
AUTHOR POV
"Kenapa kamu senyum-senyum?" Adrian menyelidik wajah Nadine yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.
"Emangnya ada larangan untuk orang senyum-senyum? Aku itu cuman happy aja diajakin jalan-jalan karena aku belum pernah ke sini,"
Untuk pertama kalinya, Nadine bisa curi-curi waktu untuk refreshing sejenak setelah dihantam berbagai masalah dalam beberapa bulan terakhir. Meski kunjungan awal ke Turin adalah untuk membawa pulang kakaknya, setidaknya Nadine punya kesempatan untuk berkeliling dan berjalan-jalan menyusuri kota Turin agar dia bisa merilekskan diri.
"Kamu suka disini?" Adrian menundukkan kepalanya untuk menoleh pada Nadine yang tingginya tak sampai bahunya.
"Siapa coba yang enggak suka? Turin kotanya indah juga, aku suka dengan suasana keramaiannya. Cuaca disini juga sedang bagus karena kita datang saat musim panas berlangsung!" senyuman tipis terpancar di wajah lelah Nadine.
"Kamu aneh! Biasanya perempuan itu paling benci kalau kepanasan. Tapi kamu beda, sukanya malah panas-panas!"
Didalam ruang lingkup keluarga, teman, atau rekan bisnis Adrian yang berjenis kelamin perempuan, rata-rata dari mereka susah sekali diajak kompromi kalau ada pertemuan yang digelar di tempat outdoor dengan alasan kepanasan.
"Seperti yang kamu bilang, aku ini original!" Nadine tertawa kecil yang diikuti oleh Adrian.
"Kita akan ke restoran yang ada diujung jalan ini, kamu pasti lapar kan?" ajak Adrian.
Nadine mengangguk setuju, "Okay, aku mengikut saja!"
Sesampainya di restoran tersebut, Adrian langsung berbicara pada salah satu waitress disana dan memintanya untuk mencarikan tempat duduk khusus untuk dua orang.
"Adrian..boleh enggak kalau kita duduknya diluar, yang di pinggir jalan biar bisa lihat orang lewat-lewat?"
Adrian ragu untuk mengiyakan permintaan Nadine, sebab dia lebih suka untuk duduk di tempat yang lebih private. Tapi karena Adrian tak ingin membuat Nadine sedih, dia akan membiarkan Nadine untuk menentukan.
__ADS_1
"Ya sudah, boleh. Kita duduk disana kalau begitu!" Adrian menujuk kursi kosong yang menghadap ke jalanan membuat Nadine menjadi girang dibuatnya.
Source: Pinterest
"Tidak sulit ya membuat kamu senang. Hanya cukup diajak pergi makan begini saja, mood kamu langsung meningkat drastis!!" ucap Adrian ketika keduanya sudah sama-sama duduk.
"Efek karena aku udah lama banget enggak bepergian. Makanya momen ini sekalian aku manfaatkan buat liburan tipis-tipis."
"Kamu mau pesan makanan apa?" tanya Adrian seraya membolak-balikkan menu makanan yang tersedia
"Enggak tahu, kamu yang pilih aja! Semua makanan aku suka kok, asalkan bukan udang atau kepiting. Aku ada alergi soalnya,"
"Kamu alergi seafood?"
Adrian mengangguk paham. Setelah memilih-milih menu, dia mengacungkan jarinya untuk memanggil pelayan restoran. Bruschetta, agnolotti, dan brasato al barolo adalah menu makanan yang dipilihnya untuk disantap. Tak lupa, Adrian juga meminta dua botol air mineral untuk minumnya.
Satu hal yang membuat Nadine tercengang kaget, yaitu kefasihan Adrian dalam berbahasa Italia. Buktinya, saat memesan semua makanan itu Adrian menggunakan bahasa Italia.
"Kamu bisa bahasa Italia? Barusan itu makanan apa aja yang kamu pesan?"
"Iya, saya cukup lancar berbicara dalam bahasa Italia. Dan untuk yang saya pesan tadi, semua itu adalah menu yang direkomendasikan di restoran ini. Ketiganya terkenal sebagai favorite dish di Turin. Semoga rasanya cocok di lidah kamu!"
"Woww..kamu udah kayak orang pro aja!" puji Nadine.
"Sebenarnya restoran ini milik salah satu teman lama saya. Kami bertemu saat di universitas, namanya Luca."
__ADS_1
"Berarti kamu pernah kesini sebelumnya?"
"Restoran milik Luca itu konsepnya franchise yang ada dimana-mana. Saya pernah mengunjungi restonya yang ada di Roma dan Naples. Tapi kalau yang di Turin, ini baru pertama kali. Luca itu teman satu jurusan saya. Kami berdua lulus dengan gelar yang sama, yaitu ekonomi dan bisnis. Bedanya, range dia lebih fokus ke jurusan kuliner. Sedangkan saya ke condong di bidang real estate, arsitektur dan kontraktor," jelas Adrian panjang lebar.
Nadine terkagum-kagum, "That's awesome!"
"Bagaimana denganmu? Kamu dulu pernah menjadi seorang guru kan di sekolah berkebutuhan khusus?" tanya Adrian balik.
"Darimana kamu tahu? Ahh..kamu pasti udah mengorek-ngorek informasi pribadiku, enggak kaget lagi!" Nadine memutar bola matanya keatas.
Adrian menyunggingkan sudut bibirnya, "Jawab saja pertanyaan saya!"
"Pekerjaan sebagai guru TK itu hanya selingan sementara saat aku kuliah untuk mengisi kekosongan waktu. Karena aku suka banget sama anak-anak. Mereka sangat menggemaskan dan sulit untuk ditolak!" jawab Nadine jujur.
Menu makanan yang tadi sudah dipesan akhirnya datang juga disela-sela pembicaraan mereka. Kedua waitress yang bertugas untuk menghidangkan makanan melakukannya dengan cukup berhati-hati karena masih panas.
"Kenapa melihat saya begitu? Langsung saja dimakan!" Adrian menyadari tatapan Nadine yang tengah memperhatikannya.
"Aku senang karena kita bisa melakukan percakapan normal seperti ini. Biasanya kan kamu dan aku seringkali irit berbicara! Terima kasih ya udah mau menghiburku!" ujar Nadine.
Adrian hanya merespon biasa, "Habiskan makananmu! Setelah ini kita akan jalan-jalan lagi ke tempat lain."
"Okay."
Keduanya pun segera menikmati santapan makanan yang dari baunya saja sudah cukup menggugah selera.
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.