Favorite Sin

Favorite Sin
CHASING GALIH (Part 1)


__ADS_3

AUTHOR POV


Malam telah tiba. Pertemuan yang dinanti-nanti oleh Adrian sejak lama akan terkabul pada akhirnya.


Sesuai perjanjian sebelumnya. Adrian bertemu dengan Galih tepat pada pukul 9 malam di sebuah gudang bekas yang terletak di pinggiran kota Rio. Malam ini Adrian hanya ditemani oleh Ray dan beberapa bodyguards yang jumlahnya hanya hitungan jari saja.


Sengaja memang tidak membawa banyak orang, meski lawan yang dihadapinya kali ini adalah Galih--buronan yang sudah 10 tahun lamanya dia incar. Adrian merasa cukup percaya diri bisa mengalahkan Galih.


"Dimana Kayla putriku? Cepat katakan!!" bentak Galih yang tiba-tiba datang 15 menit dari jam awal yang telah ditentukan.


Galih tidak sendiri, dia didampingi oleh puluhan bodyguards yang siap bertarung. Jumlahnya bahkan lebih banyak dari orang-orang Adrian.


Adrian menoleh kearah Galih dengan senyuman yang menyeringai.


"Wow.. banyak sekali yang datang? Kamu benar-benar ingin mengepungku Tuan Galih yang terhormat?" Adrian mengejek.


"Serahkan Kayla padaku sebelum aku memerintahkan anak buahku untuk menghabisimu!" ancam Galih.


Adrian tidak takut. Dia malah menanggapinya santai.


"Sabar dulu dong..kita main-main terlebih dahulu bagaimana? Masih ada waktu 15 menit sebelum jam 9 pas..." Adrian menyingsing lengan jas nya untuk melihat jam tangan.


"Aku tidak punya banyak waktu meladeni kamu Adrian, cepat bebaskan putriku! Aku sudah menarik orang-orangku pergi jauh dari istri dan keluargamu!"


"Oh ya? Sayangnya saya tidak percaya." Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan menatap Galih tajam.


"Kamu adalah orang yang sangat manipulatif Galih. Tidak mungkin ketika saya perintahkan kamu untuk berhenti mengganggu ketenangan keluarga saya, kamu langsung mengiyakannya begitu saja! Saya tahu betul bagaimana cara main kamu!" lanjut Adrian.


Galih mengepalkan tangannya geram.


"Apa maksud kamu Adrian? Aku sudah tidak bermain-main lagi, aku telah menepati janjiku.."


"Kalau kamu sudah merasa menepati janjimu, lalu kenapa dua jam yang lalu kamu mengirim orang untuk menyabotase mobil orang tuaku?"


Galih terdiam. Tuduhan Adrian kali ini tepat sasaran. Ketika Papa Alan dan Mama Diana hendak pergi ke rumah sakit untuk membawa pulang Nadine, Adrian mendapatkan laporan dari anak buahnya jika ada seseorang yang telah memutus tali rem mobil yang akan ditumpangi oleh keduanya.


Sontak Adrian begitu murka mendengarnya. Beruntung saja mobilnya tidak jadi dinaiki dan sudah diganti dengan yang lain. Saat di perjalanan untuk menjemput Nadine di rumah sakit, Papa Alan dan Mama Diana sempat dihadang oleh para berandalan suruhan Galih.


"Kenapa diam saja? Tidak bisa menjawab?" tanya Adrian. "Biar lebih seru, kita keluarkan saja putrimu..ayo Ray, bawa Kayla yang manis itu kesini. Bawa dia, cepat!" perintah Adrian.

__ADS_1


Dua orang anak buah Adrian datang membawa Kayla yang kedua sisi lengan kanan dan kirinya dipegangi secara erat seperti dicengkerram.


"Papi tolong aku...aku takut...bebaskan aku!" Kayla berteriak dan menangis meraung-raung meminta pertolongan sang ayah.


"Kayla sayang...kamu sabar dulu, Papi akan bawa kamu pulang.." Galih menatap sendu kearah putrinya yang sama sekali tidak bersalah.


"Please Papi cepatlah...aku enggak mau berlama-lama disini! Mereka jahat sama aku!!" teriak Kayla lagi.


Dari kejauhan, Galih bisa melihat terdapat luka gores sayatann di betis kanan Kayla dan juga luka lebam di lengannya.


"Kau apakan putriku, Adrian?" Galih menyentak.


Melihat putrinya ketakutan tak berdaya membuat hati Galih rapuh. Pertahanannya pun berubah runtuh. Galih yang biasanya terlihat garang seperti raja hutan menjadi Galih yang ciut bagaikan tanaman putri malu.


"Seorang pria itu yang dipegang omongannya. Saya hanya melakukan apa yang sudah kita sepakati sebelumnya kok.." ucap Adrian seraya mendudukkan diri dengan gaya bersilang di kursi lipat yang disediakan oleh Ray.


"Bukankah saya sudah bilang sebelumnya, jangan berani macam-macam kalau kamu tidak ingin putrimu terluka. Kamu sendiri yang telah melanggar kesepakatan dengan berniat untuk mencelakai keluargaku beberapa jam sebelum pertemuan kita. Maka terimalah konsekuensinya!" balas Adrian.


Anak buah Galih yang sudah tak tahan lagi, ingin segera melesatkan serangan ke arah Adrian dan kawan-kawannya, namun Galih menahannya.


"Jangan sekarang, tahan emosi kalian!" bisik Galih dengan nada lirih. "Kita memang menang jumlah. Tapi Adrian lebih licik dariku.."


