
AUTHOR POV
"Ahh..akhirnya kamu datang juga Ian. Tadinya Papa pikir kamu menolak untuk hadir disini.." Papa Alan bersama Mama Diana menyambut ramah kedatangan Adrian, Nadine, beserta baby twins di halaman depan kediaman Opa Willy.
Berhubung posisi Adrian dan Nadine sedang menggendong baby twins masing-masing, mereka jadi tidak bisa melakukan ritual berpelukan dan bercipika-cipiki seperti biasanya ketika bertemu dengan Papa Alan dan Mama Diana. Hanya cukup sapaan senyum ramah saja.
"Papa dan Mama kenapa bisa ada diluar?" tanya Adrian sembari menggendong baby Kai yang masih terlelap dengan antengnya.
"Sengaja Adrian..kami memang berniat menunggui kalian," ucap Mama Diana yang menepuk pelan bahu suaminya. "Papa kamu ini dari tadi mondar-mandir lihat gerbang untuk mengecek apa kalian jadi datang atau tidak. Katanya tidak sabar bertemu twins."
Papa Alan kemudian menyela, "Sini-sini, berikan baby kamu pada Papa dan Mama. Itu yang kamu gendong Kai kan? Sini kasih! Biar Papa gendong Kai, Mama yang gendong Kian" pintanya sedikit memaksa.
Tak bertemu beberapa hari membuat Alan rindu pada kedua cucunya. Akhirnya Adrian dan Nadine mengalah. Secara bersamaan keduanya menyerahkan twins ke tangan grandpa dan grandma-nya.
"Opa ada di dalam Pa? Beliau masih sakit kah?" tanya Adrian.
"Opa mu itu sudah bisa duduk-duduk manis di sofa ruang keluarga sekarang, dia juga sama ikutan nunggu kamu!" jawab Papa Alan tanpa mau menoleh karena terlanjur fokus pada cucu dalam gendongannya.
"Loh bukannya kata Papa, Opa lagi sakit parah ya? Kenapa mendadak sudah bisa bangun dan sembuh?"
"Beliau memang sudah tiga hari belakangan ini sakit. Tekanan darahnya tidak stabil dan ada sedikit masalah dengan saluran pernapasan. Tapi sekarang keadaannya sudah membaik."
"Merepotkan saja si tua bangka itu, kalau begini rugi aku datang!" ucap Adrian ketus.
Semalam ia baru saja berkelahi dengan para berandalan yang notabene adalah anak buah Kelvin. Bohong kalau dia tidak merasa lelah dan mengantuk. Kalau tahu Opa-nya sudah sembuh, lantas mengapa ia repot-repot datang kemari?
"Jangan begitu sayang..Opa Willy kan masih Ayahnya Papa! Tolong berikan rasa hormat itu padanya!" tegas Nadine yang tak setuju dengan sikap acuh suaminya.
"Tuh, dengar kata istrimu itu Adrian! Dia saja paham. Opa sedang dalam mode mencari perhatian sama anak-anak dan cucu-cucunya. Itu sebabnya beliau membuat kehebohan dengan berkata bahwa dia sedang sakit keras. Tujuannya satu, supaya kita sekeluarga datang menjenguk. Opa kamu itu kesepian dan ingin kumpul-kumpul."
Adrian berdecih dan memutar bola matanya jengah, "Ckkk..paling juga kalau ketemu yang dibahas hanya seputaran soal harta warisan saja."
Papa Alan dan Mama Diana saling menoleh, saling mengembuskan nafasnya kasar karena melihat putra sulung mereka yang keras kepala ini. Sudah rumusan umum jika Adrian sifatnya cenderung anti sosial. Paling malas kalau disuruh menghadiri event keluarga.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Om Farhan dan Tante Mawar kemana? Belum datang?" tanya Adrian lagi.
"Masih on the way kesini, mungkin sebentar lagi tiba," giliran Mama Diana menyahuti sambil asyik menimang baby Kian.
"Sebaiknya kamu dan Nadine segera berjumpa dengan Opa, kehadiran kamu ditunggu-tunggu soalnya!" celetuk Papa Alan.
"Iya..iya.." jawab Adrian malas.
Sambil bergandengan tangan, Adrian dan Nadine mulai berjalan masuk menuju ruang keluarga di rumah kebesaran Opanya yang bergaya nuansa American Classic.
***
"Selamat datang kembali cucuku Adrian! Sudah lama sekali kamu tak berkunjung kesini nak!" Opa Willy terlihat sumringah sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Ekspresi Adrian sendiri hanya datar dan biasa saat sudah dipeluk Opa-nya. Tidak ada perasaan semangat-semangatnya sama sekali ketika diharuskan bercengkrama dengan Ayah dari Papa Alan itu.
"Iya Opa, aku bisanya baru datang sekarang." sahut Adrian dengan senyuman terpaksanya seraya mengendurkan pelukan.
Selang beberapa detik kemudian, Adrian merengkuh pinggang Nadine sebagai gesture untuk mendorong sang istri agar berkenalan dengan Opa-nya.
Nadine pun turut menyalami Opa Willy dengan penuh rasa hormat dan kemudian bercipika-cipiki sebagai formalitas. "Salam kenal Opa, aku Nadine istrinya Adrian."
