponku tidak digubris oleh keduanya. Nomor mereka tidak aktif. Kemana saja dua orang itu? Aku jadi semakin takut.
TOKKK..TOKK...TOKK
TOKKK..TOKK...TOKK
Ahhh...suara itu tidak hilang-hilang juga! Jumlah ketukannya bertambah cepat sekarang.
Hanya berbekal nyali sebesar 10% dan tongkat pel di tangan, aku mencoba untuk memberanikan diri membuka pintu belakang. Tempat dimana suara itu berasal.
Tanganku mendadak gemetar saat aku hendak membuka kuncinya. Ketika aku memutar knob pintu dan keluar dengan langkah mengendap-endap...aku melihat pria tinggi dengan tubuh tegap yang memakai hoodie dan wajahnya tertutup kain hitam.
"AAAAAHHHHHHH!!!!" aku berteriak kaget melihat orang asing itu.
Tak sempat memberikan perlawanan karena terlampau kaget, pria itu langsung membekap mulutku dan membawaku masuk ke dalam rumah. Tubuhku terkunci karena pelukannya yang erat.
Tak hilang akal, aku menyikut perutnya dengan tanganku dan menggigit telapak tangannya sekencang mungkin. Akhirnya tubuh kami terlepas.
"Awhhhhhh...shttt..sakit!!!" pria itu meringis.
"K-k-kamu siapa?! Jangan berani dekat-dekat...!!" tongkat pel yang sempat terjatuh tadi kuambil lagi dan ku todongkan ke arahnya.
Tanpa disangka-sangka, pria itu membuka penutup kain yang menutupi wajahnya dan menarik ke belakang kupluk hoodie di kepalanya.
"Adrian..????"
"Iya..ini saya."
Pria yang tadinya kupikir adalah seorang penjahat ternyata Adrian.
__ADS_1
"Astaga...aku kira siapa...bikin takut aja!! Lagian kamu ngapain sih pakai dandanan begini, hitam-hitam udah kayak penjahat aja!"
"Saya tadi sedang menyamar..makanya terpaksa begini!!"
"Kamu kan pegang kunci rumah, kenapa enggak dipakai?"
"Panjang ceritanya..."
Adrian masih terdiam kaku berdiri di tempat. Aku menatapnya sungguh-sungguh dari atas sampai bawah. Penampilannya kali ini sungguh berbeda. Rambutnya agak sedikit acak-acakan..dan...darah...
Darah segar terlihat mengucur dari perutnya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat atasan piyamaku di bagian punggung. Disitu nampak jelas, ada noda darah yang mengecap. Pasti itu berasal dari Adrian, karena dia sempat membekap tubuhku.
"K-k-kamu berdarah..kenapa?" aku mendekat kearahnya dan mengusap kedua lengannya. Sungguh, aku baru menyadari jika sedari tadi ia memegangi kain untuk menyumpal darah di perutnya agar tidak keluar lebih banyak.
"Hanya luka kecil..kamu bantu aku untuk ambil kotak P3K..ada disana!" Adrian menunjuk laci storage dekat meja makan. Aku mengangguk menuruti perintahnya dan segera mengambil kotak obat itu.
Jujur, saat aku melihat darah..tubuhku langsung menegang seketika. Entah kenapa, rasanya ini seperti deja vu. Saat aku melihat noda darah di tubuh Adrian, yang ada di bayanganku adalah Ayah. Karena terakhir kali aku melihat darah..aku kehilangan Ayah...
"Nad...?!!"
Panggilan Adrian membuyarkan lamunanku.
"M-m-maaf..aku hanya bingung dan enggak tahu harus apa..".ucapku terbata-bata. Tanpa sadar, aku menitikkan air mata. Aku jadi emosional.
"Berikan kotak P3K nya, saya bisa obati luka ini sendiri..." ucap Adrian.
Melihat wajah Adrian yang pucat pasi dan terduduk lemas, jelas tidak mungkin dia bisa mengobati lukanya sendirian.
"Boleh aku yang membantu..?"
__ADS_1