Favorite Sin

Favorite Sin
CAUGHT OFF


__ADS_3

AUTHOR POV


"Don't look at me like that..." Adrian sengaja mengalihkan wajahnya menghadap kearah lain agar Nadine berhenti menggodanya.


Semenjak Adrian mengucapkan 3 kata keramat I love you, Nadine tak mau melepas pandangannya dari Adrian yang sedang salah tingkah sekarang.


"Kenapa?" Nadine tersenyum-senyum sendiri sembari menopang dagunya dengan dua tangan sekaligus.


"Kalau kamu terus menatapku seperti itu, jangan salahkan jika aku menerkam kamu diatas meja makan ini sekarang juga," balas Adrian menohok yang membuat Nadine membulatkan matanya terkejut.


Bahkan para pelayan mansion yang tengah mempersiapkan hidangan makanan serta table setting untuk dinner malam ini tampak begitu canggung mendengar perkataan Adrian.


Mereka semua juga bukanlah orang polos yang tidak tahu apa maksud Tuannya itu. Karena tidak ingin menjadi nyamuk, para pelayan tersebut memutuskan menghilang dari hadapan mereka menuju dapur.


"Ishhh..kamu jangan ngomong sembarangan! Malu didengar yang lain!" Nadine berbisik didekat telinga Adrian sambil menoleh kanan-kiri.


"Kamu duluan yang memancing aku," sergah Adrian cepat. "Ingat Nadine, urusan kita masih belum selesai tadi. Aku belum puas cium kamu. Jadi malam nanti, aku tidak akan melepaskan kamu dan memberi ampun," Adrian balas berbisik dengan nada ancaman terselebung.


Glekk...


Nadine meneguk air liurnyaa kasar. Sekujur tubuhnya meremang karena kegugupan melanda jiwanya. Nadine yakin Adrian tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.


Kegiatan panas yang berlangsung di kamar bayi mereka tadi harus terhenti karena Nadine yang melarang aksi nekad itu agar tidak terjadi. Dengan alasan bahwa hal itu tidak pantas dilakukan didalam kamar calon anak mereka. Nadine berpikir itu adalah sesuatu yang tabu.


Maka dari itu, percintaan mereka terpaksa ditunda dan akan dilanjutkan nanti malam saja. Demi Nadine, Adrian rela menekan egonya dan tidak memaksa. Meskipun sejujurnya ia tengah mati-matian menahan hasratnyaa yang sudah bertengger dipuncak ubun-ubun.


Malam nanti, jangan harap Adrian akan memberinya ampun. Nadine jadi bergidik ngeri memikirkan bagaimana jika malam nanti terlewati.


Sekilas bayangan Adrian yang memposisikan dirinya diantara kedua kaki Nadine terlintas begitu saja. Isi kepala Nadine terpacu pada aksi nakal Adrian yang memberikan kecupan hangat disela-sela lembah surgawinya.


Lalu Nadine akan melengkungkan punggungnya serta mencengkeram erat rambut lebat Adrian ketika godaan demi godaan dilayangkan oleh sapuan bibir dan lidah Adrian.


Ahhh..ini benar-benar tidak masuk akal. Disaat-saat seperti ini saja, Nadine bisa-bisanya berpikiran yang tidak-tidak. Tubuhnya selalu menunjukkan reaksi yang tidak biasa jika Adrian menyentuhnya.


Nadine segera menggeleng cepat untuk membuyarkan keheningan mereka. "Udah ahh..kamu jahil banget ngomongnya! Aku jadi takut sendiri dengan sifat playful kamu yang secara tiba-tiba ini."

__ADS_1


"Sama halnya dengan aku. Tadi aku juga tidak nyaman saat kamu menatapku terus-terusan. Risih." sahut Adrian asal. Padahal sebenarnya ia hanya malu saja jika ditatap Nadine secara intens.


"Hmm..pakai alasan nggak nyaman! Bilang aja kamu salah tingkah karena habis mengakui perasaan kamu ke aku, iya kan?" Nadine menaik-naikkan kedua alisnya.


"I'm not." Adrian masih berusaha mengelak.


"Bohong! Itu pipi kamu merah!" Nadine mencolek-colek sisi kiri pipi Adrian.


"Ckk..sudahlah!" Adrian menepis tangan Nadine dengan segera yang kemudian diikuti oleh suara tawa cekikikan Nadine.


Andai saja Adrian tidak mengungkapkan kalimat cinta pada Nadine didalam kamar bayi mereka tadi, mungkin saja kejadiannya tidak begini. Adrian merutuki kebodohannya yang terlalu tergesa-gesa menyatakan cinta pada Nadine. Biarlah semua dia pendam saja.


