Favorite Sin

Favorite Sin
BOYS CONVO


__ADS_3

AUTHOR POV


2 months later.


Adrian Corps.


"Astaga Kak, hari gini masih saja sibuk kerja!" protes laki-laki berusia muda yang tengah duduk bersandar pada sofa empuk di ruangan Adrian.


"Kalau tidak kerja ya tidak akan dapat uang. Dan jika uang tidak ada berarti tidak kaya." ketus Adrian seraya memutar bola matanya malas.


"Tapi Kak Ian kan udah kaya!"


"Hanya karena Kakak kaya apakah otomatis harus berhenti bekerja?" Adrian melirik sekilas dan menyanggah, "Konsepnya bukan begitu Arga. Tidak ada jaminan sukses untuk orang yang pemalas."


Netra pria itu kembali menatap layar komputer didepannya dengan posisi duduk tegap di kursi kebesarannya. Jari-jarinya pun ikut sibuk mengetik sesuatu.


Tidak ada angin tidak ada hujan, hari ini Arga dan Arjuna dengan isengnya datang berkunjung ke Adrian Corps. Bisa dipastikan, kalau kedua adiknya itu hendak merecoki pekerjaannya saja.


Ingin hati menghiraukan komentar mereka yang dianggap mengganggu, namun Adrian tak setega itu. Biarkan saja dua laki-laki itu mengoceh.


"Ya Tuhan, sudah menimbun banyak uang begitu masih saja kurang! Sesekali istirahat sejenak Kak. Atau pergi liburan sana sama istri dan anak!" Arga merasa geregetan pada kakak sulungnya itu.


"Kakak baru saja pulang dari Swiss, Arga..." ujar Adrian santai.


"Ckkk..itu kan bulan lalu! Sekarang beda cerita. Pergi liburan lagi saja lah, kali ini ajak twins sekalian. Usia mereka pas 6 bulan dan sudah cukup umur untuk diajak bepergian." balas Arga mendebat.


Saat liburan ke Switzerland kemarin, baby Kian dan Kai sengaja tidak diajak. Hal itu diluar prediksi sebab awalnya Adrian berniat memboyong anak istrinya untuk menghabiskan waktu bersama di negara dingin tersebut. Sesuai dengan rencana awal pasca Nadine melahirkan karena tiket liburan itu adalah kado.


Namun setelah melalui berbagai proses dan pertimbangan matang, dokter ternyata tidak mengizinkan kedua bayi laki-laki tersebut diajak bepergian melalui jalur darat, perairan maupun udara. Mengingat twins yang dulunya lahir secara prematur tentu tidak bisa sembarangan.


Kondisi daya tahan tubuh Kian dan Kai tidak seperti bayi-bayi lain pada umumnya. Awal bulan pertama saat mereka lahir saja diharuskan full menginap di rumah sakit dengan pengawasan intensif oleh tim medis. Sehingga bulan-bulan berikutnya menjadi masa recovery dan penyesuaian.


Berhubung tiket pesawat dan hotel sudah terlanjur dibooking jauh-jauh hari, terlalu sayang apabila dibatalkan. Alhasil hanya Adrian dan Nadine saja yang berangkat. Kemudian twins dititipkan pada Papa Alan dan Mama Diana sementara.


Arjuna yang sedari tadi bungkam mulai ikut menimpali, "Yang dikatakan Arga benar lho Kak! Ambil cuti lagi tidak ada salahnya bukan? Melihat Kakak yang overworked begini membuatku pegal sendiri. Padahal bukan aku yang menjalani."


"Sebaiknya pulang saja jika kedatangan kalian kesini hanya untuk mengganggu. Gender laki-laki, tapi mulut seperti perempuan saja! Athena dan Fiona bahkan tidak cerewet seperti kalian!" hardik Adrian.


