
AUTHOR POV
Minggu pagi yang cerah ini, Alan Natadipura sekeluarga memutuskan untuk pergi ke rumah peternakan pribadi milik Adrian. Mereka akan menghabiskan momen langka ini selama seharian penuh tanpa menginap, sebab besok Senin..masing-masing anggota keluarga memiliki kesibukan sendiri.
Source: Pinterest
Farm House ini dibeli Adrian sekitar 5 tahun yang lalu, saat ia masih dalam masa merintis perusahaannya. Waktu itu dia baru saja memenangkan proyek-proyek dan beberapa tender besar. Karena keberhasilannya itu, dia mampu membeli sebuah luxury penthouse dan farm house sendiri.
Seiring berjalannya waktu dan kesuksesan Adrian semakin meningkat, ia akhirnya membeli sebuah mansion mewah yang resmi ditempatinya sekarang.
Kecintaan Adrian terhadap aktivitas berkuda dan memanah, adalah faktor-faktor yang membuat tekadnya bulat untuk membeli farm house beserta ranch khusus kuda-kuda di daerah ini.
"Kak..aku enggak ikutan dulu yah!! Takut..." ucap Arga. Sejak kecil Arga memang tak terlalu suka berkuda, alasannya karena setiap naik selalu saja jatuh.
"Hmm..kelakuan aja pecicilan, tapi nyalinya ciut! Masa gini aja takut?!" ejek Adrian yang sudah duduk diatas kuda jantan kesayangannya--Maltis, yang berwarna hitam kecoklatan.
"Kakak tau istilah trauma gak sih? Aku itu selalu apes tiap kali naik kuda...bawaannya jadi ogah, mana kudanya pada gak bersahabat lagi..."
Arjuna terkekeh mendengar ocehan Arga. "Kudanya tahu, kalau yang naik rese plus somplak kayak kamu..makanya mereka ogah!!" komentarnya.
"Dihh nimbrung aja...udah sana, mau berkuda ya berkuda aja...yang penting aku skip dulu! Gak mau ikut! Aku sama Athena dan Fiona aja yang kasih makan kuda..bye!!" Arga melenggang pergi menjauh dari Adrian dan Arjuna.
"Dihh..gitu aja ngambek. Udah Kak, kita lanjutin aja..biarin tuh si Arga. Mau balapan berapa putaran nih?" Arjuna menaik-naikkan kedua alisnya.
Adrian menantang Arjuna. "How about 10 laps? Is that okay for you?" (bagaimana dengan 10 putaran? apa kamu bersedia?)
"Kalau aku bisa ngalahin Kak Ian, aku dapat apa nih?"
"Kamu boleh ambil satu mobil sport koleksi kakak di garasi, bebas mau pilih yang mana."
Seperti mendapat jackpot, mata Arjuna berbinar-binar mendengar ucapan kakaknya itu. "Asyikk..bener nih ya, bebas?"
"Iya..bebas. Tapi kalau kamu yang kalah, kamu harus mulai kerja di Natadipura Group. Start with an intern first, mulailah dari menjadi anak magang...are you in?"
Arjuna masih menimbang-nimbang kesepakatan itu. Sebentar lagi kampusnya akan ada program magang, dan seluruh mahasiswa diwajibkan untuk itu.
Kalau cuman jadi anak magang di Natadipura Group sebenarnya mudah, dia akan mendapat privilege karena memang itu adalah perusahaan yang dikelola keluarganya sendiri. Tapi yang jadi masalah, Arjuna tak begitu tertarik. Sejak awal dia selalu ingin untuk magang di Adrian Corps.
"Kenapa diem?! Gimana..mau terima enggak?"
Setelah melalui proses pemikiran yang panjang, Arjuna menyetujuinya.
__ADS_1
"I'll, take that for sure!" (Aku pasti terima itu!)
Demi mobil sport mewah Adrian yang menjadi taruhannya. Tentu kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan. Toh kalau kalah dia juga tidak rugi, anggap saja dirinya memang ditakdirkan untuk magang di Natadipura Group.
Dengan segera, Adrian dan Arjuna sama-sama memacu kuda mereka untuk mengitari arena pacuan kuda yang tersedia di peternakan.
Kegiatan permainan balap kuda tersebut akhirnya berakhir setelah Adrian berhasil melewati 10 putaran dan mencapai garis finish terlebih dahulu, meninggalkan Arjuna yang tertinggal di belakang dengan jarak yang cukup jauh.
"Hah...kalah lagi, kalah lagi! Kak Ian terlalu jago" keluh Arjuna.
Adrian menyunggingkan sudut bibirnya.
"I won...you have to fulfill your promise, okay?!" (Aku menang...kamu harus menepati janjimu, oke?!)
"Hhh..iya deh iya, janji..aku akan magang di Natadipura Group."
"That's good! Ayo kita bersih-bersih dulu, sebentar lagi jam makan siang kan."
"Iya kak, aku juga udah lapar nih..tadi di rumah kak Ian cuman makan omelette sama sosis, enggak kenyang.."
"C'mon..Maltis!!" Adrian menarik tali kendali kudanya itu dan mengarahkannya untuk masuk ke kandang.