Opa Willy menyunggingkan senyumnya dan memuji, "Ahh..jadi ini yang namanya Nadine ya? Cantik sekali. Baru ini Opa bertemu kamu karena kemarin-kemarin kan hanya lewat video call saja berkomunikasinya."
"Iya Opa, maaf karena kami berdua baru datang berkunjung. Beberapa waktu yang lalu keluarga kecil kami masih disibukkan dengan berbagai kegiatan," kata Nadine berbasa-basi. Padahal sebenarnya memang dasarnya Adrian saja yang enggan mengajak anak istrinya kemari.
Sejujurnya ini adalah pertemuan perdana Nadine dengan Opa Willy secara tatap muka langsung. Sebelumnya keduanya tidak pernah ada kesempatan untuk bertemu sebab Opa Willy berdomisili di Belanda.
"Opa bisa maklum. Apalagi kamu juga kan habis melahirkan. Mana ini cicit-cicit Opa?" tanyanya penasaran seraya celingukan.
"Ini Pah...bayi kembar Adrian sedang tidur pulas dalam dekapanku dan Diana!" sahut Papa Alan yang kemudian sedang berjalan melangkahkan kakinya agar mendekat. Berbarengan dengan Diana disampingnya.
"Aduh...aduh..lucu sekali Adrian kecil ini. Anak-anak kamu dua-duanya sangat tampan sekali Adrian. Mirip sama kamu plek ketiplek. Siapa namanya tadi?" tanya Opa Willy yang asyik menoel-noel pipi gembul keduanya bergantian.
__ADS_1
"Kylian dan Malakai, Opa. Panggilan singkatannya Kian dan Kai." jawab Nadine mewakili.
"Nama yang sangat indah. Cocok dengan anak-anakmu ini. Opa jadi ingin sekali menggendong mereka. Ayo Alan..Diana... baringkan cicit-cicitku ini di sofa!" perintah Opa Willy yang antusias.
"Opa ini sudah sehat ya rupanya? Buktinya ini sudah mau main gendong-gendong saja." cibir Adrian secara halus. Sejak tadi mulutnya sangat gatal, menahan diri untuk tidak menyindir.
"Ya kemarin-kemarin sakitnya memang betulan. Kalau sekarang sudah sembuh total. Hanya tinggal masa pemulihan saja!"
Adrian berkacak pinggang dan bergeleng tak percaya pada kelakuan absurd Opa-nya ini. "Lalu kenapa harus bohong dan berpura-pura bilang sakit keras sih Opa? Sudah sembuh padahal."
"Kalau kamu dan yang lainnya tidak dibohongi begitu, kalian mana mungkin datang kesini jengukin Opa! Itulah sebabnya Opa terpaksa bohong. Dengan cara inilah kita sekeluarga bisa kumpul!" Opa Willy melakukan sebuah pembelaan. Dirinya tak mau disalahkan sepenuhnya.
Ditengah-tengah perdebatan Adrian dengan Opa Willy, tiba-tiba saja ada muncul sesosok perempuan berambut pendek sebahu yang ikut mengintip dari kejauhan. Hal itu disadari oleh Opa Willy terlebih dahulu.
"Hai Tiffany, kok kamu intip-intip saja? Ayo kesini..mendekat pada Opa. Biar Opa kenalkan kamu sama Adrian dan anak-anaknya!" Opa Willy melambaikan tangannya menyuruh Tiffany mengikis jarak diantara mereka.
Mendadak perasaan Nadine jadi tidak enak. Dalam perkataan Opa Willy tadi, pria berusia lanjut itu rupanya sengaja tidak menyebutkan nama dirinya untuk diperkenalkan pada perempuan dengan nama Tiffany-Tiffany itu. Entah apa alasannya, Nadine jadi penasaran sendiri.
"Ayo sini Tiffany sayang...jangan malu!" ajak Opa Willy yang disambut oleh senyuman hangat dari perempuan yang bernama Tiffany itu.
Tiffany yang mulanya berada di pojokan, kini ikut menimbrung dan berdiri tegap dengan penuh percaya diri disamping Opa Willy.
"Ini siapa Pah?" tanya Mama Diana pada Ayah mertuanya. Wanita itu tak tahu menahu jika di rumah kebesaran Ayahnya terdapat seorang tamu asing.
"Namanya Tiffany Young. Pewaris tunggal dari Young Enterprise. Alan dan Adrian pasti sudah tahu betul siapa dia," jawab Opa Willy dengan santainya sembari lengannya meraih bahu Tiffany.
Papa Alan pun memberikan sinyal anggukan pada istrinya, dengan maksud biar nanti saja di rumah ia akan menceritakan semuanya.
"Salam kenal semuanya, nama saya Tiffany." perempuan itu menundukkan kepalanya hormat dalam rangka salam perkenalan.
Adrian yang semula moodnya dalam keadaan baik-baik saja berubah jadi emosi, "Ini kenapa ada dia disini Opa?" celetuknya dengan nada ketus yang membuat Tiffany tersentak kaget.
Opa Willy menjelaskan, "Tiffany tinggal sama Opa sekarang. Sudah sekitar dua minggu-an ini kurang lebih. Semenjak kamu menolak permintaan Opa untuk mengizinkan dia tinggal di rumah kamu, Opa lah yang akhirnya menampung Tiffany!"
__ADS_1
Dan lagi-lagi, disinilah kesabaran Adrian yang setipis tisu kembali diuji...
***