
AUTHOR POV
Hangatnya cahaya sinar mentari pagi mulai menusuk lewat sela-sela jendela kamar, membuat Nadine terbangun dari tidurnya di pagi hari dengan posisi tangannya melingkar di perut Adrian. Sedangkan tangan Adrian masih betah merangkul bahu Nadine erat.
Perlahan tapi pasti, Nadine mencoba melepaskan lilitan tangannya pelan-pelan agar Adrian tidak ikut terbangun. Disisi lain dia juga merasa takut akan reaksi Adrian yang salah-salah berpotensi untuk mengeluarkan tantrum-nya pagi ini bila melihat bagaimana posisi tidur mereka.
Disatu sisi, Nadine merasakan adanya perasaan hangat dan bahagia. Bayangan akan dirinya dan Adrian tidur berpelukan semalaman, membuat hatinya berdesir hebat. Pasalnya, selama ini Nadine dan Adrian selalu tidur di kamar yang terpisah. Tapi semalam, secara personal Adrian meminta Nadine untuk tidur bersama dengannya dan di satu ranjang yang sama. Sebuah kemajuan bukan?
Ponsel milik Nadine yang berada diatas nakas berbunyi. Di layar tertera nama Mama Diana sedang memanggil. Dalam hati, Nadine bertanya-tanya ada apakah gerangan yang membuat Mama mertuanya itu menelpon pagi-pagi.
Nadine segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya dan keluar menuju dek agar tidur Adrian tak terganggu dengan suaranya.
📱
"Halo Mah...Selamat pagi."
^^^"Selamat pagi sayang"^^^
"Bagaimana kabar Mama dan keluarga?"
^^^"Mama, Papa, dan adik-adik disini semuanya baik. Kabar kamu sendiri gimana sayang? Kamu baik-baik aja kan sama Adrian?!"^^^
"Aku baik kok Mah, ini aku baru bangun. Sekarang lagi ada di yacht."
^^^"Yacht? Kalian mau berlayar kemana? Bukannya kalian seharusnya ada di rumah?"^^^
"Aku juga enggak tahu Mah.. tiba-tiba Adrian ngajakin aku berlayar. Aku juga belum tahu ini mau dibawa kemana?!"
^^^"Ciri khas suamimu memang begitu, full of surprises! Sabar-sabarin aja ya menghadapi anak Mama."^^^
"Hmm iya Mah, menantu Mama ini udah mulai terbiasa dengan sifat, sikap, dan kelakuan anak Mama setiap hari."
"Oh iya Mah, kemarin malam Adrian mulai mengalami mimpi buruk lagi...sama seperti yang pernah Mama ceritakan ke aku."
^^^"Terus gimana keadaannya sekarang? Adrian enggak apa-apa kan? Mama jadi takut.. biasanya sehabis mimpi buruk anak itu akan tantrum dan diam seharian."^^^
"Tenang Mah..Adrian menangani dirinya sendiri dengan baik. Aku nanti juga akan coba pancing Adrian untuk melakukan kegiatan agar dia enggak terlalu kaku dan kepikiran soal mimpi buruknya."
^^^"Semoga ya Nad kamu bisa membujuknya. Mama sangat khawatir. Mama rasanya jadi pengen peluk dan menyayangi Adrian. Tapi kamu tahu sendiri kan, dia tidak akan membiarkan Mama begitu dekat. Dia benar-benar keras kepala.."^^^
__ADS_1
Mama Diana mulai terisak menangis dalam telepon.
"Loh kok nangis Mah.., jangan nangis dong! Adrian disini baik-baik aja kok. Nanti kalau ada waktu senggang, aku akan minta Adrian untuk berkunjung ke rumah Mama dan Papa deh.."
^^^"Makasih ya Nadine, kamu membawa banyak cinta dan kasih untuk keluarga ini. Selalu ingat janji kamu sama Mama ya..tolong tetaplah bersama Adrian apapun situasinya!^^^
Nadine terdiam sejenak mendengar ucapan Mama Diana. Apakah dia sanggup bertahan dan memberikan kesempatan pada pernikahannya dengan Adrian sedangkan ada kontrak ada di depan mata yang menjadi penghalang.
Nadine juga tak dapat membohongi perasaannya sendiri kalau di hatinya mulai timbul rasa ketertarikan dan rasa sayang pada Adrian. Laki-laki yang kaku dan berhati es itu menarik perhatiannya akhir-akhir ini.
^^^"Nadine sayang, kamu masih disana?"^^^
"Ya Mah..aku di sini. Maaf aku tadi cuman lagi mikir aja..Mama tenang dan jangan menangis lagi ya, aku ikutan sedih kalau mendengar suara tangisan Mama. Aku akan berusaha semampuku untuk tak membiarkan hal buruk terjadi pada Adrian."
^^^"Mama ngerti kok.. makasih banyak ya sayang! Kalau gitu Mama tutup telepon nya ya..Papa mertua kamu udah manggil tuh!"^^^
"Oke Mah..see you!"
