
AUTHOR POV
"Kak tunggu sebentar yah..aku mau panggil Mama dulu, dia pasti seneng kalau ketemu kakak disini!!" pekik Athena
"Hmm...tapi..A..thena, kakak..." Nadine mengusap lembut punggung tangan Athena.
"Please tunggu bentar aja, jangan kemana-mana, hold on for a minute.."
Belum sempat Nadine mencegah Athena, dia langsung lari terbirit-birit mengabaikan Nadine untuk memanggil Mama Diana yang berada di lorong seberang. Rupanya gadis itu nampak kegirangan dan antusias setelah bertemu dengan Nadine, orang yang telah menolongnya dulu saat tengah berlibur di pantai. Sedangkan Nadine yang ditinggalkan malah kebingungan sendiri.
"Udah selesai pilih sayurnya?"
Suara bariton yang terdengar dari belakang membuat Nadine terkesiap.
"Hmm..ini baru mau ambil.." tangan Nadine merogoh aneka sayuran yang berada di chiller dengan matanya yang masih menatap Adrian lekat. Dengan tergesa-gesa diambilnya wortel, jagung manis, sayur bayam dan sayur kangkung masing-masing 3 ikat, lalu ada kentang, rebung, brokoli, dan selada. Saat mengambil sayuran itu sesekali mata Nadine melirik Adrian.
"Kamu sudah selesai teleponnya?"
"Iya..makanya belanjanya dipercepat lagi. Saya dapat panggilan dari atasan saya. Ada urusan yang mau saya bereskan setelah ini!" titah Adrian.
Kehadiran CEO Adrian Corps memang sangat dibutuhkan oleh perusahaan saat ini. Ada beberapa berkas penting yang harus ditandangani oleh Adrian dengan segera. Belum lagi, dirinya ada janji temu makan malam dengan klien dari Jerman yang baru tiba tadi pagi.
Menghitung banyaknya sayuran yang sudah masuk dalam troli, membuat Nadine tiba-tiba teringat akan sesuatu, "Oh ya..kita belum beli daging sapi, ikan, sama ayam!" ucap Nadine.
"Ngapain?"
"Ya buat dimakan, kan itu lauk. Masa beli sayur tapi enggak ada proteinnya...kan aneh?!!"
"Ini kan ada lauk.." Adrian mendebat Nadine dengan mengangkat berbagai olahan frozen food yang sudah dipilih mereka tadi.
"Itu frozen food!! Dimakan kalau lagi kepepet aja, enggak boleh keseringan karena enggak sehat..jadi harus tetep beli protein yang fresh." Nadine tidak mau kalah.
__ADS_1
"Hhh...ribet!!" bola mata Adrian digerakkan memutar keatas sebagai tanda ekspresi kekesalannya.
Berhubung letak showcase chiller khusus untuk daging-daging dekat dengan tempat mereka berdiri. Tanpa ba-bi-bu, dengan cepat Adrian langsung mengambil daging apa saja yang tampak didepan mata..tanpa perduli daging apa yang sudah diambilnya itu.
Ikan, cumi, udang, beef premium, dan fillet dada ayam mulai dimasukkan ke dalam troli satu persatu. Membuat troli belanjaan mereka jadi menggunung, sampai permukaan atasnya pun ikut tertutup oleh styrofoam tray dari jenis-jenis protein yang mereka beli.
"Puas sekarang...apa masih kurang PROTEIN-NYA?" kata protein yang terucap dari mulut Adrian sengaja ditegaskan seolah-olah dia ingin menyindir Nadine.
"C-cu-cukup kok.." gagapnya Nadine mendadak kumat. Anehnya ini terjadi hanya saat dia berinteraksi dengan Adrian.
"Kita bayar sekarang. Kalau ada yang kurang kamu bilang saya, nanti saya kasih uangnya."
Karena belanjaan mereka dirasa sudah cukup lengkap dan banyak, mereka berdua langsung bergegas menuju kasir untuk membayarnya.
***
"Aduhh..Mama kemana sih, tadi kan disini..kok sekarang udah enggak ada?!" Athena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah lelah berkeliling mencari kesana-kesini, ternyata Mama Diana malah berada tepat didepan chiller buah dan sayuran. Mama Diana kedapatan sedang memilih-milih buah-buahan segar disitu. Athena pun menghampiri Mamanya sambil berdecak kesal.