"Memberi saran yang baik malah dikatain cerewet. Bawel-bawel begini juga karena kita perhatian. Demi kebaikan Kak Ian sendiri. Memangnya Kak Nadine tidak protes apa jika Kakak sibuk bekerja terus?" tanya Arjuna penasaran.


Pikirnya, pasti membosankan sekali punya suami macam Adrian yang kaku dan dingin. Arjuna jadi berpikir, bagaimana bisa kakak iparnya betah menjalani biduk rumah tangga bersama pria yang seperti itu.


"Nadine istri yang pengertian. Dia tidak pernah mengeluh karena dia paham betul akan konsekuensi dari profesi Kakak."

__ADS_1


"Hmm..lagian gimana mau protes jika Kak Ian sifatnya seperti singa galak. Bukannya protes yang ada malah berujung debat!" gumam Arga pelan yang ternyata didengar oleh Adrian.


"Ngomong apa kamu?" Adrian menoleh dengan tatapan tajam.


Refleks Arga mengangkat kedua jari tangannya membentuk tanda perdamaian. "Eng--enggak kok..ampun Kak!"


"Gendang telinga Kakak masih berfungsi dengan baik dan tidak mengalami gangguan. Jangan kamu pikir Kakak tidak dengar!" omel Adrian panjang lebar.


Lama-lama ketenangan Adrian terusik juga hingga membuat dirinya berhenti sejenak dari aktivitasnya. Pandangannya fokus beralih pada Arga dan Arjuna.


"Tuh benar kan! Baru dibatin sebentar sudah keluar taringnya.." Arga langsung menggerutu dibuatnya.


Sedang Arjuna hanya bisa terkekeh melihat kedua saudaranya itu berselisih paham. Lucu saja kalau Adrian mengomeli Arga yang memang karakternya begitu ceriwis dan suka melawan.


Tring..Tring..Tring..


Mendadak perbincangan mereka diinterupsi oleh suara bel pintu ruangan Adrian yang berbunyi.


Adrian segera menekan tombol interkomnya dan berkata, "Ya..silahkan masuk."


"Permisi, mohon maaf saya menganggu Pak." Ray bersuara ketika langkah kakinya menapaki ruangan.


Biasanya Ray bisa dengan leluasanya masuk sendirinya. Berhubung ada tamu, yaitu Arga dan Arjuna membuat Ray tidak bisa melenggang seenaknya. Dia paham akan etika.


Arga dan Arjuna melengos, mengabaikan sindiran Adrian. Keduanya memilih untuk abai dan meraih cangkir teh dari meja yang berada tepat didepannya. Berseteru dengan si sulung ternyata membuat mereka kehausan pada akhirnya.


"Jangan diam saja Ray, ayo katakan ada keperluan apa kamu menemui saya?" Adrian kembali fokus pada topik awal.


"Hmm..begini Pak, saya ingin follow up mengenai keberangkatan Bapak ke Las Vegas. Keputusannya bagaimana ya? Apakah jadi untuk berangkat Senin depan? Kalau memang iya saya akan langsung mengontak pihak Air Charter Service." jelas Ray tanpa basa-basi.


Berbarengan dengan hal itu, Arga dan Arjuna yang mulanya sibuk menyeruput minuman mereka kini justru balik menatap Adrian tajam. Mata Arjuna terbelalak kaget sedangkan tenggorakan Arga tercekat nyaris saja tersedak.


Keduanya sama-sama tahu. Apabila Adrian nekat pergi ke negeri Paman Sam itu, maka artinya kakak sulung mereka itu hendak mengejar Kelvin. Si buronan ulung yang keberadaannya mengganggu pikiran Adrian dalam beberapa bulan terakhir.


Sementara mereka diam. Menunggu apa yang akan dikatakan Adrian selanjutnya.


"Ahh soal itu..." Adrian menjeda sejenak ucapannya seraya membenahi kacamata baca yang dikenakannya.


Entah kenapa akhir-akhir ini penglihatan Adrian memang sering kabur sehingga mengganggu aktivitas bekerjanya. Hanya saja dia belum periksa secara spesifik apa yang menjadi pemicunya.


