
AUTHOR POV
"Pokoknya itu hak aku! Enak saja saham segitu besarnya jatuh ke tangan anak-anak Kak Alan semua, aku tidak terima!" ucap Mawar, anak bungsu perempuan dari Opa Willy.
"Setuju, yang dikatakan Mawar benar Pah..kenapa Papa selalu tidak bersikap adil. Pilih kasih! Apa-apa selalu Adrian..kalau tidak begitu Arjuna dan Arga. Cucu Papa ada banyak bukan cuman mereka saja, kenapa yang dapat harta banyak malah anaknya Kak Alan semua. Anak aku gimana Pah?" kini anak kedua Opa Willy yang bernama Farhan ikut menyampaikan keberatannya.
Perdebatan antara persaudaraan Natadipura ini memanglah pelik. Sudah satu jam lamanya berdiskusi tentang harta warisan nyatanya tak membuat mereka menemukan titik temu.
Masing-masing pihak menyatakan secara terang-terangan ingin menguasai aset-aset penting peninggalan keluarga Natadipura secara turun temurun.
Papa Alan sedari tadi tak berkomentar apa-apa. Mau bersuara tapi justru takut memantik pertikaian yang tiada akhir. Sejujurnya tanpa warisan Natadipura sekalipun, kelima anaknya bisa hidup makmur dan sejahtera. Harta anaknya diluar warisan sudah lebih dari cukup untuk membangun sebuah kehidupan yang layak.
Tapi memang dasarnya Opa Willy saja yang terlihat sangat enggan memberi amanat perusahaan sebesar Natadipura Group pada tangan yang salah. Dia berani bertaruh jika Natadipura Group kalau dipegang para anak laki-laki Farhan dan Mawar bisa hancur dalam sekejap.
Adrian juga malas menanggapi. Percuma mau bersuara, karena pada ujungnya harta warisan Natadipura itu akan jatuh ke tangan adik-adiknya. Tak perlu capek-capek mengeluarkan energi.
"Itu salah kalian sendiri, punya anak tidak dididik dengan baik. Bisanya cuman habis-habiskan dana perusahaan. Warisan yang Papa beri saja sudah ludes habis kena anak-anak kamu Farhan dan Mawar!" sentak Opa Willy.
Kebiasaan hidup berfoya-foya membuat anak-anak Farhan dan Mawar jadi gelap mata. Aset berupa tanah, rumah, dan villa bahkan habis dijual demi gaya hidup mereka yang tidak ada aturan sama sekali.
"Pokoknya tidak bisa, kalau Papa tetap keras kepala memberikan 55 persen saham Natadipura Group pada anak-anak Kak Alan, maka akan terjadi perpecahan keluarga saat ini juga!" Farhan bangkit dari duduknya dan menggebrak meja dengan keras.
"Dasar anak tidak tahu diuntung..inilah alasan kenapa Papa malas memberi kalian warisan lebih. Keserakahan kalian, ketidakbecusan kalian mengurus perusahaan..itu yang membuat Papa ragu!" Opa Willy begitu geram melihat kelakuan anak keduanya.
"Keputusan Papa sudah bulat. Kepemilikan 30 persen saham untuk Adrian, 15 persen untuk Arjuna, dan 10 persen lagi untuk Arga. Untuk sisa 45 persennya, Farhan dan Mawar bisa bagi dua. Jangan membantah atau Papa akan naikkan jadi 70 persen milik anak-anak Alan semua!" tegas Opa Willy dengan lantang.
Farhan dan Mawar akhirnya bungkam. Daripada Papanya berubah pikiran, sebaiknya mereka mengalah saja. Tapi bukan berarti mereka akan menyerah sampai disini saja.
***
Ditengah-tengah konflik keluarga yang kian memanas, tiba-tiba saja Tiffany datang ke ruang keluarga dengan membawa nampan berisikan segelas minuman diatasnya. Wanita itu langsung menghampiri tujuannya, yaitu Adrian.
__ADS_1
"Hi Adrian, maaf menganggu waktu kamu sebentar. Ini aku mau mengantarkan susu jahe buatan Nadine. Barusan dia nitip, minta tolong aku untuk antar susu ini kamu minum karena Nadine sedang menyusui baby twins yang mendadak rewel di kamar," Tiffany tersenyum sumringah sambil menyodorkan segelas susu hangat untuk Adrian.
"Itu jelas bukan Nadine yang buat!" ucap Adrian dengan wajah datarnya. Pria itu menolak mentah-mentah minuman pemberian Tiffany.
Sedangkan Tiffany sedikit tersentak menahan malu karena ditolak terang-terangan didepan umum, "Mm--maksudnya?"
Adrian menjelaskan, "Selama kami menikah, sekalipun Nadine tak pernah membuatkan aku susu jahe. Dia hanya akan membuatkan aku susu almond dengan campuran madu untuk dikonsumsi setiap harinya. Hal itu tidak pernah berubah hingga detik ini."
"Yy--ya..mungkin Nadine ingin eksperimen membuatkan kamu minuman dengan rasa baru, bisa jadi kan? Itu sebabnya dia buatnya susu jahe sekarang," Tiffany mulai berkilah dan mengarang bebas. Takut ketahuan kedoknya oleh Adrian.