Source: Pinterest
"Kenapa mukanya cemberut begitu? Kusut banget..pasti habis kalah lagi ya? Hahahahaha" goda Arga pada Arjuna.
"Berisik..mendingan kalah daripada kamu lebih cupu! Belum naik udah ciut duluan.." Arjuna tak mau kalah.
"Ye..ngamuk nih hahaha!! Makanya, kalau udah tahu kalah gak perlu main sekalian. Endingnya sama aja kan.." balas Arga lagi.
Jahilnya Arga tidak berhenti sampai disitu saja, sembari menunggu makan siang untuk dihidangkan..ia tak henti-henti menggoda sang kakak Arjuna yang masih kesal karena selalu kalah dari Adrian.
"Makan siang udah siap!!!" ucap mama Diana yang barusan keluar dari dapur.
Dari belakang Mama Diana, terlihat Athena dan Fiona membawa nampan besar yang berisi piring-piring penuh makanan. Weekend kali ini, Mama Diana sengaja ingin memasak sendiri untuk keluarganya. Itulah kenapa tidak ada satupun pelayan atau koki yang nampak karena dia melarang Adrian untuk memanggil mereka.
"Ayo...langsung dimakan, Mama buat ini spesial untuk anak-anak kesayangan.."
"Buset...banyak banget ini Mah? Udah kayak ala-ala Thanksgiving menu nya. Sebanyak ini enggak bakal habis!!" kata Arga.
"Kak Arga jadi cowok rumpi banget sih..dari tadi ngomel aja! Udah makan, nanti kalau enggak habis bisa dibawa pulang. Tadi di storage aku lihat banyak kotak makanan kosong..taruh situ aja nanti..." celoteh Athena.
__ADS_1
"Iya deh iya..perasaan aku salah mulu dah!" Arga mengerucutkan bibirnya.
Saat sedang asyik menyantap makan siang bersama, tiba-tiba saja ponsel Adrian berbunyi.
TRINGG...
"Hmm..semuanya, aku ke belakang sebentar mau angkat telepon" ucap Adrian menarik diri.
Melihat tingkah Adrian yang tergesa-gesa keluar membuat keenam orang yang berada di meja makan kebingungan.
"Adrian kenapa ya Pah..kok wajahnya kayak panik gitu?" tanya Mama Diana.
"Papa kurang tahu Mah, mungkin soal kerjaan" jawab Papa Alan.
"Kak Ian gak ada habisnya ya kalau ngurus kerjaan..masa Hari Minggu-Minggu begini masih repot aja!" kata Fiona.
Arga yang sedang duduk berada didekat Adrian merasa curiga akan sesuatu. Tanpa sengaja ia sempat menengok ponsel kakaknya yang berdering.
"Ekhmmm, Pah..Mah..aku tadi enggak sengaja ngintip. Di ID caller ponsel Kak Ian tulisannya 'Nad' gitu.." Arga berbisik-bisik sambil memajukan kepalanya.
"Yang bener kamu?!" Papa Alan tak percaya.
"Iya Pah, serius..mataku itu normal enggak minus. Apalagi Kak Ian duduknya di sebelahku, terus ponselnya dideket sini..ya jelas kelihatan."
"Telepon dari pacarnya Kak Ian kali ya? Tulisannya 'Nad' kan? Itu identik kayak nama perempuan.." Fiona berteori.
"Mustahil! Kita semua kan sama-sama tahu tentang history Adrian kalau menyangkut perempuan," sahut Mama Diana.
"Bisa jadi Fiona bener Mah..kan sekitar sebulanan yang lalu aku sempat lihat Kak Ian lagi jalan ke toko bunga sama perempuan di Yogyakarta. Jangan-jangan yang telepon perempuan itu..." Arjuna jadi teringat akan kejadian itu. Sampai detik ini dia belum mencari tahu ataupun bertanya pada Ray.
"Bukannya waktu itu Papa mau cari tahu ya? Ada hasilnya enggak?" Athena ikut bersuara.
"Papa kelupaan, sayang! Lagian..informasi tentang kakakmu itu susah didapat. Adrian kalau udah pasang mode tertutup, pasti sulit untuk dikorek informasinya. Dia enggak begitu suka kalau privasi nya diganggu."
Papa Alan menghela nafasnya.
Arga punya usulan, "Apa kita intipin aja ya Pah? Kita nguping..."
"Ogah ah..Kak Ian horror, aku enggak ikut-ikut!! Cari mati itu namanya!" ucap Fiona.
"Boleh juga tuh idenya Arga, Papa setuju! Daripada penasaran..ayo yang mau ikut nguping buruan ke teras. Kita lihat Adrian..!"
Dengan semangat 45, Papa Alan menaruh kembali sendok dan garpu yang dipegangnya. Ia buru-buru bergegas menuju teras untuk menguping percakapan Adrian dengan seseorang di telepon.
__ADS_1
Tak ingin kalah..Mama Diana, Arga, dan Athena ikut serta mengekor di belakang membuntuti Papa Alan sembari berjalan mengendap-endap. Hanya Fiona dan Arjuna yang memilih untuk tetap di meja makan.