Favorite Sin

Favorite Sin
PENTHOUSE FOR NATHAN


__ADS_3

AUTHOR POV


Soal cinta, seiring perjalanan waktu..kalian pasti akan bisa menerimanya satu sama lain suatu hari nanti...


Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Nathan begitu melekat terpatri di kepala Nadine.


"Apa maksud Kak Nathan berbicara seperti itu?"


"Nad, Kakak ini bukan orang bodoh yang masih awam soal cinta. Kakak tahu kok kalau kamu dan Adrian itu belum ada perasaan saling cinta!" ucap Nathan sembari menyeruput secangkir teh yang tersedia untuknya.


"K--ka-kak tahu?" Nadine tergugu.


"Tahu. Terlihat jelas dengan sikap kalian yang masih canggung satu sama lain. Jujur, kakak sendiri masih enggak paham sama keputusan kamu yang menikah sama dia secepat ini. Secara logika, alasan yang kamu dan Adrian berikan memang masuk akal. Tapi boleh kan kalau Kakak menaruh rasa curiga?"


"Kak..." lirih Nadine yang takut kalau Nathan tahu keberadaannya.


"It's okay Nad, Kakak enggak akan menuntut kamu untuk bicara jujur tentang alasan dibalik pernikahan kalian. Asalkan Adrian enggak menyakiti dan berbuat kasar sama kamu, itu sudah lebih dari cukup untuk Kakak. Apalagi kamu tadi bilang kalau kamu bahagia menikah dengannya..."


"Jadi, aku resmi dapat restu nih dari Kak Nathan?" Nadine menggoda Nathan dengan mentoel dagunya.


"Technically, yes." Nathan mengedikkan bahunya.


Bagi Nathan, kebahagiaan Nadine diatas segalanya. Dulu saja, meski Nathan tidak setuju dengan hubungan Nadine dan Sean, dia tetap rela merestui mereka demi kebahagiaan adik bungsunya itu.


Dan sekarang, keadaannya Nadine sudah terlanjur menikah dengan Adrian. Mau tidak mau, life must go on. Tidak ada alasan bagi Nathan untuk tidak merestui hubungan pernikahan keduanya.


"Adrian itu sosok suami yang eligible buat kamu, Nad. Enggak ada salahnya untuk memberinya kesempatan. Kakak berharap, pernikahan kamu dan Adrian senantiasa dilimpahkan kebahagiaan sebanyak mungkin.."


"Makasih banyak Kak..." Nadine kini menyandarkan kepalanya di bahu Nathan.


***


Nampak terlihat ada beberapa jajaran bodyguards yang sudah siap menyambut rombongan Adrian yang sedang turun dari pesawat. Ada dua buah mobil berjenis SUV juga yang terparkir rapi untuk menjemput kedatangan mereka.


"Suami kamu luar biasa ya! Kakak masih enggak nyangka lho, kamu bisa menggaet Adrian Natadipura!" kata Nathan saat mereka menuruni anak tangga pesawat.


"Kakak emangnya tahu tentang latar belakang Adrian dan keluarganya?" Nadine jadi merasa kurang update, karena selama ini dia tak tahu apa-apa tentang bisnis Keluarga Natadipura.

__ADS_1


"Di pemberitaan manapun, topik yang dibahas seringkali tentang Keluarga Natadipura. Enggak banyak yang diketahui sih, hanya common knowledge aja seputar bisnis dan profil perusahaan. Kalau kehidupan pribadi jarang disorot, bahkan hampir enggak pernah. Foto mereka aja enggak terpampang di media."


"Adrian emang paling getol untuk melindungi privasi keluarga nya Kak, dia paling enggak suka kalau ada yang meng-up private life-nya. Kata assisten-nya--Ray, dulu pernah ada salah satu media yang menyebar foto keluarga Natadipura saat berlibur di Perth, eh beberapa hari setelahnya dibikin bangkrut tuh instansi percetakan dan media yang memuat berita itu!"


"Serem juga ya! Tapi harus Kakak akui, kalau berhadapan dengan dia vibes-nya berbeda. Aura dan kharisma yang dimiliki Adrian sedikit mengintimidasi. Percaya enggak kalau Kakak bilang, Kakak itu agak sedikit ngeri kalau berdekatan sama suami kamu!"


"Ishh..apaan sih! Aneh banget deh..masa sampe segitunya?!" Nadine menepuk pelan bahu Nathan.


"Suami kamu hits different. Beda jauh dari Sean! Mantanmu dulu hampir buang air kecil di celana saat menghadapi Kakak, beda sama Adrian. Pembawaannya terlihat lebih tenang saat menjelaskan ke Kakak tentang pernikahan kalian yang mendadak itu." Nathan berbisik di telinga Nadine agar Adrian tak mendengar ucapan mereka.


"Yah..Adrian emang punya kekuatan magis tersendiri yang susah dijelaskan, aku pun kadang-kadang merasa terbius dan terlena oleh pesonanya.." jawab Nadine polos.


Berbicara tentang pesona, seketika Nadine teringat akan kenangan malam panasnya bersama Adrian beberapa hari yang lalu. Memori itu tak pernah mau hilang dan selalu singgah di benak Nadine.


Pesona Adrian mampu merobohkan dinding pertahanannya. Bahkan Nadine dengan gamblangnya memberikan mahkota terindahnya pada Adrian, walaupun kehidupan pernikahan mereka belum tentu jelas untuk kedepannya.


