Favorite Sin

Favorite Sin
LONG TALK


__ADS_3

AUTHOR POV


"Oh ya, katanya kamu ajak aku kesini karena ada sesuatu yang mau diomongin kan? What is it?" Nadine mengarahkan pandangannya ke Adrian.


"Hardisk milik Ayahmu sudah berhasil diretas dan dibuka kodenya. Jadi nanti malam, saya akan mengadakan rapat via video conference membahas mengenai hal itu. Saya mau kamu ikut dalam forum?" jelas Adrian to the point.


"Okay, bukan masalah...aku akan join dalam rapat itu. Ada lagi?"


"Kamu tahu kan kalau Ayah dari mantan kekasihmu itu ikut serta menjadi dalang dibalik penculikan terhadap kakakmu? Bahkan beliau lah yang mendanai Galih untuk membeli persenjataan terlarang."


Nadine mengerutkan keningnya, "Iya aku masih ingat akan hal itu. Hubungannya apa?"


Tidak mungkin Nadine melupakan dua orang yang jahat, culas, dan licik itu, karena mereka telah merenggut Harun dari Nadine dan membuat Nathan terluka.


"Baik Galih maupun David, keduanya akan melancarkan aksi kejahatan mereka lagi untuk yang kedua kalinya. Yang mereka incar kali ini adalah keluargaku. Minggu depan mereka akan melakukan pengeboman besar-besaran di kantor perusahaan Papa."


Nadine tersentak kaget hingga ia menutup mulutnya tak percaya. "Kamu serius sama ucapan kamu?"


Adrian mengangguk, "I'm being serious."


"Apa Papa dan Mama tahu soal ini? Adik-adik kamu bagaimana, apa mereka tahu juga?" seketika Nadine menjadi panik.


Cukup sudah Nadine kehilangan Ayahnya dan hampir saja ia juga kehilangan Nathan. Kini Nadine tak mau ada korban-korban selanjutnya. Apalagi Nadine mulai dekat dengan keluarga Adrian meski hanya beberapa kali bertemu.


"Tidak ada satupun dari mereka yang tahu rencana saya, Nadine."


"Kenapa begitu? Kalau kamu kasih tahu, mereka bisa antisipasi..ini kasus yang serius Adrian!!"


"Itu sebabnya saya minta bantuan kamu lagi. Bantu saya untuk mengalihkan perhatian mereka, dengan dalih kita akan memberi mereka tiket liburan ke Los Angeles."

__ADS_1


"Kenapa harus aku? Bukannya aku keberatan sih, hanya saja..kenapa aku?" selidik Nadine penasaran.


"Kalau aku yang kasih, mereka pasti akan langsung curiga. Karena Papa itu tahu gimana pergerakanku yang ingin membalas dendam pada Galih dan David. Dengan aku kasih tiket liburan ke mereka, nanti Papa akan otomatis ngeh kalau aku sengaja mengalihkan perhatiannya."


Adrian tahu betul bagaimana tabiat Papanya selama ini. Alan selalu mengawasi gerak-gerik Adrian dalam melancarkan aksi balas dendamnya pada Galih dan David.


Berulang kali Alan mencoba menghentikan Adrian untuk berbuat jauh, namun semua itu dihiraukan. Adrian tetap teguh dalam pendiriannya untuk memberi pelajaran pada Galih dkk sambil bermain-main dengan mereka. Adrian tidak mau rencananya kali ini gagal.


"Apa aku bisa meyakinkan keluarga kamu?" Nadine tidak percaya diri untuk dapat membujuk keluarga Adrian.


"Nad, keluargaku bahkan lebih sayang sama kamu daripada aku. Mereka akan lebih percaya kalau kamu yang menghasut mereka."


"Okay, I'll do it...aku akan ikut dalam sandiwara kamu. Tapi Adrian, bukankah lebih bijak kalau kamu jujur sama mereka?"


Bagi Nadine, menutupi masalah sebesar ini dari keluarga Adrian bukanlah tindakan yang tepat.


"Saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan Nad, kamu hanya cukup mengikuti arahan saya."


