
AUTHOR POV
"Pagi, Kak Nadine..." seru Athena dan Arjuna dengan riang.
"Haiii....udah bangun ya kalian, ayo sini duduk! Kakak barusan bikinin sarapan untuk kalian! Ada croissant, chicken porridge, greek salad, crepes and pancake..pilih yang kalian suka!"
"Wahhh...sepertinya enak nih Kak!" Arjuna menggesek-gesekkan kedua tangannya karena sudah tak sabar untuk cepat-cepat makan.
Kejadian mencekam yang terjadi di kediaman Papa Alan semalam, membuat mereka belum sempat menikmati santapan makan malam.
"Makanan sebanyak ini Kak Nad yang nyiapin sendiri?" tanya Athena.
"Iya, Kakak siapin sendiri..kan di penthouse enggak ada asisten rumah tangga," balas Nadine tersenyum.
"Kok enggak bangunin aku atau Fiona aja sih Kak? Jadi kerepotan sendiri...kita juga bisa panggil pelayan kesini!"
"It's okay Fio, selama bisa dilakukan sendiri kenapa enggak? By the way, Papa dan Mama masih tidur kah?"
"Mereka berdua sudah selesai mandi Kak, masih siap-siap di kamar terakhir aku cek. Kalau Fiona masih mandi," jawab Athena.
"Terus Arga bagaimana kondisinya, apa kakinya sudah sembuh?" tanya Nadine.
"Aku baik-baik aja Kak, nih..buktinya udah bisa jalan!" sahut Arga yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Walaupun saat berjalan masih sedikit terpincang-pincang, setidaknya kaki Arga yang keseleo tidak parah. Kemarin Adrian sudah memanggil dokter ke penthouse untuk mengecek kondisi Arga.
"Hey...I'm glad you're okay! Ayo sini duduk bersama, kita tunggu yang lainnya turun yahh..setelah itu kita sarapan bersama," ucap Nadine.
Tak lama setelahnya, Adrian beserta Papa Alan dan Mama Diana keluar bersamaan dari kamar mereka masing-masing dengan pakaian rapi dan segera berjalan menuju meja makan.
"Hmm...wow, ini bubur ayamnya enak sekali Nad! Pintar kamu bikinnya, topping nya juga komplit!" ucap Mama Diana.
"Benar kata Mama, ini buburnya enak. Greek Salad buatan kamu juga rasanya mantap.." puji Papa Alan.
"Kamu bangun jam berapa ini untuk buat ini semuanya? Harusnya tadi panggil Mama atau Athena dan Fio, biar bisa masak bersama!"
"It's okay Mah..aku tadi kebangun jam setengah 6 pagi, terus langsung cepat-cepat masak ala kadarnya. Yang penting jadi!" Nadine terkekeh pelan.
Saat memasak tadi, Nadine hanya mengandalkan sisa bahan-bahan makanan dari kulkas dan penyimpanan yang masih bisa terpakai. Maklum, penthouse ini sudah 2 minggu lamanya kosong sejak terakhir kali ditinggal Adrian.
"Ekhemm.." Adrian berdehem keras.
Seluruh anggota keluarga yang duduk di meja makan menoleh ke arah Adrian. Sebelum berbicara Adrian mengelap sisa makanan yang menempel di mulutnya terlebih dahulu menggunakan sapu tangan kecil.
"Pah..Mah..aku sudah memutuskan untuk memajukan tanggal keberangkatan kalian ke Los Angeles."
__ADS_1
Papa Alan dan Mama Diana saling memandang aneh satu sama lain. Ekspresi wajah mereka menunjukkan seperti orang yang sedang bingung, begitupun juga dengan adik-adik Adrian yang lain.
"Besok pagi, kalian berenam akan berangkat ke Los Angeles sesuai rencana awal. Aku sudah menyiapkan pesawat pribadi yang ready for fly. Sesampainya disana nanti, kalian akan dijemput orang suruhanku."
"Apa alasan kamu mengirimkan kita pergi kesana begitu cepatnya? Setelah semua yang terjadi kemarin..apa kita bisa liburan dengan tenang? Papa bahkan belum tahu bagaimana kabar keluarga besar kita yang disandera, lalu keadaan rumah juga Papa belum tahu.." sanggah Papa Alan.
"Justru itu Pah, aku sengaja mengirim kalian ke LA demi keselamatan bersama. Keadaan disini sudah tidak aman. Urusan adik-adik Papa dan para sepupu sudah beres. Mereka bebas dari sanderaan sejak semalam,"
"Karyawan dan asisten rumah tangga Papa juga aman-aman saja tanpa lecet sedikitpun. Semua penyusup telah meringkuk di penjara, Ray yang mengurus mereka. Pagi ini mereka bebersih rumah yang berantakan.." lanjut Adrian menerangkan.
"Tetap saja Adrian, kejadian kemarin masih membuat kita semua shock. Kita tidak bisa berangkat ke LA, seakan-akan tidak terjadi apa-apa! Kita butuh jeda dan rehat sejenak untuk memproses semuanya. Papa masih harus mengusut tuntas kasus penyergapan kemarin.." Papa Alan menyentak balik.
Semua yang hadir di meja makan hanya bisa menyimak, melihat perdebatan antara ayah dan anak itu. Tak ada yang berani menengahi karena takut terkena semprot amukan.
