Favorite Sin

Favorite Sin
FIRST NIGHT (Part 1)


__ADS_3

AUTHOR POV


Suara percikan shower terdengar sangat jelas di telinga Nadine, menandakan jika Adrian sedang mandi. Sembari menunggui Adrian selesai, Nadine berjalan menuju walk in closet tempat kopernya berada untuk memilih baju tidur yang akan dikenakannya malam ini.


Hari belum terlalu larut. Bahkan jam di dinding masih menunjukkan pukul 7 malam. Terlalu dini sebenarnya untuk tidur. Tetapi karena efek kelelahan berjam-jam di pesawat serta habis berjalan-jalan mengelilingi kota Turin, Nadine berniat untuk langsung mengistirahatkan tubuhnya setelah mandi. Apalagi melihat kasur empuk didepan mata. Rasanya ingin langsung rebahan saja.


Saat Nadine sedang membongkar-bongkar koper miliknya, Nadine baru sadar akan satu hal. Dia hanya membawa nightie.


Untuk informasi saja, Nadine tidak terlalu suka memakai piyama panjang saat tidur. Dia selalu memakai nightie, dengan alasan lebih enak dan bebas dipakai saat tidur di malam hari. Tapi sekarang, Nadine malah merutuki dirinya sendiri karena tidak membawa piyama lengan panjang untuk tidur.


Nadine tidak menyangka kalau dirinya dan Adrian harus tidur bersama dalam satu kamar dan satu kasur pula. Jika dia memakai nightie berkain tipis miliknya, dia takut Adrian akan berasumsi yang tidak-tidak. Nadine tidak ingin dicap sebagai penggoda, meski Adrian itu adalah suami sahnya sendiri.


"Aduh...gimana ini!" gumam Nadine.


Mumpung Adrian masih ada di kamar mandi, Nadine ingin mengganti pakaiannya dengan bathrobe untuk sementara waktu. Dia merasa kegerahan dengan pakaian miliknya penuh sisa keringat. Satu-persatu kain yang menempel di tubuhnya mulai terlepas.


Ketika busana Nadine telah ditanggalkan dan tubuhnya belum tertutup sempurna oleh bathrobe, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.


Ceklek.....


Karena kaget dan tergesa-gesa, bathrobe Nadine mendadak melorott. Dengan ekspresi yang kikuk serta malu, Nadine buru-buru menaikkan bathrobe itu untuk menutupi tubuhnya. Tali bathrobe yang melingkar juga segera diikat kencang olehnya.


Adrian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dengan air diujung rambut masih menetes, cukup terkejut dengan pemandangan yang disuguhkan didepannya.


Ini adalah pertama kalinya Adrian melihat Nadine dengan tubuh yang polos. Kulit punggung Nadine yang putih mulus serta dua bongkahan aset belakang Nadine yang sintall membuat junior Adrian sedikit tergelitik. Bohong kalau Adrian tak tergoda karena ia adalah laki-laki normal.


Sebelum-sebelumnya mereka memang pernah bercumbuu dan melakukan kegiatan panas bersama, tapi kejadian itu tak membuat mereka sampai menanggalkan seluruh pakaian masing-masing. Bagian intim mereka masih tertutup dengan dalamann.


Bukan hanya Adrian saja, Nadine pun ikut meneguk air liurnya setelah melihat Adrian yang keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di lingkar pinggang. Tubuh bagian atasnya dibiarkan shirtless, menampakkan perut sixpack-nya.


Keduanya kini saling bertatapan dan masih terdiam berdiri menghadap satu sama lain. Perasaan canggung mendera jiwa mereka. Ruangan kamar mereka yang ber-AC seketika menjadi panas.


Adrian berjalan mendekati Nadine yang menundukkan kepalanya. Dia sangat sungkan menatap mata Adrian.

__ADS_1


"Pipi kamu merah.." ucap Adrian yang memecah keheningan.


Bagaimana pipi Nadine tidak merah, karena dia luar biasa malu saat ini.


"Jangan menunduk, kalau sedang berbicara..tatap mata saya!" dagu Nadine dinaikkan oleh tangan Adrian agar tatapan mereka bisa sejajar.


"Aku malu.." lirih Nadine dengan pelan.


"Malu? Saya pikir kamu sengaja menggoda saya tadi.."


