
AUTHOR POV
3 hari telah berlalu sejak kedatangan Nadine di LA, namun hingga saat ini belum ada kabar apapun mengenai suaminya. Adrian benar-benar seperti orang yang hilang bak ditelan bumi.
Setiap malam yang dilalui Nadine tanpa kehadiran Adrian membuatnya sulit untuk tertidur dan kerap kali bermimpi buruk. Rasanya Nadine tak menginginkan apapun kecuali berada di samping Adrian saat ini.
Papa Alan juga tidak mampu berbuat banyak karena anak buahnya tak bisa melacak keberadaan Adrian. Ada dua kemungkinan, antara Adrian yang menyusun semua rencananya untuk menangkap Galih dengan rapih dan tertutup, atau memang Adrian sedang dalam bahaya saat ini.
Bohong rasanya jika Papa Alan tak khawatir dengan keadaan putra sulungnya yang tidak pernah ketebak jalan pikirannya. Adrian selalu memiliki cara pandang yang berbeda dengan adik-adiknya yang hidupnya cenderung lurus-lurus saja.
"Mah...aku jadi enggak tega melihat Kak Nadine yang setiap hari selalu murung. Semenjak dia datang ke LA, aku hampir enggak pernah melihatnya tersenyum. Yang ada wajahnya semakin pucat saja." ucap Arjuna pada Mama Diana.
Mama Diana menghela nafasnya kasar. "Hmmm...Mama juga sama Jun. Tapi mau bagaimana lagi? Papa juga belum dapat informasi mengenai keberadaan kakakmu. Kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu."
Dari balkon atas, keduanya sedang menatap kearah Nadine yang sedang duduk di halaman belakang memandangi kebun mawar disana. Wajah Nadine tidak nampak sumringah dan terlihat lesu.
"Anak buah Papa kan banyak sih Mah..apa enggak ada cara lain untuk menemukan Kak Ian? Udah 3 hari lho ini! Apa perlu kita sewa detektif lain? Aku akan bantu cari deh, kelamaan nunggu Papa!" kesal Arjuna.
Menurutnya, penanganan dari sang Papa begitu lambat sehingga Kakaknya Adrian belum ada kabar hingga detik ini. Selain khawatir dengan kondisi Adrian, Arjuna juga merasa sedih melihat Kakak iparnya yang termenung seperti orang linglung dalam beberapa hari terakhir ini.
"Sebaiknya jangan Jun, berhentilah bersikap gegabah! Jangan pernah melakukan hal apapun tanpa persetujuan Papa. Kamu pikir Papa tidak sedang berusaha? Ini semua tidak semudah membalikkan telapak tangan," cegah Mama Diana.
"Sekelas Papa aja enggak bisa nemuin Kak Ian, apalagi Kak Juna! Sabar aja...positive thinking, mungkin Kak Ian lagi dalam perjalanan pulang!" celetuk Arga yang tiba-tiba muncul dari belakang menghampiri sang Mama dan kakak keduanya.
Arjuna berdecak kesal dan memalingkan wajahnya.
"Cckkk...menunggu itu enggak pasti Arga. Jadi orang harus kejar bola. Bukan berarti karena papa yang enggak berhasil menemukan, aku juga mengalami yang sama. It doesn't work like that. Siapa tahu aku lebih handal?" Arjuna merasa percaya diri.
"Papa enggak akan izinin Kak!" sahut Arga yang mendudukkan dirinya di sofa bersebelahan dengan Mama Diana.
Arga menoleh, "Dari mana kamu tahu?"
"Karena aku udah pernah mencobanya kemarin. Bukan cuman Kak Juna aja yang pengen mencari Kak Ian, aku pun juga sama. Tapi Papa mencegahku, alasannya biar tidak terlalu banyak yang terlibat. Terlalu berbahaya."
Mama Diana menengahi kedua anak lelakinya.
"Sudahlah Arjuna..Arga...lebih baik kita tunggu aba-aba dari Papa aja ya. Mama juga khawatir kalian kenapa-napa. Waktu kalian masih kecil saja, kalian hampir diculik oleh komplotannya Galih. Tidak menutup kemungkinan, kalau kalian ikut campur mereka akan turun tangan."
"Terus Kak Ian gimana Mah?" tanya Arjuna lagi.