"That's even better." Adrian lega Nadine mau mengikuti perintahnya.


Keduanya kini mengalihkan pandangan mereka satu sama lain. Adrian fokus menghadap pada taman danau, sedangkan Nadine menatap langit-langit yang berawan.


"Selain itu, saya juga ingin membahas tentang apa yang terjadi diantara kita berdua kemarin malam," Adrian menjeda ucapannya sejenak. "Saya harap tidak ada yang berubah dari kita Nad."


Nadine terhenyak sejenak. Memori akan kegiatan panas mereka semalam, seketika datang sekelebat di kepalanya. Memori indah tersebut masih terekam dengan jelas dalam ingatan Nadine.


Mengapa dikatakan indah? Karena dalam pertama kalinya, Nadine merasa jika ia itu dicintai. Memori akan pengalaman pertama bagi Nadine yang sudah kehilangan mahkota berharganya. Sentuhan lembut Adrian mampu membuatnya terbuai dan melupakan kegelisahan dalam jiwanya.


"Tidak ada yang berubah? Bagaimana maksudnya?"

__ADS_1


"Kita berdua sama-sama tahu apa yang sudah terjadi semalam. Kita sudah melakukan hubungan suami-istri yang melanggar kontrak bukan?"


Ahh..ya..kontrak pernikahan! Nadine bahkan lupa kalau keduanya terikat akan kontrak pernikahan konyol yang dibuat oleh Ray satu setengah bulan yang lalu.


"Saya harap tidak ada yang berubah setelah kejadian itu. Dengan kata lain, kita harus tetap kembali pada jalur awal, yaitu berpacu pada kontrak yang telah disepakati."


Degghh....


Yang diucapkan Adrian tidak salah. Kontrak pernikahan mereka memang mutlak diatas segalanya. Tapi entah kenapa, ada sedikit kenyerian dalam hati Nadine setelah mendengar Adrian yang tampak tak peduli bahkan terkesan acuh akan malam penyatuan pertama yang mereka lalui.


"Saya harap kamu tidak tersinggung! Apa yang kita lakukan kemarin adalah sesuatu yang terjadi atas dasar suka sama suka. Saya tidak memaksamu, bahkan saya sudah memberimu pilihan waktu itu.." ucap Adrian yang tak berani menatap mata Nadine.


Adrian takut jika dia akan lemah begitu melihat wajah memelas Nadine. Bohong kalau Adrian tak menikmati malam percintaan mereka kemarin. Hanya saja, Adrian berusaha keras untuk menampik hal tersebut. Dia tak mau Nadine terlalu terikat padanya, karena Adrian takut terjerembab dalam perasaan yang tak seharusnya ia rasakan.


"Aku mengerti.." lirih Nadine.


Sekuat mungkin, Nadine mencoba untuk tegar meski hatinya remuk. Rasanya dia jadi tak ingin lagi membahas tentang peristiwa malam itu yang seharusnya berkesan.


Baik Nadine dan Adrian akhirnya sepakat untuk melupakan kejadian malam itu dan move on untuk menata rencana mereka kedepannya.


"Satu lagi Nad, kita berdua masih harus tinggal lebih lama di Turin. Mungkin beberapa hari lagi sampai kondisi kakakmu membaik. Perkiraan, kita akan kembali ke Bali pada 3-4 hari kedepan. Sekalian ketemu ke keluargaku untuk membahas tiket liburan mereka ke LA."


"Soal Kak Nathan gimana? Kita bawa ke Bali juga? Karena menurut prediksiku, belum tentu dalam 3-4 hari kedepan kakakku sudah sembuh. Sedangkan kita dikejar deadline untuk ketemu Mama dan Papa kamu."


"Akan aku usahakan nanti. Kita lihat perkembangan kesehatan kakakmu selanjutnya. Toh juga kita kan pulang menggunakan pesawat pribadi, aku bisa hired dokter terbaik untuk Nathan selama di penerbangan kita nanti."


Nadine mengangguk paham dan setuju atas usulan Adrian.


***

__ADS_1


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2