Kepala Adrian bergeleng, "Nadine tidak suka jahe. Dia paling anti dan tidak bisa mencium bau menyengat dari jenis rempah-rempah yang satu itu. Jadi bagaimana mungkin dia bisa membuat susu jahe itu?"
"Dan satu lagi, ketika membuatkan susu untukku, Nadine akan menyajikannya dengan memakai gelas jenis plisner. Itu yang biasa aku pakai, bukan gelas luminarc seperti yang kamu bawa. Jadi aku tahu betul itu bukan Nadine yang buat. Kesimpulannya, kamu berbohong."
SKAK MAT!
Adrian langsung membuat Tiffany mati kutu akan skenario kebohongan yang dia buat sendiri.
"Kak Tiffany nekat banget, dia benar-benar cari mati karena berani menggoda Kak Ian.." bisik Arga pada Arjuna.
"Shtt..jangan berisik. Sudahlah, kasihan dia malu!" balas Arjuna.
"Bodo amat, salah sendiri cari gara-gara. Ini kalau ada Kak Nadine tambah seru..biar duel sekalian!" Arga malah semakin tertawa cekikikan.
Kedua pemuda itu kembali menatap Tiffany yang terlihat begitu gugup sekarang karena telah ketahuan sandiwaranya.
"Mm--maaf, ss--sebenarnya memang ini aku yang buat." Tiffany mengakuinya. "Maaf aku berbohong kalau susu ini buatan Nadine. Aku sengaja bilang begitu, karena kalau aku jujur kamu pasti tidak akan mau minum. Tapi karena kamu udah tahu, kamu mau cobain sekalian?"
Adrian memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Ingin sekali rasanya untuk mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar pada perempuan tak tahu malu dihadapannya ini, tapi dirinya masih mencoba untuk tahan emosi. Dia pernah berjanji pada istrinya untuk tetap bersikap tenang dalam keadaan apapun.
"Dengar baik-baik Tiffany. Bohong atau tidak, saya tetap tidak akan meminumnya. Saya kan tidak tahu, apa saja yang kamu masukkan ke dalam minuman itu. Bisa racun? Bisa obat? Who knows? Saya bisa ambil air putih sendiri. Dan harusnya kamu tidak perlu repot-repot membuat ini itu untuk saya. Karena saya tidak butuh dan bahkan tidak memintanya," ketus Adrian sinis
__ADS_1
"Jangan bersikap begitu Adrian, ramah sedikit dengan Tiffany. Dia sudah berbaik hati membuatkan kamu minuman lho, terima saja!" kata Opa Willy yang membujuk.
"Opa sendiri saja yang minum. Aku tidak mau!"
Opa Willy menghembuskan nafasnya kasar. "Adrian cucuku..kamu kenapa sih kok kesannya seperti tidak suka dengan Tiffany?"
"Memang tidak suka." respon Adrian singkat.
Burppp....
Semua anggota keluarga yang berada di ruangan itu terkejut sambil menutup mulut dengan tangan karena tak kuat menahan gelak tawa. Lagi-lagi secara tidak langsung Tiffany dipermalukan oleh Adrian.
"Adrian jangan begitu!" tegur Opa Willy. "Kalau kamu masih bersikap seperti itu, Opa akan menyuruh Tiffany tinggal di rumahmu lagi biar kalian lebih akrab."
Adrian berdecih kesal. "Opa ini punya obsesi apa sebenarnya? Mengapa memaksakan diri untuk meminta perempuan ini tinggal di rumahku? Sampai kapanpun, aku tak sudi membiarkan orang asing tinggal di mansionku."
"Kamu sungguh tidak mau membantu Tiffany ya? Padahal dia sedang kesusahan. Opa justru berharap kamu punya sedikit hati nurani untuk turut membantu permasalahan Tiffany," lirih Opa Willy.
Tiffany, yang sejak tadi namanya disebut-sebut akhirnya ikut menimbrung.
"Adrian, maaf aku menginterupsi. Tapi alasan terbesarku untuk minta tinggal sama kamu itu murni karena faktor keamanan. Saat ini aku sedang diincar Hans dan aku tidak punya tempat perlindungan. Dengan tinggal sama kamu, mereka tentu tak akan berani mengusik aku karena mereka tahu reputasi kamu."
"Disini anggota keluarganya ada orang banyak, kenapa cuman aku saja yang dibebani? Yang lain bagaimana? Minta tolong saja sama mereka," tukas Adrian
"Opa akan pergi menjalani pengobatan ke Singapura. Om Farhan dan Tante Mawar juga akan pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama. Aku tidak bisa tinggal sendirian disini, mata-mata yang dikirim Hans pasti akan mengejar aku lagi. Tolong bantu aku Adrian! Aku tidak akan macam- macam di rumah kamu." Tiffany menjelaskan panjang lebar namun tetap tak digubris.
"Apa jaminannya kamu tidak macam-macam di mansionku? Perkara hal kecil seperti minuman saja kamu bisa bohong, apalagi nanti. Saya tetap menolak. Urusan Hans adalah urusanmu," sentak Adrian.
Tak tahan berada di ruangan yang penuh dengan manusia-manusia menyebalkan membuat Adrian langsung beranjak pergi dari sana tanpa mengucap sepatah katapun.
Pikir Adrian, lebih baik dirinya kembali ke kamar menemui istri tercinta dan dua putra kembar kesayangannya.
__ADS_1
***