"Mama lebih percaya Adrian bisa mengatasi semuanya daripada kalian yang ikut-ikutan enggak jelas!" omel Mama Diana.
Arjuna dan Arga akhirnya menurut dan memilih untuk mengikuti saran dari Mamanya. Lagipula, tidak mungkin juga bagi mereka untuk merencanakan sesuatu yang diam-diam tanpa sepengetahuan Papa Alan karena akan berujung ketahuan.
Hanya Adrian seorang lah yang memiliki kemampuan incognito dan terhindar dari lacakan Papa Alan. Buktinya sampai sekarang belum ketemu juga dimana orangnya.
__ADS_1
"Mending kamu ajak jalan-jalan Nadine aja sana, hiburlah dia! Mama semakin cemas melihat Nadine yang jarang makan, jarang bicara, jarang tersenyum. Padahal dia sedang hamil dan tidak boleh terlalu banyak berpikir, nanti bisa mempengaruhi kandungannya!" jelas Mama Diana.
"Masalahnya Kak Nadine itu selalu enggak mau Mah kalau aku ajakin keluar. Hari-harinya cuman disibukkan dengan merajut sama membaca buku di kamarnya. Kalau pagi begini, udah rutinitas tuh duduk-duduk di taman rumah sambil lihat kebun mawar kita!" kata Arga.
Kemarin, sebenarnya Arga dan Athena mencoba mengajak Nadine pergi berjalan-jalan ke taman kota dan pusat perbelanjaan untuk sekedar me-refresh pikiran, namun Nadine menolaknya mentah-mentah. Dia selalu beralasan ingin di rumah saja menunggu Adrian.
"Dicoba lagi, ganti suasana aja...ajakin Nadine ke pantai. Barangkali dia mau, soalnya setahu Mama dulu Nadine pernah cerita kalau dia suka sekali melihat ombak laut."
"Ya sudah Ma, biar aku dan Kak Arjuna aja yang membujuknya. Kalau Kak Nadine mau, aku nanti akan minta tolong Athena sama Fiona untuk menyiapkan basket untuk piknik sekalian. Biar rame-rame pergi berlima!" usul Arga.
"Loh, si Mama enggak diajak? Papa juga gimana?" tanya Arjuna.
"Ini itu acaranya anak muda-muda Kak! Orang tua jaga rumah aja...ke pantai juga mau ngapain? Mau berenang? Entar yang ada tenggelam kayak batu! Papa sama Mama juga mana kuat lari-larian di pasir!" tukas Arga yang jahil.
Mama Diana tak terima dan langsung menepuk bahu Arga dengan hentakan keras dan menyentil telinganya. "Dasar ya, anak durhaka, anak nakal! Orang tua sendiri dikatain, jahat banget sih kamu!"
"Ampun Ma...kan bercanda, lagian Papa sama Mama juga kalau ikut mau ngapain? Mending kalian berdua quality time gitu, daripada ngikutin anak muda yang aktif kayak kita-kita, ya kan?" Arga beralasan yang logis agar Mama Diana tak lagi mengamuk.
"Sudah ah sana, kalian berdua pergi temui Nadine sekarang!" Mama Diana mendorong kedua putranya untuk segera beranjak dari sofa dan pergi dari balkon.
Arjuna dan Arga akhirnya mengalah dan melangkahkan kaki mereka untuk menghampiri Nadine yang sedang duduk terdiam di bangku panjang yang ada di taman.
Arga kemudian berjalan mengendap-endap dan sengaja menjahili Nadine dengan mengagetinya dari belakang.
"BAAAA!!!" Arga memegangi kedua bahu Nadine pelan.
"Hai Kak Nadine!" sapa Arga dengan lantang dan tangannya yang melambai-lambai.
"Ckkk...kamu tuh ya, bikin kaget! Hampir aja ini jantung copot, sampai gemetar nih tangan Kakak!" omel Nadine.
"Tahu nih Arga..iseng banget! Orang hamil dijahili, bayinya bisa kaget entar! Enggak kira-kira dulu apa. Main asal kamu!" Arjuna memarahi tindakan Arga yang kekanak-kanakan.
"Bercanda Kak...maaf ya Kak Nadine, maaf juga ya baby! Uncle Arga tadi bikin kamu kaget, jangan marah okay!" Arga berceloteh sendiri seakan-akan sedang berbicara dengan calon keponakannya.