"Saya jadi berangkat kok, Ray. Kamu tetap atur semuanya sesuai rencana awal. Senin depan ambil penerbangan malam saja karena paginya saya ada janji pergi dengan istri."


"Baik, Pak. Siap laksanakan." Ray menundukkan tubuhnya patuh.

__ADS_1


"Dan satu lagi Ray, selama saya pergi nanti..biar dua adik saya ini saja yang menggantikan kehadiran saya dalam meeting penting. Kamu cukup kasih draft nya ke mereka tentang apa yang harus dilakukan!" perintah Adrian.


Dari nada bicaranya terdengar tegas yang berarti itu pertanda tidak bisa dibantah. Arjuna dan Arga refleks menoleh cepat.


"Lah Kak, kok jadi kita yang kebawa-bawa?"


"Iya nih Kak, enggak asyik ah! Malah nambahin kerjaan.. padahal kita udah repot sama usaha sendiri!"


Adrian memutar bola matanya malas. Kedua adik laki-lakinya ini memang penakut dan tergolong malas. Belum apa-apa sudah underestimate duluan.


"Kalian ini sudah besar. Sudah waktunya belajar dan bukan main-main. Ingat apa kataku kemarin. Sebentar lagi kalian akan takeover perusahaan Opa. Ya benar kalian ada usaha, tapi vibes-nya berbeda. Bertemu dengan kolega bisnis kakak lebih mampu meningkatkan kepercayaan diri kalian sekaligus melatih mental bisnis. Jangan samakan dengan usaha ecek-ecek yang kalian bangun. Skalanya jauh."


Arga mengelak, "Tapi Kak--"


"Kakak tidak menerima penolakan. Kamu dan Arjuna menggantikan Kakak hanya 5 hari saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Sementara saja masih protes. Nanti uang jajan kalian akan ditambah."


Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Arga. Sulit sekali mau merayu Kakaknya supaya berubah pikiran. Kecuali ada pawangnya, mungkin Adrian akan luluh dan menurut. Tapi setidaknya mereka dapat bonus uang sehingga tidak-tidak rugi amat.


Berbicara tentang pawang, Arga jadi berpikir. Apakah Nadine tahu soal keberangkatannya ke Vegas?


"By the way, apa Kak Nadine tahu kalau Kak Ian mau berangkat ke Vegas Minggu depan? Emang udah izin?"


"Sudah."


"Yakin, sudah?" Arjuna terdengar ragu seraya menyipitkan matanya.


"Yakin. Memang sudah izin kok, bahkan sebelum kami pergi bulan madu kedua di Swiss. Aku sudah mendiskusikannya dengan Nadine."


"Terus apa Kak Nadine setuju?" Arga masih sama curiganya.


Kakak iparnya itu tipe orang yang tidak mudah ditaklukkan pula. Sebelas dua belas dengan Adrian. Agaknya sedikit heran jika Nadine menyetujui keberangkatan Adrian ke Vegas ini.


Apalagi sekarang ada anak kembar di mansion besarnya itu. Mana sudi Nadine ditinggal bepergian untuk perjalanan dinas keluar negeri. Wanita itu jelas tidak bisa jauh-jauh dari suaminya.


Adrian bungkam sehingga suasana ruangan kantornya mendadak sunyi.


"Tuh diam saja, berarti aslinya Kak Nadine enggak setuju kan?!" tuduh Arjuna.


Arga ikut menimpali. "Parah ih! Sudah dilarang malah tetap nekad berangkat. Siap-siap saja kena amukan."


Degghh....


Ketahuan juga akhirnya. Gerak-gerik bohongnya terbaca. Adrian lupa jika kedua adiknya ini selalu memihak Nadine akibat faktor mereka sering hangout bersama.

__ADS_1


Cepat atau lambat mereka pasti akan mengadu.


__ADS_2