Berbeda dengan Nadine yang sedang diliputi kebahagiaan tak terkira. Hatinya berbunga-bunga bagai melihat bunga Tulip bermekaran di Taman Keukenhof ketika musim semi. Menyejukkan hati, juga damai.


Adrian menarik napasnya dalam. "Tidak capek senyum-senyum terus? Gigimu bisa kering nanti! Sebaiknya kamu makan, dari siang belum diisi kan perutnya?" ucap Adrian.


Berhubung keduanya tengah duduk bersama di meja makan dan bersiap untuk menikmati santapan makan malam, Adrian sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Biarin aja senyum..kan aku sedang happy karena suamiku baru saja mengungkapkan kata cinta. Memangnya tidak boleh?"


"Hihihi...iya iya..jangan ketus begitu! Aku cuman bercanda." Nadine meraih punggung tangan Adrian dan mengusapnya dengan lembut. "Boleh enggak kamu ulangi kata-kata tadi? That 8 letters??!"


"Sadly, I won't repeat it. Keep your hopes up." Adrian menunjukkan senyum terpaksanya dan itu membuat Nadine tertawa kecil.


"Tapi terima kasih ya, karena kamu telah membuka kesempatan untuk mencintaiku dan berusaha membuat hubungan kita tetap bertahan sampai sejauh ini," pelupuk mata Nadine mulai digenangi oleh lelehan air mata.


Beginilah problematika ibu hamil. Sebentar sebentar tertawa, detik berikutnya bisa berganti jadi menangis dan emosional.


"Ckk...selalu saja menangis! Jangan bersedih!" Adrian mengambil tisu dan segera menghapus tumpahan air mata Nadine."


"Ya kan ini aku terharu.." Nadine mengipas-ngipas wajahnya yang memerah dan panas karena menahan tangis.


"Tetap saja, aku tidak suka melihat kamu bersedih. Sekalipun itu tangisan bahagia, tetap saja kan kamu menangis!" omel Adrian.


Tak lama berselang, tampak Arjuna datang mendekat ke area ruang makan setelah penampilannya sudah rapi. Badannya menjadi segar kembali setelah selesai mandi di kamar tamu.

__ADS_1


"Good evening Kakak ipar tersayang!" Arjuna memeluk Nadine dari samping sebagai tanda salam sapaan. Membuat Adrian yang sedang mengelap wajah Nadine dengan tisu segera menarik tangannya.


"Good evening, Arjuna. Kamu habis mandi ya? Wangi banget.." sahut Nadine.


"Iya dong Kak, tadi kan habis dari luar. Nanti kuman dan virus malah makin nempel kalau tidak segera dibersihkan." Arjuna lalu melirik kakaknya. "Loh, Kak Ian belum mandi nih? Bajunya masih sama dengan yang tadi."


"Iya, tidak sempat. Hanya cuci tangan saja. Tadi Kakak ada perlu ngobrol lama dengan Nadine hingga tidak terasa melihat jam sudah menunjukkan waktunya dinner," jawab Adrian.


"Ya sudah..ayo kita makan. Sayang, kamu yang pimpin doa ya?!" pinta Nadine yang tak bisa ditolak oleh Adrian. Ia langsung mengangguk saja menuruti Nadine.


Setelah selesai berdoa, ketiganya langsung saja menyerbu makanan yang ada didepan mata untuk disantap.


"Aku ambilkan ya, kamu mau makan pakai lauk yang mana?" Nadine menawari Adrian sambil mengambil piring untuk suaminya itu.


"Aku mau yang bebek panggang dan sosis tumis mentega," tunjuk Adrian. "Oh ya, Nasinya jangan terlalu banyak. Sayurnya saja yang dibanyakin."


"Okay, aku tambahin brokoli dan wortel nanti dipinggir."


Selesai mengambilkan, Nadine kemudian menyodorkan piring tersebut tepat dihadapan Adrian.


"Oh ya sayang...aku mau jus jambu dong! Minta tolong itu pitcher jar-nya ditarik kesini. Tangan aku enggak nyampe.." ucap Nadine.


Dan ketika Adrian mengulurkan tangannya untuk mengambil pitcher jar tersebut, tak sengaja mata Nadine tertuju pada sebuah goresan luka yang panjang pada area pergelangan tangan Adrian. Itu sangat terlihat jelas sekali karena lengan kemeja Adrian yang disisingkan.


"Adrian..itu tangan kamu kenapa? Kamu terluka lagi..habis berantem lagi?" tanya Nadine lirih dengan suara yang bergetar.


Deghhh..


Matilah Adrian. Wajahnya berubah pias dan panik. Bagaimana dia akan menjelaskannya pada sang istri?


***


VISUAL ADRIAN & NADINE


__ADS_1


nb: biar enggak lupa hehe 😁


__ADS_2