Favorite Sin

Favorite Sin
TRUST


__ADS_3

AUTHOR POV


"Ray, kamu segera siapkan mobil penjemputan dan keamanan yang ketat untuk keluarga saya! Sepertinya orang-orangnya Galih sudah mulai bergerak dan berani menyusup ke rumah orang tua saya."


"Siap, Pak! 10 menit lagi saya akan sampai disana. Saya sudah menghubungi bodyguards terdekat di lokasi untuk segera melakukan pengamanan dan pembersihan jalan."


"Baik, saya tunggu! Cepat!"


Tiittt...


Panggilan telepon terhenti.


"Apa yang terjadi Adrian?" tanya Papa Alan yang wajahnya berubah pias.


"Aku belum bisa memastikannya Pah, orang bawahanku sebentar lagi akan datang untuk mengamankan kalian. Nanti Ray juga datang membantu. Apa kalian yang ada disini membawa handphone?" ujar Adrian.


Semuanya mengangguk. Untung saja masing-masing dari mereka dalam keadaan mengantongi ponsel.


"Bagus, kita akan lebih mudah berkomunikasi nantinya. Kalau dompet bagaimana, apa ada yang membawa?"


"Papa bawa Adrian..ada di saku," jawab Papa Alan.


"Aku bawa Kak!" sahut Arjuna.


"Aku juga sama Kak, bawa kok..." Arga ikut menyahuti.


Adrian menoleh pada Nadine.


"Punyaku lengkap, handphone dan dompetku ada di tas yang aku bawa ini." Nadine mengangkat tas jinjingnya sambil menepuknya pelan.


Berarti hanya para pria dan Nadine saja yang membawa. Dompet milik Mama Diana, Fiona, dan Athena ada di dalam tas mereka yang terletak di kamar pribadi masing-masing.


"Papa dan yang lainnya tunggu disini semua, jangan kemana-mana! Kita masih punya waktu sekitar 7 menit lagi sampai Ray datang. Aku akan coba ambil tas Mama, Fiona, dan Athena di kamar. Arga, kamu bisa kan ikut sama Kakak, biar Arjuna jaga disini?"


"Bbb--bisa, Kak!" jawab Arga ragu.


"It's settled then. Aku dan Arga akan turun ke bawah untuk cek ombak, dan Arjuna akan berjaga-jaga disini. Ketika Ray sudah datang, dia akan memberikan sinyal laser merah kearah atap di sayap kiri."


"Kak, itu dibawah kan masih ada keluarga besar kita yang lain..ada Om, Tante, dan para sepupu..mereka bagaimana kondisinya, apa mereka ikut diselamatkan juga?" kata Fiona.


"Kakak tidak perduli! Soal mereka itu urusan belakang, prioritas terpenting saat ini adalah keselamatan kalian. Jangan memikirkan orang lain dulu..orang suruhanku hanya bertugas untuk membawa kalian, dan itu paten tidak diganggu gugat!"


"Satu lagi..andai kata Aku dan Arga belum keluar dari batas waktu yang ditentukan, kalian tetap harus keluar sesuai rencana. Turunlah lewat tangga darurat rahasia di rumah ini. Setelah keluar dari pintu belakang, kalian akan langsung bertemu Ray dan para orang suruhanku menjemput. Mengerti?"


Adrian menjelaskan rencananya panjang lebar.


"Sebaiknya tas Mama dan adik-adikmu tidak usah diambil Adrian..biarkan saja! Mama enggak mau kita pisah-pisah! Mama takut.."

__ADS_1


"Enggak bisa Mah..handphone, dompet, dan tas itu perannya vital karena didalam isinya terdapat data-data penting pribadi keluarga. Bisa bahaya kalau sampai diambil para penyusup itu. Bukan tidak mungkin mereka akan mengincar barang pribadi anggota keluarga ini," terang Adrian yang penjelasannya cukup masuk akal.


Adrian kemudian mengeluarkan sebuah pistol berjenis Glock 17 dari kantong dalam coat-nya dan menyerahkannya pada Arjuna.


Mau tidak mau Arjuna mengambil benda tersebut meski tangannya gemetar dan hatinya diselimuti oleh perasaan gugup.


Adrian sengaja memasrahkannya pada Arjuna, karena adiknya itu pernah berlatih menembak dan paham bagaimana mengoperasikannya. Arjuna juga memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni sehingga dipercaya untuk menjaga keluarga.


"Kamu bawa ini Jun, Kakak tahu kamu bisa menggunakannya. Pegang baik-baik! Jaga Papa, Mama, dan adik-adik." Adrian melirik Nadine sekilas. "Jaga istri Kakak juga.."


Nadine menggeleng, "No..aku mau ikut kamu!"


"Terlalu bahaya Nadine, jangan melawan dan turuti semua rencanaku!"


"Tapi nanti kamu gimana?"


"Aku akan baik-baik saja, hal seperti ini sudah biasa kuhadapi. Kamu tenang, aku tidak akan pernah menerima kekalahan!" Adrian menarik sudut bibirnya keatas sembari mengusap lembut pipi Nadine.