"Adrian akan urus semuanya. Papa tidak perlu ikut campur tangan, aku bisa mengatasinya. Papa dan yang lain sudah harus berkemas hari ini untuk berangkat besok. Aku dan Nadine juga akan pergi ke Brazil besok."
"Brazil?" Papa Alan kembali tercengang. "Mau apa kamu disana?"
"Bulan madu," Adrian beralasan.
Dia tidak mau keluarganya tahu jika tujuannya pergi ke Brazil untuk menangkap Galih dan kawan-kawannya.
Sedangkan Nadine, walaupun dia sedikit kaget kala Adrian membahas tentang bulan madu, Nadine memilih tak berkomentar apa-apa dan menurut mengikuti alur.
"Aku dan Nadine sudah menikah kurang lebih 3 bulan Pah, dan selama itu pula aku belum pernah mengajak Nadine pergi honeymoon. Kemarin-kemarin aku sibuk..jadi belum sempat," Adrian mengedarkan pandangannya menatap Nadine yang sedang tertunduk.
Kalau sudah begini, Papa Alan tidak bisa membantah lagi. Suka tidak suka, dia harus mengalah pada Adrian.
Mereka semua akhirnya melanjutkan sarapan paginya dengan tenang.
***
Setelah selesai sarapan, Nadine dan Adrian langsung kembali ke kamar.
"Dasi dan kerah kemeja kamu kurang rapi, biar aku bantu sini!" Nadine menghampiri Adrian yang terlihat kesulitan memasang dasi.
Adrian yang tadinya sedang fokus menatap cermin besar, kini membalikkan badannya menghadap Nadine. Dengan cepat, Nadine membetulkan simpul dasi Adrian agar lebih rapi dan sedikit menekuk kerah kemejanya.
"Nah..ini baru rapi, jadi kelihatan ganteng!" Nadine menebas-nebaskan jas Adrian untuk memastikan tidak ada benang yang menempel.
"Do I look handsome?" Adrian menaikkan satu alisnya.
"Of course you are..." Nadine mengembangkan senyum manisnya. "Kamu jadi antar aku menemui Kak Nathan kan hari ini?"
Adrian mengangguk iya, "Kita kesana sekarang...aku nanti drop kamu saja tidak apa-apa kan? Aku ada janji temu dengan Adrian di bengkel, kemarin aku memintanya untuk membongkar mesin mobil yang kuambil dari penyusup kemarin," jelas Adrian.
__ADS_1
"Iya, aku paham kok. Aku juga butuh waktu untuk ngobrol berdua dengan Kak Nathan. Apa aku boleh menceritakan pada Kak Nathan tentang semua kejadian yang menimpa kita? Bagaimanapun dia perlu tahu, aku juga harus minta izin padanya sebelum kita berangkat ke Brazil,"
"Hmm..boleh, asalkan tidak terlalu mendetail. Kamu ceritakan secukupnya saja..aku tidak mau urusan pribadi keluargaku diketahui banyak orang."
"Thank you," Nadine mengalungkan lengannya pada leher Adrian dan mengecup bibir Adrian sekilas.
Adrian tak puas dengan ciuman singkat yang berakhir cepat itu, dengan gerakan cepat Adrian kembali menempelkan bibirnya pada bibir merah merona Nadine yang terasa manis.
Adrian menarik pinggang Nadine dan menahan tengkuknya agar ciuman mereka terasa lebih dalam dan rapat. Keduanya pun semakin terbuai akan cumbuann satu sama lain. Lidah mereka saling bertaut memberikan gelenyar kenikmatan.
"Bisakah kita bercinta terlebih dahulu sebelum berangkat ke penthouse Nathan?" lirih Adrian pelan di telinga Nadine. "Aku tak bisa menahannya lagi Nad...let's do a quickie.."
Nadine mengangguk pasrah. Tak bisa di pungkiri, Nadine juga sedang dalam mood yang baik dan menginginkan hal yang sama dengan suaminya. Sudah lama mereka tak melakukan penyatuan yang membuat keduanya ketagihan.
Mumpung ada kesempatan emas, Adrian dan Nadine tak mau membuang-buang waktu lagi untuk melakukan pergulatan panas di pagi hari. Pakaian yang sudah rapi menempel pada tubuh mereka seketika sudah terlepas ditanggalkan dan berserakan di lantai.
"Ahhhh..." terdengar suara desahann Nadine mulai menggema memenuhi seisi ruangan.
Adrian bermain dengan cepat kali ini karena mereka tidak punya banyak waktu. Juniornya langsung dilesatkan pada inti milik Nadine yang sudah siap untuk digempur.
Dan setelah melakukan penyatuan sampai beronde-ronde, Adrian dan Nadine telah mencapai puncak pelepasannya hingga keduanya lemas dan berbaring di ranjang saling memeluk.
"That was good..." ucap Adrian dengan nafas yang terengah-engah.
Nadine tersipu malu dan memukul pelan lengan Adrian. Kemudian, Nadine menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
***
ARJUNA
ARGA
ATHENA
FIONA
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya. Terima kasih 😁 Maaf kalau upload nya belum bisa rutin setiap hari, karena author masih sibuk skripsi hihihi 😂