***


Setelah penjemputan di bandara, iring-iringan mobil Adrian kini telah sampai di lokasi apartment khusus untuk kawasan orang elite. Di lantai paling atas sendiri, terdapat penthouse mewah bergaya klasik modern yang sudah disiapkan untuk tempat tinggal Nathan selama beberapa hari kedepan.



Source: Pinterest


"Silahkan masuk, saya sudah sediakan penthouse ini untuk tempat tinggal anda sementara selama di Bali," ucap Adrian yang menoleh pada Nathan.


Nadine agaknya kurang paham mengenai keputusan Adrian yang meminta Nathan untuk tinggal di penthouse ini tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu.


"Kenapa Kak Nathan harus tinggal di penthouse? Aku pikir dia akan ikut tinggal di mansion bersama kita?" Nadine mengatupkan giginya rapat sembari berbisik di telinga Adrian.


"Aku sudah pernah bilang kan Nad, aku tidak terlalu suka kalau ada orang asing tinggal di rumahku. Keluargaku saja terkadang tidak aku izinkan untuk menginap meski semalam."


"Tapi Kak Nathan bukan orang asing untukku!!"


"Ini adalah peraturan yang mutlak!"


Nathan yang menyadari adanya perdebatan diantara adik dan iparnya itu mencoba menengahi, meskipun dia juga kurang tahu hal apa yang sedang mereka perdebatkan.

__ADS_1


Tapi kurang lebihnya, Nathan cukup aware kalau dirinya pasti akan tinggal sendiri di penthouse yang luas ini tanpa sang adik. Wajar saja karena Nadine sudah menikah. Suka tidak suka, Nathan harus memaklumi status adiknya yang kini adalah seorang istri yang harus mengikuti suami.


"Nad, Kakak enggak masalah kok tinggal disini. Tempatnya bagus dan nyaman, Kakak pasti akan betah, nanti kamu bisa sering-sering datang kesini ya.." Nathan tersenyum tulus.


"Maaf sebelumnya kalau saya membuat anda tidak nyaman, Nathan. Bukan maksud saya untuk menyinggung. Tapi saya memang punya kebijakan untuk tidak membiarkan orang lain menginap di rumah saya. Hanya istri saya yang bisa tinggal. It's a personal choice," Adrian menjelaskan agar tidak ada salah paham.


"It's okay, no problem Adrian. Saya respect terhadap pilihan kamu. Saya juga ingin mengapresiasi usaha kamu yang menyediakan hunian semewah ini untuk saya tinggali."


Adrian melirik Nadine yang mengerucutkan bibirnya. Dia tahu kalau istrinya pasti sedang kesal saat ini. Tanpa sadar, Adrian menarik tangan Nadine supaya cengkeraman tangannya di lengan kokoh Adrian semakin rapat.


Karena kaget, alhasil wajah Nadine hampir terjerembap maju untuk mencium Adrian. Kedua bibir mereka sangat berdekatan dan hanya menyisakan jarak dua senti saja. Netra mereka berdua saling beradu tatap dengan intens.


Untungnya hal ini tidak disadari oleh Nathan yang masih asyik mengamati interior penthouse. Membahas tentang Nathan, dia sama sekali tidak keberatan kalau nantinya harus tinggal sendiri.


Nathan ingin menghargai privasi kehidupan keluarga Adrian dan adiknya. Apalagi diawal tadi Nadine sudah mewanti-wanti kalau Adrian dasarnya tidak suka keramaian dan menjunjung tinggi privasi.


Adrian melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Nathan di ruang tengah, dengan posisi dirinya yang masih menggandeng Nadine.


"Terima kasih atas pengertiannya. Selama tinggal disini nanti, anda akan ditemani oleh seorang perawat yang sekaligus merangkap jadi asisten rumah tangga. Dia bertugas untuk menyiapkan makanan anda 3x sehari, bersih-bersih, dan juga membantu anda merawat sisa luka serta mengganti gips, atau lain-lain.." kata Adrian.


"Woww..anda begitu prepare rupanya! Sekali lagi terima kasih. Anda sudah banyak membantu saya dan keluarga. Saya hanya bisa titip Nadine..." Nathan menyunggingkan senyumannya dan menoleh kearah adik perempuannya itu.


"Oh ya, Nathan..maaf kalau saya dan Nadine tidak bisa berlama-lama disini. Kami berdua harus pergi ke kediaman orang tua saya karena ada suatu hal penting yang harus dibahas. Is that okay with you?"


Setelah ini Adrian dan Nadine akan melancarkan aksinya untuk membujuk keluarga Adrian agar mau pergi liburan ke Los Angeles, sesuai rencana awal.


"I'm fine. Lagipula perawat dan ART yang kamu pekerjakan untuk saya akan datang sebentar lagi kan?"


"Exactly, it's a matter of time..mungkin setengah jam lagi sampai. Asisten saya sedang mengantarnya kemari." Ray ditugasi Adrian untuk menjemput perawat tersebut.


"Kalau butuh apa-apa anda bisa datang ke rumah saya Nathan. Saya memang tidak mengizinkanmu tinggal disana, tapi bukan berarti kamu tidak bisa berkunjung," lanjut Adrian.


Nathan mengangguk paham, "Baiklah, kalian bisa pergi."


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2