Para bawahan Galih akhirnya memundurkan tubuh mereka dan menarik senjata api yang nyaris saja pelatuknya dilepaskan.


"Terus menurutmu Papa dan Mamaku bersalah? Lalu istriku, yang tidak tahu apa-apa..apa dia ikut bersalah juga? Justru kamu Galih, yang telah merenggut nyawa Ayah dari istriku secara cuma-cuma tanpa sebab..." tantang Adrian balik.


"Hebatnya, mereka bahkan tidak pernah punya dendam sekalipun kamu sudah berkali-kali menjahati mereka. Kamu harusnya banyak bersyukur! Kamu masih bisa hidup sampai detik ini, itu karena belas kasihan dari keluargaku!" timpal Adrian tak mau kalah.


"Sekarang apa maumu, katakan?" Galih menawarkan sesuatu. Tangannya mengepal erat menahan emosi yang hampir membuncah.


"Jika kamu bertanya apa mauku, maka aku akan menjawab dengan lantang kalau aku menginginkanmu untuk lenyap dari dunia ini." jawab Adrian dingin.


Sedangkan Galih sudah ketar-ketir dalam hatinya. Adrian terkenal sebagai orang yang tidak pernah main-main. Jika Adrian menginginkannya mati sekarang, bisa dipastikan jika hari ini adalah hari terakhir Galih menikmati hidup.


"Kau takut Galih?" Adrian memiringkan kepalanya mengejek. "Wajahmu terlihat tak bersahabat?"


Galih tetap diam mengontrol emosinya.


"Tenang Galih, aku tidak terburu-buru kok. Kali ini aku masih berbaik hati padamu. Maka dari itu, aku punya penawaran yang menarik!"

__ADS_1


"Tidak perlu mengulur waktu Adrian, katakan padaku apa syaratnya? Kau ingin aku berhenti mengusikmu? Akan kulakukan secepatnya.."


Adrian sudah tidak percaya lagi pada rubah yang menjelma sebagai manusia di depannya ini.


"Tidak. Aku ingin, kamu mengembalikan semua aset milik Papaku yang pernah kamu curi. Sekalian juga, berikan aset milik Imelda padaku! Mudah bukan? Aku rasa itu tidak sulit." pinta Adrian.


"Aku tidak akan menyerahkannya!" balas Galih cepat.


Tentu saja Galih enggan melakukannya. Harta kekayaan tersisa yang dikuasainya sekarang hampir 80 persen milik Alan dan Imelda sepenuhnya. Setelah asetnya disita dan rekening pribadinya dibekukan oleh beberapa bank, Galih kesulitan mendapatkan dana. Mau hidup dengan apa dia jika aset itu diserahkan pada Adrian.


"Itu hak-ku, harta kedua orang tuaku. Seharusnya memang kembali ke tempat semestinya bukan?" Adrian menaikkan bahunya, menujukkan gestur tak perduli.


Adrian menyeringai, "Sekarang semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu lebih memilih untuk mendekam di balik jeruji besi, atau pilih menjadi miskin? Atau...aku tambahkan saja, menjadi miskin dan dipenjara? Terdengar menarik bukan?"


Galih sudah mati kutu dan tak bisa menjawab apa-apa. Ini sungguh pilihan yang sulit. Kemarin-kemarin dia merasa percaya diri dan leluasa untuk mengusik hidup Adrian.


Keadaannya berbeda sekarang. Adrian memiliki kartu AS Galih yang kelemahannya terletak pada para putrinya. Entah dari mana informasi keberadaan anak-anak Galih bisa bocor. Selama ini, banyak orang yang tidak tahu tentang masa lalu Galih. Disamping itu, Galih memiliki ketertakutan sendiri akan jatuh miskin.


Drt...drt...


Ponsel Galih berbunyi. Terdapat sebuah pesan masuk yang membuyarkan perdebatannya dengan Adrian. Wajah Galih berubah pias.


"Kenapa tegang? Rencana kamu gagal lagi?" Adrian terkekeh sambil menopang dagunya.


Galih melirik Adrian tajam.


"Sekedar info saja untuk kamu, istri saya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sejak tadi. Dia dalam keadaan yang sehat dan selamat, kalau itu yang ingin kamu ketahui. Bahkan dia dan orangtua saya sudah take off sekitar setengah jam yang lalu..mereka sudah pergi dari Rio!" seru Adrian.


Galih tersentak kaget hingga keningnya mengerut, namun dia berusaha keras untuk menutupi perasaan cemasnya di hadapan Adrian agar tidak terlihat lemah.


Dalam hati Galih berpikir, bagaimana bisa mereka semua selamat dan lolos dari jebakannya? Padahal dia telah memiliki rencana lain. Namun ternyata, lagi-lagi harus gagal.


"Rencana jahat apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, itu tidak akan berefek apa-apa untukku Galih! Justru kamu yang harusnya khawatir! Putri bungsumu sudah ada di tanganku, sedangkan yang sulung sedang dalam pencarian. Terakhir, tim ku sudah melacak keberadaannya di Singapura. Benar begitu ayah tiri?" ucap Adrian.


Deghhh..


Galih merasa tertohok dengan ucapan kalimat yang keluar dari mulut Adrian. Semuanya telah ditebak secara sempurna. Jalan pikiran Galih tengah buntu saat ini.


***

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊 maaf slow update karena author sibuk skripsi, akan aku usahakan rutin upload yah...


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Om Duda I'm coming", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2