Nadine dan Arjuna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah Arga.
"Halo Kak..kakak gimana, sehat-sehat kan? Ada sesuatu yang lagi Kakak pengen enggak? Makanan apa gitu?" ucap Arjuna.
Sedikit yang Arjuna ketahui, selera makan Nadine semakin hari semakin berkurang. Saat makan malam bersama saja, Nadine selalu mengambil porsi yang sedikit bahkan roti hanya dicuil saja.
"Hi Arjuna, belum ada kok...Kakak sehat dan sejauh ini semua masih normal. Kakak belum ada pregnancy craving untuk saat ini," balas Nadine yang tersenyum tipis.
"Atau gini deh Kak, daripada diam dan enggak ada kerjaan disini..mau enggak kalau misalnya kita ke Pantai?" Arga menawari.
Nadine menggeleng. "Enggak ahh...Kakak disini aja ya."
__ADS_1
"Ishh, kok gitu sih Kak? Enggak seru nih, masa udah 3 hari stay di LA..Kak Nadine belum pernah jalan-jalan kemana-mana. Di rumah mulu, enggak bosan apa?"
"Siapa bilang bosan? Kakak happy-happy aja kok! Kamu kali yang bosan..."
"Ayolah Kak, ikut yuk ke pantai...mumpung ini udah sore dan cuaca lagi bagus agak mendung. Nanti bisa sekalian piknik disana! Mau ya." bujuk Arga tak menyerah.
"Tapi Kakak malas Arga! Malas ganti baju dan malas prepare nya!" jawab Nadine.
"Malas gimana sih? Ibu hamil harus aktif bergerak dong, jalan-jalan keluar biar baby di perut ikutan happy. Kalau ibunya diam aja baby nya bakal protes didalam sana!" sahut Arga.
"Benar tuh Kak kata Arga, kita ke pantai saja! Jaraknya dekat kok dari sini. Enggak perlu ganti juga enggak masalah. Kakak udah cantik mah pakai apapun. Soal makanan dan lain-lain biar Fio dan Athena yang handle..gimana? Tertarik?" timpal Arjuna.
Melihat kedua adik iparnya yang memohon dengan raut wajah memelas, membuat hati Nadine luluh juga pada akhirnya. Baiklah, kali ini Nadine akan mengiyakan ajakan mereka.
Tak ada salahnya ke pantai sebentar, barangkali bisa sekalian menikmati sunset. Sudah lama Nadine rindu melihat laut. Daripada dia menunggu Adrian yang tak kunjung ada kejelasan, lebih baik dia pergi bersama adik-adik iparnya.
"Okay..aku ikut," jawab Nadine.
"YESSSSS!!! WOHOOO!!!" teriak Arga dan Arjuna berbarengan. Sekian hari demi hari gagal membujuk Nadine, sekarang mereka berhasil juga.
"Ayo Kak, kita siap-siap sekarang! Nanti bisa lihat sunset sama aku!" ucap Arga semangat.
Namun belum sempat Nadine menjawabnya, tiba-tiba terdengar suara bariton yang menggema dari arah belakang menyahuti percakapan mereka.
"Siapa yang mengizinkan kalian membawa Nadine pergi sembarangan?"
Suara itu. Suara yang membuat Nadine rindu begitu hebatnya. Nadine sangat hafal siapa yang saat ini sedang berbicara.
Ketiganya langsung membalikkan tubuh mereka dan menoleh pada sumber suara tersebut.
Ketika berbalik, terlihat sosok Adrian yang dengan gagahnya berdiri tegap menggunakan setelan kemeja yang kancing atasnya sengaja terbuka, lalu sepasang sepatu pantofel melekat di kakinya.
Senyuman Nadine merekah dengan lebar. Wajah sedih dan pucatnya terganti dengan ekspresi wajah yang bahagia, karena melihat sesosok pria yang telah dirindukannya dalam 3 hari terakhir ini.
Adrian.
Ya, Adrian suaminya sedang berdiri di seberang sana, seakan memanggilnya untuk datang dan mendekat.
***
NADINE & ADRIAN
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Maaf kalau belum bisa upload rutin karena kesibukan di real life..jangan di unfav ya..aku bikinnya perjuangan nih! Terimakasih, sudah mau setia untuk baca! Kedepannya bakalan lebih seru kok...hihi