Ketika telepon dengan Mama Diana telah selesai, Nadine hendak berbalik badan untuk kembali masuk ke kamar. Dan tiba-tiba, Adrian sudah berdiri tegap di belakangnya dengan posisi kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.
"Siapa yang telepon?" tanya Adrian.
"Okay. Kamu langsung mandi sekarang, setelah mendarat di pelabuhan kita akan langsung ke bandara setelahnya."
Nadine tak membantah dan tak memiliki keinginan untuk bertanya lagi karena dia sudah bisa memprediksi jawaban Adrian, "Ya, aku akan mandi..ada baju gantinya enggak. Kita kan enggak ada persiapan?!"
"Semalam Ray membawakan paper bag berisi baju ganti untuk kamu. Ada di lemari, langsung ambil aja."
"Oh ya..semalam siapa yang udah memakaikan aku baju? Ini yang aku pakai kemeja kamu kan?" Nadine melirik Adrian dengan senyumnya.
Tubuh Adrian seketika menegang karena pertanyaan Nadine. Setelah kegiatan panas yang mereka lakukan di kamar hotel, Adrian memang memakaikan kemejanya untuk menutupi tubuh Nadine. Apalagi semalam mereka harus pindah tempat dengan menginap di yacht. Otomatis tubuh Nadine harus tertutup pakaian.
"Iya, saya yang pakaikan. Tidur kamu terlalu nyenyak..saya jadi tidak tega membangunkan kamu," Adrian menjawabnya jujur tanpa malu. Tidak salah bukan? Mereka juga sudah sah suami-istri.
"Makasih...kalau gitu aku mandi dulu."
Tiba-tiba Nadine mencium pipi kanan Adrian secepat kilat dan langsung melipir pergi dengan jalan berjinjit menuju kamar mandi.
Adrian pun dibuat kaget dengan tingkah absurd Nadine, ia memegangi sisi pipinya yang baru saja terkena kecupan manis dari sang istri.
__ADS_1
***
Seperti perintah Adrian di malam sebelumnya, pagi ini Adrian, Nadine, serta Ray akan terbang menuju Turin, Italia. Mereka memliki satu tujuan, yaitu membawa Nathan pulang. Ray melakukan tugasnya dengan baik, jet pribadi Adrian siap untuk lepas landas menuju Turin.
"Sebenarnya kita mau pergi kemana Adrian?" Nadine bertanya seraya memasang seat-belt pesawat.
"Turin, Italia." jawab Adrian singkat.
Nadine meringis kebingungan, "Turin? Buat apa kesana?"
"Kamu mau cari kakak kamu Nathan kan? Maka Turin adalah jawabannya," tegas Adrian.
"Kamu serius Kak Nathan ada di Turin?" Darimana kamu bisa tahu? Apa dia baik-baik aja? Ini bukan tipuan kan?" celoteh Nadine yang tak memberi lawan bicara kesempatan untuk berbicara.
Adrian hanya bisa mendengar seraya memejamkan matanya, "Bisa satu-satu bertanya-nya? Kalau kamu terlalu banyak ngomong, bagaimana saya bisa jelaskan?!" pekiknya.
Adrian menoleh pada Ray dan memberinya kode untuk menceritakan semua kronologis nya. Adrian terlalu malas untuk meladeni ocehan Nadine yang tak berujung.
"Mohon izin, Bu. Biar saya yang akan menjelaskannya!" ucap Ray tersenyum tipis yang dibalas anggukan setuju oleh Nadine.
"Bu Nadine masih ingat bukan kalau kemarin Ibu menempelkan sebuah dot kecil di bahu jas milik Sean Malik-Santoso?"
"Iya saya ingat. Bagaimana, apakah ada percakapan yang sekiranya informatif untuk disadap?"
"Ada Bu, itu sebabnya Pak Adrian membawa anda ke Kota Turin. Semalam Sean bertemu dengan ayahnya, Pak David. Dalam percakapan tersebut, Pak David membuat pengakuan jika dirinya tahu dimana keberadaan kakak anda, saudara Nathan Bimantara."
Mata Nadine berkaca-kaca, "Jadi selama ini, pelakunya keluarganya Malik-Santoso? Mereka yang sudah menculik dan menyandera kakakku?"
"Secara teknis iya, bukti yang terkumpul mengarah pada David Malik-Santoso. Mantan kekasihmu tidak terlibat. Tapi saya peringatkan Nad, andai kata kamu bertemu dengan Sean atau Ayahnya..jangan sampai bertindak impulsif! Kita akan gali bukti lain lebih dalam, jangan terlalu gegabah." celetuk Adrian mengingatkan.
Adrian sudah banyak belajar menghadapi banyak lawan yang setipe seperti David. Itu sebabnya dia tahu betul langkah-langkah apa saja yang harus diambil.
Nadine masih terdiam membeku di bangkunya dan tak bisa berkata apa-apa. Dalam hati ia sudah merutuki dan memaki-maki Malik-Santoso sekeluarga.
"Katakan pada pilot untuk segera lepas landas Ray. Saya tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi," perintah Adrian.
"Baik, pak."
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.