Sesuai dugaan Nadine, Adrian pasti akan berpikir aneh-aneh. Nadine jadi kesal sendiri atas keputusannya yang melepaskan semua pakaiannya tanpa menyisakan dalamann. Kalau sudah begini, urat malunya meningkat.


"Enak aja! Siapa yang mau menggoda sih..tadi aku itu kegerahan makanya ganti! Aku pikir kamu masih mandi didalam, taunya udah selesai.." Nadine tak terima dikatai menggoda.


"Lagian kenapa sih kamu malu? Kita kan sudah pernah melakukan hal yang lebih sebelumnya!"


"Tetap saja, aku masih punya urat malu. Beda sama kamu..."


Adrian terkekeh melihat kegugupan Nadine. Wanita yang ada didepannya ini memang masih polos. Nadine yang tak ingin terjebak dalam situasi canggung hendak melipir pergi menghindari Adrian.


"Mandi lah..kan kamu udah selesai, sekarang gantian aku yang mandi!"


"Siapa suruh kamu mandi? Tanggung jawab dulu ini..."


"Tanggung jawab apa?" Nadine tak paham atas perkataan Adrian.


"Junior saya bangkit..."


DEGHH...


Nadine membelalakkan matanya karena terkejut. Bisa-bisanya Adrian bersikap frontal seperti itu.


"Kalau itunya bangkit, urusannya sama aku apa?"

__ADS_1


"Ya kamu tidurin lagi lah..."


"Andai segampang itu, pasti sudah saya lakukan dari tadi," Adrian semakin mendekatkan wajahnya pada Nadine hingga jarak keduanya hanya tersisa beberapa inci saja.


"K-k-kamu mau apa?" ujar Nadine terbata-bata.


Tanpa menjawab pertanyaan Nadine, Adrian menempelkan keningnya di dahi Nadine. Nafas keduanya lirih bersahutan, menandakan bahwa mereka merasakan getaran yang sama.


Tak lama setelah itu, bibir keduanya segera menyatu tanpa permisi. Ciuman mereka begitu lembut dan menggoda. Perlahan menyatu lalu terpisah, kombinasi yang begitu indah tanpa ada penolakan.


Lidah Adrian dengan bebasnya bermain meluncur dalam mulut Nadine. Tangan Nadine terangkat untuk mencengkeram dan membungkus rambut Adrian erat. Nadine bisa merasakan gairahh Adrian yang tersulut karena aksinya itu. Dengan santainya mereka berdua saling membalas ciuman satu sama lain.


"Arghhh....." lirih Nadine yang mulai terbuai akan sentuhan Adrian.


Tak bisa dipungkiri, junior Adrian berubah tegang dan sedikit menekan bagian bawah Nadine saat tubuh keduanya semakin merapat tak berjarak.


Nadine melepaskan cengkraman tangannya di rambut Adrian dan menurunkan pegangannya untuk mengelus bahu kokoh Adrian. Keduanya kembali saling melumatt bibir mereka satu sama lain.


Bathrobe yang dikenakan Nadine sudah disibak oleh Adrian hingga tali yang melingkar terlepas. Tak ingin kalah, jari-jari panjang Adrian ikut bergerilya menyusuri dua gunung kembar depan milik Nadine. Karena gemas, Adrian memberikan sedikit remasann pada bagian itu.


"Nad...It's really hard for me to stop! Saya tidak akan melanjutkan ini jika kamu tidak berkenan.." ucap Adrian dengan nafas yang tersengal-sengal.


Bagaimanapun juga, Adrian tetap harus meminta persetujuan Nadine jika ingin berbuat lebih jauh meskipun Nadine tak menolak kegiatan panas mereka tadi.


"Apa kamu menginginkannya?" suara Adrian gemetar dan tidak terkendali.


Dengan malu-malu, Nadine menganggukkan kepalanya yang tertunduk kearah lantai. Dia tidak ingin membohongi diri sendiri kalau dia sebenarnya juga menginginkan yang lebih.


"Saya butuh jawaban yang pasti keluar dari mulut kamu..jawab dan tatap saya.."


Nadine lalu mendongakkan kepalanya keatas dan meyakinkan Adrian, "Iya..aku mau..."


***

__ADS_1


Jangan lupa ya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah sebanyak mungkin..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2