
AUTHOR POV
Nadine dan Adrian baru saja mengantarkan orang tua dan adik-adiknya ke gerbang depan untuk pulang. Setelah mereka menghabiskan quality time bersama, saatnya kembali pada aktivitas masing-masing.
Arga dan Athena ada jadwal mata kuliah sore. Fiona harus menghadiri acara ulang tahun temannya. Sedangkan Papa Alan dan Mama Diana hendak bermain bola tennis bersama para kumpulan rekan bisnis.
Walaupun mereka memiliki keterbatasan waktu, Nadine cukup senang dengan kehadiran keluarga suaminya. Setidaknya mereka dapat mengobati rasa rindunya pada Ayah Harun dan Kak Nathan.
Nadine juga sangat mengapresiasi sikap Mama Diana yang berani terbuka dan menceritakan secara detail mengenai masalah Adrian padanya. Deep talk tersebut sangat membantu Nadine untuk bisa memposisikan diri agar dia bisa menghadapi Adrian nantinya.
Sebisa mungkin, Nadine akan memberikan segala versi terbaik dalam dirinya untuk mendampingi Adrian selama mereka menikah.
"Nanti malam kita akan hadir di acara Gala Dinner yang diselenggarakan oleh rekan bisnis saya, Pak Wijaya. Acara tersebut semacam lelang amal yang pasti ada setiap tahunnya," jelas Adrian.
"Kenapa harus saya yang temani kamu?" Nadine melirik Adrian dengan polos.
Adrian melipat kedua tangannya tepat didepan dada. "Istri saya siapa sekarang?"
"Aku.."
"Ya berarti kamu yang saya bawa! Tidak mungkin kan saya membawa Bibi Magda atau pelayan yang ada disini??"
"Bukan gitu maksud aku! Kalau kita pergi bersama ke acara itu, otomatis publik akan tahu tentang pernikahan kita..itu gimana? Bukannya kita udah sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini?"
Kesepakatan itu memang tertulis jelas di kontrak. Bahkan atas usulan Adrian sendiri.
"Saya berubah pikiran. Di acara itu saya akan kenalkan kamu sebagai istri saya. Hanya di depan rekan bisnis saja, bukan pada media. Lagipula kamu tahu sendiri kan, kalau media tak pernah menampakkan wajah saya di laman mereka. Publik tidak akan tahu, jadi semua aman."
"Memangnya untuk apa sih kita kesana? Aku kan enggak ada urusan apa-apa..mana paham aku soal acara lelang begitu!"
"Kamu bilang kamu mau terlibat dalam proses pencarian kakakmu Nathan, bukan? Dan event itu adalah jawabannya."
Nadine mengedikkan kedua bahunya tanda ia masih belum paham.
"Di acara Gala itu, kita akan bertemu David Malik-Santoso..ayah dari mantan pacarmu. Kita bisa manfaatkan momen itu untuk mengorek informasi keberadaan Nathan."
Nadine memiringkan kepalanya tampak berpikir. "Dengan cara?"
"Nanti saya kasih tahu. Disana, saya mau kamu bisa mengalihkan perhatiannya. Kamu hanya perlu mengajak bicara mantanmu Sean. Terakhir yang saya tahu, dia masih mengharapkan kamu untuk kembali bersamanya bukan?"
"Darimana kamu tahu?"
"Apa yang saya tidak tahu Nadine? Saya tahu semuanya. Sudahlah, yang penting kamu dandan yang rapi untuk nanti malam. Acaranya jam 7, kamu bisa atur waktu untuk mempersiapkan diri. Bibi Magda sudah saya perintahkan untuk memanggil make-up artist dan fashion stylist ke rumah. Kamu terima beres saja."
Sesungguhnya Nadine malas kalau harus berurusan dengan mantan pacarnya yang tukang selingkuh itu, tapi dia juga tak kuasa menolak perintah Adrian.
"Aku enggak bisa menolak kan?"
"Self awareness, bagus deh kalau gitu..saya enggak perlu repot mendapatkan penolakan darimu," Adrian melenggang masuk meninggalkan Nadine yang masih terpaku.
"Dasar menyebalkan..." batin Nadine.
__ADS_1
***
"Nyonya, penata rias dan penata busana untuk Nyonya sudah sampai," ujar Chika.
Perhatian Nadine yang sedang membaca majalah di gazebo kolam renang teralihkan.
"Ohh okay..lebih cepat dari perkiraanku. Dimana dia? Apakah dia sudah di sini?"
"Orangnya sedang menunggu di depan dulu Nya. Sebelum saya masukkan ke rumah, saya harus izin Nyonya."
"Langsung suruh dia naik keatas aja ya, bawa ke kamar saya. Saya tunggu disana, okay?"
"Siap Nyonya cantik..." Chika melaksanakan perintah Nadine
Make up artist dan fashion stylist beserta tim mereka yang sudah di hire khusus oleh Adrian segera dibawa untuk naik ke kamar pribadi Nadine.
"Welcome, welcome! Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda Nyonya. Perkenalkan, nama saya Rency, hari ini saya akan menjadi penata rias dan penata gaya pribadi anda.."
Diluar dugaan Nadine, dia sempat mengira jika MUA dan fashion stylist nya adalah perempuan..tapi ternyata, Rency berbeda dari bayangannya. Dia termasuk dalam kategori spesies belok yang kemayu.
"Okay, ini bisa kita lakukan sekarang!" Nadine bersemangat.
