
...ADRIAN...
Captivating. Fascinating. Mesmerizing.
Adalah 3 kata yang aku gunakan untuk menggambarkan kecantikan dari istriku, Nadine.
Dia terlihat sangat anggun ketika berjalan keluar dari kamar untuk menghampiriku yang sedang duduk santai di ruang tengah. Kuamati penampilannya dari atas sampai kebawah, God she looks so breathtaking.
Tak sia-sia hampir 2 jam lebih menungguinya berdandan. It's worth the wait. Nadine mengenakan halter-dress berwarna merah yang panjangnya diatas lutut dengan model slim-fit, menunjukkan baby bump-nya.
There are my kids inside her womb, and that makes me really proud.
Rambut panjang Nadine yang indah nan lebat dibuat ala style fluffy-ponytail. Akhir-akhir ini dia lebih suka jika rambutnya diikat kuncir kuda ketimbang diurai. Sapuan makeup natural-look yang menghiasi rupanya membuat wanita yang kucintai ini terlihat fresh. Kecantikannya seolah menghipnotisku untuk terjun lebih dalam ke dunianya.
How am I so lucky to have her in my life?
"Hai sayang...how do I look today?" tanya Nadine dengan binar mata yang bersinar.
Dia mengangkat kedua tangannya sambil berputar-putar, menunjukkan model dress yang ia kenakan untuk acara pesta perayaan Natal di rumah Papa dan Mama hari ini.
Aku merengkuh tubuh Nadine agar kami merapat dan kulingkarkan lenganku pada pinggangnya. Nadine lalu mengalungkan tangannya pada leherku. Karena sudah tak tahan lagi, aku mengecup bibir ranumnya. Dengan posisi kami yang berdekatan ini, memudahkanku untuk menciumnya mesra.
"Beautiful as usual. Nothing surprised me more." jawabku dengan senyuman menyeringai.
Nadine memalingkan wajahnya dariku. Pipinya bersemu merah kala mendengar sebuah pujian dariku.
"Oh ya..kado-kado yang kita persiapkan untuk keluarga kamu apa sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil semuanya?"
"Sudah."
"Jangan sampai ada yang tertinggal ya..aku sudah dari jauh-jauh hari prepare beli kado untuk mereka! Aku bakalan sedih kalau kadonya ada yang ketinggalan."
"Iya. Semuanya aman. Kita berangkat sekarang?" aku tak ingin membuang waktu lebih lama. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11, saatnya untuk berangkat.
Papa dan Athena tak henti-hentinya mengirimiku puluhan pesan agar aku segera datang. Mama juga tak mau kalah dan ikut-ikutan menelponku sejak tadi pagi, memastikan bahwa aku benar-benar hadir di acara keluarga kali ini. Sebegitu takutnya mereka bila aku tak jadi muncul.
Kekhawatiran mereka sebenarnya wajar. Sebab untuk setiap tahunnya, aku tidak pernah menghadiri perayaan Natal di rumah Papa. Aku lebih memilih untuk sibuk dengan duniaku sendiri. Berkuda atau bermain panahan, that's so much better.
"Okay, aku juga sudah siap kok. Tapi tunggu sebentar, itu dasi kamu agak sedikit miring." Nadine membetulkan simpulan dasiku yang terlihat tidak rapi.
Ketika Nadine sedang merapikan ulang kemeja dan jas yang kukenakan, ada satu hal yang baru kusadari. Dibalik semua perhiasan yang menempel pada tubuhnya saat ini, Nadine rupanya tak melepaskan kalung dengan liontin gambar bunga teratai yang kubelikan untuknya.
__ADS_1
"Kamu masih pakai itu?" kuarahkan daguku untuk menunjuk lotus flower necklace yang melingkar di lehernya.
Nadine tersenyum dan menundukkan kepalanya seraya memegangi liontin tersebut. "You mean this? Of course I do..I've said it before, aku suka dengan kalung ini. "
"Of all the necklace that you could've picked from your collections, you still chose this?" aku mengernyitkan dahiku penasaran. "Padahal kalung itu tidak terlalu cocok dengan gelang dan anting-anting yang kamu pakai sekarang."
"Masa sih? Enggak ahhh..aku rasa cocok-cocok saja! Warnanya kan gold dan netral."
"Modelnya terlalu sederhana untuk disandingkan dengan anting dan gelang bermatakan berlian yang melekat pada tubuhmu."
Nadine terkekeh pelan. "I don't care. This necklace means so much to me. Aku tidak mau menggantinya dengan yang lain.
Bahagia? Tentu saja. Aku jadi merasa bahwa Nadine begitu men-spesialkan kalung pemberianku.
Bukan sekali dua kali aku membelikan Nadine perhiasan satu set. Jumlahnya bahkan terhitung puluhan lebih. Untuk gelang dan anting, dia suka memakai model yang berganti-ganti. Tapi untuk kalung, itu terus yang dipakai.
***
(Didalam Mobil)
"Sayang, dari tadi aku telpon Kak Nathan kok enggak diangkat-angkat ya? Panggilannya selalu dialihkan terus!" Nadine bertanya.
"Ckkk..Kak Nathan gimana sih, udah tahu hari ini perayaan Natal..tapi dianya masih kelayapan! Dan lagi, kenapa dia malah kabarin ke kamu, bukannya aku yang adiknya sendiri!" keluh Nadine.
Wajar bila Nadine merasa sebal. Dia sudah wanti-wanti pada Nathan dari jauh-jauh hari untuk menyelesaikan pekerjaannya di Yogyakarta seminggu sebelum perayaan Natal.
