
AUTHOR POV
Ceklek
Pintu kamar dari tempat dimana Nadine dan baby twins berisitirahat telah terbuka. Membuat Nadine menolehkan kepalanya, menatap siapa gerangan yang datang.
"Hey..." sapa Adrian terlebih dahulu.
Hati pria itu menghangat kala melihat wajah ayu sang istri dan dua putra kembarnya. Pemandangan yang tak pernah Adrian kira akan terjadi dalam hidupnya.
Nadine yang merasa dipanggil tampak tersenyum manis sembari membawa Kian dalam gendongannya, sedangkan Kai sibuk terlelap diatas kasur.
"Hai juga! Kamu sudah selesai ngomong-ngomongnya sama keluarga kamu?"
"Sudah."
Adrian menjawab singkat lalu berjalan mendekat menghampiri istrinya. Kemudian didudukkan lah tubuhnya pada tepian ranjang.
Sadar ada sesuatu yang tidak beres, Nadine mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam lagi. Wanita itu ingin tahu apa yang membuat wajah suaminya terlihat tidak bersahabat setelah kembali dari patio taman keluarga di belakang.
"Bagaimana pembahasannya tadi? Sudah ada titik terang belum?"
"Nothing changes. Semua pembicaraan kami tidak jauh-jauh dari perkara warisan. Opa masih teguh dengan keputusannya untuk memberi kepemilikan saham dalam jumlah besar pada anak-anak Papa Alan."
"Terus, respon Om Farhan dan Tante Mawar?"
"Marah, sudah pasti. Mereka tidak terima dan merasa Opa itu tidak adil. Tapi ya Opa mengancam balik. Kalau mereka tidak mau menerima keputusan Opa, maka 70% saham Natadipura Group akan jatuh pada pihak kita."
Sontak hal itu membuat Nadine tercengang kaget. "Oh ya? Sampai segitunya?"
Adrian mengangguk kecil. "Hmm..sudahlah jangan bahas itu dulu. Aku sedang malas!" sengaja Adrian mengalihkan pembicaraan.
Nadine yang paham akan kode memilih untuk tidak melanjutkan perbincangan pelik mengenai konflik warisan antar keluarga Natadipura. Kalau diteruskan urusannya semakin panjang. Mengingat sifat Adrian yang temperamental.
Nanti kalau suaminya sudah siap, pasti akan cerita-cerita sendiri. Dan Nadine dengan senang hati akan mendengarkan keluh kesahnya.
Sebenarnya ada beberapa prinsip yang Nadine terapkan semenjak ia mantap menikah dengan Adrian, yaitu:
- Tidak menyulut emosi Adrian
- Tidak memaksa Adrian
- Tidak menghakimi Adrian
Tiga hal itulah yang Nadine coba untuk tolerir. Tidak masalah jika mengalah dan menurunkan egonya. Demi kesehatan mental Adrian dan juga keberlangsungan rumah tangganya. Suaminya itu terlalu banyak mengalami masa sulit dalam hidupnya di masa lampau.
__ADS_1
"Kian dan Kai masih tidur ya?" celetuk Adrian setelah keduanya larut dalam keheningan sejenak.
"Kan aku sudah bilang, anak-anak kamu nih betah banget kalau urusan molor!" balas Nadine setengah tertawa. Ujung jemarinya bergerak mengelus pipi lembut Kian.
"Itu Kian kenapa tidak ditaruh saja?" tanya Adrian lagi dengan suaranya yang lembut dan lirih, agar dua buah hati kesayangannya tidak terbangun.
"Tadinya juga sudah ditaruh diatas kasur, tapi anaknya malah melek terus tiba-tiba nangis. Dia kayak noleh-noleh kebingungan gitu. Mungkin Kian merasa enggak nyaman, kaget karena lihat ini bukan kamarnya. Jadi aku gendong aja. Baru deh, langsung berhenti tangisannya," jelas Nadine panjang lebar.
Adrian mengembuskan nafasnya kasar. "Rumah ini memang punya aura yang tidak menyenangkan. Pantas kalau Kian merasa tidak nyaman."
Nadine melirik cepat dengan tatapan tajam. "Hush..kok ngomongnya begitu?!"
"Memang benar. Rumah Opa auranya buruk. Tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Membuat hati para tamu yang datang terasa panas. Sebab setiap ada yang datang kemari, selalu saja berakhir dengan pertikaian."
Cibiran Adrian tersebut membuat Nadine menahan tawanya. Gemas sekali melihat suaminya sedang menggerutu.
"Kita pulang saja sekarang, aku tidak betah di rumah ini!"
Nadine menurut tanpa bantahan seperti biasa. "Okay, aku ngikut kamu aja."
Berlama-lama disini juga bukanlah pilihan yang tepat. Hampir sebagian orang-orang yang ada di rumah ini kebanyakan tidak suka dengan kehadiran Nadine. Terutama Opa Willy yang sampai detik ini tampaknya enggan menerimanya sebagai cucu menantu.
Meskipun tidak secara terang-terangan membenci tapi Nadine yakin jika kakek dari suaminya itu orang yang penuh intrik juga culas. Buktinya saja pria tua itu masih getol mendekatkan Adrian dengan wanita yang asal usulnya tidak jelas bernama Tiffany.
"Oh ya satu lagi, nanti sore aku mau pergi ke suatu tempat. Kamu temani aku ya?" pinta Adrian sebelum mereka beranjak pergi.