"I promise I'll be fine...aku mau kamu pegang ini, kamu tahu bagaimana cara memakainya bukan?" Adrian menaruh pisau lipat multifungsional diatas telapak tangan Nadine.


"But--"


"No but, I trust you..okay?" Adrian meyakinkan Nadine. "You can do it!"


Nadine mengangguk, "Okay."


Papa Alan berpesan, "Kamu hati-hati ya nak...Papa dan Mama akan menunggu kamu dan Arga, Papa titip..jaga adikmu baik-baik."


"Iya, Pah! Aku dan Arga akan turun sekarang, kita tidak punya banyak waktu. Ayo Arga.." Adrian memiringkan kepalanya sebagai isyarat agar Arga jalan terlebih dahulu.


"Oke kak..."


Nadine menatap nanar kepergian suaminya. Tidak bisa dipungkiri jika hatinya diliputi keresahan dan kegundahan saat ini. Hidup dan mati suaminya sedang dipertaruhkan. Nadine terus berdoa pada Tuhan agar mereka sekeluarga bisa selamat dan terhindar dari marabahaya.


***


"Astaga..Kakak itu bawa pistol berapa sih banyak banget?" Arga meneguk ludahnya kasar ketika mengetahui bahwa sang Kakak' menyimpan banyak senjata dibalik balutan pakaiannya.


"Cuman 2, satu dibawa Arjuna..dan yang satu ini kamu pegang! Di mobil masih ada juga.."


"Terus ini kakak gimana? Masa enggak pegang? Aku mana ngerti kak cara pakainya!!"


"Soal Kakak gampang, melawan dengan tangan kosong pun sanggup!" Adrian menyombongkan diri.


"Arga, pistol yang kamu pegang itu otomatis, pelurunya sudah terpasang jadi tinggal ditarik pelatuknya. Tapi ingat, jangan asal tarik! Kamu tunggu aba-aba dari Kakak, kalau Kakak bilang tembak..maka kamu harus lakukan dengan cepat!"


"I--iyy--ya Kak..." wajah Arga menegang hingga dia menjadi sedikit gagap.

__ADS_1


Tak terasa, sudah 7 menit berlalu. Jam tangan Adrian berkedip-kedip, menandakan bahwa Ray dan bawahannya sudah datang menjemput di pintu rahasia belakang. Saat ini Ray pasti sedang mengungsikan keluarganya ke tempat yang lebih aman.


"Jam Kakak berkedip-kedip, pertanda jika Ray sudah sampai. Kita harus cepat Arga..ayo!"


Adrian dan Arga lalu berjalan mengendap-endap menuju lantai 1, tempat dimana kamar milik Mama, Fiona, dan Athena berada. Untungnya saat mereka turun, tidak ada penjahat atau penyusup yang memergoki aksi mereka. Keadaan rumah menjadi sepi dan hening seperti tanpa penghuni.


"Kita bagi tugas, Kakak akan ke kamar Papa dan Mama..kamu ke kamar Fiona dan Athena!" perintah Adrian.


"Siap, Kak!" Arga menurut.


Tempat Arga berdiri memang jaraknya lebih dekat dengan kamar Fiona dan Athena. Dengan gerakan pelan, Arga memutar knob pintu supaya suaranya tidak terdengar.


"Aman?" tanya Adrian berbisik seraya keluar dari kamar.


"Aman Kak, ini tas nya udah kuambil...sama beberapa barang penting!" Arga berhasil melaksanakan tugasnya. "Kakak gimana?"


"Aman juga, ini tas Mama dan dokumen penting Papa sudah Kakak bawa."


Arga menghela nafasnya lega.


"Tapi Kak, ini kok sepi ya..pada kemana keluarga kita yang lain? Tadi kan mereka di ruang tamu?! Jarak dari kamar ke ruang tamu memang jauh sih..tapi biasanya akan terdengar kalau ada suara-suara ramai!" kata Arga.


"Entahlah! Dugaan Kakak saat ini, mereka mungkin sedang disandera. Mereka tidak mungkin kabur karena mobilnya masih ada di halaman depan, lihatlah!" Adrian menyibak gorden jendela disampingnya dan melihat kearah luar. "Penyusup itu pasti menunggu kita keluar dari sarang..."


DORRRRR.....DORRRR.....


Suara tembakan yang keras terdengar lagi.


"DIMANA ALAN NATADIPURA DAN ANAK-ANAKNYA...CEPAT KATAKAN!!!!"


"Kak...bagaimana kita bisa keluar sekarang?" lirih Arga pelan. Nyalinya mendadak ciut mendengar suara tembakan yang dilesatkan keatas langit-langit dari arah ruang tamu.


Sebaliknya Adrian, dia justru bersikap tenang. Adrian tak menanggapi ketakutan Arga dan memilih untuk berpikir merencanakan sesuatu.


***


ADRIAN



ARJUNA



***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya. Terima kasih 😁

__ADS_1


__ADS_2