Tapi bahkan sampai hari H telah tiba, Nathan nyatanya belum pulang juga. Semalam Nadine sampai uring-uringan karena Nathan tidak hadir pada saat Christmas Eve kemarin.
"Mau bagaimana lagi, Nathan itu sibuk. Dia harus balik ke Yogyakarta untuk mengurus bisnis travel dan gerai-gerai cafe miliknya yang sempat terbengkalai karena kejadian masa lalu. Sekaligus, dia juga mengunjungi makam Ayah kalian kan?" ungkapku jujur.
"Hmmm...iya, aku paham." Nadine tertunduk lesu sambil menatap perut buncitnya. "Ngomongin soal Ayah, aku jadi kangen sama beliau. Terakhir kesana, waktu itu usia kandunganku masih 5 bulan."
Nadine sedang dalam mode terbawa suasana sekarang. Ini pasti karena efek terakhir kontakan dengan Nathan, ia sedang berada di makam Ayah Harun dan akhirnya pun kami berujung melakukan panggilan video call.
Aku masih hafal kala itu, Nadine tak henti-hentinya menangis karena teringat akan Ayahnya. Butuh waktu lama untuk meredakan tangisannya itu. Aku sendiri tak terlalu mengenal sosok mertuaku. Tapi aku yakin beliau adalah orang baik.
Hal itu terbukti dari testimoni Papa Alan, mengingat Ayah Harun pernah bekerja pada Papa. Kredibilitas dan reputasi beliau dikenal memiliki value tinggi. Dan juga dari Nadine sendiri. Sejak kecil ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang yang melimpah dari Ayahnya. Semua keinginannya hampir selalu dikabulkan jika beliau mampu. Walaupun Nadine bukanlah anak kandung.
Ya, aku sudah tahu tentang fakta itu. Jauh sebelum menikah dengan Nadine, aku melakukan background check pada dia sekeluarga. Sayangnya, justru Nadine yang belum tahu tentang kebenarannya. Nathan yang memintaku menutup rahasia itu untuk sementara, sampai dia sendiri yang siap membeberkan fakta itu pada Nadine.
__ADS_1
"Hey..c'mon..don't be sad! Kita bisa kesana kapanpun kamu mau. Masih ada banyak waktu." ucapku.
"Setelah melahirkan, antar aku ke makam Ayah ya?! Aku mau kenalkan baby kita sama beliau. Ayah pasti seneng deh ketemu sama cucu-cucunya." tukas Nadine menunjukkan senyuman tipisnya.
Aku mengangguk mengiyakannya. "Iya, aku sendiri yang akan bawa kamu kesana. Jika dokter mengizinkan, kita langsung ke Yogyakarta."
Nadine tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dari samping. Kepalanya menempel sempurna di dadaku sambil jari-jemarinya yang lentik dengan cat kuku warna merah maroon, bermain-main di area sana, memberi usapan lembut nan hangat.
Dengan senang hati aku membalas dekapannya begitu erat. Rasanya begitu nyaman sekali. It feels like home. Aku sangat suka ketika Nadine sudah mulai bermanja-manja seperti ini. Kalau bisa, seterusnya dia begini saja.
DOORRR...
Suara sebuah tembakan terdengar begitu kencang hingga memekakkan telinga. Arah suaranya dari belakang. Refleks aku langsung melihat ke kaca rear view mobil. Dari situ aku bisa simpulkan, kalau ada 2 mobil yang sedang menguntit kami.
"Adrian....suara apa itu?" Nadine yang sempat menutup kedua telinganya sontak menoleh ke belakang. "Mereka siapa? Kenapa mereka ikutin kita?"
Aku tak menjawab pertanyaan Nadine. Aku lebih fokus untuk merencanakan sesuatu agar kami bisa lolos dari kejaran. Karena yang aku pikirkan saat ini adalah Nadine. Dia harus tetap aman.
"Tuan, sepertinya orang-orang di belakang itu masih berada dalam lingkaran yang sama dengan para komplotan yang kemarin sempat menyerang Tuan." ucap salah satu bodyguard-ku bernama Jino, yang sedang duduk disamping kursi kemudi.
"Saya tahu Jino, mereka pasti suruhannya Kelvin!" sahutku balik. "Nekat juga mereka, melepaskan sebuah tembakan dengan sembrono di jalanan umum dimana banyak kendaraan masih lalu lalang."
"Adrian aku takut...mereka terlihat cukup berbahaya! Ini gimana?" lirih Nadine dengan nada bergetar.
Aku tahu betul jika dia sedang ketakutan, tangannya saja berubah gemetaran dan keringat dingin.
"Kamu tenang..aku sudah tahu jalan keluarnya." aku mengecup kening Nadine sekilas dan mengusap lengannya untuk menenangkan hatinya yang gundah gulana.
"Samir, kurang berapa meter lagi kita bertemu dengan tikungan?" aku bertanya pada Samir--bodyguardku yang sedang menyetir.
"Sekitar 500 meter lagi Tuan, tapi letaknya dari arah kanan jadi harus cari putar balikan. Setelah tikungan, 300 meter lurus kita akan melewati overpass. Terdeteksi jalanan disana sedang sepi." Samir melihat layar monitor yang menampakkan maps.
That's it, aku akan manfaatkan jalan layang itu untuk menghindari kejaran mereka.
"Ya sudah, cari putar balik dulu. Kita akan lewat tikungan itu. Kalau tidak salah akan ada dua jalan kembar sebelum tikungan. Ambil yang sebelah kiri nanti!" perintahku pada Samir.
"Siap, Tuan." Samir lalu menginjakkan pedal gasnya semakin kencang.
"Jino, kamu telepon Anto...bilang sama dia untuk jalankan plan B. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan."
"Baik Tuan."
__ADS_1
***