"Ada pokoknya. Kamu lihat saja nanti."
Nadine menyipitkan matanya curiga. "Oh...sekarang jadi suka main rahasia-rahasiaan nih?"
"Bukan rahasia tapi fakta yang tertunda karena nanti pada akhirnya kamu akan tahu."
"Selalu aja begitu! Padahal niat aku bertanya kita mau kemana itu cuman mau memastikan, aku harus pakai baju apa nanti untuk menyesuaikan diri?!" Nadine memutar bola matanya malas. Bukan Adrian jika tidak penuh kejutan.
"Terserah."
"Maksudnya? Kok terserah sih? Ngeselin banget.."
"Ya memang terserah. Aku tidak pernah melarang kamu mau berpakaian seperti apa kan?"
"Bukan begitu sayang..maksud aku itu, lebih tepatnya kita mau pergi kemana. Kalau kamu ajakin aku fancy dinner aku bakalan pakai dress formal. Tapi kalau ke tempat pergi biasa ya aku pakai pakaian yang casual!" cerocos Nadine tanpa jeda. Kalau sedang mengomel, ibu dua anak itu memang jagonya.
"Pakai baju yang membuat kamu nyaman saja." sahut Adrian. "Dan ingat, jadi diri kamu sendiri. Apapun baju yang akan kamu pakai, dimata aku kamu tetap cantik. Kita juga perginya bukan ke acara gala atau pesta."
Beberapa hari belakangan rasa insecure Nadine semakin menjadi-jadi. Kerap kali Adrian mendapati istrinya itu bolak-balik menatap dirinya pada kaca, mengamati bentuk tubuhnya, serta meratapi berat badannya yang belum kembali normal pasca melahirkan.
__ADS_1
Setiap mau diajak pergi keluar, Nadine pasti akan heboh sendiri memilih baju hingga semua outfit miliknya berserakan di walk in closet akibat bongkar pasang. Kalau baju yang dipakai dirasa tidak menarik atau sudah tidak cukup, Nadine refleks menangis tersedu-sedu sampai berhari-hari dan semalam suntuk.
Sempat berkonsultasi dengan dokter, dan hasilnya beliau berkata jika Nadine ada gejala mengarah pada baby blues. Semenjak saat itu, sebisa mungkin Adrian memberikan semangat juga dukungan moril untuk meningkatkan kepercayaan diri Nadine agar wanitanya tidak bersedih hati.
"Ckkk..kamu serius nih enggak mau kasih tahu kita kemana? Paling enggak kasih clue lah!" desak Nadine yang masih penasaran.
Punggungnya yang semula bersandar pada headboard sedikit maju kedepan dengan tangan yang masih setia mendekap Kian. Tubuhnya sudah mulai menggeliat diatas kasur, tanda-tanda ia sedang merengek.
"Jangan gerak-gerak, kasurnya jadi goyang. Nanti Kian dan Kai bangun kalau kamu bertingkah begitu!" tegur Adrian.
"Makanya kamu kasih tahu dong kita mau kemana?"
"Ke tempat tattoo artist!" akhirnya pun Adrian kelepasan. Mengaku dengan terpaksa.
Nadine membelalakkan matanya mendengar jawaban pria yang dicintainya ini. "Ngapain ih kamu kesana? Mau nambah tato lagi?" nada tak suka jelas sekali keluar dari mulut Nadine.
"Iya." jawab Adrian cuek.
Dengan santainya pria itu malah memasukkan dua tangannya pada saku celana sembari bersandar pada dinding kamar didekat bedside table. Mengabaikan pandangan sinis istrinya.
"Buat apa sih nambah lagi, tato kamu padahal udah banyak lho! Punggung ada, tengkuk leher ada, dada ada, lengan ada..masa masih kurang?"
"Kurang karena aku mau menambah tato dengan wajah twins di bagian samping kiri perut bawah."
Wajah Adrian terlihat serius. Sepertinya dia tidak main-main. Nadine hanya bisa bergeleng-geleng dengan kelakuan absurd suaminya ini.
Baru beberapa bulan lalu Adrian membuat dirinya terkejut dengan tato bergambar kedua bola matanya di bagian dada. Kini sudah mau menambah goresan tinta permanen lagi di tubuhnya.
"Harus banget ya?" Nadine memastikan sekali lagi.
"Harus. Sebelum twins lahir aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Aku bahkan bikin appointment sejak lama."
"Niat banget kamu?! Emang enggak sakit apa banyak tato begitu?"
"Ya niat, karena aku memang ingin. Kalau sudah biasa tidak akan terasa sakit. Tattoo artist-nya juga trusted. Dia yang menangani aku juga waktu aku bikin tato bergambar mata kamu."
"Gambar wajah twins nantinya bakal jadi besar lho di badan kamu! Enggak mau pilih yang model gambar kecil aja? Nama kan bisa..Kylian dan Malakai dengan ala tulisan tegak bersambung?" tawar Nadine.
"Enggak, keputusanku sudah bulat. Aku maunya gambar wajah anakku. Tapi boleh juga ide kamu..mungkin yang tulisan bisa untuk di pergelangan tangan." Adrian tersenyum tipis sembari membayangkan betapa bagusnya nanti hasilnya.
Sepertinya Nadine salah sasaran menyarankan hal itu pada sang suami..
***
VISUALS
__ADS_1