"Mama tuh kemana aja sih, dicariin enggak nongol-nongol...Athena capek tahu!! Naik turun nyariin Mama sama Mbak..ditelpon susah lagi!!"
Mama Diana menoleh Athena, agaknya dia sedikit keheranan karena anaknya tiba-tiba kesal. Biasanya kalau ditinggal-tinggal pun juga tidak apa-apa.
"Maaf sayang, Mama pikir kamu lagi ke lihat-lihat di section face care atau makeup disini..jadi ya Mama tinggal aja, biasanya kan begitu..."
Dua Mbak ART yang ikut mendampingi Mama Diana pun ikut cengar-cengir. Mereka jadi merasa bersalah karena tidak mengecek HP.
"Maaf Non, hp saya juga tadi di silent.. tidak dengar, apalagi disini kan suaranya berisik banyak orang belanja."
"Hmm..alesan lagi, Mbak sih kebiasaan!!"
__ADS_1
Athena baru ingat, saat ini dirinya dan Mama Diana sedang berada di tempat buah dan sayuran. Tempat dimana dia bertemu Nadine. Sayangnya, batang hidung Nadine malah tidak nampak. "Ckkk..ah gara-gara aku nyariin Mama tadi aku jadi kehilangan jejak Kak Nadine." Athena masih celingukan kanan-kiri berharap Nadine masih bisa ditemukan di sekitar sini.
"Nadine..?!"
"Iya mah..Kak Nadine yang waktu itu nolongin aku sama Fiona di pantai. Tadi orangnya ada disini, persis di depan chiller buah dan sayuran. Dia lagi belanja juga sama temannya.."
"Ohhh Mama ingat sekarang. Dia tinggalnya disini ternyata?"
"Enggak sih mah, dia baru pindahan kesini. Aku itu tadi nyariin Mama supaya bisa ketemu sama Kak Nadine. Tadi orangnya ada disini persis, lagi belanja sayur. Tapi sekarang udah ilang aja."
"Yahh, sayang banget. Mama juga sebenarnya pengen ketemu dia.."
"Telat mah..tapi untung sih, aku save nomernya Kak Nadine kok. Nanti deh aku telepon dia, aku suruh main ke rumah boleh kan?"
"Boleh dong sayang, ajak Nadine main ke rumah. Nanti Mama suruh orang-orang rumah buat masak menyambut dia." Athena tersenyum manis mendengar penuturan Mamanya.
***
Barang belanjaan selesai dimasukkan ke dalam bagasi. Adrian pun bersiap mengantarkan Nadine kembali ke rumah sewaannya, lalu dia akan langsung pergi ke kantor setelahnya.
"Setelah ini saya ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa ditinggal. Kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya. Dan satu lagi, jangan pernah kamu buka pintu rumah untuk orang asing. Meski ada yang mengetuk berkali-kali, kalau itu bukan saya atau Ray, jangan dibuka!!"
"Iya, aku mengerti."
"Bagus, untuk sekedar informasi..Ray pulangnya besok lusa. Dan saya mungkin juga akan pergi sampai besok."
"Oh ya...Adrian, bagaimana perkembangan soal keberadaan flashdisk Ayah? Apa sudah ada titik terang? Ini sudah hampir seminggu, apa belum ada tanda-tanda juga?" tanya Nadine penasaran.
Adrian menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Memang belum, itu sebabnya saya tidak akan pulang malam ini. Saya mau meneliti lagi brankas milik Ayahmu. Prosesnya memakan waktu yang lama, karena Ayahmu meninggalkan pesan yang ambigu. Semoga saja bisa cepat tuntas." Nadine mengangguk.
Harus Adrian akui, kejadian ini sangat menguras tenaganya. Sudah berhari-hari namun belum ada satupun temuan yang bisa dianggap sebagai angin segar. Berhadapan dengan misteri dan ketidakpastian malah menambah lelahnya saja. Andai kata ada petunjuk yang bisa membawanya untuk memecahkan pesan dan kode brankas itu, mungkin Adrian akan lebih bersemangat...
__ADS_1