Gaya riasan yang akan digunakan oleh Nadine kali ini adalah bold-makeup, karena event nya dilaksanakan malam hari. Sehingga riasannya harus tegas. Dan setelah 1 jam berlalu, riasan dan medium-bun hairdo Nadine akhirnya rampung juga.
"Here we go...!! Ini selesai ceu!!" ucap Rency.
"Wow Rency! Kamu benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat dengan wajah Nyonya Nadine!" puji Bibi Magda yang berada ditempat.
Nadine tersanjung. "Makasih ya Rency, nanti saya bilang suami saya untuk kasih bonus.." candanya.
"Boleh sih Nya, bonusnya saya bermalam sama Tuan Adrian aja gimana? Nanti make-up fee nya jadi gratis deh..di barter gitu!" celoteh Rency.
"Boleh aja sih, tapi kamu betah enggak kena semprot? Hahaha.."
"Enggak jadi deh Nya, takut!! Kalau gitu sekarang Nyonya pindah ke sisi sini ya...kita akan lihat gaun seperti apa yang cocok untuk dipakai. Nanti Nyonya pilih sendiri saja...
Deretan gaun yang mahal dan indah sudah tersusun rapi di walk in closet kamar Nadine. Dia bahkan tak tahu kapan gaun-gaun ini diletakkan disana, terakhir mengecek..ini tidak ada.
Nadine memegangi gaun dress yang ada didepannya satu persatu dan meraba-raba kainnya. "Woww..ini semua bagus-bagus!"
"Semua gaun ini cocok dengan riasan anda Nyonya. Jadi tinggal dipilih yang mana yang disuka. Saya beri Nyonya privasi untuk memilih ya..selamat mencoba," Rency dan tim nya meninggalkan kamar Nadine.
"Apa ini enggak terlalu berlebihan Bi?
"Tuan hanya ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik malam ini, Nyonya..jadi terima saja. Katanya Tuan tidak tahu gaun seperti apa yang ingin anda kenakan, jadi beliau memutuskan untuk membeli semua ini."
"Dia menghabiskan terlalu banyak uang hanya untuk satu malam!"
"Saya yakin Tuan punya banyak pesta dan acara amal untuk dihadiri bersama Nyonya. Jadi beliau jelas tidak menyia-nyiakan uangnya."
Nadine tak yakin jika Adrian mau mengajaknya lagi ke acara-acara mewah sebagai pasangan setelah ini.
__ADS_1
"Saya bingung pakai yang mana malam ini? Bibi punya saran karena saya benar-benar tidak tahu!
"Kita mulai dari gaun mana yang paling Nyonya suka, dari segi warna dan modelnya?"
"Masalahnya aku suka semua Bi, gaunnya cantik-cantik. Yang biru ini begitu kalem dan menawan, sutra pink ini terlihat girly dan feminin, sedangkan gaun hitam ini terlihat fierce!" Nadine mengeluh.
"Pakai yang warna hitam..itu terlihat bagus untukmu!" tiba-tiba terdengar suara bariton Adrian dari belakang.
Perlahan Bibi Magda pun keluar diam-diam sambil tersenyum. Dia ingin memberikan ruang untuk Tuan dan Nyonya nya agar bisa lebih dekat lagi.
Meski kaget dengan Adrian yang tiba-tiba muncul, Nadine tetap menyahutinya. "Bener yang hitam? Apa enggak kelihatan gelap?"
"Pakai itu saja!"
"Oke deh, aku ganti di kamar mandi...tunggu sebentar jangan kemana-mana! Aku mau tahu pendapat kamu. Kalau jelek nanti ganti.."
Adrian mengangguk paham. Urusan wanita memang selalu repot begini.
Sibuk dengan ponselnya, Adrian sampai tak menyadari jika Nadine sudah kembali dari kamar mandi.
"Gimana bagus?"
"Bagus."
"Tapi aku kok enggak pede ya..cutting nya agak terlalu ketat, jadi susah jalannya."
"Ckk..sudah pakai itu saja! Kalau saya bilang bagus ya bagus. Nanti kamu kan gandeng lengan saya..mana mungkin jatuh!" omel Adrian.
Nadine menurut, Adrian memang tak bisa dibantah.
"Itu kamu pakai apaan yang di leher dan telinga?"
Nadine langsung memegangi yang dimaksud Adrian. "Ya..anting sama kalung lah.."
"Jelek, ganti saja!" ucap Adrian frontal.
"Enggak bisa, ini koleksi perhiasanku yang sekiranya pantas untuk dipakai. Aku enggak ada lagi!"
"Pakai ini!" Adrian menyodorkan sebuah kotak beludru biru navy berukuran sedang yang didalamnya berisi satu set perhiasan seperti kalung, cincin, anting, dan gelang.
Nadine memandang kagum pada perhiasan tersebut. "Ini serius buat aku?"
"Kenapa? Tidak suka..sini kalau begitu!" Adrian berniat mengambil kembali kotak yang telah diberikannya pada Nadine.
Nadine tersenyum lebar. "Ishh..kan cuman tanya! Aku mau kok, makasih ya suamiku", ucapnya dengan nada manja.
Adrian pun menjadi salah tingkah karena Nadine terus-terusan memandanginya.
"Arghhh..senyumnya manis sekali, membuatku ingin mencium bibir mungil itu!", batin Adrian dalam hati.
__ADS_1
"Cepat pakai perhiasan itu dan heels kamu..aku tunggu di bawah!" Adrian buru-buru keluar dari kamar Nadine sebelum ia kehilangan kendali.